
Kayra berusaha menenangkan degub jantungnya, sejak Iqbal bersikap lembut padanya jantungnya sering kali berdegup lebih cepat. Dan hal itu sedikit mengganggu Kayra.
Tangan kanan pemuda itu memeluk bahunya, sedangkan tangan kirinya mendarat mulus diperutnya yang membuncit. Membuat para pengunjung mall tak kuasa untuk tidak melihat keromantisan mereka.
Kayra berkali-kali menundukkan wajahnya, menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat. "Mas," panggil Kayra.
Iqbal menoleh ke gadis itu, mengangkat satu alisnya ke atas. "Kenapa Kay?" tanyanya.
"Aku malu,"
"Malu?" tanya Iqbal bingung, entah pemuda itu tidak sadar jika mereka sudah menjadi pusat perhatian atau pura-pura tidak sadar. "Malu sama siapa?"
"Mas nggak liat sekeliling kita emang?" tanya Kayra bingung.
Iqbal terkekeh kecil. "Kan kamu udah biasa diliatin gitu Kay," kata Iqbal.
Kayra menarik bibir bawahnya, gadis itu menghela nafas pelan. "Tapi kan nggak sambil ketawa-ketawa juga mas," katanya lagi.
Iqbal mengelus lengan Kayra pelan, mencoba menenangkan gadis itu. "Bentar lagi kita sampai tuh, mau makan pasta kan?" tanya Iqbal, seakan tau apa keinginan istrinya.
Kayra mengangguk kecil, langkahnya lebih ringan ketika Iqbal beberapa kali mengelus bahunya.
"Habis ini mau kemana lagi nih Bun?" tanya Iqbal. Telapak tangan besarnya masih mengelus perut Kayra, pemuda itu bahkan tidak memesan apapun selain americano kesukaannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Kayra balik bertanya.
"Aku kan ikut kamu," jawab Iqbal. Pemuda itu membuka mulutnya ketika Kayra mendekatkan garpu yang sudah dililit pasta ke mulutnya. "Mau beli buku?" tanya Iqbal. "Atau mau nonton?"
"Nonton?" tanya Kayra. Gadis itu mengerutkan keningnya, mempertimbangkan tawaran Iqbal. "Nonton apa emang?" tanya gadis itu lagi.
"Film Indonesia ada KKN di desa penari si yang lagi rame, mau?"
Kayra menggelengkan kepalanya. "Nggak deh," kata gadis itu. Dia sangat anti dengan horor horor club.
"Terus? mau cari buku?"
Kayra kembali menggelengkan kepalanya. "Kalo nggak cuma di mall aja boleh kan?"
__ADS_1
Iqbal mengangguk kecil. "Boleh," jawabnya. "Emang mau kemana?" tanya pemuda itu.
"Taman aja mas,"
*****
Dan akhirnya tibalah mereka disini, disalah satu taman yang cukup ramai di Jakarta Selatan. Sore hari dan dipenuhi remaja yang sepertinya baru saja pulang dari sekolah.
Kayra tersenyum kecil, melihat lalu lalang muda mudi yang berjalan di depannya dengan bergandengan tangan. "Mas dulu gitu ya?" tanya Kayra.
Iqbal terkekeh. "Nggak lah, aku SMA masih jadi anak baik,"
"Berarti pas kuliah jadi anak jahat?" kata Kayra tertawa pelan. Berasa disini ternyata sangatlah membuat moodnya baik. "Dulu aku sama Acha juga sering ke taman," kata Kayra mulai bercerita.
"Taman sini?" tanya Iqbal.
Kayra menggeleng pelan. "Bukan, taman deket sekolah dulu," katanya. Gadis itu tersenyum kecil. "Dia suka sama anak kecil, sama kaya aku. Tapi dia lebih keibuan dikit si, dia juga selalu ada snack di tasnya jadi pas ketemu anak kecil di taman dia bakalan kasih snack yang dia punya," Kayra menatap lurus ke depannya. "Dia sama sekali belum pernah pacaran, tapi kalo yang suka sama dia banyak banget tapi meskipun begitu dia tetep bersikap baik sama mereka. Itu yang buat Acha dibully di sekolah dulu,"
"Dan ditolong sama kamu," potong Iqbal.
Kayra mengangguk kecil. "Aku nggak nyangka juga ternyata Acha udah nyoba kenalan sama aku dari lama, tapi akunya nggak sadar,"
"Kenapa?"
"Pernah pacaran?"
Kayra mengangguk kecil. "Cinta monyet lah dulu," kata gadis itu.
"Kata bapak banyak juga kan yang dateng ke rumah langsung," kata Iqbal lagi.
Kayra mengangkat bahunya. "Kan ketemunya sama bapak bukan sama aku,"
"Iya karena kamunya nggak mau ketemu," kata Iqbal mengelus pelan kepala Kayra. Iqbal mengedarkan sekelilingnya, taman disini sangat luas di depannya ada danau buatan dan disediakan perahu juga, tidak jauh seperti villanya yang ada di Lembang, ada cukup banyak kursi, rumputnya juga bersih bahkan tidak ada satupun sampah yang tidak di tempatnya. "Mau ice cream?" tanya Iqbal, ketika melihat ada anak kecil membawa ice cream di tangannya.
"Mana ada yang jualan?"
"Nanti aku cari,"
__ADS_1
Kayra terkekeh pelan. "Nggak usah mas," kata gadis itu. "Kamu nggak mau ngomong apapun sama aku mas?" tanya Kayra, dia sedang mencari informasi lebih banyak tentang Iqbal dari pemuda itu sendiri.
"Ngomong apa ya?" tanya Iqbal yang bingung sendiri. "Saling banyaknya aku nggak bisa ngomongnya ini,"
"Apa aja boleh, mungkin kamu pengen cerita tentang mahasiswa kamu. Temen temen dosen kamu, kerjaan kamu, apapun itu bebas," kata Kayra. "Atau tentang aku juga boleh," lanjut gadis itu terkekeh pelan.
Iqbal tersenyum tipis. "Sekarang aku ngerti kenapa Acha jodohin aku sama kamu," kata Iqbal.
"Kenapa?"
"Karena emang kamu mirip banget sama dia Kay, dia tau dengan siapa aku baik-baik aja. Bukan maksud aku mau bandingin kamu san Acha ya, kalian berdua sama-sama baik, Acha baik kamu juga nggak kalah baik dengan cara kamu sendiri. Dan aku suka, aku suka cara kamu senyum ke aku, aku suka cara kamu nyiapin makan buat aku, aku bahkan suka cara kamu natap aku Kay," kata Iqbal dalam. "Aku nggak butuh waktu sampai satu tahun untuk bisa rasain ini lagi," kata Iqbal lagi. Tangannya mengambil jemari Kayra yang terjatuh bebas di paha gadis itu. "Makasih banyak ya, dengan kamu aku bisa merasakan ini lagi,"
*****
"Sejak kapan lo pindah di dekat rumah Kaka gue?" tanya Shilla, gadis itu langsung keluar begitu mendengar ada yang memencet bel rumah kakaknya.
"Udah lama," kata Bima. Dia memang sengaja berkunjung ke rumah Iqbal, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan menemukan Shila disini. "Lo tumben nggak di rumah sakit," kata Bima.
"Kenapa emang?"
"Kan gue tanya, nggak ada maksud apa-apa kali. Tanya aja, kalo nggak mau jawab ya udah,"
"Ya udah kalo gitu,"
Bima mengangkat alisnya. "Jutek banget si lo," kata Bima. "Masa ibu dokter jutek si," katanya terkekeh pelan.
"Gue jutek cuma sama elo kali, sama pasien gue ya enggak lah,"
"Emang gue ada salah sama elo?" tanya Bima bingung. "Perasaan gue nggak ada salah apapun sama elo deh, kita ngobrol juga baru kali ini," kata Bima lagi.
"Salah elo cuma satu," kata Shilla.
"Apa?"
"Lo ganggu waktu libur gue,"
Karena jujur saja adanya Shilla di rumah kakaknya karena dia menghindar dari ayahnya yang seringkali mengajaknya rapat. Entah rapat membahas pasien atau rapat membahas rumah sakit mereka, dan hal itu cukup membuat Shilla kewalahan karena sering kali dia kehilangan waktu berliburnya.
__ADS_1
"Kok gitu?" tanya Bima bingung