
Kini Henderson dan Norin tiba di bandara Schiphol Air port tepatnya di Gemeente Haarlmmeemeer, setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 jam di dalam pesawat.
Norin benar-benar tak menyangka kalau dirinya saat ini berada bandara Schiphol Airport, Amsterdam Selatan.Di sana mereka sudah disambut, oleh seseorang yang sama sekali tidak dikenal Norin. Tapi sepertinya Henderson mengenalnya begitu dekat.
Terlihat wanita berparas cantik berambut pirang itu mengembangkan senyumnya, menghampiri Henderson dan juga Norin yang baru keluar dari bandara.
Dua orang asistennya sudah langsung mengangkat barang bawaan Henderson dan juga Norin. Wanita itu langsung memeluk Henderson dan memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan Henderson. Kemudian ia beralih memberi salam kepada Norin.
"Siapa lagi wanita ini, main peluk-peluk suami orang saja." gumam Norin di dalam hati. Dia tidak mengetahui kalau wanita berparas cantik itu merupakan sepupu dari Henderson.
Norin memang tidak kepikiran kalau wanita yang ada di hadapannya itu merupakan sepupu dari suaminya. Karena Wanita itu sama sekali tidak terlihat, kalau dirinya memiliki paras seperti Henderson.Karna wanita bernama Eline itu memang perawakan eropa.
" Mereka pun langsung naik ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh Eline, Sepupu Henderson yang selama ini mengelola usaha perhotelan milik nyonya carlota yang ada di Amsterdam.
Norin tidak mengetahui kalau sang mertua memiliki usaha hingga di Amsterdam. Ia juga belum mengetahui kalau Nyonya Carlota berasal dari Kota Amsterdam. Yang saat ini rumah kedua orang tua Nyonya carlota masih berada di sana.
Sayangnya nenek dan kakek Henderson sudah berpulang menghadap Sang Khalik. Tinggallah Paman Henderson adik dari Nyonya carlota . yaitu kedua orang tua Eline dan Eline yang menempati rumah kedua orang tua nyonya Carlota.
Karena hanya Ayah Eline yang tinggal di Kota Amsterdam. Sementara Nyonya carlota setelah menikah dengan Tuan Samera, ia memilih menetap tinggal di tanah air.
Terlihat Eline dan Henderson begitu dekat, Membuat Norin sedikit risih melihatnya. "Ini yang istrinya, aku apa wanita itu? Mengapa dia memilih berbicara panjang lebar dengan wanita itu, dibandingkan aku? " gumam Norin dalam hati sembari mengalihkan pandangannya ke arah kaca nako mobil dan menikmati pemandangan dari sana, selama mereka dalam perjalanan menuju hotel.
Karena merasa bosan dan tidak ada teman berbicara, akhirnya Norin kembali meraih ponselnya yang ada di tas sandang miliknya, Ia begitu terhenyak, ketika melihat di layar ponselnya ratusan pesan Whatsapp dari grup club motor yang selama ini ia ikuti.
Norin pun berbalas pesan di sana, tanpa menghiraukan Henderson dan Elin yang tampak bercanda gurau di sampingnya. Tampaknya Elin juga sepertinya tidak peduli dengan wanita yang ada di sampingnya. Entah mengapa sepertinya ia lebih dekat dengan Henderson.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam melalui jalur darat, akhirnya mereka tiba di sebuah hotel yang terlihat mewah dan megah Norin menduga kalau di Tanah Air, Hotel itu pasti hotel kelas bintang lima.
Mobil itu berhenti di parkiran, Henderson dan Elin turun lebih dulu, kemudian disusul Norin Setelah dia tersadar mobil itu sudah berhenti.
"Bersenang-senanglah hendarson, Aku harap kamu betah menginap di sini. Jika kamu memerlukan sesuatu hubungi aja aku. " ujar Eline kepada Henderson setelah memberikan kunci kamar hotel kepada Henderson.
" Bedankt (Trimakasih) Eline! "
" Graag gedaan ( Sama sama)
Henderson melirik sang istri yang masih asik di layar ponselnya, seolah tidak peduli adanya suaminya di sana.
"Kita sudah sampai, apa kamu belum nyadar? tanya Henderson kepada Norin.
"Hemmm.... " Norin hanya berdehem, lalu menatap wajah Henderson sekilas.
Henderson tidak sadar, Norin melakukan itu karena dirinya merasa tidak dianggap saat Elin berada bersamanya.
Norin tidak ingin berdebat, apalagi ini di negara orang. Dia sama sekali tidak mengenal siapa-siapa. jika Henderson meninggalkannya, dia tidak akan mengetahui Kemana dia melangkah. Norin kembali menyimpan ponselnya ke tas sandang yang ia gunakan. lalu ia mengikuti langkah Henderson setelah kedua bell boy mengangkat koper milik mereka.
Henderson membuka pintu kamar hotel, setelah mereka tiba depan kamar hotel VVIP yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua.
Sebelumnya Nyonya Carlota sudah menghubungi Eline, kalau Henderson dan istrinya akan liburan bulan madu di sana. Sehingga Elin sudah tau kalau Henderson dan istrinya akan liburan bulan madu di sana. Dan Eline sudah meminta para karyawan yang bertugas di hotel itu merias sedemikian rupa kamar hotel yang akan ditempati oleh Henderson dan sang istri.
Henderson menempelkan card ke depan pintu, lalu Pintu itu terbuka lebar. Henderson melangkah masuk diikuti oleh Norin dari belakang. lagi-lagi Norin dibuat tercengang dengan riasan kamar itu dirias layaknya kamar pengantin baru yang sedang melakukan bulan madu.
__ADS_1
"Istirahatlah, kamu pasti sudah lelah." ucap Henderson kepada Norin.
Norin hanya menganggukkan kepalanya lalu ia duduk di sofa. Dia menatap ranjang itu yang ditaburi dengan bunga mawar merah yang begitu indah dan harumnya semerbak di seisi ruangan, membuat Indra pencium Norin ingin terus menghirup aroma kamar itu yang begitu wangi.
Tapi Norin berusaha untuk bersikap biasa saja. membuat Henderson mengerutkan keningnya. sikat Norin berbeda jauh dengan almarhumah Mauren.
Saat Henderson dan Mauren melakukan liburan bulan madu, dan melihat riasan kamar pengantin yang begitu indah dan mewah seperti yang mereka tempati saat ini, Mauren saat itu begitu bahagia. Ia langsung memeluk suaminya. Dan mengucapkan terima kasih atas kejutan yang diberikan sang suami kepadanya.
Berbeda dengan Norin, dia hanya diam saja menatap sekeliling seisi ruangan, tidak ada basa-basi sama sekali mengucapkan terimakasih kepada suaminya, atau apa saja jika membuat dirinya bahagia.
Norin bangkit kembali dari tempat duduknya membuka coper yang ia bawa. Ia mengambil baju ganti beeniat untuk membersihkan diri. Karna Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Tubuhnya sudah begitu lelah, tapi tidak mungkin dia tidur tanpa membersihkan diri dulu. Norin berlalu ke kamar mandi kemudian ia langsung membersihkan tubuhnya.
Henderson hanya menatap Apa yang dilakukan istrinya. Ia hanya menggelengkan kepala. Henderson menebak kalau Norin tidak menyukai kejutan yang ia berikan, membuat dirinya benar-benar kesal melihat Norin yang sama sekali tidak memberikan respon apa-apa, ketika mereka sudah tiba di kamar yang sudah dipersiapkan Henderson jauh-jauh hari sebelumnya.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Norin keluar dengan menggunakan pakaian tidurnya.
"Mas lebih baik mandi gih, ini sudah jam sepuluh, nanti udaranya semakin dingin. "ujar Norin sambil membuka coper milik suaminya lalu mengambil baju ganti untuk Henderson. Henderson pun menurut lalu masuk ke dalam kamar mandi, Ia Pun melakukan ritual mandinya. Henderson sengaja mempersingkat ritual mandinya, karena suhu udara di Amsterdam saat ini sangat dingin.
" Mas Kenapa belum pakai baju?" ucap Norin saat melihat Henderson hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya datang menghampiri Norin yang sedang duduk di sofa sambil mengotak-atik ponselnya.
BERSAMBUNG...
HAI HAI SEMUANYA, JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA EMAK. DENGAN BERI LIKE, COMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA.
__ADS_1
MAMPIR JUGA KE KARYA BARU EMAK.
"JODOH KE DUA"