PESONA OM DUREN ( Duda Keren)

PESONA OM DUREN ( Duda Keren)
BAB 49. EMOSI TUAN WIJAYA


__ADS_3

Norin dan Henderson berlalu dari kamar Queen setelah Queen terbangun dan mereka bermain bersama beberapa menit sebelum Queen dimandikan oleh baby sitter.


"Segeralah bersiap, sebentar lagi Morris akan menjemput kita." ujar Henderson kepada Norin.


"Memangnya kita mau kemana?


"Pertanyaan macam apa itu? Bukankah kamu semalam sudah setuju kalau kita akan pergi liburan bulan madu? dan yang menyiapkan semua itu Mama? " ucap Henderson mengingatkan Norin


"Itu beneran mama yang menyiapkan semua?"tanya Norin penuh selidik.


"Kan, tadi malam sudah kamu dengar sendiri kalau mama yang mempersiapkan paket bulan madu itu untuk kita." sahut Henderson.


"Nori terdiam, kemudian ia menganggukkan kepalanya setelah nama nyonya Carlota yang disebut Henderson.


Baju seadanya ia masukkan ke dalam koper. Norin tidak membawa baju terlalu banyak yang dapat merepotkan dirinya sendiri. Kemudian Ia pun membantu sang suami menyiapkan koper untuk Henderson, dan menyiapkan baju baju ganti sang suami.


Setelah barang bawaan mereka telah usai dipersiapkan, Norin dan Henderson berlalu dari kamar untuk sarapan pagi.


"Kamu sering melakukan salat subuh? tanya Henderson ketika mereka berjalan ke ruang makan.


" Norin lebih baik curhat kepada Allah, daripada kepada orang-orang yang dapat menyebabkan masalah nantinya untuk kita sendiri.


"Kok jadi masalah kalau curhat kepada orang lain?


"Norin mengembangkan senyumnya. "Jika kita curhat sama Allah, Allah akan mendengarkan curhatan kita, dan dia tidak akan menyebarkan luaskan curhatan dan aib kita yang kita curhat kan Allah, "


"Sedangkan jika curhat kepada orang, lain, tidak menutup kemungkinan apa yang kita ceritakan kepada orang itu, akan diberitahu kepada orang lain juga. Masih mending kalau yang kita ceritakan itu murni ya beritahu, tapi ada yang disunat ada yang ditambah. Membuat nama kita semakin jelek di depan orang-orang, "


"Hal itu yang membuat Norin malas berteman dengan perempuan-perempuan yang senang sekali menggosip." ucap Norin sambil terkekeh, lalu ia mendudukkan bokongnya di atas kursi tepat di samping suaminya.


Di meja makan sudah tersedia menu sarapan pagi yang sudah dihidangkan oleh asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Samera


Tuan Samera yang melihat senyum mengembang di wajah putranya, Ia pun merasa bahagia. Tuan Samera melihat ada perkembangan di hubungan keduanya.


" Bagaimana, Apa kebutuhan kalian sudah kalian persiapkan? Morris sudah datang menjemput kalian." ucap Tuan Samera dan Nyonya carlota

__ADS_1


" Mama Serius kalau Morris sudah datang menjemput kami? tanya Norin


"Kenapa sayang? ucap nyonya Carlota


"Kok, cepat banget Ma?


" lebih cepat lebih baik sayang. Ingat pulang dari sana, kalian harus membawa oleh-oleh yang paling berharga untuk Mama. Nyonya Carlota memberikan permintaan.


" Katakan aja Ma, oleh-oleh apa yang harus kami bawa dari sana. Agar kami dapat membelinya. Mudah-mudahan kami dapat memenuhi permintaan mama. Semampu Henderson, Henderson akan beli.


"Enak aja main beli! Pokoknya Mama ingin kalian membawa oleh-oleh dari sana yang Begitu Berharga." ucap Nyonya Carlota kembali menegaskan sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah putranya. Henderson susah paham maksud Nyonya carlota, sehingga dia tidak melanjutkan pembahasan yang sama lagi.


Drama sarapan pagi Telah Usai, kini Henderson dan Norin akan segera berangkat. Begitu berat rasa Norin meninggalkan Queen. Baru saja ia bertemu dengan Putrinya sudah terpisah lagi.


Tapi nyonya Carlota meyakinkan, kalau mereka dapat menjaga Queen dengan baik. Henderson menatap istrinya begitu berat meninggalkan Putri mereka. Terlihat Norin benar-benar sangat menyayangi Queen, walaupun tidak terlahir dari rahimnya sendiri.


Saat Norin dan Henderson sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Morris langsung melajukan mobil saat keduanya sudah berpamitan kepada Tuan Samera dan nyonya Carlota. Norin Melambaikan tangannya ke arah nyonya carlota, dan Tuan Samera Begitu juga dengan Queen.


Selama dalam perjalanan Norin masih disibukkan dengan layar ponselnya. Henderson sesekali melirik ke arah istrinya. Ia pun sibuk dengan layar iPad miliknya.


Sekitar tiga puluh menit di dalam perjalanan ,akhirnya,mereka tiba di bandara. Morris yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, langsung memarkirkan mobil tepat di parkiran bandara. Beberapa pengawal ternyata juga mengikuti mobil mereka tanpa sepengetahuan.


"Tuan anda sudah dipersilahkan naik ke dalam pesawat. " ujar salah satu pengawal yang sudah menunggu kehadiran Henderson dan Norin di bandara.


"Baiklah."ucap Henderson sambil langsung menarik tangan Norin masuk ke area ruang tunggu sementara para pengawal itu mengurus barang bawaan mereka.


Saat bagian informasi sudah menginfokan kalau pesawat yang akan mereka tumpangi meminta kepada para penumpang untuk menaiki pesawat, Henderson langsung menggandeng istrinya berjalan masuk ke dalam pesawat di ruang kelas eksklusif.


Norin hanya mengikuti langkah suaminya. Jujur Norin belum pernah melakukan perjalanan hingga ke luar negeri. Membuat dirinya sedikit kaku, tetapi karena adanya Henderson, dia tidak terlalu merasa khawatir. Ia yakin kalau suaminya akan mampu menjaga dirinya.


"Kalau kamu ngantuk, tidur saja." ujar Henderson kepada Norin yang sudah mulai menguap. Karena Jam sudah menunjukkan pukul dia siang.


" Mas kira-kira berapa lama lagi sih kita akan sampai? tanya Norin yang sudah mulai bosan berada di dalam pesawat.


"Sabar, tinggal Beberapa jam lagi, kita akan sampai.

__ADS_1


Norin mulai memejamkan matanya, Karena rasa kantuk yang tidak tertahan lagi, akhirnya ia pun tertidur. Henderson membenarkan kepala Norin yang miring. Ia Pun membiarkan kepala Norin bersandar di pundaknya.


Henderson mengelus wajah cantik istrinya, walaupun cintanya belum sepenuhnya milik Norin,Tapi rasa cinta Henderson sudah mulai tumbuh, melihat ketulusan Norin menyayangi putrinya. Apalagi Norin sudah menyelamatkan nyawa putrinya dengan mendonorkan darahnya kepada sang putri untuk menyelamatkannya saat demam berdarah menyerang Baby Queen.


Sementara di tempat lain, Nyonya Anjani yang melihat menantu dan putranya sudah keluar dari kamar dengan menarik koper mereka masing-masing, menatap Lina dengan tatapan tajam.


" Vano kamu mau ke mana! "Ucap Nyonya Anjani dengan nada tinggi.


" Maaf Ma, sepertinya istri Devano tidak merasa nyaman tinggal di rumah ini, jadi Devano pikir lebih baik Devano dengan Lina pindah dari rumah ini. Devano tidak ingin melihat mama dan istri Devano terus berseteru, Yang tidak akan ada habisnya. daripada Bertengkar terus, lebih baik Devano dan Lina pindah dari rumah ini." ucap Devano kepada Ibu Anjani membuat Ibu Anjani semakin emosi.


"Tidak! kamu tidak akan bisa pergi dari rumah ini !" teriak Nyonya Anjani.


Tuan Wijaya yang baru tiba di rumah, terkejut melihat menantu dan putranya memegang koper besar berniat keluar dari rumah.


" Ada apa ini? Kenapa kalian membawa koper besar seperti ini? tanya Tuan Wijaya


" Maaf Pak, Lina mau pamit, Lina mau pindah saja dari rumah ini. Daripada kehadiran namamu mengundang keributan di rumah ini, Lina memilih untuk pindah saja." ucap Lina kepada Tuan Wijaya.


" Heh, kalau kamu mau pindah, pindah saja sendiri sana jangan ngajak-ngajak Putraku Devano. " teriak Nyonya Anjani yang memancing emosi Tuan Wijaya.


" Papa tidak keberatan Kalau kalian pindah dari rumah ini, dan kalian mulai kembali dari awal. Papa juga tidak ingin kalian ribut terus. Biarkan saja mamamu hidup sendiri di sini, tanpa kalian. Kita lihat saja sebagaimana dirinya Bertahan."


"Papa membiarkan mereka putra kita pergi dari rumah ini!"


" Papa sudah berulang kali menasehati kamu Ma, tapi mama tidak pernah mendengar ucapan Papa. biarkan saja mereka Mandiri." ucap Tuan Wijaya yang tidak tega melihat menantu selalu disalahkan oleh Nyonya Anjani.


"Jadi Papa mengusir Putra kita Devano dari rumah ini! "


" Papa tidak pernah mengusir Putra Papa dari rumah ini. Papa hanya menuruti Keinginan mereka, daripada hati mereka begitu sakit dan menderita di sini dengan perlakuan kamu. Dan itu lebih baik bagi mereka, pindah dari sini." ucap Tuan Wijaya dengan sorot mata yang tajam kepada Nyonya Anjani.


BERSAMBUNG...


HAI HAI SEMUANYA, JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA EMAK. DENGAN BERI LIKE, COMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA.


MAMPIR JUGA KE KARYA BARU EMAK.

__ADS_1


"JODOH KE DUA"


__ADS_2