
"Gimana kabar kamu Kay?" tanya Azmi. Jika dihitung mungkin sudah lebih dari sepuluh menit keduanya saling diam. Kayra yang sibuk melihat ke lantai, dan Azmi yang sibuk menenangkan dirinya sendiri.
Pintu rumah terbuka lebar, gerbang juga sama sekali tidak ditutup rapat, mobil Fortuner milik pemuda itu terparkir rapi di luar pekarangan rumah Kayra dan Iqbal. Mereka hanya duduk diam, berdua. Sudah tidak ada siapapun di rumah, Bu Surti memilih membawa Raissa ke taman komplek, berkumpul dengan ibu ibu yang lain, pak Kusnan sedang mengantar Iqbal ke kampus.
"Alhamdulillah baik," jawab Kayra apa adanya.
"Kamu nggak mau nanya kabar aku Kay?" tanya Azmi memancing agar gadis di depannya ini mengeluarkan kalimat yang lebih banyak.
"Kamu sehat kan?" tanya Kayra. "Kalo kamu nggak sehat kamu nggak mungkin bisa sampai sini dengan baik," kata Kayra lagi. Wajahnya sama sekali tidak diangkat, dia masih setia menatapi lantai marmer rumahnya.
Azmi terkekeh kecil. "Tapi nyatanya emang aku lagi nggak sehat Kay," kata Azmi. Pemuda itu melirik Kayra yang masih pada posisinya, hanya saja gadis itu menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang sering dia lakukan ketika sedang menahan tangis atau emosi yang tidak berhasil dilepaskan.
"Aku mau cerita boleh ya Kay?" tanya Azmi meminta persetujuan gadis di depannya ini.
"Silahkan,"
"Kemaren aku ketemu sama Clara Kay," katanya. Dia sudah tidak melihat ke arah Kayra, tapi dia memilih melakukan hal yang sama dengan gadis itu. Keduanya sama-sama melihat ke bawah. "Clara yang kemaren ketemu sama aku juga udah jauh beda sama Clara yang dulu Kay. Dia banyak berubah, dia banyak cerita tentang anaknya dan mamanya. Kemaren aku lumayan ngobrol banyak sama dia, dia juga cerita berapa baiknya kamu sama Acha ke dia. Padahal dia udah jahat sama kamu katanya," Azmi terkekeh pelan. Lucu memang jika diingat kembali, dia sendiri tidak menyangka jika Clara yang pernah berbuat jahat pada Acha justru ditolong sedemikian rupa oleh almarhum gadis itu. "Clara nitip salam sama kamu Kay, dia juga kemaren mampir ke makam Acha. Dia se-"
"Sama kamu?" tanya Kayra. Saat ini dia mengangkat wajahnya, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Azmi untuknya.
Azmi tersenyum tipis. "Nggak kok, tapi aku ngasih tau dia aja kalo mau ke makan Acha biar diantar sama juru kuncinya aja. Soalnya kan makamnya mirip-mirip ya, jadi takut nyasar gitu," kata Azmi menjelaskan.
__ADS_1
"Dia pengen ketemu kamu katanya, tapi nggak bisa. Karena sore itu juga dia harus balik ke Jogja,"
"Aku nitip salam aja sama dia kalo kamu ketemu lagi," kata Kayra, gadis itu menyandarkan punggungnya, kali ini dia berganti memainkan jari jemarinya yang lentik membuat Azmi kembali tersenyum mengingat dia yang pernah menggenggam jari itu ketika Kayra menangis ketakutan.
"Kay?"
"Hem?"
"Aku mau menikah sama Clara,"
Hening. Lebih dari lima detik hanya diisi suara anak-anak yang bermain di jalan depan rumahnya. Kayra sendiri sedang berusaha mencerna kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Azmi.
Pemuda itu menarik nafas sebentar, lalu kembali melanjutkan. "Aku tau, Clara mungkin tidak sebaik kamu dan Acha sebagai seorang perempuan. Dia mungkin masih suka bolong bolong sholatnya, dia juga belum menutup aurat dengan sempurna seperti kalian berdua. Tapi aku yakin dia perempuan yang tidak kalah baik sama kamu Kay," kata Azmi. Pemuda itu terus berbicara, tidak membiarkan sedikitpun untuk Kayra mencerna setiap ucapannya. "Aku sama dia sama-sama memiliki masa lalu yang buruk Kay, aku bukan laki-laki baik dan mungkin karena itu juga Allah tidak mengizinkan kita untuk bersama. Kamu terlalu baik untuk aku Kay,"
Azmi menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Nggak Kay, sama sekali enggak,"
"Clara mau?"
Azmi mengangguk. "Dia juga butuh pasangan kan? Kita sama-sama butuh satu sama lain. Aku nggak mungkin terus terusan berharap sama kamu," kata Azmi.
"Jadi kapan?"
__ADS_1
"Insyaallah nggak lama lagi Kay," jawab Azmi hati-hati. "Jika Allah mengizinkan maka akhir bulan ini,"
"Secepat itu?" tanya Kayra antara yakin dan tidak yakin.
Azmi mengangguk pelan. "Aku juga udah ng-"
"Pak Iqbal pulang, kamu ngomong berdua sama dia aja. Aku mau masuk dulu," kata Kayra berpamitan.
Tanpa banyak tanya Azmi hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak punya hak untuk mencegah Kayra pergi meskipun dia sangat ingin, maka tidak ada pilihan lain selain membiarkan gadis yang masih menempati posisi tertinggi di hatinya pergi sambil mengusahakan senyum melihat Iqbal yang turun dari mobil.
*****
"Lo yakin?" tanya Iqbal. Pemuda itu juga sudah mendengar cerita dari Azmi. Cerita yang tidak berbeda jauh dengan apa yang diceritakan pemuda itu pada Kayra, istrinya. "Lo nggak jadiin Clara sebagai pelampiasan karena gue nikah sama Kayra kan?" tanya Iqbal lagi.
Azmi hanya diam, dia sendiri tidak tau apakah dia memang menikah dengan Clara atas dasar cinta dan ibadah atau hanya untuk nafsunya.
"Kenapa mi?" tanya Iqbal. "Bingung?" tanya pemuda itu lagi. "Gue tau di hati lo masih ada nama Kayra kan?"
"Nggak gampang buat lupain dia bang," kata Azmi. "Lo tau sendiri sebucin apa gue sama istri lo dulu," katanya lagi. Entahlah apakah ada manusia macam Azmi diluaran sana, yang tanpa merasa bersalah menunjukan rasa sayangnya pada istri temannya sendiri. "Jujur gue nggak tau bang, gue sama sekali nggak tau apakah gue bener mengambil keputusan ini atau enggak. Tapi yang jelas gue sama Clara sama-sama butuh, kami butuh satu sama lain. Nggak mungkin kan Clara mau selamanya sendiri, sedangkan dia sendiri udah susah percaya sama cowo selain sama kita-kita. Dan gue?" Azmi terkekeh kecil. "Emang ada bang perempuan yang lebih baik dari istri lo, atau kalo nggak yang baiknya sama deh kaya istri lo," kata Azmi.
Iqbal diam, pemuda itu sendiri bingung harus memberikan jawaban seperti apa. "Pasti banyak diluaran sana mi,"
__ADS_1
"Mana bang? Siapa? Tunjukin ke gue," Azmi berdehem pelan, mencoba meredam emosinya yang tiba-tiba tersulut. "Mungkin memang ada bang, tapi apa ada yang mau menerima masa lalu gue selain Kayra?"
"Gue sama sekali nggak nyesel ketemu Kayra dulu, tapi yang gue takutkan adalah gue yang jadi meletakkan standar gue sendiri setinggi Kayra. Padahal gue bukan elo, gue bukan laki-laki baik yang pantas bersanding dengan perempuan baik. Dan ya, mungkin dengan Clara kita bisa saling belajar satu sama lain,"