
Kayra berkali-kali merintih kesakitan, gadis itu bahkan sudah tidak bisa tidur dengan baik. Padahal dia sudah memakai bantal ibu hamil yang kanan kirinya seperti guling, tapi tetap saja posisinya sangat tidak enak baginya.
Kayra menoleh ke arah Iqbal, gadis itu menggigit bibir bawahnya, ragu untuk membangunkan suaminya. "Mas," panggilnya pelan. Tidak ada sautan sama sekali dari Iqbal, dia terlihat begitu kelelahan.
Kayra menghela nafas pelan, dia akhirnya memutuskan untuk duduk bersandar pada sandaran kasur. Dan dalam posisi seperti itupun dia masih berusaha untuk memejamkan mata.
"Kay?" panggilan dari Iqbal membuat Kayra membuka matanya.
"Aku nggak bisa tidur mas," cicit Kayra pelan.
Iqbal membenarkan posisinya, pemuda itu akhirnya ikut duduk disamping Kayra. Meletakan tangan kanannya di belakang leher Kayra. "Kenapa? kasurnya nggak nyaman?" tanya pemuda itu.
Kayra menggeleng pelan. "Susah," jawab gadis itu.
"Aku tiba-tiba pengen nonton tv," kata gadis itu lagi.
Iqbal mengambil remote yang ada di meja kecil sebelahnya. "Ya udah ini nyalain aja," kata pemuda itu.
Kayra menggeleng pelan. "Bukan tv yang ini, tapi yang di bawah,"
Iqbal mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya pemuda itu bingung, padahal lebih mudah di kamar. Gadis itu tidak perlu menuruni tangga.
"Nggak papa pengen yang dibawah aja," jawab Kayra.
"Kamu mau nemenin?" tanya gadis itu yang dibalas anggukan oleh Iqbal. Senyumnya merekah, entah ini memang benar keinginan dia atau bukan, yang jelas dia sedang ingin dekat dekat dengan suaminya.
"Tapi beneran mau dibawah?"
"Iya," jawab Kayra cepat. Gadis itu bahkan sudah turun dari ranjangnya. "Yuk mas," katanya lagi.
Sepasang suami istri itu saling berpelukan di sofa depan televisi, untung saja sofa ini berukuran besar dengan diameter lebih dari satu meter.
"Mas, aku tiba-tiba pengen makan Indomie," cicit Kayra pelan. Tidak yakin Iqbal akan memenuhi keinginannya atau tidak, pasalnya gadis itu teringat terakhir kali dia memakan samyang dan kata bi Surti pagi harinya Iqbal langsung menyimpan entah dimana stok mie pedas itu.
Betul saja dugaan Kayra, pemuda itu dengan tegas menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak ada mie miean," katanya.
"Tapi aku laper," kata Kayra. "Pasta deh," kata Kayra lagi. Iqbal mengangguk pelan, pemuda itu sudah berdiri ingin membuatkan untuk Kayra. "Tapi yang ada kuahnya," sambung Kayra lagi. Gadis itu meringis kecil, menunjukan deretan giginya yang rapih dan bersih.
"Gimana caranya buat pasta dikasih kuah?" tanya Iqbal bingung sendiri. Karena dirinya sama sekali belum pernah makan pasta dengan kuah.
Kayra mengangkat bahunya. "Terserah kamu mau buat gimana, yang penting enak,"
__ADS_1
Iqbal menghela nafas pelan, akhirnya daripada Kayra memakan samyang lagi dua memutuskan untuk meracik pasta dengan kuah sendiri, sesuai pesanan Kayra.
"Yang enak loh mas," kekeh Kayra dari tempatnya.
Iqbal mengacungkan ibu jarinya. "Pasti enak," katanya dengan percaya diri.
Iqbal membuka lemari pendingin, mencari bahan makanan yang akan dia campurkan dengan pasta yang dia buat nanti.
Keningnya berkali-kali berkerut, dia jarang sekali ikut ke dapur. Dan sekarang dia akan membuat makanan yang menurutnya sedikit aneh.
"Tapi bukannya tinggal dikasih air aja ya? jadilah pasta kuah," kata pemuda itu pelan. "Tapi kata Kayra harus enak,"
Iqbal mengacak rambutnya, dia sama sekali tidak bisa berfikir jernih sekarang. "Bismillah deh semoga enak," katanya. Padahal bahan yang dimasukan entah benar atau tidak, dia sendiri tidak yakin.
"Gimana?" tanya Iqbal harap-harap cemas. Satu mangkuk pasta kuah sudah dia hidangkan di depan Kayra.
"Dari aromanya si enak," jawab Kayra. "Pertama-tama gadis itu mencicipi kuahnya," Iqbal menambahkan banyak toping di makanannya, ada jamur, sosis dan bakso. "Lebih mirip seblak si jadinya, cuma bedanya ini mienya lurus aja," kata Kayra polos.
Iqbal menyipitkan matanya. "Ini lagi ngejek ya?" tanya pemuda itu. "Tatapan kamu jaya ngejek mahakarya aku aja,"
Kayra terkekeh geli, gadis itu tertawa ketika Iqbal mengatakan makanan yang dia buat sebagai mahakarya. "Aku lagi muji tau," kata Kayra. "Kuahnya cuma kamu kasih masako ya mas?" tanya Kayra.
"Eh nggak enak ya? nggak usah dimakan deh," kata Iqbal. Merebut mangkuk di depan Kayra. "Pesen aja deh ya," katanya lagi.
"Tapi ini nggak enak," kata Iqbal.
"Emang kamu udah coba?" tanya Kayra.
Iqbal menggeleng pelan. "Belum si,"
"Ya udah diem, aku coba dulu mahakarya kamu," katanya. Kembali tertawa karena Iqbal. Kali ini Kayra menyuapkan pasta ke mulutnya. "Ini sedikit kematangan si mas," kata Kayra lagi. Kayra mendelik pelan ketika Iqbal sudah ingin mengambil kembali mangkuknya. "Biar aku selesaikan dulu makannya mas, baru kamu boleh ambil," kata gadis itu.
"Tapi aku takut kamu keracunan Kay,"
"Emang kamu kasih racun?"
"Ya nggak lah, yakali," jawab Iqbal sewot. "Udah ah pesan aja ya,"
"Nggak ah, ini enak kok,"
"Mana coba aku mau nyicipin," kata Iqbal.
__ADS_1
Kayra menjauhkan mangkuknya dari jangkauan Iqbal. "Nggak boleh, ini makanan aku ya," kata Kayra.
"Tapi bener kamu nggak akan kenapa-kenapa kan Kay?" tanya Iqbal.
Kayra menggeleng pelan. "Nggak lah emang aku akan kenapa?"
*****
Pagi harinya bi Surti sudah ribut di dapur. "Ini siapa yang masak begini?" tanyanya bingung. Masih ada sedikit sisa makanan yang Iqbal buat di mangkuk. Dan kebetulan selepas sholat subuh bi Surti ke dapur dan memanaskan makanan yang di buat Iqbal. "Ko rasanya aneh banget," kata bi Surti.
"Kenapa Bi?" tanya Iqbal yang tiba-tiba masuk ke dapur dan mengambil air putih.
"Tadi malem mbak Kay eksperimen masak ya mas?"
Iqbal menggeleng pelan. "Nggak kok, emang kenapa?" tanya pemuda itu.
"Tadi bibi manasin mie yang di mangkuk, tapi rasanya aneh," kata bi Surti dengan polosnya.
Iqbal yang mendengar itu meletakan gelasnya dengan kasar. "Nggak enak ya bu?" tanyanya spontan.
"Eh?"
"Ini Iqbal yang masak semalem, Kayra pengen makan pasta kuah jadinya Iqbal buat kaya gitu," kata Iqbal. "Tapi Kayra ko habis makannya?" tanya Iqbal bingung sendiri.
Bi Surti menggaruk tengkuknya, dia jadi bingung sendiri. "Mas Iqbal mau coba?" tawar bi Surti.
Iqbal mengambil sendok, lalu menyuapkan pada dirinya sendiri. "Huek," pemuda itu langsung memuntahkan begitu saja yang baru masuk ke mulutnya ke wastafel. "Ko bisa Kayra makan makanan begini?"
*****
"Kay?" Iqbal duduk di kursi samping Kayra. Gadis itu sedang menikmati hujan pagi dari balkon kamarnya.
"Kenapa mas?"
"Kok kamu bohong sama aku?" tanya pemuda itu.
Kayra menutup bukunya, gadis itu menoleh dengan cepat ke arah Iqbal. "Bohong?" tanyanya bingung. "Aku nggak pernah bohong sama kamu," katanya yakin. Satu-satunya kebohongannya sudah terungkap oleh Iqbal sendiri.
"Kenapa kamu bilang makanan aku enak?"
"Eh?" Kayra meringis pelan. "Emang aku bilang enak ya?" tanya Kayra bingung sendiri.
__ADS_1
Iqbal menangkup pipi Kayra gemas. "Tapi kenapa kamu habisin kalo nggak enak?"
"Kan masih bisa dimakan mas," jawab Kayra dengan polosnya.