PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 24. PERNIKAHAN YANG GAGAL


__ADS_3

Azmi memandang pantulan dirinya di depan cermin, pemuda itu berusaha meyakinkan dirinya jika keputusan yang dia ambil memang sudah benar.


"Ta," panggil Azmi pada adiknya yang masih sibuk dengan rambutnya.


"Kenapa?" tanya gadis itu, masih fokus dengan tatanan rambut yang sebenarnya sudah rapih.


"Ta,"


"Hemm,"


"Tata," panggil Azmi sekali lagi.


Tara menghentikan aktivitasnya, gadis itu menatap penuh Azmi yang juga sedang menatapnya. "Kenapa?" tanya Tara dengan pandangan menyelidik.


"Gue ngerasa nggak enak Ta,"


"Nggak enak gimana?"


Azmi menggigit bibir bawahnya. "Gue ragu Tara,"


"Ragu sapa apa?" tanya Tara. Gadis itu menarik kursi untuk lebih dengan dengan Azmi, kedua matanya membola begitu sadar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kakak laki-lakinya. "Jangan bilang lo ragu sama acara lo sendiri?"


Azmi mengangguk kecil. "Bantu gue Ta," kata Azmi dengan pandangan memohon.


"Bantu apa gila ya lo," kata Tara. "Gue kan udah tanya ke elo berkali-kali kak, elo yakin nggak mau mau nikah sama Clara? Dan elo sendiri yang bilang kalo lo udah yakin sama keputusan yang udah lo ambil," kata Tara. "Nggak cuma elo yang bakalan ngerasa sakit sama keputusan yang lo sepihak ini, tapi Clara juga pasti bakal ngerasa diperlakukan nggak adil sama lo dan keluarga kita," jelas Tara.


"Terus nasib gue gimana Ta?" tanya Azmi.


Tara menghela nafas gusar, ini yang dia tidak suka dari kakaknya, yang nggak pernah ditunjukkan pada orang lain. "Apa yang buat elo ragu?"


"Gue takut nggak bisa buat Clara bahagia Ta," jawab Azmi.


"Terus?"


Azmi diam sebentar, pemuda itu melihat pantulan dirinya sendiri. "Kemaren gue ketemu Bima,"


"Bima?" tanya Tara, kurang yakin dengan apa yang barusan dia dengar. "Bima kakaknya Clara?"


Azmi mengangguk kecil, mengiyakan pertanyaan Tara. "Iya, dan elo tau apa yang dia lakuin?"


"Apa?"


"Dia beli rumah dideket bang Iqbal,"

__ADS_1


"So?"


Azmi menghela nafas panjang. "Ta, lo masih nggak ngerti maksud gue apa?"


"Ya apa hubungannya Bima beli rumah di deket bang Iqbal sama pernikahan elo sama Clara si?"


"Gue takut Ta,"


"Takut apa lagi si? Apa yang lo takutin?"


"Gue takut dia ada niat buruk sama Kayra,"


Tara diam sebentar, gadis itu menelusuri kedua manik milik kakaknya. "Mbak Kay sekarang udah punya bang Iqbal kak," jawab Tara. Seakan gadis itu ingin membangunkan kakaknya jika pemuda itu sudah tidak ada kesempatan untuk memiliki Kayra lagi. "Dan elo udah punya Clara sekarang,"


Azmi diam mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, yang memang seratus persen benar. "Tapi gue belum ada perasaan apa-apa sama Clara ta,"


"Elo sendiri yang bilang, nggak akan sulit buat lo jatuh cinta sama Clara kan? Lo juga yang bilang cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu," kata Tara lagi.


"Ta," untuk kesekian kalinya pemuda itu masih merengek. "Gue takut salah ambil keputusan Ta,"


Belum pernah sama sekali Tara melihat kakaknya seputus asa ini, bahkan ketika pemudanya itu mendengar gadis yang dicintai akan menikah Azmi tidak terus merengek seperti ini. "Gue nggak bisa bantu banyak kak," kata Tara. "Tapi untuk kebahagiaan elo dan kebahagiaan Clara juga nantinya, dan sebelum pernikahan ini benar-benar terjadi," Tara mengambil nafas panjang. "Lo silahkan ambil keputusan untuk yang terakhir kalinya, gue juga perempuan sama kaya Clara. Gue nggak akan mau menikah sama laki-laki yang ragu atas pernikahan ini, meskipun disisi lain gue akan kecewa banget sama elo. Tapi seenggaknya akan mencegah kejadian buruk yang akan terjadi berikutnya," kata Tara lagi.


Tok tok tok


"Gue buka pintu dulu," kata Tara.


"Benar ini kamar bapak Azmi Bagaskara Bu?"


Tara mengangguk kecil. "Iya mas, gimana ya?"


"Ini ada paket untuk bapak Azmi Bagasakara bu,"


Tara mengambil bunga yang cukup besar, keningnya berkerut. "Dari siapa ya mas?"


"Waduh maaf bu, saya tidak tau siapa pengirimnya. Mungkin kerabat dekat dari pak Azmi,"


Tara mengangguk kecil, mungkin memang sahabat kakaknya yang tidak dia kenal. Karena pernikahan Azmi dan Clara tidak dibuka untuk umum, dan hanya sedikit teman-teman mereka yang diberi tahu tentang acara ini, termasuk Iqbal dan juga Kayra. "Makasih ya mas," kata Tara sopan.


"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi ya Bu. Silahkan tekan bel jika membutuhkan bantuan," kata pegawai hotel dengan ramah.


Tara mengangguk kecil tanpa menjawab apapun lagi.


"Temen lo yang ngirim?" tanya Tara pada kakaknya. "Ini ada suratnya juga," katanya lagi lalu menyerahkan bunga yang dia pegang ke Azmi.

__ADS_1


Azmi mengernyitkan dahinya bingung. "Dari siapa emang?"


Tara mengangkat bahunya acuh. "Nggak ada nama pengirimnya," jawabnya apa adanya. "Dari temen lo mungkin,"


"Temen siapa?" tanya Azmi yang bingung sendiri. "Temen gue nggak ada yang tau acara hari ini kecuali bang Iqbal sama Kayra kali," kata Azmi. "Nggak mungkin kan bapak sama ibu yang ngirim ini? Orang mereka aja ikut kita ke Jogja," yang dimaksud bapak ibu oleh Azmi adalah orang tua Kayra.


"Coba buka suratnya," kata Tara. "Siapa tau ada nama pengirimnya," kata gadis itu lagi.


Azmi menurut, pemuda itu melebarkan bola matanya ketika membaca deretan kata yang tertulis dengan tinta berwarna merah.


"Kamu yakin akan menikah dengan Clara? Apa kamu tidak ingin tahu anak siapa yang ada di kandungan Kayra?"


"Kenapa lo?" tanya Tara yang bingung dengan ekspresi Azmi.


Azmi buru-buru menyembunyikan kertas itu, Tara tidak tau apapun apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Kayra dan Azmi tidak ingin Tara tau akan hal itu. "Nggak Ta, bukan apa-apa," jawabnya.


"Terus ini dari siapa?"


"Dari temen gue, emang dia sengaja ngirim ini karena nggak bisa dateng," jawab Azmi asal. "Ta,"


"Hem?"


"Kayaknya gue emang harus pergi deh,"


"Maksud lo?"


"Gue nggak bisa nikah sama Clara Ta, gue udah nemuin jawaban itu. Gue emang nggak bisa sama dia,"


"Jangan gila deh,"


"Bantu gue Ta," kata Azmi dengan pandangan memohon. Pemuda itu bahkan sudah melepaskan jaketnya dan menggantinya dengan jaket kulit biasa. "Bantu gue ngomong ke Clara, dia pasti bakalan ngerti,"


"CK," Tara berdecak pelan. "Kenapa gue jadi ikutan repot si,"


"Please Ta, elo juga mau gue seneng kan Ta?"


"Elo mau kemana?"


"Gue mau balik Jakarta," jawab Azmi. "Tapi tolong jangan bilang siapa-siapa,"


"Lo mau ngapain ke Jakarta?"


"Ada yang harus gue urus. Elo nggak perlu tau apa itu, yang jelas gue minta tolong banget sama elo buat jelasin ke Clara. Yang lain nanti biar gue yang urus yang penting Clara dulu," kata Azmi. "Nanti kalo urusan gue udah selesai gue yang akan cerita semuanya ke Clara," kata pemuda itu lagi.

__ADS_1


"Thanks Ta," kata Azmi, pemuda itu mengecup kening Tara cepat, dia bahkan tidak mau mendengar jawaban dari adiknya.


__ADS_2