PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 21. MR X IS BACK


__ADS_3

Kayra terpaku di depan pintu, badannya bergetar tanda jika dia sedang ketakutan.


"Kenapa Kay?" tanya Iqbal yang baru saja keluar. Pemuda itu juga bereaksi hampir sama dengan Kayra. "Mundur dulu Kay," katanya. Tangan kirinya memegang pergelangan tangan Kayra, meminta agar gadis itu diam di belakangnya. Sedangkan tangan kanannya mengambil kotak berwarna coklat, kotak yang sangat mirip dengan dulu yang juga ditemukan Acha di depan rumah.


Dengan posisi masih berjongkok Iqbal membuka kotak itu, keningnya berkerut ketika dia tidak menemukan hal yang menakutkan. "Ini bener kamu?" tanya Iqbal. Ada foto Kayra dan seorang pemuda di foto itu.


Kayra mengerutkan keningnya bingung. "Iya," jawab gadis itu. Foto itu diambil dari belakang, sehingga Iqbal tidak tau siapa pemuda yang duduk di hadapan Kayra pada saat itu. "Aku nggak tau dia siapa, tapi kemarin dia ngomong kita pernah ketemu sebelumnya," lanjut gadis itu lagi.


Kayra mengambil foto yang masih ditangan Iqbal, gadis itu lalu membaliknya. "Pak," panggil Kayra.


"Nice to meet you cantik," kata Iqbal membaca tulisan itu.


Keduanya saling pandang, lalu Iqbal melihat ke sekelilingnya. "Masuk dulu yu," ajaknya.


"Ciri-cirinya gimana Kay?"


"Dia tinggi, tingginya hampir sama kaya pak Iqbal. Kulitnya putih, alisnya tebel," jawab Kayra.


"Yang lain?" tanya Iqbal. Karena yang dijelaskan Kayra terlalu umum, dan terlalu banyak pemuda dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan gadis itu.


Kayra menggeleng pelan. "Nggak ada pak, dia pakai kacamata hitam. Dan aku juga nggak begitu peduli sama dia," kata Kayra. "Emang kenapa? Nggak mungkin kan dia yang ngirimin ini?"


Iqbal menggeleng pelan. "Bisa jadi iya bisa jadi juga bukan," jawabnya. "Ini jelas anglenya beda kan, bisa jadi ini emang ulah orang lain. Tapi kenapa dia ngaku pernah ketemu sama kamu sedangkan kamu sendiri nggak inget sama sekali sana dia," jawab Iqbal.


Kayra mengangguk paham. "Dia bilang pernah ketemu waktu di rumah sakit, it can be pas Acha lagi sakit. Di taman rumah sakit, emang aku beberapa kali ke sana si, tapi aku nggak inget kalo pernah ketemu. Mungkin saat itu aku benar-benar kalut banget jadi nggak begitu merhatiin mukanya dia," jawab Kayra.


"Di rumah sakit?" tanya Iqbal.


"Iya,"


"Udah lama dong,"


"Iya makanya itu, tapi kenapa dia masih inget sama aku? Yang padahal aku nggak melakukan apapun gitu,"

__ADS_1


"Cause you are beautiful?"


"Tau si," jawab Kayra. "Tapi aku masih penasaran pak," kata gadis itu lagi. "Kalo ternyata ini "dia" gimana?" tanya gadis itu lagi.


Iqbal mendesah pelan. "Kita tetap waspada, itu harus. Belajar sama kejadian yang dulu-dulu, tapi kita juga harus tetap positif thinking. Semoga ini orang iseng aja yang ngirimin ini,"


"Tapi kenapa pas foto aku sama laki-laki lain?"


Iqbal terdiam. Benar apa yang dikatakan Kayra, kenapa harus foto gadis itu dengan laki-laki lain? Kenapa bukan ketika gadis itu sedang sendirian. Dan untuk apa tulisan ini?


"Mungkin kebetulan orang iseng ini lagi disana juga, kamu kan banyak penggemarnya Kay. Dia bisa salah satu dari penggemar kamu kan?" tanya Iqbal lagi.


Kali ini Kayra menganggukkan kepalanya, meskipun gadis itu masih merasa janggal dengan kejadian sore ini.


"Jangan terlalu dipikirin dulu, fokus sama kandungan kamu aja okay?"


*****


"Kenapa lo nggak cerita ke gue si?" tanya Iqbal. Pemuda itu sudah sampai di apartemen milik Azmi. Kejadian sore tadi terus membuatnya tidak nyaman, dan mau tidak mau dia memang harus menceritakan hal itu pada Azmi. "Bisa jadi ini orang yang sama kan?" tanya Iqbal lagi.


"Kayra," jawab Iqbal.


Azmi mengangguk kecil, pemuda itu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iqbal. Jika bukan Iqbal yang mereka kejar tapi dari awal mereka memang mengejar Kayra. "Gue bener-bener buntu bang. Gue nggak tau dia siapa dan kenapa mereka nggak muncul di depan kita sejak awal coba,"


"Kalo yang mereka mau itu Kayra gimana?" tanya Iqbal. Sekarang posisinya sama seperti ketika dia masih dengan Acha, hanya saja belum ada rasa cinta antara dirinya dan Kayra. Dan alasan pemuda itu memberi tau Azmi tentu saja karena hanya pemuda yang bisa menjaga Kayra dengan baik.


Azmi menggeleng, pemuda itu mengacak rambutnya frustasi. "Tolong banget jaga Kayra ya bang," kata pemuda itu. "Gue nggak peduli nantinya lo bakal suka sama dia atau enggak tapi tolong perlakukan dia dengan baik. Tolong jaga dia ya, dia udah cukup disalahin sama orang-orang yang nggak tau apa-apa karena pernikahan kalian. Jangan sampe dia tau kalo "orang itu" udah mulai lagi aksinya,"


"Tanpa elo suruh gue juga bakal jaga Kayra," kata Iqbal. "Dia istri gue sekarang," lanjutnya lagi dengan penekanan. Entahlah tiba-tiba dia teringat apa yang diceritakan Kayra tempo hari, tentang perbuatan pemuda di depannya ini yang dia kira sudah berubah tapi ternyata dia juga mengumbar nafsunya ke perempuan baik seperti Kayra.


"Iya bang gue paham," kata Azmi.


"Pernikahan lo?" tanya Iqbal. "Persiapan udah sampe mana?" tanya pemuda itu lagi.

__ADS_1


"Udah delapan puluh persen si bang, Clara emang sengaja nggak ngundang banyak orang. Disisi lain karena dia udah punya anak duluan,"


"Di Jogja?"


"Nggak di Jakarta,"


"Elo menikahi Clara bukan karena gue sama Kayra kan?" tanya Iqbal. Entah dia sudah menanyakan ke berapa kalinya hal ini pada Azmi.


"Bang, gue emang belum cinta sama Clara. Tapi melihat Clara yang sekarang gue rasa nggak akan sulit buat gue lupain Kayra,"


"Semoga memang elo jodoh buat dia Mi," kata Iqbal, pemuda itu menepuk pundak Azmi, tidak sengaja matanya melihatnya foto Azmi dan Kayra disana. Keduanya nampak serasi di foto itu, foto yang diambil Alvin beberapa bulan yang lalu. "Lo masih nyimpen foto kalian berdua?" tanya Iqbal yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban apapun.


*****


Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Kayra memutuskan untuk pergi berbelanja sendiri di supermarket dekat perumahan yang dia tinggali, kebetulan Raissa sedang diajak bi Surti keliling komplek dan Azmi entah sedang pergi kemana dan dengan siapa.


Kayra mengambil keranjang, segera mengambil beberapa susu untuk dirinya. Beberapa mie instan, tepung, cemilan, kopi dan buah-buahan. Kayra begitu fokus sampai-sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak gadis itu masuk ke dalam supermarket.


"Kayra?"


Panggilan dari seseorang itu membuat Kayra menoleh pelan. Gadis itu diam sebentar, dia mengerutkan keningnya bingung.


"Lo Kayra kan?" tanyanya lagi. "Gue Bima,"


"Bima?" tanya Kayra membeo. Gadis yang masih mengenakan masker sekali pakai itu masih mencoba mengingat apakah dia memiliki teman yang bernama Bima. "Ah, Bima kakaknya Clara?" tanya Kayra ketika dia menemukan ingatan tentang pemuda itu. Namun sedetik kemudian keningnya kembali berkerut. Untuk apa Bima jauh-jauh kesini?


"Iya, lo sendiri?" tanya Bima.


"Iya ini," jawab Kayra apa adanya.


"Ka Bima lagi ngapain disini?" tanya Kayra yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Oh ini gue beli rumah deket-deket sini," jawab Bima. "Rumah lo juga jauh dari sini kan ya?"

__ADS_1


"Ah iya," jawab Kayra. Bima mungkin belum tau kabar terbaru tentang dirinya. "Gue duluan ya kak," pamit gadis itu lagi.


"Eh iya, btw lo beli susu hamil banyak bener Kay? Buat siapa?"


__ADS_2