PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 41. GARA-GARA SAMYANG


__ADS_3

Kayra terus memegang perutnya yang terasa melilit, gadis itu sudah bolak balik kamar mandi lebih dari lima kali sejak jam dua dini hari. Dan sekarang sudah jam tiga kurang lima belas menit, tandanya Iqbal sebentar lagi bangun untuk menunaikan sholat malam.


Kayra menggigit bibir bawahnya, sedikit menyesal karena memakan samyang tanpa meminta izin terlebih dulu pada suaminya.


Gadis itu kembali membuka selimut, berlari pelan ke arah kamar mandi.


"Kay," panggilan Iqbal membuat Kayra mematikan kran air.


"Iya mas?"


"Masih lama?" tanya Iqbal lagi.


"Iya mas," jawab Kayra apa adanya.


"Ya sudah aku pakai toilet luar aja," kata Iqbal lagi, tanpa menunggu jawaban Kayra pemuda itu menuju toilet di luar kamar mereka.


Kayra mengelap nafas lega, meskipun perutnya masih terasa begitu perih tapi sudah lebih baik dari pada sebelumnya.


"Kamu kenapa?" pemudanya itu memegang kedua pipi Kayra, mengecek keadaan gadis itu. "Ko pucat banget mukanya, sakit?" tanyanya lagi.


Kayra menggeleng pelan, gadis itu berjalan ke lemari di sudut ruangan mereka, tempat gadis itu menyimpan peralatan sholat dan beberapa seprei dan selimut. "Nggak papa mas,"


"Nggak papa gimana, ini keringetan juga," kata Iqbal kemudian mengambil remote AC dan mengecek suhu ruangan mereka. "Emang masih panas ya? Ac-nya kurang dingin?" tanya pemuda itu.


Kayra tersenyum kecil, hatinya menghangat merasakan perhatian yang Iqbal berikan padanya. Meskipun dia yakin Iqbal seperti ini karena dirinya sedang mengandung. "Nggak kok mas, nggak papa," kaya gadis itu. Kayra lalu menggelarkan sajadah untuk Iqbal, membiarkan suaminya untuk melaksanakan sholat tahajud lebih dulu.


"Kamu udah sholat?"


Kayra mengangguk kecil. "Udah tadi mas," jawabnya. Memang selama satu jam dia bolak balik ke toilet di juga memanfaatkan waktu untuk sholat tahajud, berharap rasa perih di perutnya juga akan hilang.


Kayra menekuk tubuhnya, tangannya memegang perut, berharap dengan cara seperti ini akan membuat rasa nyeri itu mereda.


"Kay?" panggilan lembut Iqbal membuat Kayra membuka matanya. "Perutnya sakit?" tanya pemuda itu.


Kayra mengangguk pelan. "Maaf mas," katanya.


Iqbal mengerutkan keningnya bingung. "Maaf kenapa? kan kamu nggak berbuat salah," katanya lagi.


"Tadi aku makan samyang," cicitnya pelan, Kayra bahkan tidak berani menatap wajah Iqbal. "Kau pengen banget makan samyang habis liat mukbang di YouTube, akhirnya minta tolong sama bi Surti,"


Iqbal menarik kursi kecil yang dan di meja rias Kayra, mengelus pelan perut istrinya. "Udah minum obat?" tanya Iqbal.

__ADS_1


Kayra menggeleng pelan. "Nggak berani mas, yang aku tau kalo lagi hamil nggak boleh minum obat,"


"Kan nggak semua obat Kay," kata Iqbal. Pemudanya itu mengambil ponselnya yang ada di meja kecil di samping Kayra. "Aku tanya Shilla dulu ya," katanya.


Kayra menggelengkan kepalanya. "Jangan mas, Shilla pasti lagi sibuk disana. Aku nggak mau ganggu dia,"


"Nggak papa,"


"Jangan mas," rengek Kayra pelan.


"Terus gimana dong?" tanya pemuda itu, tangannya masih telaten mengelus perut Kayra yang sudah benar.


"Aku minta tolong boleh?"


"Boleh boleh,"


"Masakin air panas terus nanti di taro di botol aja, biasanya aku kalo sakit perut di rumah ibu pakai cara itu," kata Kayra. Gadis itu mengigit bibir bawahnya. "Tadi aku mau ke bawah nggak berani soalnya," katanya lagi. "Maaf ya mas,"


Iqbal menepuk pelan puncak kepala Kayra. "Nggak usah minta maaf terus," katanya. "Tapi kalo nggak baikan kita langsung ke dokter ya," kata pemuda itu yang sudah tidak bisa dibantah lagi.


Kayra menganggukkan kepalanya dengan patuh, gadis itu tersenyum kecil melihat punggung Iqbal.


Kayra akhirnya bisa terlelap pukul setengah empat lebih, setelah Iqbal datang membawakannya botol berisi air hangat untuk meredakan rasa nyeri di perut gadis itu.


"Adek, besok lagi jangan minta yang aneh-aneh ya. Jangan minta sesuatu yang bikin bunda jadi sakit gini, nggak papa kalo ayah harus pergi buat beli apa yang kamu mau asal jangan minta bunda buat makan makanan yang membahayakan gini," kata Iqbal berbisik pelan di perut Kayra.


Kayra terkekeh kecil. "Membahayakan apa si mas," kata Kayra.


"Kan emang membahayakan Kay, kalo nggak bahaya kamu nggak akan kaya gini," kata Iqbal. "Udah enakan?" tanya Iqbal lembut.


Kayra tersenyum tipis, gadis itu memejamkan matanya. "Udah lumayan mas,"


"Alhamdulillah, sekarang tidur ya," kata pemuda itu yang diangguki oleh Kayra.


*****


"Mbak Kayra semalam sakit perut ya?" tanya bi Surti yang melihat Kayra turun dari tangga.


"Sedikit bi," jawab Kayra. Gadis itu meringis pelan.


"Nggak mungkin kalo sedikit, masa mas Iqbal sampe ngambil semua syok mie di lemari," kata bi Surti.

__ADS_1


"Eh serius bi?" tanya Kayra.


Bi Surti mengangguk kecil. "Iya tadi pagi sebelum ke mushola mas Iqbal ngecek dapur dulu, terus bilang jangan biarin mbak Kay buat makan mie lagi,"


Kayra meringis pelan. "Maaf ya bi,"


"Kenapa minta maaf to mbak, harusnya kan bibi yang minta maaf,"


"Aku jadi nggak enak ke bi Surti, jadi kena juteknya mas Iqbal,"


Bi Surti terkekeh geli. "Nggak papa, bibi malah seneng udah lama nggak liat mas Iqbal kaya gini," kata Bi Surti. "Bibi kaya lagi liat mas Iqbal yang dulu loh, makasih banyak ya mbak," kata bi Surti tulus.


"Kayra nggak ngapa-ngapain bi," jawab Kayra. "Kayra yang harusnya bila-"


"Kay," panggilan Iqbal membuat layar menghentikan kalimatnya. "Sarapan di luar mau nggak?" ajaknya


"Itu mbak diajak makan di luar," ledek bi Surti.


Kayra tersenyum kecil ke arah bi Surti. "Tapi aku belum siap-siap mas,"


"Ya udah siap-siap dulu aja, aku tunggu sambil manasik mobil ya," kata Iqbal. "Bi Surti juga ikut ya, sekalian sama Raissa juga pak Kusnan,"


"Loh mau dibawa semua mas? emang mau sarapan dimana mas?"


"Bogor," jawab Iqbal santai.


Kayra melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Iqbal. "Bogor mas?"


Iqbal mengangguk yakin. "Kamu udah enakan kan? nggak papa kan kalo kita ke Bogor?"


"Tapi ngapain jauh-jauh kalo cuma mau sarapan doang? kan bisa beli bubur ayam di taman deket sini mas," kata Kayra. Gadis itu masih belum mengerti dengan jalan pikiran suaminya.


"Nggak papa aku tiba-tiba pengen kesana,"


"Bawa baju ganti nggak mas?" tanya bi Surti.


"Nggak usah nggak papa Bi, kan nanti sore kita juga pulang lagi,"


"Berarti aku mandi dong mas?" tanya Kayra dengan polosnya.


Iqbal terkekeh kecil. "Ya iya dong sayang," jawabnya lembut.

__ADS_1


Kayra langsung membalik tubuhnya, dia belum terbiasa dengan panggilan itu dari suaminya. Pipinya kasti semerah kepiting rebus sekerang ini.


"Duh melting gue," katanya pelan sambil berjalan sedikit pelan ke kamarnya.


__ADS_2