
" Oke-oke kamu memang lebih pintar dariku! Tapi tidak beda jauh. Hanya 0,0001% saja".
" Dasar konyol!".
" Hei Hati Beku! Kalau dipikir-pikir kamu pandai juga ya berakting".
" Maksudmu?".
" Iya. Bisa bisanya dulu kamu menyembunyikan kemampuanmu dari kita semua tanpa ada yang curiga sedikitpun".
" Walau begitu Aku masih sadar jika Aku sedang menjalankan permainan. Tidak seperti kamu yang tidak sadar kalau dipermainkan. Dasar Hati wanita! Meleyot!".
" Aku akui dalam hal berbicara aku kalah darimu. Tapi lihat saja, aku pasti bisa mengalahkanmu. Aku bisa merubah sebuah Hati yang batu menjadi air!".
" Omong kosong!"
" Cepat kemas barang-barang yang mau dibawa! Jangan banyak bicara!".
" Barang apa? Di akademi ini, aku tidak punya barang apapun ".
" Bawa matamu, bawa fikiranmu, bawa energimu, bawa..... ".
Belum sempat selesai berbicara, Zays cepat-cepat memotong.
" Oke oke oke. Aku akan membawa diriku sendiri. Tanpa teringgal satupun! Dasar Aneh!".
" Apa kamu bilang!". (Mengangkat tangan)
" mksudku.... Apa Maneh. Ya itu".
Dalam bahasa Indonesia "apa lagi".
" Dasar Aneh!! Hanya Aku saja yang bisa mengatakannya, kamu tidak pantas. Dalam kamusmu hanya ada kata maaf dan terimakasih. Beda dengan kamusku".
" Apa seberbeda itu? Kaya misal kamusku Sansekerta dan kamusmu Purba, maksudmu begitu?".
" Satu lagi. Tinggalkan saja mulutmu, jangan dibawa! Mengganggu!".
" Oke oke... Mmmmmmm".
(Zays mengunci rapat mulutnya).
Varendra dan Zays menyusuri koridor demi koridor, tentu saja tidak ada yang curiga. Tidak ada barang yang mereka bawa kecuali secarik kertas yang diselipkan dalam baju Varendra.
" Zays!".
Suara wanita yang sepertinya ia kenali memanggilnya.
" Minerva?"
" Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Zays.
" Aku sedang mengikutimu, dan Kami akan pergi dengan kalian".
" Bagaimana kalian tahu?" Ucap Zays dengan suara lirih.
" Ya. Sejak kedatangan Master Senior kami sudah menduganya. Dan betul. Ini yang akan kalian lakukan".
Jawab Vivena.
__ADS_1
" Kalian tidak boleh ikut!" Bentak Varendra dengan nada tinggi yang ditekan lirih.
" Siapa kamu! Aku tidak perlu ijinmu untuk pergi kemanapun!". Jawab Minerva.
" Memang apa bekalanmu? Apa yang kalian bawa?".
" Kami tidak membawa apa-apa". Jawab Vivena.
" Kalian sudah jawab sendiri. Jadi, kalian jangan bawa diri kalian untuk pergi dengan kami!".
" apa bedanya dengan kalian?".
" kita punya akal sehat, Fluch cukup, kemampuan memadai. Semua memenuhi syarat untuk bertempur!".
" Kami juga memenuhi syarat, kita pintar, cantik, imut. Jika kamu membuat syaratmu sendiri, maka akupun bisa".
" Kenapa kalian malah ribut disini. Jika ada yang mendengar kita, bukan hanya satu orang yang tidak ikut. Tapi kita semua yang tidak diizinkan keluar!". Jelas Zays.
Mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka, seperti biasa, mereka Melawati gerbang belakang Akademi. Tapi tentu saja, setelah kejadian yang lalu, gerbang itu dipasang sebuah pendeteksi pelindung seperti sirine.
" Sial! Cepat pegang tanganku!".
Mereka semua memegang tangan Varendra. Varendra menggunakan Fluch Rajawalinya untuk terbang melambung di udara.
Mereka terbang tinggi membelah awan dengan terpaan angin kencang.
" Kemana kita akan pergi?" Tanya Vivena
" Dunia II"
" Kak! Dunia itu dengan Dunia kita berbeda, Aku harus membuat pusaran Vroxsze untuk menghubungkannya".
" Tidak perlu! Untuk membuatnya akan memakan setengah energi kita. Biar Aku yang melakukannya".
" Lebih baik satu, daripada dua".
Varendra menggunakan kekuatan ganda, Fluch Rajawali yang ia kenakan dan sistem kendali fikiran untuk mengendalikan alam membentuk pusaran.
Mereka bertiga berpegang lebih erat karena tekanan dan hembusan angin bertambah besar.
Terbentuk pusaran kecil yang semakin lama semakin bertambah besar, angin semakin kuat dan menyerap mereka masuk melewatinya.
Mereka tiba di Dunia II terjatuh di tanah, karena memang semula mereka di udara, sedangkan penghubung pusaran Vroxsze di Dunia II berada di permukaan tanah, jadi mereka menempuh pusaran itu seperti terjun dari tebing.
" Bruk bruk bruk "
" Aduuhhh, pinggangku...."
" Aduuhh....... Apakah aku berada di surga?".
" Kak! Kenapa penghubungnya tidak di udara saja! Jadi kita tidak perlu jatuh seperti ini!".
" Betul lah aku tidak mengijinkamu membuatnya! Kamu sendiri belum memahami pusaran itu".
" Apa yang harus aku pahami?".
" Daya serap tanah lebih besar, semua elemen dari diri kita terserap ke tanah. Jadi kita tidak bisa membuat penghubungnya di udara".
" Kalau begitu kenapa tadi tidak mendarat dulu".
__ADS_1
" Ah sudahlah jangan banyak tanya!".
" Hahaha untuk pertama kalinya kakakku si hati beku tidak bisa menjawabnya". Ucap Zays.
" Kakak? Dia si bocah sombong kakakmu?" Ucap Minerva.
" Aku lupa memberitahunya pada kalian. Kalau Varendra ini kakak kandungku".
" Kakak kandung???.
Ayah Varendra Master Tom?" Tanya Minerva terkejut.
" Siapa itu Tom? Aku tidak kenal".
" Itu nama samaran Ayah Kak... Tom Hereztarse". Bisik Zays pada Varendra.
" Ohhh iya... Itu Ayahku, maklum, aku baru mengenalinya, jadi lupa".
" Aneh! Benar-benar aneh! Seolah kamu anak yang jatuh dari antah berantah dan langsung instan menjadi anak Master Tom".
Jawab Minerva.
" Ya. Walaupun hanya ada dua manusia di Dunia ini, Aku bahkan tidak pernah berfikir kalau kalian akan saling kenal, apalagi punya hubungan darah". Ucap Vivena.
" Untuk apa kamu memperkenalkanku pada mereka berdua!" Menoleh pada Zays.
" Aku pun bahkan tidak menginginkan semua orang mengenalku, siapa ayahku, siapa ibuku, siapa keluarga ku. Kalian pikir Aku akan sangat bangga jikapun Aku dilahirkan dari Master terhebat sekalipun. Ha?".
" Rupanya seorang Varendra yang sombong bisa berubah drastis. Sungguh orang misterius".
" Bukan urusanmu!".
" Cukup. Kalian jangan menganggap kakakku orang sombong, egois, jahat, kasar. Aku mengenalnya! aku melihatnya! Bukan dari apa yang terlihat selama ini, tapi apa yang tersembunyi selama ini".
" Dia seperti lilin, yang membakar dirinya sendiri untuk memberikan cahaya pada yang lain. Bagiku, Dia itu seperti mutiara tapi dia melapisinya dengan arang".
" Cukup celotehmu! Siapa yang coba kamu bicarakan. Aku bukan orang seperti itu. Dan tidak akan seperti itu. Aku dengan diriku sendiri. Apa yang kulakukan untukku sendiri bukan orang lain dan itu keegoisanku. Apa yang kamu tahu dariku!".
" Sampai saat ini aku selalu tahu bahwa kamu pembohong. Itu satu hal yang aku percaya darimu!".
" Dasar! Bocah Aneh!".
" Tunggu! Sekarang ini kita ada di Dunia mana? Apa kalian tidak sadar kalau kita menginjak rumput raksasa? Apa Dunia para Pro-Master itu ukurannya lebih besar dari dunia kita? Apakah ini Dunia Bromsborm kak? "
" Aku belum pernah ke Dunia Bromsborm. Jadi Aku pun tidak bisa merekam letak yang akan kita tuju, untuk ke Dunia itu kita harus bisa merekamnya dengan jelas, setidaknya kita tahu tempat dan gambarannya, jika tidak ada rekaman apapun, ya... pusaran ini membawa kita ke Dunia mana saja, yang penting Dunia Pro-Master".
" Aku pernah membuatnya sekali dan itu pertama kalinya. Kakak ingat? Saat kita ke Dunia Swardorf. Aku tidak pernah melihat tempatnya tetapi mengapa bisa terhubung?".
" Aku sudah mencurigainya dari awal. Pasti ada yang telah menghubungkan pusaran itu dari Dunia Swardorf sejak awal. Dan benar saja Xrazinda telah bekerjasama dengan Fredic anaknya".
" Apa?? Fredic anak dari Xrazinda? Jadi selama ini dia hanya bersandiwara?" Tanya Vivena.
" Bisa-bisanya kita ditipu olehnya!" Kesal Minerva.
" Awas saja kalau Aku bertemu dengannya! Akan aku buat mulutnya terkunci selamanya!".
" Fredic itu anak Xrazinda, Twiznya pun sama tingginya dengan ibunya. Jangan menganggapnya remeh hanya karena dia pura-pura menyembunyikan kekuatannya". Ucap Zays
" Ayo kita segera pergi dari sini! Kita cari orang penduduk sini!"
__ADS_1
" Untuk apa?" Tanya Vivena
" Untuk menanyakan keberadaan kita".