PESONA OM DUREN ( Duda Keren)

PESONA OM DUREN ( Duda Keren)
BAB 56. MEMINTA HAK


__ADS_3

Saat Norin mendengar jawaban suaminya, ia benar-benar terhenyak. Dia tidak tahu sekaya apa keluarga Henderson sebenarnya. Hingga Ibu mertuanya memiliki hotel di Amsterdam.


Keduanya pun meninggalkan para karyawan karyawati Yang bertugas di hotel itu, menuju kamar yang selama ini mereka tempati selama di Kota Amsterdam. Semantara barang-barang yang mereka beli sebelumnya, dibawa oleh petugas bell boy masuk ke dalam kamar.


"Mas, tubuh aku sudah gerah nih, Aku mandi dulu ya."ucap Norin sambil meletakkan ponsel dan tas sandangnya. Henderson menganggukkan kepalanya, karena Norin kebelet pipis. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa handuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Norin membuka seluruh pakaiannya, Ia teringat kalau dirinya lupa membawa handuk. Norin membuka sedikit pintu kamar mandi. lalu memanggil suaminya.


" Mas...., bisa minta tolong, tidak? teriak Norin dari dalam kamar mandi.


Henderson bangkit dari tempat duduknya menghampiri sang istri." Minta tolong apa sayang?


" Mas, aku tadi kebelet pipis, jadi lupa bawa handuk ke kamar mandi. Padahal aku sudah buka baju, tolong ambil handuk untukku." pintan Norin. Henderson menyeringai tipis, pikiran nakalnya langsung berputar.


Tanpa menjawab sama sekali, Henderson mengambil handuk yang diminta oleh sang istri. Saat Henderson Hendak memberikan handuk itu, Norin membuka kembali pintu kamar mandi Sedikit, agar suaminya dapat memberikan handuk itu ke tangannya.


Tapi ketika Henderson sudah berada di balik pintu, pintu sudah terbuka sedikit, sehingga Henderson langsung mendorong dan masuk ke dalam kamar mandi.


" Mas apa-apaan sih, tiba-tiba masuk ke sini." gerutu Norin sambil menutup kedua Gunung kembarnya dengan menggunakan satu tangan dan satu tangannya lagi menutupi area paling sensitif milik Norin.


Henderson hanya terkekeh. lalu membuka bajunya, membuat Norin hendak menjerit, tapi tiba-tiba saja tangan Henderson membekap mulut wanita itu.


" Kenapa menjerit sih?


" Mas, tolong keluar aku mau mandi." mohon Norin


" Memangnya siapa yang melarang kamu mandi Sayang? kalau mau mandi, kita mandi bareng saja. kan, tidak apa-apa untuk mempersingkat waktu."


" Mas please, Norin langsung meraih handuk itu dan menutupi tubuhnya.


" Loh, katanya mau mandi, tapi kok make handuk sih?


" Mas tolong keluar, aku malu Mas.

__ADS_1


" Ngapain malu? aku ini suami kamu. Kamu harus terbiasa seperti ini. " ucap Henderson sambil langsung membuka seluruh pakaiannya tanpa tersisa sehelai benang pun.


Norin hendak keluar, tapi tangannya menutupi kedua matanya, agar ia tidak melihat bagian tubuh sixpack milik suaminya yang mampu membuat dirinya terpesona.


Saat Norin hendak membuka pintu kamar mandi dan keluar, Henderson berlangsung mencegat Norin dan Mengunci pintu kamar mandi itu dengan rapat rapat


" Mas, kalau mau mandi Mas duluan saja deh, biar Norin yang keluar."


" Tidak bisa! kita mandi bareng." ucap Henderson sambil langsung meraih tangan Norin mendekat ke arahnya dan meraih Norin ke pelukannya hingga tubuh keduanya pun menyatu.


Henderson langsung memraup di bibir manis Norin, lalu perlahan kecupan itu semakin mendalam. Norin sudah merasakan sensasi yang sangat luar biasa, dengan kecupan lembut yang diberikan oleh sang suami.


Ia pun mulai membuka rongga mulutnya. Agar Henderson dapat leluasa memainkan lidahnya di sana. Suara Alunan Merdu dari Norin terdengar jelas di telinga Henderson, membuat Henderson memperdalam kecupannya.


Tangan Henderson sudah mulai menjalar ke bagian gunung kembar milik Norin yang berukuran tidak terlalu besar itu, pas untuk digenggam oleh sang suami.


Norin mend$@h membuat Henderson menyeringai tipis. Sepertinya istrinya sudah tidak terlalu tegang, ia sudah mendengar suara merdu sang istri yang dapat meningkatkan jiwa kelaki-lakiannya.


Norin terengah karena dirinya sepertinya kekurangan oksigen. Henderson yang mengetahui itu, Ia pun melepaskan pagutannya, agar istrinya dapat menghirup udara dengan leluasa.


Saat istrinya sudah menghirup oksigen secukupnya, Henderson kembali meraup bibir manis itu yang bagai candu baginya. Norin benar-benar menikmati sentuhan lembut dari sang suami. Tetapi Norin tiba-tiba tersadar kalau saat ini mereka berada di dalam kamar mandi.


"Mas, ini di dalam kamar mandi. Ada-ada saja kamu ." gerutu Norin sambil berusaha melepaskan dekapan sang suami. Henderson mengembangkan senyumnya, ia telah berhasil menciptakan mahakarya di jenjang leher istrinya.


"Ya sudah, kita lanjutkan nanti di atas ranjang. Aku bisa kan, meminta hakku sebagai seorang suami?" tanya Henderson kepada sang istri.


Norin tidak menjawab, Sebenarnya dia belum siap memberikan harta yang begitu berharga di tubuhnya kepada sang suami, karena cintanya belum benar-benar penuh kepada sang suami.


Tapi ia tiba-tiba saja teringat dengan nasehat Nyonya Anabella kalau Norin tidak boleh menolak suami, Jika suami meminta pelayanan darina dan jika Norin menolak, maka Norin akan berdosa.


Norin tidak mau dikatakan Istri Durhaka, Ia Pun menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menatap suaminya dengan tatapan penuh arti, sedikit menyinggung Kan senyum. Itu pertanda lampu hijau telah didapatkan oleh Henderson.


Keduanya pun langsung melakukan ritual mandinya, mereka benar-benar menikmati hari-harinya selama berada di Kota Amsterdam.

__ADS_1


Semenjak mereka pergi berwisata ke tempat-tempat wisata membuat hati Norin benar-benar bahagia, apalagi Henderson menuruti segala keinginan sang istri.


Henderson tidak ingin membuat istrinya kecewa di dalam perjalanan. ia sudah belajar saat Norin memberitahu isi hatinya yang sebenarnya, Dan Dia kecewa saat Henderson berbicara panjang lebar dengan Eline, hingga dirinya melupakan Norin saat di dalam perjalanan menuju hotel.


Setelah keduanya selesai melakukan ritual mandinya, dan mengeringkan tubuh mereka masing-masing, Henderson langsung menggendong tubuh istrinya naik ke atas tempat tidur, yang hanya menggunakan handuk dililitkan di tubuhnya.


Norin hanya terdiam dengan wajah merona. Ia sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan suaminya kepadanya.


Henderson menatap istrinya dengan tatapan intens, handuk yang dikenakan Norin terlepas memperlihatkan bagian tubuh mulus Norin yang tanpa celah.


Henderson semakin beringas, pria itu segera membuka handuk yang dililitkan di tubuhnya.


" Apakah kamu sudah siap? Apakah aku bisa meminta Hak ku sebagai seorang suami? tanya Henderson dengan sorot mata yang lembut.


Norin hanya terdiam. Sambil menyembunyikan wajahnya yang merona pada dada bidang Henderson yang sudah tak terbalut sehelai benang pun.


Melihat itu, Henderson tersenyum dan meminta Norin untuk bersiap.


Setelah itu, ia mulai mendekatkan wajahnya mengecup dahi sang istri dengan lembut.


Kecupan itu turun ke kelopak mata sang istri dan turun lagi kepada pipi wanita yang merona. Sampai berhenti pada Pelabuhan pucuk ranum yang seolah menjadi candu bagi Henderson.


Henderson meraup bibir manis Norin. Norin membuka kedua bibirnya, membiarkan sang suami mengabsen setiap inci rongga mulutnya.


Keduanya berpagutan cukup lama, saling menukar rasa dengan suasana yang kian memanas. Norin memang sedikit kaku. Karena Ia belum berpengalaman sama sekali. Berbeda dengan Henderson, yang sudah berpengalaman karena sebelumnya Henderson sudah menikah dengan almarhumah istrinya Mauren.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK

__ADS_1


__ADS_2