PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 33 TETANGGA MASA GITU


__ADS_3

"Aduh akhirnya bisa liat wajah cantik mbak Kayra lagi," kata ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur, memang sudah menjadi rutinitas setiap pagi para ibu-ibu akan berbelanja di gerobak sayur Mpok Atiek.


Kayra tersenyum kecil, gadis itu masih setia dengan Raissa yang ada trolinya, tak lupa dengan Amel yang juga dengan semangat menemani Kayra. "Hehe iya ini bu, udah lama nggak nengok bapak sama ibu soalnya,"


"Mana suaminya? kok nggak ikut?" tanya Bu Tuti yang terkenal julid di desanya.


"Ah, suami nggak ikut Bu Tuti. Kebetulan lagi UAS jadi lumayan sibuk," jawab Kayra apa adanya.


"Oh tumben soalnya pulang nggak sama suami," kata Bu Tuti lagi tanpa beban. "Oh iya mantan pacar kamu itu siapa namanya? yang sering main kesini," katanya lagi. Kali ini membawa nama Azmi untuk dijadikan topik. "Dia udah punya calon belum? itu ponakan Bu Sur ada yang belum nikah juga padahal umurnya udah mateng, siapa tau mantan pacar kamu suka,"


Kayra menghembuskan nafas pelan, ini yang dia tidak suka dari lingkungan rumahnya. Tetangganya ini terlalu mencampuri urusan orang lain. "Waduh kalo itu Kayra juga nggak tau Bu Tuti," jawab Kayra.


"Apa kamu punya temen lain buat dijodohin sama Yayuk? ponakannya Bu Sur itu,"


"Udah lah Bu Tuti, nanti kalo Yayuk udah siap nikah juga bakalan nikah juga," kata Bu Ratmi yang sedari tadi diam menyimak obrolan mereka. "Lagian kan itu juga bukan urusan kita ya mbak Kayra,"


Kayra mengangguk kecil. "Hehe iya Bu," jawab gadis itu, dalam hatinya dia membatin padahal biasanya juga bu Ratmi sangat antusias ketika sedang membicarakan orang seperti ini.


"Ngomong-ngomong anaknya mbak Raissa ternyata mirip sama kamu juga ya mbak," kata Bu Ratmi setelah cukup lama memandangi wajah Raissa yang sedang tertawa melihat tingkah tante kecilnya -Amel.


"Alhamdulillah Bu,"


"Mertua kamu gimana?" tanya Bu Ratmi ingin tahu.


Kan apa Kayra bilang, Bu Ratmi sama Bu Tuti ini sama saja. Sama sama suka menjadikan masalah orang lain sebagai topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kenapa apanya Bu?" tanya Kayra tidak mengerti.


"Maksud Bu Ratmi itu apa orang tua suami kamu udah bisa menerima kamu sebagai menantu atau belum? maaf nih ya mbak, soalnya kan kamu istri kedua anaknya, dan kalian berdua juga menikah tiba-tiba. Apa mertua kamu nggak ada curiga sama kalian?"


"Maksudnya curiga gimana ya?" tanya Kayra.


"Ya curiga mungkin kalian ada main dibelakang mbak Raissa," jawab Bu Ratmi.


Kayra menggelengkan kepalanya, padahal sudah lebih dari enam bulan dia menikah dengan Iqbal tapi masih saja ada orang-orang yang berkomentar demikian padanya. "Astagfirullah hal adzim," Kayra beristigfar pelan, gadis itu menghentikan aktifitasnya yang sebelumnya sedang memilih sayuran segar. "Kenapa ibu-ibu bisa mikir seperti itu?"


"Ya kan kamu cuma nanya loh mbak, kalo memang tidak benar ya jangan marah," kata Bu Tuti.


Kayra menghela nafas berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya. "Saya nggak pernah ada hubungan apapun dengan suami saya sekarang sebelumnya, saya tidak melakukan kesalahan begitu juga dengan suami saya," kata Kayra. "Dan asal ibu-ibu tau, keluarga suami saya bahkan keluarga Acha sekalipun menerima saya dengan sangat baik untuk menjadi bagian dari keluarga mereka, ibu berdua nggak perlu khawatir saya tidak diperlukan dengan baik oleh mereka karena itu semua tidak benar adanya,"


Bu Ratmi dan Bu Tuti saling pandang, keduanya kompak berdehem pelan. "Alhamdulillah deh kalo begitu," kata keduanya kompak.


Di tukang sayur ini bukan hanya ada Bu Tuti, Bu Ratmi dan Kayra. Tapi juga ada beberapa ibu-ibu yang lain dan para gadis yang hanya diam menyimak obrolan mereka, sudah paham betul dengan tabiat mereka berdua.


"Saya bukan bapak dan ibu yang jika dituduh seperti itu tetap diam, selama ini bukannya saya nggak tau siapa siapa aja yang suka gosipin saya dibelakang tapi di depan saya berlagak ada di pihak saya," kata Kayra. "Lebih baik kalian urus anak kalian sendiri, dari pada ngurusin anak orang lain."


Kayra lalu memandang ibu-ibu lainnya yang menatap ke arahnya, gadis itu tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya sopan. "Saya permisi dulu ya Bu," kata gadis itu sebelum pergi.


*****


"Ko Amel nggak cerita sama mas Artar?" tanya Artar pada adiknya, mereka sekeluarga sedang berkumpul di taman sederhana yang dibuat oleh Artar beberapa waktu yang lalu. "Tapi emang duo ibu-ibu itu harus ditindak tegas si mbak, mereka usil banget mending ya kalo cuma usil sama yang bersangkutan lah ini mereka juga sering nyebarin gosip nggak bener," kata Artar.

__ADS_1


"Kan mereka emang orangnya gitu, udah nggak usah dibawa serius," kata ibu yang keluar membawa tempe mendoan dan sambel kecap.


"Tapi emang ngeselin banget loh Bu, waktu itu juga pernah tuh si Indy digosipin nggak bener karena dianter pulang sama laki-laki padahal nggak cuma anak laki-laki itu yang nganter tapi ada temen-temen si Indy juga,"


"Nggak berubah ya dari dulu mereka," kata Kayra sambil mencomot tempe mendoan yang masih panas. "Berasa nggak punya urusan aja sampe ikut-ikutan ngurus rumah tangga orang lain,"


Bapak terkekeh pelan sambil membawa Raissa. "Udah nggak perlu dibahas lagi, satu kampung juga udah tau tabiat mereka seperti apa," kata bapak kembali duduk memangku Raissa di pahanya. "Cukup mereka yang seperti itu, kalian jangan sampai memiliki watak yang sama dengan mereka.


"Tapi tetep ngeselin pak," kata Artar. "Eh iya mbak kata si Avip dari kemaren Bu Tuti nanyain mas Azmi terus masa,"


"Kenapa nanyain mas Azmi?" tanya ibu bingung.


"Mau dijodohin sama mba Yayuk Bu," jawab Kayra. "Tadi juga dia udah bilang sama Kay,"


"Tuh kan pak, emang bener-bener orang itu,"


"Emang si Yayuk mau?"


"Mana ada si orang sini yang bisa nolak mas azmi selain mbak Kayra Bu,"


"Tapi bukannya si Yayuk udah punya pacar yang di luar negeri itu ya?" tanya Kayra bingung karena dirinya juga sempat mendengar desas desus kalo Yayuk juga akan segera menikah dengan pacarnya.


"Ngga jadi mbak," jawab Artar. "Tiba-tiba pacarnya mutusin gitu aja, padahal kata Avip mbak Yayuk udah keluar duit banyak loh,"


"Udah udah, nggak baik ngomongin orang gitu," kata bapak. "Padahal baru aja bilang jangan memiliki watak seperti Bu Tuti dan Bu Ratmi, tapi baru aja bapak selesai ngomong kalian malah makin semangat gosipnya,"

__ADS_1


"Maaf pak nggak sengaja," kata Artar meringis kecil.


__ADS_2