PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 42. SARAPAN DI BOGOR


__ADS_3

"Emang sarapan harus sejauh ini ya mas? ke Bogor segala?" tanya Kayra, mereka semua sudah ada di mobil dan dalam perjalanan menuju Bogor.


Iqbal kembali mengecup pipi gembul Raissa, putri kecilnya itu semakin menggemaskan. "Aku tiba-tiba pengen kesana aja Kay, pengen makan bubur ayam haji Dullah," jawab Iqbal.


Kayra mengangkat alisnya bingung. "Kan di Jakarta ada mas,"


"Tapi kan itu palsunya," jawab Iqbal yang terdengar kurang meyakinkan di telinga Kayra.


"Ah masa si?" tanya gadis itu. "Emang iya pak?" tanya Kayra pada pak Kusnan.


Pak kusnan terkekeh geli. "Setau bapak yang di Jakarta itu punya ponakannya haji Dullah mbak, tapi menurut bapak rasanya sama si,"


"Tuh kan mas rasanya sama,"


"Nggak tau aku pengen ke Bogor aja gitu," jawab Iqbal lagi. "Tiba-tiba banget tadi mikir gitu, kebetulan kan aku juga lagi libur Kay,"


"Iya si tapi aneh aja,"


"Kamu si nggak pernah ngidam, jadinya aku kan yang ngidam,"


Kayra mencibir pelan, "ya nggak gitu juga," kata Kayra. "Tapi selama ini aku juga ngidam tau mas, cuma ya emang gampang-gampang aja, makanya nggak perlu ngerepotin kamu,"


"Aku di repotin juga nggak papa kali Kay,"


"Mas ini belok kanan kan ya?" tanya pak Kusnan memotong percakapan Kayra dan Iqbal.


"Iya pak belok kanan nanti kalo ada perempatan tinggal belok kiri, udah nggak jauh kok tempatnya," kata Iqbal yang sudah hafal di luar kepala tempat ini. "Kamu udah pernah ke sini belum si Kay?"


Kayra menggeleng pelan. "Belum,"


"Bi Surti juga belum?" tanya pemuda itu lagi.


Bi Surti menoleh ke bangku penumpang, menggeleng pelan menjawab pernyataan Iqbal. "Belum juga mas," jawab bi Surti.


"Pasti kalian suka deh disini, tempatnya enak banget. Ada gazebo-gazebo terus juga makanannya banyak,"


"Jadi nggak cuma bubur ayam ya mas?"


"Engga dong Bi, bibi mau seafood juga ada, nila bakar ada, ayam bakar ada, bahkan ikan pari bakar juga ada loh,"

__ADS_1


"Ikan pari?" tanya Kayra. Dia tau bentuk ikan pari seperti apa, tapi dia tidak bisa membayangkan jika ikan pari dijadikan makanan. "Rasanya apa?"


"Aku juga belum pernah coba Kay, nanti kamu kalo penasaran coba aja," kata Iqbal.


"Nggak ah, aku keinget yang anak durhaka itu loh mas. Yang dikutuk jadi ikan pari sama ibunya karen durhaka sama orang tua,"


"Emang ada mba?" tanya pak Kusnan yang menyimak obrolan mereka.


"Ada pak, dulu waktu kecil Kay nonton di kaset," jawab Kayra polos.


"Itu mah cuma dongeng Kay," kata Iqbal.


"Tapi kan tetep aja loh mas, bayangannya jadi gimana gitu," kata Kayra bergidik ngeri.


Iqbal terkekeh pelan. "Eh itu pak di depan tuh," kata Iqbal.


"Wah masih pagi udah rame aja ya mas," kata bi Surti berdecak kagum. "Aroma masakannya enak banget," katanya lagi. Dengan senyum cerah menoleh ke arah Kayra. "Bisa nggak ya mbak nanti kita minta resepnya buat dicoba di rumah," katanya lagi.


Kayra terkekeh pelan. "Nggak boleh lah bi, mereka kan pasti pakai resep rahasia keluarga juga," kata Kayra.


"Nanti bibi sambil di rasa-rasa aja, terus tulis semua bahan apa yang kira-kira dipakai sama mereka terus besok dipraktekkan di rumah deh," kata pak Kusnan memberi usul.


"Kursinya Raissa Kay jangan sampai ketinggalan," kata Iqbal memotong obrolan Pak Kusnan dan bi Surti. "Besok beli lagi yang di Jakarta bi, gampang," kata Iqbal terkekeh geli.


*****


"Kalo nggak habis nanti dibungkus kan bisa kay," jawab Iqbal.


Kayra menggeleng pelan, gadis itu memesan nasi goreng Jawa dengan minum es jeruk. "Aku nggak ikut-ikutan nanggung dosa ya kalo makanannya nggak habis," kata Kayra lagi.


Iqbal terkekeh geli mendengar apa yang dikatakan Kayra. "Nggak nggak, aku nggak akan berbagi dosa sama kamu juga Kay," kata Iqbal. "Nanti kalo ada yang masih utuh dibungkus buat anak anak yang tadi ada di jalan-jalan," kata Iqbal lagi.


Akhirnya Kayra menganggukkan kepalanya, dia sendiri juga tau Iqbal tidak akan membuang makanan yang sudah dia pesan sendiri. "Eh mas, si Shilla masih sama Alvin nggak si?"


"Nggak tau aku, kenapa emang?"


"Kaya udah jarang bareng. Kemaren juga dia nggak dateng diacara tujuh bulanan,"


"Kan waktu itu sempet cek cok gara-gara Alvin kan? aku juga kata bunda karena Shillanya nangis-nangis, tapi habis itu kayaknya baikan lagi deh,"

__ADS_1


"Apa sibuk kali ya?"


Iqbal mengangkat bahunya. "Mungkin juga, emang kenapa? kamu kangen sama Alvin?"


Kayra memutar bola matanya malas. "Shilla kan cantik ya, dia juga pinter, pasti kan banyak yang ngedeketin dia. Terus kalo Alvin udah buat salah begitu kenapa masih mau sama Alvin coba?"


"Namanya juga cinta Kay," kata Iqbal. "Cinta mah nggak memandang apapun,"


"Tapi kalo aku ya, aku mah nggak mau sama orang yang udah buat ak-"


"Iqbal? Kayra?"


Panggilan itu membuat Kayra dan Iqbal menghentikan perdebatannya.


"Clara?"


*****


"Kenapa lo ngajak gue kesini ya ah?" tanya Tara. Pagi tadi tiba-tiba Azmi menjemputnya di rumah, kakaknya itu terlihat buru-buru dan mengatakan akan membawa Tara ke suatu tempat tanpa menyebutkan dimana. "Lo ngapain ngajak gue ngintai rumah mas Iqbal?"


"Diem dulu Ta,"


"Lo ngapain si gini?" tanya Tara bingung sendiri dengan kelakukan kalanya. "Lo udah janji sama gue nggak akan gila loh,"


"Gue juga nggak gila Tata,"


"Terus ini apa?"


"Lo diem dulu," kata Azmi. "Noh liat," kata Azmi menunjuk ke arah rumah Kayra dan Iqbal.


"Itu bukannya kakaknya Clara? ngapain dia disini?" tanya Tara bingung.


Bima, pemuda itu terlihat sedang mencari sesuatu di pekarangan rumah Iqbal, entah apa yang pemuda itu cari.


"Tapi dia nggak bawa apa-apa," kata Tara.


"Diliat dulu yang bener Tata," kata Azmi. "Kalo gue nggak curiga ke dia gue nggak akan bawa elo kesini,"


"Kalo elo curiga kenapa nggak cerita sama mas Iqbal sama mbak Kayra?"

__ADS_1


"Mereka udah terlanjur percaya sama Bima," jawab Azmi.


"Eh liat liat, dia pergi," kata Tara heboh. "Tapi nggak bawa apa-apa, dia kaya ngecek sesuatu nggak si?" tanya Tara. Kedua Kaka beradik itu saling beradu pandang.


__ADS_2