Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
The Dark Lord


__ADS_3

Varendra menyibak sisi samping senior, tetapi berhasil ditangkis oleh lawan.


Dengan cekatan lawan mengait leher Varendra, membalikkan badan Varendra dan mengunci pergerakan Varendra


Tangan Varendra yang masih leluasa, ia gunakan untuk menggapai kepala lawan, mengarahkannya ke hujung kepala lawan. Untuk apa? Bukan untuk di jungkir balikkan, karena kekuatan fisik Varendra belum cukup kuat untuk mengangkat  tubuh dan menjatuhkan lawan.


Varendra menggapai rambut lawan dan menjambaknya keras


"Auuuuh." Lawan melepaskan kaitannya.


"Apa kamu ini bisa bertarung? Kenapa menarik rambutku?"


"Yang ku tahu, bertarung itu adu fisik, ada yang Menang dan kalah. Jadi, sesukaku mau dengan cara apa, yang penting aku menang." Balas Varendra


"Belum. Pertandingan ini belum selesai." Jawab Senior


Segera senior mendekati Varendra kembali dengan kuda-kudanya.


Varendra pun berjaga-jaga kembali dengan kuda-kuda miliknya.


Lawan menyibak punggung Varendra, fokus Varendra diarahkan untuk menangkisnya tapi lawan terlebih dahulu menendang perutnya dengan lutut kaki, ternyata lawan mengalihkan fokus Varendra untuk menyerang perutnya.


Varendra membungkuk setengah badan karena terkena pukulan lawan. Dengan posisinya yang membungkuk itu, Varendra mendapatkan ide cemerlang agar bisa mengalahkannya.


Segera dengan gerakan cepat Varendra menurunkan celana lawan hingga betis kaki.


"Hiiiiiiuhh." Para wanita menutup matanya membalikkan badan mereka


Sebagian murid lain tertawa melihat kejadian itu.


Senior itu pun segera membenarkan celananya dan lari meninggalkan arena itu.


"Bukan mengalahkannya, mempermalukannya lebih tepatnya." Senyum Varendra


"Dasar... Ternyata fikirannya pun sama. Ekspektasi ku terlalu besar, aku kirakan kemampuan fisiknya juga hebat, ternyata seperti perempuan yang berkelahi." Batin Minerva


"Bagaimana? Siapa lagi yang mau maju bertarung?"


Murid perguruan bubar satu persatu, menghindari bertarung dengan Varendra


"Mau ditaruh dimana mukaku jika harus bertarung dengannya. Ayo-ayo kita bubar saja." Ujar salah satu Murid


"Bagaimana tadi jurusku? Hebat kan?" Mengangkat alisnya pada Zays.


"He.... Aku belum pernah melihat jurus seperti itu. Tapi yaaa kamu hebat." Zays memanyunkan bibrnya dan mengangguk pelan sembari mengapitkan kedua lututnya. Takut jika kakaknya melakukan hal yang sama pada dirinya.


"Ini nih jurus otak ngeres. Dasar kurang waras!" Ucap Minerva


Vivena datang dan menarik tangan mereka


"Hehhhh mau kemana ini?" Tanya Zays

__ADS_1


"Kamu dari mana saja, kamu tidak lihat tadi pertarungan konyol Varendra?"


"Bertarung dengan siapa?"


Tanya Vivena sembari menuntun mereka bertiga


"Senior yang katamu tampan itu."Jawab Minerva


"Apa? Lalu? Siapa yang menang?. Tidak usah jawab pasti pria incaran ku itu kan yang menang?" Ucap Vivena.


"Jangankan menang, Varendra berhasil membuatnya malu." Jawab Minerva


"Hahhh... Apa?"


"Aku rasa dia tidak malu, bukankah kalian para wanita yang merasa malu?"


Jawab Varendra


"Diam kamu!!


Asal kamu tahu Viv, tadi Varendra dengan tingkah konyolnya menurunkan celana senior itu. Entah jurus apa yang ia fikirkan saat itu"


"Waaahhh.... Rugi aku tadi tidak melihatnya. Hebat. Kapan kamu akan melakukannya lagi ren?" Menepuk pundak Varendra.


"Dasar! otakmu juga sama ngeresnya seperti Minerva. Menengilkan kepala Vivena


"Lalu, mau kemana kita?" Tanya Minerva


"Haaaa?"


"Sudah ayo, ikuti saja." Ucap Vivena


Vivena tiba disebuah ruangan besar, ia masuk dengan ketiga temannya


"Taraaa, bagaimana banyak kann? Kalian bisa makan sepuasnya disini." Ucap Vivena


"Wawww... Banyak sekali persediaan makanan disini... Aku rasa persediaan ini tidak habis lima tahun ke depan."


"Benar kann... Jadi, daripada keburu busuk menunggu lima tahun kedepan, lebih baik kita makan sepuasnya disini."


"Fikiranmu hanya makan dan makan saja. Apa kamu sudah mendapat izin untuk memakannya?" Ucap Zays.


"Lihat tulisan di dinding itu... Tulisan berwarna merah seperti darah 'Makanlah sepuasnya'. Jadi, tunggu apa lagi?" Ucap Vivena


"Aku rasa di Dunia ini tidak kekurangan makanan sedikitpun. Apakah ini juga kelebihan Dunia Nordelard elemen tanah?" Ucap Zays


"Aku rasa juga sepadan. Dunia yang hanya membutuhkan kekuatan fisik tetapi tercukupi semua permakanan mereka." Ucap Minerva


Mereka berempat memakan setiap jenis permakanan yang disediakan diruangan itu. Ada buah-buahan, makanan olahan seperti pie, pastry, olahan gandum lainnya, bermacam-macam manisan, jenis daging, ayam, semua ada disana.


Setelah dirasa puas mereka memakan setiap jenis makanan yang ada di ruangan itu, mereka duduk bersender-senderan kekenyangan dengan apa yang sudah diisi kedalam perut mereka.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, mereka merasakan guncangan seperti gempa. Lalu datanglah sekumpulan asap hitam yang melingkari mereka.


Merasakan adanya guncangan, Guru dan para tetua perguruan segera menuju ruangan yang telah mereka berempat masuki.


"Tunggu... Jangan ganggu mereka, mereka tidak tahu apa-apa." Teriak Guru di ruangan itu.


"Mereka telah menggangguku.... Memakan makananku, mereka tidak bisa lepas dariku."


"Jika kamu murka, murkalah padaku. Ini salahku yang tidak memberitahu mereka" ucap Guru


Guru menarik mereka berempat kebelakang, tapi kumpulan asap hitam mampu mendorong Guru hingga terjatuh. Segera Guru bangkit, dan mengeluarkan tenaga dalamnya.


Memang perguruan ini merupakan seni bela diri fisik, tetapi bagi mereka yang sudah mendalami, mampu menggunakan tenaga dalamnya untuk melawan hal-hal seperti ini.


Guru menggunakan tenaga dalamnya untuk mengunci kembali Aura Iblis, aura itu terlalu murka sampai-sampai guru batuk mengeluarkan darah.


"Kami bisa mengganti makanan mu kembali. Hanya sedikit yang dimakan oleh mereka, kami bisa menggantinya lebih banyak." Ucap Guru


"Tidak bisa! Aku telah terganggu, dan itu tidak bisa diganti."


Aura itu kembali mendorong Guru. Mereka berempat menangkap Guru yang hampir terjatuh. Gumpalan asap hitam mendekati guru disertai dengan hembusan angin besar.


"Cukuuup, kalau kamu berani, hadapi aku. Dasar pengecut." Teriak Varendra mendekati gumpalan asap itu.


Gumpalan asap itu melingkari tubuh Varendra seperti menyerap sesuatu dalam diri Varendra, dan yang lainnya saling menembusi diri Varendra, tetapi tidak terjadi apa-apa pada diri Varendra.


"Siapa yang berani menyerangku." Suara Varendra berubah menjadi besar, bahkan matanya melotot menatapi gumpalan asap itu.


Aura hitam dalam diri Varendra bangkit, Varendra melayang merentangkan kedua tangannya.


"Apa kalian lupa padaku?" Ucap Varendra yang masih dengan suara besarnya.


"The Dark Lord! Tuann... Maafkan kami akan kebodohan kami..." Suara bersalah dari gumpalan asap aura Iblis terdengar jelas.


"Kalian telah berani mengganggu anak ini, kalian mencoba menantangku." Ucap Varendra


"Sungguh kami tidak berani tuan. Anak ini menghabiskan makananku."


"Maka, aku akan membalas perbuatan anak ini. Sebagai balasannya, aku akan menghabisimu!" Ucap Varendra


" Tuann... Tu...."


Varendra mengangkat tangannya ke depan, menyodorkan tangannya ke arah gumpalan asap. Membuka telapak tangannya. Sedikit demi sedikit mengatup dan menggenggam jarinya, seakan sedang menghancurkan sesuatu.


Ternyata benar, gumpalan asap di depannya pudar dengan sendirinya.


Varendra terjatuh dari ketinggian sekitar 4 meter. Zays yang berada dekat di bawahnya segera menangkap Varendra yang pingsan tidak sadarkan diri.


"Bantu dia, bawa ke ruanganku."


"Baik Guru." Ucap Zays yang membantu kakaknya berdiri dan merangkulnya.

__ADS_1


Sementara Minerva dan Vivena berjalan dibelakang mengikuti Zays dan Varendra.


__ADS_2