PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 32. WEJANGAN BAPAK


__ADS_3

"Nggak ada yang mau diceritain sama gue mbak?" tanya Artar memancing kakaknya. Kebetulan sekali rumah hanya tinggal mereka berdua, ibu sedang pergi ke rumah tetangga dengan bapak dan membawa Raisaa, tentu saja Amel tidak mau ketinggalan. Anak itu sangat bersemangat untuk memamerkan keponakan lucunya.


"Apa yang harus gue ceritain ke elo emang?" tanya Kayra, gadis itu membetulkan letak kaca matanya. Membaca buku di teras rumah masih menjadi favoritnya sejak dulu.


"Gue tau hubungan elo sama mas Iqbal lagi nggak baik-baik aja kan?" tanya Artar. "Keliatan dari muka lo mbak, lo nggak mungkin bisa nyembunyiin hal kaya gini dari gue," kata Artar lagi.


Kayra melepaskan kacamata bacanya, gadis itu lalu memberi pembatas di halaman terakhir di bukunya. "Kenapa lo bilang gitu?"


"Karena keliatan,"


"Apanya?"


"Mbak, mungkin raga lo memang disini. Tapi pikiran elo entah dimana," kata Artar. "Kenapa si? susah buat cerita sama gue? hanya karena gue masih SMA bukan berarti gue nggak bisa kasih solusi dan rahasia loh mbak,"


Kayra terkekeh geli mendengar penuturan adiknya. "Sejak kapan lo jadi dewasa gini?" tanya gadis itu. "Apa gara-gara ada cewek yang ditaksir ya? jadi belajar jadi cowok dewasa gini,"


"Mbak nggak usah mengalihkan pembicaraan gini deh," kata Artar.


"Ah berarti bener kan?" tanya Kayra yang masih bersemangat menggoda adiknya.


"Jadi bener kan lo lagi ada masalah sama mas Iqbal?" cecar Artar lagi.


Kayra mengulum bibirnya ke dalam. "Pak Iqbal minta cerai Tar,"


"Maksud lo?"


"Gue nggak tau dia serius atau enggak, tapi yang jelas kemaren dia ngomong gitu,"


"Wait wait, maksudnya gimana? cerai? karena apa? emang lo buat salah apaan?"


Kayra mengangkat kedua bahunya. "Itu cuma tawaran dia aja, dia cuma minta pendapat gue apa gue mau cerai atau enggak. Entah itu memang keinginan dia atau ada alasan lain dibalik itu," kata Kayra.


"Alasan lain apaan lagi? mbak sebenarnya apa si yang lo sembunyiin dari gue?" tanya Artar yang semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.

__ADS_1


"Ya itu, dia minta pisah Tar. Bukan minta si, tapi lebih tepatnya menyarankan untuk pisah dengan alasan takut nggak bisa jaga gue dengan baik dan nggak bisa buat gue seneng," jelas Kayra. "Udah itu aja, mungkin kalimat dia terdengar biasa aja dan gue yang baperan kali ya, padahal semua orang juga tau kalo pernikahan kita bukan didasari cinta satu sama lain. Tapi untuk menyenangkan orang yang kita sayang,"


"Tapi kalo begini jatohnya nggak cuma elo yang terluka mbak, tapi mbak Acha juga," kata Artar. "Kalo dari awal mas Iqbal nggak mau adanya pernikahan, kenapa dia nggak nolak permintaan mbak Acha?"


"Nggak semudah itu buat nolak permintaan orang yang kita sayang Tar,"


"Iya gue juga tau mbak,"


"Terus elo nggak mau kasih tau bapak sama ibu?"


"Kasih tau apa?" Kayra mengangkat satu alisnya ke atas. "Kasih tau kalo hubungan gue sama pak Iqbal lagi nggak baik?"


"Ya mungkin bapak punya solusi buat kalian berdua,"


"Nggak deh, yang ada nanti bapak sama ibu kepikiran lagi,"


Ibu dan bapak pulang dengan membawa banyak tentengan di tangan, bahkan Amel berjalan sambil memakan jajannya yang entah dikasih oleh siapa.


Raissa terlelap di gendongan ibu, membuat Kayra lantas berdiri dari duduknya dan mengambil alih putrinya. "Tidur dari tadi ini Bu?"


"Dek Raissa betah disana tadi mba," cletuk Amel.


"Emang iya?" Kayra terkekeh kecil. "Alhamdulillah dong kalo dek Raissa nggak rewel,"


"Nyenengin banget dia mbak, sama siapa-siapa mau ikut. Tapi tadi bapak udah bilang ko sama meraka boleh megang asal bukan area wajah, nggak boleh cium-cium juga," jelas bapak. Mempraktekkan apa yang memang tidak diperbolehkan oleh Kayra.


"Katanya sama siapa-siapa mau ikut? terus gimana ikutnya kalo nggak boleh gendong?" tanya Kayra.


"Dipangku aja mbak," jawab Amel. "Ini juga tadi dek Raissa dikasih mainan sama anaknya pak RT," katanya lagi. "Tapi kayaknya adek belum bisa ya? jadi dititipin ke Amel dulu boleh pak?"


"Itu mah emang Amel yang mau," celetuk Artar yang tiba-tiba menyahuti obrolan mereka.


"Tar tolong siapin tempat tidurnya Raissa dong," pinta Kayra pada adik sulungnya.

__ADS_1


*****


"Kamu tau mbak kenapa pernikahan mas Azmi sama Clara gagal?" tanya bapak di meja makan, mereka semua kecuali Amel -karena anak itu sedang menjaga Raissa atas kemauannya sendiri.


Kayra diam sebentar, gadis itu lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa menangnya pak?"


Bapak menghembuskan nafasnya pelan. "Sejak hari itu dia belum pernah mau ke rumah lagi, bapak kira dia akan cerita sama kamu atau sama suamimu,"


"Nggak pak," kata Kayra. "Kejadian disana gimana memangnya pak? terus keadaan Clara gimana?"


"Bapak salut banget si sama Clara, dia tenang banget bahkan dia sama sekali tidak terlihat kecewa atau marah. Dan Tara, menurut bapak Tara disana juga sangat membantu Clara," jelas bapak. "Kalo yang bapak denger dari orang-orang mas Azmi keluar setelah dapet pesan dari kiriman bunga mbak, entah isinya apa bapak juga nggak tau,"


"Bunga?" tanya Kayra pura-pura tidak tahu akan masalah itu.


"Iya jadi ada surat di dalam bunga itu," kali ini ibu yang ikut bersuara. "Tapi meskipun begitu ibu juga ingin dengar kabar dari mas Azmi, apa dia baik-baik aja setelah pernikahannya gagal, kenapa sama sekali nggak ke sini. Biasanya paling nggak dua Minggu sekali dia main kesini atau sekedar mampir,"


"Itu kan udah jadi pilihan mas Azmi sendiri pak, Bu. bapak sama ibu nggak udah terlalu memikirkan itu, pasti mas Azmi juga memikirkan ini semua dengan baik. Dia udah biasa ada dalam dua pilihan yang sulit Bu," kata Artar. "Mendingan ibu mikirin mba Kayra aja ini,"


"Lah? gue? kenapa gue?"


"Ya elo lah, masa gue,"


"Maksudnya kenapa jadi gue?"


"Nih ibu sendiri yang mau tanya nih," kata Artar. "Ibu itu udah mau nanyain ini dari lama sama elo mbak, tapi nggak kesampaian juga,"


"Bener Bu?"


Ibu mengangguk kecil, padahal pertanyaannya bukan pertanyaan yang begitu penting untuk dibahas sekarang. "Kamu itu kenapa sekarang jarang banget main ke rumah, atau sekedar mampir ke toko? kalo kamu sibuk kan bisa ngajak bi Surti,"


Kayra meringis kecil. "Dari kemaren emang belum sempet bu, masih takut bawa-bawa Raissa kalo cuma berdua,"


"Biasanya juga dibawa ke rumah orang tua Acha kan mbak?" tanya bapak.

__ADS_1


Kayra mengangguk. "Iya si pak, tapi kadang Kay merasa nggak enak aja,"


Bapak meminum air putihnya. "Satu pesan bapak sama kamu mbak, kalo ada apa-apa jangan sembunyiin sendiri. Jangan hanya karena kamu anak pertama kamu menganggap bisa mengatasi semuanya sendiri. Masalah keluarga memang tidak baik untuk dicerita-ceritakan. Tapi kalo kalo kamu merasa itu aib suami kamu dan kamu nggak mau cerita ke bapak dan ibu, kamu kan bisa cerita ke mertua kamu. Orang tua mas Iqbal, yang paham karakter anaknya sejak kecil,"


__ADS_2