PESONA OM DUREN ( Duda Keren)

PESONA OM DUREN ( Duda Keren)
BAB 41. KELAPARAN


__ADS_3

Perut Norin sudah mulai terasa lapar. Tapi sepertinya Henderson tidak ada niatan untuk mengajak dirinya sarapan pagi. Sang suami masih sibuk dengan telepon selulernya. Yang entah berbicara kepada siapa saja di dalam sambungan telepon. Norin sama sekali tidak mengetahuinya, dia juga tidak berniat bertanya kepada sang suami.


Norin bangkit dari tempat duduknya, berlalu hendak membuka pintu kamar hotel. Ia ingin keluar sarapan karena perutnya sudah keroncongan.


Tiba-tiba Henderson menarik tangannya sambil menerima sambungan telepon dari seseorang. langkah Norin terhenti, saat pria itu menahan tangannya.


Kemudian pria itu menyudahi sambungan telepon selulernya. "Kamu mau ke mana? tanya Henderson kepada Norin penuh dengan selidik.


"Aku lapar! tidak mungkin aku menunggu Mas mengajakku sarapan pagi di luar atau di kamar ini. Secara Mas sama sekali tidak peduli kepada saya."ucap Norin dengan sorot mata yang tajam.


Kali ini Henderson merasa bersalah, karena telah membiarkan istrinya kelaparan belum sarapan pagi padahal Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Maaf, tadi Saya menerima telepon dari mama, kemudian Morris menghubungi saya lagi Setelah selesai berbicara dengan Mama."ucap Henderson dengan nada lembut.


Norin hanya diam saja. Dia tidak menyahuti ucapan pria itu.


"Kalau begitu Tunggu sebentar,"ucap Henderson sambil meraih dompet dan jam tangannya yang tergeletak di atas nakas.


Kemudian ia langsung menggandeng tangan Norin keluar dari kamar, menuju restoran yang lokasinya berada di dalam hotel itu juga.


Kedua pasangan suami istri itu masuk ke dalam lift. Mereka ingin menikmati sarapan pagi bersama.


Saat mereka sudah berada di lantai satu, Henderson lagi-lagi menggandeng tangan Norin berjalan ke arah restoran.


Banyak dari para karyawan-karyawati yang bekerja di hotel dan restoran itu menunduk hormat kepada Henderson dan juga Norin. membuat Norin merasa kebingungan dengan sikap dari para karyawan karyawati yang bekerja di hotel itu.


"Mas, Mengapa mereka menunduk hormat kepada kita? apa ini sebuah sambutan atau pelayanan di hotel ini?"tanya Norin yang tidak mengetahui kalau pemilik Hotel itu adalah suaminya sendiri.


"Kita mengeluarkan banyak uang untuk menginap di hotel ini, sudah sewajarnya mereka memperlakukan kita bak ratu dan raja."sahut Henderson dengan tetapan Dengan lurus ke depan berjalan dengan menggandeng tangan Norin.


Saat mereka akan memasuki restoran, semua para pelayan dan juga manajer restoran itu langsung berjejer menyambut kedatangan Henderson dan juga Norin.


Lagi lagi Norin dibuat tercengang dengan sambutan itu. "Mas, sepertinya ini lain sekali. sambutannya seperti khusus begitu."

__ADS_1


"Sudah saya katakan sebelumnya, kita mengeluarkan uang yang begitu banyak di restoran dan hotel ini. Apalagi kita tamu eksklusif di sini, sudah sepantasnya mereka menyambut kita dengan ramah dan sopan."


"Tapi, ini lain Mas."


"Lain bagaimana? Sudahlah lebih baik kita duduk dan nikmati sarapan pagi yang sudah terhidang di sini."ujar Henderson sambil menarik kursi untuk sang istri. Disusul dengan dirinya mendudukkan bokongnya tepat di hadapan sang istri.


Mata Norin terbelalak menatap menu makanan yang terhidang di sana. Berbagai macam makanan, mulai dari makanan Eropa, Asia, dan juga lokal.


"Mas, makanannya banyak banget sih? apa Mas mampu menghabiskan makanan sebanyak ini?"


Henderson hanya menatap istrinya dengan tersenyum, hati Norin menghangat melihat senyum manis dari sang suami.


"Makanlah yang mana kamu suka. Kamu boleh mencicipi berbagai macam jenis makanan yang terhidang di sini. Jika kamu suka ya lanjut makannya. Tapi jika tidak kamu hentikan saja tidak masalah. Karena saya tidak mengetahui makanan kesukaan kamu. jadi saya meminta kepada pihak restoran untuk menyiapkan segala jenis menu makanan yang ada di restoran ini."ucap Henderson lagi lagi membuat Norin benar-benar terhenyak.


"Ya ampun Mas, tidak perlu segitunya kali. perut Norin juga tidak sampai sejengkal. tidak mungkin dapat menghabiskan makanan sebanyak ini."ucap Norin sambil terkekeh.


Keduanya pun menikmati sarapan pagi.


"Tumben banget pria ini berbicara dengan lembut dan benar? gumam Norin di dalam hati. Sembari terus menyantap menu sarapan pagi yang terhidang di sana.


Setelah selesai sarapan pagi, kali ini Henderson mengajak Norin pergi ke mall yang lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.


"Mas, kita ngapain ke sini?"tanya Norin kepada sang suami."


"Kamu kan, tidak bawa baju ganti? jadi kita beli baju ganti untuk kamu."ucap Henderson kepada sang istri.


"Serius nih? ucap Norin sembari mereka berjalan memasuki Mall.


"Kamu pilih pakaian yang kamu suka dan nyaman untuk kamu pakai."ujar Henderson kepada Norin. Membuat mata Norin berbinar. lagi-lagi Norin sama sekali tidak mengetahui Mengapa mereka diperlakukan khusus di Mall itu.


Tetapi Henderson mengedipkan matanya, kepada para petinggi yang bertugas di sana. agar tidak memperlakukan mereka secara khusus, Ia tidak ingin sang istri mengetahui kalau Mall itu milik Henderson.


"Pilih yang ini saja, sepertinya ini cocok buat kamu dan nyaman dipakai."ujar Henderson sambil memberikan pakaian santai seperti celana jeans dipadukan dengan kaos oblong untuk sang istri. Karena Henderson ingin mengajak sang istri pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


Tetapi saat Norin Melihat harga celana jeans dan kaos oblong itu, Ia membulatkan matanya.


"Kita pindah ke tempat lain saja deh, tidak cocok untukku."ucap Norin sambil melangkah keluar dari toko itu. Dia sengaja membohongi Henderson, mengatakan kalau pakaian yang dipilihkan oleh Henderson tidak cocok untuknya.


Padahal karena harganya yang selangit, membuat Norin mengurungkan niatnya memilih pakaian itu.


Kini mereka berada di sebuah butik, Norin memilih gaun yang ada di sana. Lagi lagi Norin dibuat tercengang dengan harga yang tertera di bandrol. "Mahal banget sih!"gerutu Norin. Yang dapat didengar oleh Henderson.


Henderson membisikkan sesuatu kepada pegawai butik. Mengatakan kalau gaun yang terpajang di maneken, diskon besar-besaran. agar Norin bersedia membeli gaun itu yang menurut Henderson cocok untuk Norin.


"Permisi mbak! Mbak mau cari gaun ya? tanya salah satu pegawai butik.


"Iya, tapi harganya mahal-mahal banget."gerutu Norin


"Mengapa Mbak tidak mencoba gaun yang ada di sana. Kami memberikan diskon 75%."ucap sang pegawai butik membuat mata Norin langsung berbinar.


"Apa kamu serius? kamu tidak lagi bercanda kan Mbak?"tanya norin kepada pegawai itu.


"Tentu saya serius Mbak, tidak mungkin saya membohongi Mbak."ucap wanita itu yang menuntun Norin ke arah maneken di mana gaun itu terpajang di sana.


Henderson Sudah mengedipkan matanya sebelah kepada sang pegawai. Sang pegawai yang sudah mengetahui siapa sosok Henderson yang sebenarnya pun langsung menuruti perintah Henderson.


"Mbak serius ini diskon 75%? gaunnya Bagus banget aku menyukainya. Jarang sekali aku menyukai gaun, tapi ketika melihat gaun ini tubuhku seolah meronta-ronta ingin langsung memakainya."ucap Norin berbinar.


Pegawai itu pun mempersilahkan Norin untuk mencoba gaun itu di ruang pas. Saat Norin sudah mencobanya, ia memutar-mutar kan tubuhnya di depan cermin yang tersedia di sana. "Ternyata aku cantik juga kalau menggunakan gaun."gumam Norin dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.

__ADS_1


__ADS_2