PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 17. BERCERITA MASA LALU


__ADS_3

Iqbal membatu mendendam apa yang baru dikatakan oleh Kayra.


"Ini bener punya aku pak," kata Kayra lagi. Kali ini gadis itu menatap Iqbal penuh. "Anak aku dan Azmi," bak disambar petir Iqbal menjatuhkan testpack yang dia pegang. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka, jika jawaban itu yang akan diberikan Kayra untuknya.


"Kay kamu bohong kan?"


Kayra menggeleng. "Nggak pak, bapak nggak salah denger dan aku juga nggak lagi bohong atau becanda, aku serius," Kayra mengusap perutnya. Memang jika tidak diperhatikan dengan baik tidak akan ada yang sadar jika kini perutnya membesar. "Anak yang ada disini, anak Azmi pak," kata Kayra lagi.


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal? kenapa kamu nggak bilang sama saya ataupun Acha, kenapa kamu bohongin kita semua Kay?"


"Aku nggak ada niatan untuk bohong sama siapapun pak, aku sendiri nggak tau saat itu kalo aku sedang mengandung," jawab Kayra. Dirinya memang benar-benar tidak tahu, dia tahu jika dirinya sedang hamil ketika dia sudah menyetujui permintaan Acha untuk menikah dengan Iqbal. "Tolong jangan bilang sama bapak dan ibu ya pak, aku mohon jangan kasih tau siapapun dulu. Nanti biar aku yang cerita ke mereka,"


"Kenapa kamu bisa melakukan itu Kay?" tanya Iqbal, pemudanya itu sudah terduduk di atas kasur saking lemasnya. "Acha udah percaya banget sama kamu Kay,"


Kayra mengangguk kecil. "Aku benar-benar khilaf pak," jawab Kayra.


"Azmi maksa kamu?"


Kayra menggelengkan kepalanya. "Nggak pak, dia sama sekali nggak memaksa aku,"


"Terus kamu sendiri yang mau?! kamu tau kan Kay kalo apa yang sudah kalian lakukan salah?! apa kamu nggak mikirin perasaan bapak sama ibu? perasaan Artar juga? apa Azmi nggak merasa malu sama orang tua kamu?!" Iqbal mengacak rambutnya frustasi. "Harusnya kamu mikir sampai sana Kay, jangan hanya diliputi nafsu kamu kasih mahkota kamu ke laki-laki yang bukan mahramnya,"


"Aku tau mas aku salah, tapi aku nggak ada pilihan lain saat itu,"


"Nggak ada pilihan lain gimana?!"


Kayra mulai terisak, dan tau cepat atau lambat pasti akan ada seseorang yang tau akan rahasia yang dua sembunyikan seorang diri. Dan dia sama sekali tidak menyangka jika Iqbal adalah orang pertama yang tau bahkan sebelum Azmi -ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya tau.


"Sekarang ceritain sama saya semuanya," kata Iqbal lagi. Marahpun percuma sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Dan dia juga tidak mungkin menceritakan hal ini pada orang tua Kayra. "Saya yang akan ambil keputusan nanti, apakah pernikahan kita akan lanjut atau lebih baik kita pisah biar kamu dan Azmi bisa merawat anak kalian sama-sama,"


FLASHBACK ON


Azmi tersenyum melihat Kayra yang sibuk dengan jurnal di depannya, gadis itu terlihat begitu serius meskipun ada orang lain di depannya. Dan dia juga sama sekali tidak merasa terganggu, padahal sedari tadi Azmi terus mengawasinya. Bahkan kaca mata gadis itu sampai turun.


"Serius banget si non," kata Azmi terkekeh pelan. "Ada cowo ganteng di depannya gini aja dicuekin," kata pemuda itu lagu.


"Bentar lagi selesai," jawab Kayra. Gadis itu bahkan enggan mengangkat wajahnya.


"Emang lagi ngerjain apa hem?" tanya Azmi lagi, pemuda itu yang sebelumnya duduk di depan Kayra kini pindah duduk di samping gadis itu. Sepasang kekasih itu memutuskan untuk mampir ke cafe, dan akhirnya terjebak di cafe ini karena hujan yang amat deras. "Emang nggak butuh bantuan aku apa?" tanya Azmi lagu.

__ADS_1


Kayra menggeleng pelan. "Bentar lagi juga selesai mas," jawab Kayra.


"Buat lomba?"


Kayra mengangguk pelan. "Cuma mau coba-coba aja, kalo lolos Alhamdulillah kalo nggak ya udah nggak papa," jawab Kayra. "Selesai," kata gadis itu. Tanpa mengatakan apapun lagi dia langsung menutup laptopnya, menoleh sebentar ke arah Azmi sebelum meminum kopi pesanannya.


"Kay,"


"Hem?"


"Aku udah cerita apa aja ya sama kamu tentang hubungan aku sama Clara?"


"Banyak," jawab Kayra singkat.


"Banyak?"


"Kamu juga udah cerita kalo kamu udah pernah having *** sama Clara," jawab Kayra santai.


"Kamu nggak cemburu?" tanya Azmi. Pertanyaan yang sudah dari lama ingin dia tanyakan pada gadisnya.


"Cemburu?" tanya Kayra entah pada siapa. "Hem mungkin pernah ya, tapi aku nggak mau ambil pusing soal itu," jawab Kayra lagi. "Lagian kata kamu juga kamu sama dia sama sama suka kan? nggak ada paksaan," kata gadis itu lagi.


Kayra mendesah pelan, sebenarnya dia sedikit enggan untuk pulang. Toh di rumah juga sedang tidak ada siapa-siapa, hanya ada dirinya seorang diri.


"Nanti aja deh," jawab Kayra. "Aku males di rumah sendiri,"


"Mau dianter ke rumah Acha?" tanya Azmi.


"Acha lagu di rumah orang tua pak Iqbal," jawab Kayra.


"Ya udah aku temenin sampe tidur," jawab Azmi.


"Nggak deh nanti di grebeg,"


"Lagian siapa yang mau grebeg coba, pintunya di buka aja nanti," kata Azmi. "Kamu cape kan pasti, biar badannya istirahat ya,"


Kayra menyandarkan tubuhnya. Gadis itu mendesah pelan. "Ya udah deh,"


Entah apakah Kayra harus menyesal ataukah gadis itu harus bersyukur karena pilihannya. Menyesal karena tidak menuruti apa kata bapak untuk ikut ke Surabaya, atau bersyukur karena setidaknya Azmi masih disini dan tidak meninggalkannya sedetikpun.

__ADS_1


"Katanya suka hujan, ko sampe nangis gitu," kata Azmi meledek.


"Iya suka, tapi kan nggak sama lampu padam juga kali. Mana petinya saut-sautan kaya lagi ngobrol lagi," kata Kayra lagi. Gadis itu menutup wajahnya dengan guling, dan balik guling itu ada wajah Azmi yang sedang tersenyum melihat tingkah Kayra.


"Kalo gitu sini deketan dong,"


"Dih modus lo," jawab Kayra.


"Kay,"


"Hem,"


"Kayra,"


"Iyaa,"


"Kayra Hana Umari,"


"Iya Azmi Bagaskara, ada apa?"


"Ko gue bisa secinta ini sama lo ya?" tanya Azmi.


"Emang gue penuh pesona si, makanya banyak yang suka sama gue,"


Azmi terkekeh pelan meskipun pemuda itu menyetujui apa yang dikatakan oleh Kayra. "Gue mau elo yang jadi istri gue nanti Kay, gue mau elo yang jadi ibu dari anak-anak gue nanti. Elo tau kan sebejad apa gue, gue emang nggak tau malu si, harusnya gue sadar diri ya. Tapi gue maunya langsung cewe kaya elo Kay, gimana dong?"


"Ya nggak gimana-gimana, emang gimana?"


"Lo mau sama gue emang?"


"Kalo kita jodoh, mau semustahil apapun pasti akan ketemu juga. Dan begitu juga sebaliknya, kalo kita nggak jodoh mau sekeras apapun kita mencoba pasti akan gagal juga," jawab Kayra.


Tanpa gadis itu sadari, kini wajah mereka berdua sudah sangat dekat. Bahkan Kayra baru menghentikan kalimatnya ketika dia sadar hidungnya dan hidung bangir milik Azmi saling bersentuhan.


"Mas?" panggil Kayra pelan.


"Kali ini aja ya Kay, habis itu kita nikah," kata pemuda itu.


Dan entah apa yang merasuki Kayra, gadis itu menganggukkan kepalanya tanpa beban dan hanya diam ketika Azmi melepaskan jilbabnya.

__ADS_1


__ADS_2