
"Kay?" Iqbal masih berusaha untuk berbicara dengan Kayra, gadis ur akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar yang dulu dia tempati. "Kenapa tidur di bawah?" tanya pemuda itu lagu, dia masih berusaha untuk membujuk Kayra agar mau tidur di atas bersamanya.
Iqbal menghembuskan nafas untuk yang kesekian kalinya. "Seenggaknya bukain saya pintu dulu kali Kay, iya saya tau sakit hati dibalas permintaan maaf itu curang. Tapi saya tetap mau minta maaf sama kamu," kata pemuda itu lagi. "Jadi tolong maafin saya ya, bukain pintunya dulu dong,"
Terdengar suara derap langkah kaki, lalu beberapa detik kemudian Kayra membuka pintu kamarnya. "Aku mau tidur di bawah dulu," kata gadis itu pelan. Hidungnya merah, kentara sekali jika gadis itu baru saja menangis.
"Maafin saya ya," kata Iqbal lagi.
"Aku lagi nggak mau ngomongin ini dulu pak," kata Kayra pelan. "Aku mau minta izin besok mau ke rumah bapak sama ibu,"
"Iya besok saya antar,"
"Nggak usah," jawab Kayra. Gadis itu mengangkat wajahnya. "Besok aku dijemput Artar sekalian dia pulang sekolah," jelasnya lagi.
"Tapi aku juga mau ketemu sama bapak sama ibu Kay,"
"Nggak usah pak nggak papa," jawab Kayra. "Aku butu waktu sendiri, mungkin nanti disana aku bisa menuturkan mau melanjutkan hubungan ini atau engga," jawab Kayra yang mampu membuat Iqbal melebarkan matanya.
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Bukannya itu yang pak Iqbal mau?" tanya Kayra, dia tersenyum kecil. "Bapak istirahat ya, aku juga mau istirahat. O iya, besok Raissa aku bawa," kata Kayra, gadis itu bahkan menutup pintunya tanpa mau mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Iqbal.
*****
"Kenapa kamu sok akrab sama Kayra?!"
Kalimat dengan nada tidak mengenakan itu membuat seorang gadis menghentikan aktivitasnya, dia yang sedang menggunakan skincare malamnya menatap sinis ke pemuda yang sedang berbaring di atas kasur.
"Siapa yang sok akrab? aku? bukannya aku emang kaya gini dari dulu,"
"Nggak usah sok deket sama dia," katanya, yang lebih tepat seperti perintah.
__ADS_1
Gadis itu berbalik, menatap meremehkan pemuda itu. "Kenapa?" tanyanya menantang. "Takut kalo aku bocorin rahasia kamu ke dia?"
"Dari awal aku nggak ada niat buruk sama dia,"
"Masa? terus kenapa sekarang berubah haluan?"
"Bukan urusan kamu, kamu nggak perlu ikut campur sama urusan aku,"
"Tapi yang kamu maksud urusan kamu itu merugikan banyak orang," katanya. "Termasuk aku dan keluarga aku,"
Pemuda itu beranjak dari duduknya, menunjukan senyum smirknya. "Bukannya keluarga kamu yang pengen punya menantu kaya raya seperti aku? kalo nggak mau kaya gini bilangin sama keluarga kamu, jangan gila harga,"
*****
"Tapi di sana jangan lama-lama ya mbak," kata bi Surti yang masih mencegah Kayra untuk pulang ke rumahnya, sebenarnya bukan melarang gadis itu pergi hanya seja Kayra meninggalkan rumah dengan suasana hati yang sedang tidak baik.
Kayra terkekeh kecil, gadis itu membenarkan gendongan Raissa. "Enggak ko bi paling juga cuma satu minggu aja," kata Kayra. "Kebetulan kemaren bapak habis buat kolam baru di belakang rumah, Amel juga semalem cerita katanya Artar habis bersihin halaman belakang buat dijadiin ala taman taman gitu bi," kata Kayra dengan antusias, dia bahkan sudah lupa dengan keadaan tadi malam.
Kayra menganggukkan kepalanya. "Atau bibi mau ikut Kayra?" kata gadis itu. "Kan bi Surti baru main dua kali ke rumah,"
"Aslinya di bibi mau banget mbak, tapi nanti rumah kosong dong," jawab bi Surti. "Kenapa nggak bareng sama mas Iqbal mbak?" tanya bi Surti lagi, meskipun dia tahu hubungan Kayra dan Iqbal sedang tidak baik tapi tidak salahnya bukan jika menanyakan langsung pada Kayra.
"Nggak bi," jawab Kayra singkat. "Kebetulan Artar jika bisa jemput, dan pak Iqbal juga lagi sibuk," jawab Kayra.
"Kalo begitu mbak kayane hati-hati ya, meskipun bibi yakin ibu di sana pasti akan lebih bisa menjaga mbak Kay dan dede bayi tapi bibi akan selalu mengingatkan mbak Kay untuk nggak lupa makan, minum vitamin dan minum susu juga," kata bi Surti.
"Makasih banyak ya bi," kata Kayra. "Kalau begitu Kay pergi dulu ya, Artar udah nunggu lama di luar soalnya," kata gadis itu lagi.
*****
Bibir Kayra terus melengkung ke atas sejak kakinya menapaki pekarangan rumahnya, memang jika diingat lagi dia sudah cukup lama tidak mengunjungi orang tua dan juga adiknya ini. Kalo terakhir dirinya pulang bertepatan dengan Azmi dan Clara yang juga mengunjungi orang tuanya untuk meminta restu.
__ADS_1
"Seneng kan disini ada yang jaga Raissa," kata Ibu, kedua matanya berbinar melihat putri Acha yang sedang digendong bapak dan diajak main oleh Amel. "Mukanya bener-bener Acha banget ya mbak,"
Kayra terkekeh kecil. "Ini udah yang kesekian kalinya ibu bilang gini loh," kata Kayra. "Kan Raissa anak Acha Bu, ya pasti mirip lah,"
"Tapi ada mirip-miripnya dikit loh mbak sama kamu," kata ibu lagi.
"Raissa kan juga anak aku Bu, masa iya nggak mirip," kata Kayra. Bukan hanya ibunya yang mengatakan Raissa mirip dengannya, banyak orang juga yang mengatakan hal sama termasuk orang tua Iqbal.
"Kenapa nggak ke sini sama mas Iqbal Kay?" tanya bapak, Raissa yang sebelumnya ada di gendongan bapak kini berpindah tangan di pangkuan Artar.
"Lagi sibuk pak, mahasiswanya lagi pada ujian soalnya," kata Kayra apa adanya.
"Tapi kalian baik-baik aja kan?" tanya bapak lagi.
Kayra dan Artar saling pandang, meskipun Kayra belum cerita apapun pada adiknya, tapi pasti dia tau apa yang membuat Kayra mendadak minta dijemput.
"Alhamdulillah pak, do'ain aja yang terbaik buat keluarga Kay," kata gadis itu lagi. "Tar siniin dulu Raissa,"
"Apa deh mbak, orang anteng gini juga," kata Artar yang protes pada kakaknya.
"Waktunya makan dia,"
"Ya udah sini gue yang suapin," kata Artar menawarkan diri.
"Amel bantu ya mas," kata Amel, anak itu paling antusias sejak Kayra datang membawa Raissa. "Mbak dek Raissa ini anaknya mba Kay atau mba Acha?" tanya Amel dengan polosnya, anak itu bahkan mengajukan pertanyaan dengan mata berbinar menatap Raissa.
"Anak mba Kay juga anak mba Acha," kata Kayra jujur. "Kenapa memangnya?"
"Nggak papa, mukanya kaya mbak Kay ya tapi lebih mirip ke mba Acha," jelas Amel yang membuat Kayra akhirnya ikut mendekat ke adik-adiknya.
Emang sebegitu terlihatnya kemiripan antara dirinya dan Raissa? sampai-sampai adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini juga sadar dengan secuil kemiripan dirinya dan Raissa.
__ADS_1
"Bagus dong, artinya dek Raissa akan cantik kaya mbak Kay dan mbak Acha," jawab Kayra tanpa bisa menyembunyikan rasa harunya.