PESONA OM DUREN ( Duda Keren)

PESONA OM DUREN ( Duda Keren)
BAB 57. MP DI AMSTERDAM


__ADS_3

Tangan Henderson mulai bergerak nakal memegang nggota tubuh sang istri yang menjadi favoritnya.


Hendersoncukup lihai memberikan rangsangan, sampai sang istri merasa melambung ke udara bersama kenikmatan.


Setelah merasa tubuh istrinya tidak terlalu tegang, lagi Henderson membisikkan sesuatu.


"Maaf, Aku tidak ingin melukaimu. Jika kamu merasakan sakit, kamu jambak saja rambutku." Norin hanya mengangguk pasrah.


Setelah itu Henderson mulai memasukkan pusakanya ke dalam mahkota sang istri yang masih rapat. Ada sensasi yang sangat luar biasa dirasakan Henderson.


Karena ia pria yang pertama kali menjamah sang istri. Ia benar-benar bahagia, ternyata Norin tidak seburuk yang ia pikirkan. Awalnya Henderson mengira kalau Norin sudah tidak perawan lagi, karena terlalu banyak bergaul dengan para pria.


Henderson melakukannya dengan hati-hati. Karena takut sang istri terluka.


Namun, tetap saja sesuatu hal yang pertama kali dilakukan oleh seorang wanita, tidak akan semulus yang sudah terbiasa.


Andini mencengkram punggung suaminya. merasakan sesuatu menusuk Salah satu bagian tubuhnya.


Henderson menautkan jemari mereka dan kembali memberikan rangsangan agar sang istri tidak merasa tegang.


Dorongan itu semakin kuat, hingga benteng besar yang menjadi pertahanan sebuah mahkota pun hancur.


Sebuah perisai telah menemukan Pelabuhan tempatnya bersemayam.


" Sayang, maaf ya sedikit sakit, apa kamu merasa kesakitan?" tanya Henderson setelah merasakan pusakanya menghancurkan kerang besar yang menjadi benteng pertahanan Norin.


Norin hanya terdiam dengan senyum yang mengembang. Henderson mengusap air mata yang menggenang pada sudut mata sang istri. karena merasakan benda pusaka milik Henderson masuk ke karang besar yang menjadi benteng pertahanan sang istri benar-benar terasa sakit.


Setelah itu Henderson mengecup lembut pucuk ranum yang telah menjadi candu baginya.


"Maaf kalau ini terasa sakit aku, akan membawamu ke atas puncak kenikmatan. I love you my wife. " ucap Henderson dengan nada lembut.


Norin kembali Mengembangkan senyuman dengan air matamata haru.


" Sayang kenapa kamu menangis? "


" Mas, aku menyayangimu." Norin mengalungkan tangannya pada leher suaminya, keduanya menatap dengan dalam menyatukan raga yang diiringi dengan rasa.


"Sayang." ucap Henderson dengan suara sensual.


Henderson mulai menjalankan kembali pelayaran mereka dengan dayungan yang semakin lama semakin cepat.


Ritme gerakan keduanya mengiringi denyut jantung, dan aliran darah yang kendor membuat rasa semakin membuncah.


lenguhan dan de3$@han terdengar menggema di dalam ruangan yang kedap suara itu.


Norin mulai menyeimbangkan permainan suaminya ketika sakit yang ia rasakan telah berganti dengan kenikmatan. sebuah Pelabuhan Telah Ketika sang perahu sedang Berdayung di lautan madu.


Suasana kamar di hotel itu Kian memanas, tatkala kedua Insan saling bertukar peluh beriringan dengan erangan dan lenguhan kenikmatan yang kian membuncah.

__ADS_1


Norin benar-benar dibuat melayang oleh setiap sentuhan yang suaminya berikan. Hingga ia benar-benar merasakan sensasi yang sangat luar biasa atas sentuhan demi sentuhan lembut yang dilakukan oleh sang suami.


Apalagi Henderson melakukannya dengan lembut, dan hati-hati. Ia tak ingin sang istri terluka sedikitpun.


" Mas!" Panggil Norin dengan suara terengah-engah karena suaminya semakin mempercepat ritme permainan yang sudah berjalan beberapa menit.


Henderson menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta." Iya sayang, sebentar lagi akan mencapai puncak." Dimas semakin mempercepat pelayaran itu hingga tiba pada puncak kenikmatan.


Norin benar-benar menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh suaminya,


Henderson menyemburkan lahar panas ke dalam rahim sang istri, berharap akan tumbuh benih cinta sebagai buah pernikahan mereka. Apalagi Nyonya Carlota menginginkan mereka membawa oleh-oleh yang paling berharga untuknya yaitu seorang cucu. Membuat Henderson benar-benar berharap kalau benih yang ia tanam di rahim Norin langsung bertumbuh.


Henderson mencabut perisainya dan membersihkan mahkota sang istri dengan hati-hati.


Setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya di samping Norin dan merebahkan kepala sang istri di atas lengan berotot miliknya.


Henderson melap keringat pada dahi sang istri dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya.


" Terimakasih sayang, kamu sudah menjaganya untukku. " ucap Henderson sambil menyekap beberapa helai rambut yang menutupi wajah merona Norin.


Norin hanya tersenyum, Seraya menempelkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang masih polos.


Apa tadi terasa sakit? Apa kamu menyukai permainanku? tanya Henderson yang membuat Norin langsung menengadahkan wajah ke arah Henderson.


Norin mengembangkan senyumnya, lalu menatap sang suami dengan tatapan penuh cinta.


" Tapi apa sayang? Kenapa tidak dilanjutkan?


Norin menutup wajahnya dengan kedua kelopak matanya.


"Sayang, boleh ya sekali lagi." Henderson kembali mendidih tubuh sang istri.


" Mas. " Pekik Norin ketika kembali mendapatkan serangan dari suaminya. Henderson benar-benar seperti gagak haus yang melihat Telaga. ia menumpahkan Gelora yang selama ini ditahannya.


Tidak bisa dipungkiri, Henderson memang benar-benar kehausan, Karena setelah sang istri berpulang, Ia tidak pernah, melakukan apa yang seharusnya dilakukan suami istri. Ia tidak pernah melakukan dengan wanita lain yang tidak menjadi istrinya, walaupun Henderson merupakan seorang pria kaya raya yang memiliki segudang harta.


Semakin lama, permainan itu semakin memanas.


Norin berdecak kagum kepada sang suami yang bahkan sangat terlihat kuat. Ia benar-benar puas atas sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


Bahkan ia beberapa kali memberikan serangan sampai sang istri terkulai lemas di bawah kungkungannya.


"Sayang kamu capek? tanya Henderson ketika merasakan tubuh istrinya mulai lesu dengan sorot mata sayu. Bagaimana tidak, Norin Sudah beberapa kali mencapai puncaknya, tapi sang Suami masih tetap gagah dan Perkasa.


" Baiklah, kita sudahi saja permainan ini." Henderson kembali mempercepat ritmenya, lalu Henderson menumpahkan lahar panasnya di rahim sang istri.


Kemudian, Henderson kembali memberikan kecupan hangat di kening sang istri lalu merebahkan tubuhnya di samping Norin.


" Terimakasih sayang, maaf kalau aku terlalu berlebihan. Dimas mengecup pipi istrinya yang dipenuhi keringatkeringat.

__ADS_1


" it's never mind, Mas. Ini sudah menjadi kewajiban Norin melayani Mas di atas ranjang, selaku Seorang Istri. Maafkan Norin kalau Norin baru menyadarinya kalau Norin benar-benar sayang dan cinta sama mas." ucap Norin mengakui perasaannya kepada Henderson. Membuat Henderson benar-benar bahagia, lalu ia kembali meraih tubuh sang istri kepelukannya mengeratkan pelukan seolah-olah dirinya tidak ingin melepaskan sang istri,


"Thanks my wife, I love you. " ucap Henderson. lagi lagi Henderson memberikan kecupan hangat di kening dan di wajah cantik Norin.


"Kita mandi yuk.


"Mandi?


" Ini sudah larut malam Mas, apa nggak apa-apa mandi jam segini?


"Tidak apa-apa sayang, asal jangan terlalu sering. badan kita lengket, harus mandi dulu biar bisa tidur dengan nyenyak." Norin menutupi tubuhnya dengan handuk yang terlempar ke lantai


"Tunggu sebentar!" Henderson bangkit terlebih dahulu dan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan ringan.


"Mas aku bisa jalan sendiri."


" Kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu. Mas tahu kamu pasti masih terasa sakit dan ngilu." ucap Henderson kepada sang istri.


Norin menutupi wajahnya yang merona, kali ini apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Akhirnya dia pun mengalah digendong oleh sang suami masuk ke dalam kamar mandi yang berukuran cukup besar itu.


Henderson mendudukkan istrinya di atas kloset dan menyalakan air shower yang di fasilitasi dengan air hangat.


" Mas dingin nggak?


" Enggak dong Sayang, kan ada air hangatnya. Lagian kalau kamu kedinginan, Apa kamu mau berkeringat lagi? tanya Henderson Seraya mengangkat alisnya sebelah.


"Nggak mau, nanti mas gempur sampai aku terkulai lemas." Norin mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha... itu masih perdana sayang, nanti juga kamu akan bakalan Minta sendiri, karena kamu sudah merasakan nikmatnya pusaka milik Mas." ucap Henderson sambil mengedipkan matanya. dia mencolek dagu sang istri.


" Terimakasih ya sayang, kamu sudah menerima Mas apa adanya. Walaupun usia kita terpaut jauh. tapi kamu masih tetap berusaha untuk mencintai Mas. Aku janji dan berusaha akan tetap membahagiakan kamu" ucap Henderson sambil meraih tubuh istrinya.


" Iya Mas, sama-sama. Norin juga mengucapkan terima kasih kepada Mas, karena Mas sudah memberikan cinta Mas kepada Norin." ucapnya sambil membalas pelukan sang suami. Saat keduanya mengutarakan isi hati mereka masing-masing, keduanya pun langsung menyelesaikan ritual mandinya karena hari sudah semakin larut malam.


****


Henderson mengeringkan rambut istrinya dengan menggunakan hair dryer yang disediakan oleh Eline sebelumnya.


"Sayang, besok kita pergi ke rumah opa dan Oma dulu ya. Di sana ada paman, ayahnya Elin. Kamu akan aku kenalkan sama paman." ucap Henderson sambil mengeringkan rambut istrinya.


"Serius Mas? Mas Mau mengajak Norin bertemu dengan paman Mas?tanya Norin kepada suaminya.


" Iya sayang, karena tadi siang paman menghubungiku, dan meminta untuk segera memperkenalkan kamu kepada mereka. Karena saat pernikahan kita mereka tidak bisa hadir saat itu, "


"Karena kondisi kesehatan Paman saat itu menurun, dan harus mengelola perusahaan juga ,yang tak bisa ia tinggalkan kala itu." ucap Henderson kepada sang istri.


Norin hanya menganggukkan kepala, setelah itu keduanya langsung memberikan tubuh di atas tempat tidur yang berukuran King size itu. Henderson meraih tubuh Norin ke pelukannya. Tangan Henderson yang berotot menjadi bantal untuk Norin.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2