
Henderson menatap Norin yang sedang menyantap menu makanan yang ia bawa dari restoran.
"Tuan, sewaktu saya memesan makanan ini. mereka sama sekali tidak menerima bayarannya. Padahal saya sudah mempersiapkan m-banking, untuk membayar menu makanan ini.
Tapi pihak restoran mengatakan, kalau makanan ini gratis khusus untuk saya dan Tuan. Apa sebelumnya Tuan sudah melakukan pembayaran Sebelum Kita menginap di sini? tanya Norin karena ia merasa heran pihak restoran di mana Norin memesan menu makanan, makanan yang dipesan Norin di gratiskan untuknya. membuat Norin sedikit kebingungan. Siapa sosok yang sudah membayar menu makan malam untuknya.
Karena menurutnya, sungguh tidak mungkin kalau yang membayar itu kedua orang tuanya.
sehingga ia berinisiatif langsung untuk bertanya kepada Henderson.
Henderson yang ikut juga menikmati makanan malam yang dipesan oleh Norin, hanya mengembangkan senyumnya. Ia sama sekali tidak menjawab. Norin juga belum mengetahui kalau Hotel itu milik suaminya sendiri.
"Bagaimana apa menu makanan yang dihidangkan di restoran mengunggah seleramu? tanya Henderson mengalihkan pertanyaan.
"Sejauh ini menu makanan yang saya makan ini sepertinya rasanya pas di lidah saya. mungkin karena saya sudah sangat lapar "sahutnya lalu kembali menyantap menu makanan yang ada di hadapannya.
Henderson yang tak kunjung menghabiskan makanannya, menatap Henderson dengan makanan yang ada di hadapan Henderson yang tak kunjung habis.
Bagaimana mau habis? Henderson Sedari tadi hanya memperhatikan Norin berbicara dan menyantap makanannya.
Melihat makanan Henderson yang tak kunjung habis, Norin angkat bicara.
Ia mengingatkan Henderson kalau makanan itu tidak di habiskan, makanan itu sayang dibuang.
"Tuan makanannya di habiskan dong, sayang loh kalau di buang. Apa Tuan tau?jika petani yang melihat makanan di buang seperti itu, pastilah akan sakit hati. Karena mereka yang menanam padi itu, kemudian di oleh menjadi beras dan dimasak menjadi nas. Kan, cukup cukup panjang prosesnya." ucap Norin kepada Henderson yang tak kunjung menghabiskan makan malam yang sudah dibawa oleh Norin dari restoran.
Henderson masih tetap diam, lalu kembali memakan makanan yang ada di hadapannya, tanpa menjawab Norin sama sekali.
Karena Henderson juga sudah sangat lapar, akhirnya ia pun menyantap makanan itu sambil menyeruput air mineral yang tergeletak di atas meja.
"Tuan, besok kita sudah pulang kan? soalnya aku sangat bosan di sini. Tidak ada yang bisa aku lakuin. Aku juga tidak terbiasa menginap di hotel mewah seperti ini. Lagian kalau di rumah, ada Queen yang akan membuat aku tidak akan bosan di rumah." ucap Norin sambil membayangkan Queen yang imut dan menggemaskan.
"Mulai sekarang kamu harus biasakan hidup layaknya orang kaya. Karna kamu sudah memilih menikah dengan saya. Dan kamu akan terbiasa menginap di hotel mewah seperti ini.".sahut Henderson dengan nada datar.
"Hmmmm.... haruskah aku harus membiasakannya? Karena bagiku sepertinya ini akan buang-buang uang saja." sahut Norin
"Kamu menikah dengan saya, tapi kamu belum mengetahui siapa Saya yang sebenarnya. Pokonya, kamu harus biasakan hidup layaknya seperti seorang wanita sosialita untuk beradaptasi dengan isteri rekan rekan bisnis suami kamu." ujar Henderson.
"Kenapa Tuan mengatakan demikian? tanya Norin belum paham.
"Yang pertama, sepasang suami istri itu tidak pernah terdengar memanggil suaminya dengan panggilan Tuan. Biasanya istri itu memanggil suaminya dengan panggilan sayang, atau panggilan yang pantas memanggil seorang suami. Karna panggilan Tuan itu, untuk rekan dan juga bawahan. Bukan istri," ucap Henderson
"Yang kedua apa? terusan aku harus manggil Tuan itu apa dong?"
__ADS_1
"Yang kedua, kamu harus mengenali dan mendalami siapa sosok suami kamu. Apa kamu lupa siapa sosok suami kamu ini? tanya Henderson membuat Norin mengerutkan keningnya.
"Tentu saya tidak lupa, Tuan Putra tunggal dari Tuan Samera. Henderson bin samera."sahut Norin menjelaskan.
"Apa kamu tahu siapa Tuan Samera itu?
"Tentu saya tahu, Dia adalah orang yang hebat, baik hati, tidak sombong dan arogan, dia patut untuk menjadi panutan dan contoh bagi kita yang lebih muda. Sehingga dia berhasil, memiliki perusahaan raksasa di negara ini. Jujur, Aku sangat bangga mengenal sosok beliau.
Pertama sekali aku mengenal beliau di taman kota, saat saya sedang berolahraga pagi di sana. Papa Samera juga melakukan hal yang sama. Awalnya saya tidak mengetahui kalau Papa Samera itu adalah pemilik samera company.
Papa orangnya sederhana, tidak pernah memandang orang dari penampilan dan juga ekonomi. Disaat semua orang menganggap saya wanita barbar, Papa Samera selalu membelaku dan dia selalu memotivasi ku agar aku tetap gigih dan selalu terus belajar dan belajar. Ia juga mengatakan agar aku jangan pernah menyerah. Semenjak perkenalan kami di taman kota kami semakin akrab.
" Kamu sudah lama mengenal papa? tanya Henderson kepada Norin.
Kurang lebih satu tahun yang lalu. Tetapi saat itu Tuan Samera masih jarang jarang ke Taman kota. Mungkin karena ia sibuk di perusahaan.
"Apakah kamu menilai Papa sebaik itu?
"Tentu saja. Karena Papa Samera memang orang yang baik, sederhana, tidak arogan seperti putranya "sahut Norin membuat Henderson langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Karna secara tidak langsung, dia mengatakan Henderson pria sombong, Arogan dan angkuh.
"Tolong, mulai sekarang jangan pernah memanggilku dengan panggilan Tuan. Kamu itu istri saya. Bukan asisten saya, ataupun karyawan saya."ucap Henderson merasa risih dipanggil oleh Norin dengan sebutan Tuan, padahal keduanya pasangan suami istri.
"Terus, saya harus manggil apa dong?"
Norin menghela nafas. Bingung ia harus memanggil apa kepada Henderson. Secara selama ini hubungan keduanya kurang baik. dan hubungan mereka, sudah seperti Tom and Jerry. Asal bertemu mereka selalu berdebat. Tidak seperti pasangan suami istri lainnya.
Entah hubungan suami istri macam apa yang mereka jalani saat ini. Yang pasti di antara keduanya, masih sama-sama egois. Tidak ada yang mengalah di antara mereka.
"Oh iya, saya bisa tanya sesuatu tidak? tanya Norin kepada Henderson yang masih setia mengotak-atik layar ponselnya
"Tanya saja, Apa yang hendak kamu tanyakan?
"Kenapa Tuan tidak menghindari perjodohan ini. atau membatalkannya mungkin. Sementara sebelumnya pertemuan kita pun sudah tidak bersahabat. Kan, bisa Tuan membatalkannya? tanya Norin kepada Hendarson.
"Sekarang, pertanyaan aku alihkan kepadamu pertanyaan yang kamu lontarkan kepada saya. Mengapa kamu tidak membatalkan perjodohan ini?" Henderson bertanya hal yang sama kepada Norin.
"Loh, kok Tuan nanya lagi sama saya? kan, saya yang nanya duluan? gerutu Norin.
"Tuan lagi, Tuan lagi!" gerutu Henderson.
"Terus saya harus manggil apa, dong?
"Mikir aja sendiri. Kamu sudah dewasa, Jangan adu balap aja kamu yang pintar dan jago. Aku tahu kamu anak yang berprestasi di kampus, dan juga di sekolahmu sebelumnya.
__ADS_1
Tapi masa kamu dengan hal-hal seperti ini tidak paham! aku juga mengetahui kalau Regen dan Rizal memiliki rasa kepadamu. Sepertinya kamu terbiasa Memanggil nama panggilan spesial untuk mereka. Mengapa tidak kamu lakukan itu kepada saya?" ucap Henderson mengingatkan Norin dengan sosok Rizal dan Ranger.
"Loh kok larinya sampai ke mereka sih? sedari tadi saya tidak pernah menyinggung tentang Ranger dan Rizal. Tapi mengapa Tuan malah menyinggung ke arah sana?
Henderson tersenyum sinis. "Kamu tidak mencintai saya, kamu mencintai pria lain. Tapi kamu menikah dengan saya. Kamu harus jawab aku dengan jujur.
"Mengapa kamu bersedia dijodohkan dan menikah sama saya, kalau kamu tidak ada rasa sama saya?" tanya Henderson penuh selidik.
"Seharusnya tanpa Tuan bertanya saja kepada saya, tuan tentunya sudah tahu jawabannya."
"Lagi lagi Kamu memanggil saya dengan panggilan Tuan. Kamu sadar nggak? kalau kamu itu sudah sah menjadi istri saya di depan agama dan hukum loh." Henderson mengingatkan.
Norin menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya. "Maaf.... maaf Mas, jawabnya terbata-bata.
Nah, itu kamu tahu memanggil saya harus panggilan apa. Kenapa sih dari tadi mulutmu hanya memanggil saya dengan panggilan Tuan. Apakah hanya nama Rizal dan Ranger yang ada di dalam hatimu?
"Kok nanyanya seperti itu sih?
"Kan memang iya?
"Siapa juga yang bilang? Aku saja tidak pernah merasa cinta kepada Ranger dan Rizal. Mereka saja yang selalu ingin dekat denganku." sahut Norin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oh ya? tapi kamu selalu meresponnya, gitu?
"Ngak mungkin juga aku jutek kepada mereka. Secara Ranger itu ketua klub motor kami . Sementara Rizal, dia juga satu klub dengan kami. dia yang selalu sponsori kami."
"Jadi kalau saya mensponsori club motor kalian, saya bisa mendapat panggilan khusus dari kamu?" tanya Henderson membuat Norin mengerutkan keningnya .
"Apaan sih! bukankah Tuan bilang Saya tidak bisa mengharapkan cinta Tuan? Saya rasa tidak terlalu penting panggilan khusus atau panggil apa saja itu. Karena ujung-ujungnya nanti, menyakitkan.
"Aku juga tahu Tuan menikahi ku, karena terpaksa. Terpaksa karena permintaan dari Papa dan Mama. Dan juga untuk kebaikan Queen, tapi apa yang anda lakukan itu salah. karena Queen yang lebih sakit nantinya, Jika ia ketahui pernikahan ini hanya bohong belaka.
"Siapa bilang pernikahan ini bohong belaka?" "Apa kamu tidak melihat, kalau kita menikah di akta nikah itu sah, dimata hukum dan agama?" tanya Henderson yang merasa kesal karena Norin mengatakan pernikahan mereka hanya bohong belaka.
"Ah sudahlah! aku tidak mau berdebat terlalu lama dengan Anda. Aku lebih baik istirahat, besok aku ingin bertemu dengan Queen. Sepertinya dia lebih enak diajak ngobrol daripada Anda." ucap Norin sambil langsung bangkit dari tempat duduknya berniat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king size itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK. "JODOH KEDUA"
__ADS_1