PESONA OM DUREN ( Duda Keren)

PESONA OM DUREN ( Duda Keren)
BAB 46. PENGAKUAN HENDERSON


__ADS_3

Niat hati Henderson yang ingin mengerjai sang istri, ternyata dia sendiri yang menanggung akibatnya. Henderson merasa tubuhnya berdesir dan menegang saat Norin terduduk di pangkuannya dan hampir mengenai benda pusaka miliknya.


Hal itu membuat Henderson menggeram.


"Auhhh... Henderson merasa gagal menahan pertahanannya. Norin yang mengetahui apa yang terjadi terhadap sang suami, berusaha melepaskan diri dari Henderson.


"Pakai bajunya Mas! bisa-bisa nanti mas kebablasan.


"Kenapa kebablasan? kamu itu istriku! Aku memiliki hak atas dirimu."ucap Henderson.


Norin terdiam, sebagai seorang istri memang sudah kewajibannya untuk melayani sang suami. Dia juga berkewajiban untuk memperlakukan sang suami dengan baik.


Tapi, Bagaimana dengan nasib rumah tangganya kelak. Sang suami belum menerimanya sepenuhnya. Apakah Norin sudah menerima Henderson sebagai suaminya?


"Kenapa diam? tanya Henderson menghampiri sang istri yang saat ini ia sudah melilitkan handuk kembali di pinggangnya.


Norin lagi-lagi diam tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap sang suami.


"Kenapa diam? apa yang aku katakan salah kalau kamu berkewajiban untuk melayaniku sebagai seorang istri?


Norin menggelengkan kepalanya.


"Terus, Apakah kamu akan melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri? kembali Henderson bertanya kepada Norin yang tidak bisa dijawab Norin sama sekali.


"Sudahlah Mas, lebih baik pakai baju Mas habis itu langsung istirahat."ujar Norin berharap sang suami tidak mengingatkan kewajibannya sebagai seorang istri harus melayaninya di atas ranjang.


"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan. Kamu jawab pertanyaan saya?ucap Henderson


"Jangan hanya Norin yang dilontarkan pertanyaan dong, Mas! saat ini Norin ingin bertanya kepada Mas.

__ADS_1


"Apakah Mas sudah menerima pernikahan ini?


"Ya, sebelum kamu bertanya dan sebelum kita melangsungkan pernikahan aku sudah menerima pernikahan ini."jawab Henderson dengan lantang.


"Jika memang Mas sudah menerima pernikahan ini sejak awal, Apakah istrimu tidak bisa mengharapkan cinta dari suaminya? jika memang istrimu tidak dapat mengharapkan cinta darimu, Terus apa yang diharapkan istrimu dari kamu?"ucap Norin lagi-lagi yang mampu membuat Henderson terdiam.


"Aku bukan meminta kamu tidak mengharapkan cintaku, tapi kamu harus lebih bersabar agar aku dapat memantapkan hatiku ke mana hatiku berlabuh."


"Sama halnya seperti Norin. Pernikahan ini memang belum sepenuhnya bisa Norin terima. Tapi semuanya memang butuh proses, Aku akan mencoba menerima pernikahan ini dengan ikhlas. Asalkan suamiku mencintaiku apa adanya


"Pertanyaannya, Apakah Mas memiliki rasa cinta sedikitpun terhadap Norin? tanya Norin penuh selidik kepada sang suami.


"Kalau saya tidak memiliki rasa cinta sedikitpun kepada kamu, mungkin saya tidak akan terima pernikahan ini. Walaupun rasa cinta yang saya miliki tidak sepenuhnya kepada kamu."ucap Henderson yang mampu membuat Norin membulatkan matanya.


Jawaban Jujur dari Henderson yang dinantikan Norin selama ini. Mendengar jawaban Henderson, kalau dirinya memiliki rasa cinta terhadap Norin, Norin langsung mengalungkan tangannya di jenjang leher sang suami.


Henderson mengembangkan senyumnya, lalu ia pun menganggukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya Henderson memberikan kecupan hangat di kening sang istri.


"Aku akan menunggu, kamu menerima pernikahan ini. Tapi tolong jangan lama-lama ya, bisa-bisa aku kebablasan."ucap Henderson sambil terkekeh. Norin pun tidak dapat menahan tawanya, keduanya pun saling tertawa lalu Norin meminta kepada sang suami untuk segera menggunakan pakaiannya.


Di tempat lain, Nyonya Annabella menatap foto pernikahan putrinya dengan Henderson. "Tidak terasa sayang, lima belas tahun kita bersama. Kini kamu sudah menjadi istri orang lain. Mama sebenarnya belum dapat melepaskan kamu begitu saja, "


"Mama sangat sayang kepada kamu, walaupun kamu tidak Putri kandung mama. Tapi Mama sudah menganggap kamu seperti Putri kandung Mama. Semoga kamu bahagia hidup bersama Tuan Henderson, Mama tahu keluarga Tuan Samera keluarga yang baik, sehingga ketika Tuan Samera meminta kamu dijodohkan dengan Putra tunggalnya, Mama dan Papa langsung menyetujuinya,"


"Cobalah terima pernikahan kamu ini sayang, Mama yakin dan percaya kamu akan bahagia kelak nanti."ucap Nyonya Annabella sambil mengusap foto Norin seolah-olah Nyonya Anabella berbicara langsung kepada Norin.


Sementara Alan yang melihat Nyonya Anabella menatap foto Norin dengan teduh menghampiri nyonya Anabella. "Mama kenapa menangis? tanya Alan sambil merangkul nyonya Anabella.


"Mama kangen sama kakak kamu, Mama belum bisa jauh darinya. Apa kamu tahu kakak kamu itu sangat baik, dia orangnya pintar dan mandiri. Mama menyayanginya Mama sangat menyayangi kalian berdua."ucap Nyonya Anabella sambil terus menata foto Norin dan putranya Alan

__ADS_1


"Sudah lah Ma, kalau ditanya kangen sama Kak Norin, mungkin Alan lebih kangen kepada Kak Norin. Tidak ada lagi yang bisa bercanda gurau dengan Alan. tidak ada lagi yang membantu Alan mengerjakan tugas sekolah, tidak ada lagi yang dapat Alan ajak untuk pergi adu balap."ucap Alan membayangkan kesendiriannya saat ini.


Tiba-tiba Tuan Dirgantara pun ikut bergabung, "Ada apa kalian mewek-mewek segala?" tanya Tuan Dirgantara yang melihat raut wajah sang istri yang tampak sembab seperti habis menangis.


"Entah, ini mama, Alan juga jadi ikutan mewek, karena mama mewek menatap foto Kak Norin. katanya Mama sangat kangen dengan Kak Norin. Mama belum bisa membiarkan Norin pergi dari rumah ini."ucap Nyonya Anabella kepada tuan Dirgantara


"Mama ini ada-ada saja, Putri kita menikah dengan orang yang tepat. Mama tidak perlu khawatir. Putri kita akan baik-baik saja di sana."ujar Tuan Dirgantara sembari mengelus pundak istrinya.


Kemudian Nyonya Anabella pun meletakkan kembali foto itu di tempatnya. Nyonya Anabella berjalan mengikuti sang suami duduk di ruang tamu sambil menikmati siaran televisi yang tayang di salah satu televisi swasta.


Kali ini giliran Tuan Dirgantara yang menghibur sang istri, karena merasa kehilangan putrinya yang saat ini sudah menjadi istri orang lain.


Sementara di tempat lain, tampaknya Devano menangis sesungguhkan melihat pertengkaran antara sang istri dengan mamanya sendiri Nyonya Anjani. Nyonya Anjani yang begitu egois dan tidak ingin merasa dirinya disalahkan Ia terus berseteru dengan Lina.


Hal itu membuat Lina memutuskan untuk pindah dari rumah Ibu mertuanya. "Mas daripada mengundang ribut seperti ini, lebih baik Lina keluar saja dari rumah ini. Lina tidak ingin terus ribut dengan Mama."ucap Lina membuat Devano semakin menangis tidak ingin ditinggalkan sang istri.


"Kalau kamu pindah dari rumah ini, Aku juga ikutan pindah. Aku tidak ingin kamu tinggalkan karena aku sangat mencintaimu Sayang."ucap Devano kepada istrinya Lina yang saat ini sudah mengumpulkan baju-bajunya dan dimasukkan ke dalam koper.


"Kalau Mas ikut pindah dengan Lina, siapa yang akan menemani Mama dan Papa di rumah ini!"


"Kan ada asisten rumah tangga yang akan menemani mama, biar mama paham kalau kamu itu berharga di rumah ini."ucap Devano sembari langsung mengumpulkan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.

__ADS_1


__ADS_2