
Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sederhana yang baru beberapa hari ditempati oleh Devano dan juga Lina. Saat ini Lina ingin memasak sarapan pagi untuk mereka berdua. Kemudian setelah sarapan pagi sudah dihidangkan di meja makan Sederhana itu. Lina menghampiri suaminya yang baru selesai memakai baju Kantornya.
" Mas sarapannya sudah siap." ucap Lina.Memberitahu kepada sang suami, sembari
memperbaiki dasi suaminya yang sedikit miring.
Keduanya berlalu menuju meja makan, setelah memastikan penampilan Devano sudah terlihat rapi.
Devano mengembangkan senyumnya karena istrinya memasak sarapan pagi kesukaannya, yaitu nasi goreng yang dipadukan dengan lauknya telur dan ikan teri digoreng kering.
" Wah, sayang sepertinya Mas akan makan lahap pagi ini." ucap Devano summeringah ketika melihat sarapan pagi yang terhidang di atas meja disiapkan oleh sang istri.
" Ya sudah, nggak apa-apa Mas makan aja, Kalau Mas suka masakan Lina. Lina pasti bahagia sekali ." ucap Lina sambil mengembangkan senyumnya. Keduanya pun menyantap sarapan pagi itu. Setelah selesai sarapan pagi Devano langsung berpamitan ke kantor.
Ya, selama ini Devano bekerja di kantor Samera company yang berada di kantor cabang. Ia memegang kantor cabang dibantu oleh Morris. tetapi Morris lebih sering di kantor pusat, karena Henderson selalu membutuhkan bantuan Morris.
Lina memberi salam kepada suaminya lalu mengecup punggung tangan suaminya. Devano memberikan kecupan hangat di kening istrinya lalu Iya masuk ke dalam mobil dan Melambaikan tangannya ke arah istrinya. Lina menatap kepergian suaminya, hingga mobil suaminya benar-benar menghilang dari pandangannya.
Sepeninggalan Devano, Lina hendak menutup pintu gerbang Lalu ingin masuk ke rumah. Tetapi sebelum Lina masuk ke rumah, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya yang tak lain dan tak bukan adalah nyonya Anjani ibu mertua Lina sendiri.
"Kamu sudah puas menjauhkan Ibu dari anaknya!" ucap Nyonya Anjani saat dirinya sudah tiba di halaman rumah sederhana yang ditempati oleh Lina dan Devano.
__ADS_1
"Maksud Mama apa? Lina tidak paham.
" Maaf Ma, Lina tidak pernah bermaksud menjauhkan Mas Devano dengan Mama. Tapi mas Devano sendiri yang ingin ikut bersama Lina, "
"Begini saja Mah, daripada kita ribut di halaman ini, tidak enak didengar para tetangga. lebih baik kita masuk ke rumah. "ujar Lina sambil langsung merangkul tubuh Sang mertua.
Walaupun sang mertua menatapnya dengan tatapan kebencian, tetapi karena Lina melihat ada tetangga memperhatikan mereka, sehingga Lina terpaksa harus bersandiwara seolah-olah dirinya begitu dekat dan kompak kepada sang ibu mertua.
Nyonya Anjani merasa heran melihat sikap sang menantu, padahal dirinya sudah bersikap kasar kepada Lina. Nyonya Anjani pun akhirnya berjalan mengikuti Lina karena Lina terus merangkul sang mertua.
Setelah berada di ruang tamu, Lina mempersilahkan Nyonya Anjani duduk. lalu ia berlalu ke dapur untuk sekedar membuatkan teh hangat untuk sang mertua dan membawa beberapa cemilan yang ia siapkan.
"Tidak usah sok manis seperti itu, Apa yang hendak kamu rencanakan kepadaku?
"Aku tidak memiliki rencana apa-apa Ma, hanya saja Lina ingin yang terbaik untuk keluarga kita. Lina tidak ingin kita terus bertengkar jika tinggal satu rumah."
"Ma, Maafkan Lina jika kata-kata Lina selama ini menyakiti hati Mama. Tapi jujur Lina sangat menyayangi mama." ucap Lina kepada sang ibu mertua.
Tetapi entah mengapa hati ibu Anjani belum luluh sama sekali kepada sang menantu. Entah setan apa yang merasuki Nyonya Anjani. Membuat dirinya semakin membenci Lina setelah Mauren berpulang. Ia menganggap Lina wanita sial, yang tak kunjung memberikan keturunan kepada keluarga Wijaya.
Nyonya Anjani sama sekali tidak menyentuh minuman dan cemilan yang disuguhkan oleh Lina. Tetapi Lina tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting dirinya sudah melakukan yang terbaik untuk ibu mertua.
__ADS_1
"Aku tegaskan sekali lagi kepadamu, jangan pernah mencoba untuk menjauhkanku dari Putraku karena dia terlahir dari rahimku! kamu pasti tidak akan pernah mengetahui bagaimana sakitnya jika dipisahkan dari anak kandung sendiri, karena apa? Karena kamu tidak akan pernah memiliki seorang anak. " ucap Nyonya Anjani yang membuat hati Lina bagai Tertusuk Duri tajam
Padahal jelas-jelas dokter sudah membuktikan kalau putranya Devano lah yang memiliki masalah di bagian reproduksi, sehingga mereka hingga saat ini tidak memiliki keturunan. Tapi tetap saja Nyonya Anjani terus menyalahkan dirinya entah salah apa Lina kepadanya.
"Dimana Devano kamu sembunyikan? " tanya Nyonya Anjani karena melihat sosok Devano tidak ada di rumah itu.
"Maaf Mah, tapi Lina tidak pernah menyembunyikan Mas Devano. Mas Devano baru saja pergi ke kantor." sahut Lina tetap dengan nada suara yang tenang dia tidak ingin terpancing emosi atas kata-kata Ibu mertuanya.
Terlalu Lelah baginya terus berdebat dengan ibu mertua, sehingga ia Lebih baik diam dan Mengikuti alur Ibu mertuanya saja.
Karena tak kunjung menemukan putranya di rumah itu, akhirnya Nyonya Anjani memutuskan untuk pergi dari rumah yang selama ini ditempati oleh Devano dan juga Lina, setelah pindah dari rumah utama keluarga Wijaya.
Ia pun langsung mengendarai mobil miliknya menuju rumah utama keluarga Wijaya. Lina hanya menggelengkan kepala melihat sikap mertuanya yang begitu membenci dirinya. Tetapi karena rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan Devano kepadanya, membuat dirinya pun tetap bertahan karena suaminya benar-benar sayang dan cinta kepadanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK
__ADS_1