Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Simpanse


__ADS_3

" untuk mendapatkan air, kami para kalangan bawah harus menempuh perbatasan dunia ini dengan dunia seberang, baru disana terdapat sungai untuk kami mengambil pasokan air." Imbuh bapak itu.


" Apakah yang bapak maksud adalah perbatasan dunia ini dengan dunia Bromsborm?." Tanya Zays


" Apa kalian pernah kesana?." Tanya ibu


" Ya. Sebelumnya kami kesana." Jawab Vivena


" Apakah kalian sungguh berhasil mengambil kepingan itu?." Tanya Bapak


Zays memperlihatkan kepingan Kristal yang berada di kantungnya.


" Ternyata benar, sebuah pesan dari dunia angin itu." Ucap Bapak


" Pesan?." Tanya Minerva


" Ya. Keberhasilan kalian telah tersebar di seluruh penjuru dunia. Dan jika pun kalian berhasil mengambil kepingan Kristal Zero di dunia ini, bisa jadi dunia kami kembali seperti semula, tidak kekeringan seperti sekarang ini, jadi kami menaruh harapan besar agar kalian bisa berhasil." Jawab bapak


" Tunggu apa lagi? Ayo!." Ucap Varendra yang entah sejak kapan memegang dua buah jerigen besar di kedua tangannya.


Mereka berlima (termasuk Bert) membawa dirigen di setiap tangannya masing-masing.


" Kenapa kalian tidak menggunakan kekuatan kalian?." Tanya Bert.


" Untuk apa memakai kekuatan, selagi masih mampu berjalan. Nggak usah jadi anak manja." Jawab Varendra.


" Bert. Kamu harus membiasakan dirimu untuk menghadapi kakakku si hati beku ini." Ucap Zays


" Bukankah kamu kalangan Pro-Master, lalu apa Fluch dan Twiz mu? Tanya Vivena


" Apalah arti semua itu, jika dalam diri kami kekurangan cairan air, organ kami lemah, fisik saja lemah apalagi untuk menggunakan Fluch kami." Jelas Bert


" Ini, bawa jerigen ku!." Suruh Varendra kepada Bert yang menindih dirigen yang ia bawa ke atas dirigen Bert.


" Kak....?" Ucap Zays yang menatap mata Varendra, mengerutkan dahi dan mengangkat bahunya.


" Husshh... Diam!." Jawab Varendra


" Tidak apa, aku masih bisa membawanya." Ucap Bert yang bahkan untuk melihat jalan pun terhalang oleh tumpukan diligen itu.


" Bodoh!. Dasar bodoh!. Asal kamu tahu, kamu itu sama bodohnya seperti dia (menoleh ke Zays)." Ucap Varendra


" Bagaimana kamu tidak ditindas oleh mereka, sedangkan kamu menindas dirimu sendiri. Jika kamu merasa jatuh, kamu harus bangun. Jika kamu merasa kalah, kamu harus menang. Jika kamu merasa di tindas, ya balas. Jika mereka sombong, kamu harus lebih sombong. Buatlah kemenangan dengan caramu sendiri!. Jangan tindas dirimu. Itu cara kamu menang dari mereka, asalkan ada keinginan dalam dirimu untuk melawan. Jika tidak, ya terima saja perlakuan mereka, akui saja kekalahanmu, dan teruslah kamu hina kelemahan dirimu sendiri. Jadi, bukan mereka yang salah. Tapi kamu!." Jelas Varendra dengan penuh emosi.

__ADS_1


" Ini, bawa jerigen mu sendiri, sulit untukku berjalan." Ucap Bert sambil memberikan dirigen kepada Varendra.


" Terimakasih atas nasehat mu." Sambung Bert.


" Heem. Makanya pakai otak. Gimana? Menang itu enak kan?. Jangan pernah lagi mengiyakan apa yang mereka katakan, apa kamu budak mereka?." Sambung Varendra.


Bert pun mengerti maksud dari perkataan Varendra. Zays tersenyum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Varendra.


" Aneh. Bert, dengar! Kalau kamu mau mengerti tentang Varendra, kamu harus berjuang dulu, menerjang jurang, mengelilingi lapangan ratusan kali, mendaki ribuan gunung, menyelam lumpur, karena dia bukan udang di balik batu, tapi didalam batu, kamu harus memecahkan batu itu dulu, sukur-sukur udangnya tidak dimakan olehnya. Ya seperti itulah dia, saat kamu sudah capek, lelah, kotor, susah payah, bahkan di penghujung nafas mu, barulah kamu tahu maksudnya." Jelas Vivena.


" Apa kamu melakukan semua itu?." Ledek Varendra


" Yaaa tidak. Maksudku, ibarat kata, perumpamaannya seperti itu." Sambung Vivena.


" Heh... Kamu! Diam saja. Cepat, keluarkan Fluch simpanse!." Perintah Varendra pada Minerva.


" Apa? Monyet?(melotot ke arah Varendra), kamu sajalah, aku tidak mau." Ucap Minerva


" Kamu berani meledekku?." Ucap Varendra yang merasa tersindir saat Minerva mengatakan "monyet" sambil menatapnya.


" Kalau Fluch sangar aja mau, giliran simpanse menolak." Ucap Varendra.


" Heh... Fluch Zays ada padamu. Gunakan Fluch simpanse Zays, dalam kantung simpanse terisi cadangan air penuh. Yaaa terserah saja jika kamu tidak haus, tidak usah." Sambung Varendra


Minerva mengeluarkan Fluch Simpanse Zays, Fluch itu menjadikan Minerva seperti Simpanse betina yang dipenuhi bulu lebat. Tentu saja itu Fluch, bukan bulu nyata.


" Tuh kann... Apa aku duga, pasti cocok untukmu." Ledek Varendra.


Zays, Bert, dan Vivena ikut tersenyum melihat Minerva berubah menjadi simpanse betina.


Segera Minerva mengeluarkan air dari kantung persediaan yang disimpan simpanse.


Mereka duduk istirahat sembari minum di bawah pepohonan.


Bert yang entah berapa lama menahan haus, ia terlihat seperti menemukan berlian, terlihat dari semangatnya meneguk air dalam sekali tegukan.


" Kapan kamu akan jenuh dengan air?." Tanya Varendra.


" Aku rasa tidak akan pernah." Jawab Bert


" Kita lihat saja nanti." Ucap Varendra menantang.


" Bagaimana? Sudah lega?." Tanya Zays pada semuanya.

__ADS_1


" Luar biasa. Segar. Aku merasa tubuhku segar." Ucap Bert


Varendra mengayunkan tangannya menangkis Bert. Tapi dengan sergap, Bert menepis tangkisan itu.


" Apanya yang lemah?. Aku rasa kamu cukup kuat untuk menangkis seranganku." Ucap Varendra.


" Kalian belum melihat mereka. Jika saja kalian pergi ke Academy itu dan melihat sendiri betapa hebatnya mereka." Ucap Bert yang memuji siswa Academy Firexgard.


" Apa kamu sangat menginginkan untuk pergi ke Academy itu?." Tanya Zays


" Ya. Aku mempunyai cita-cita agar bisa jadi murid disana, yaah, tapi itu hanya sebuah angan-angan saja bagiku." Ucap Bert.


" Kalau begitu bagaimana nanti kita pergi kesana?." Ucap Zays.


" Jangan!. Mereka pasti tidak mau menerimaku." Ucap Bert


" Tapi pasti mereka menyambut kedatangan kami bukan?." Ucap Varendra.


" Iya, terlebih kita kan saat ini terkenal di dunia mu." Ucap Vivena.


" Ide bagus. Semoga saja mereka mau menerima kita." Ucap Bert


" Eits, kita pergi setelah mendapatkan air bukan?." Ucap Minerva


" Oke, oke. Aku tidak sabar melihat kemampuan mereka yang selalu kamu bangga-banggakan." Ucap Varendra


" Bert, dengar!. Aku hebat dalam bertanding, aku selalu menang, karena aku menganggap diriku lebih hebat dari lawanku. Jadi jangan kamu menganggap mereka lebih hebat darimu. Kamu bahkan sudah kalah sebelu bertanding." Ucap Varendra.


" Apa betuuul kamu selalu menang melawanku?" Sindir Zays.


" Eits, aku mengalah bukan kalah saat melawanmu. Yaaa aku nggak mau aja di anggap pecundang yang melawan adiknya sendiri." Elak Varendra


Saat mereka sedang berbincang-bincang, terdengar suara langkah kaki yang semakin terdengar keras seperti hendak mendekati mereka dari arah depan mereka.


" Husst, berhenti." Ucap Zays kepada semua temannya.


" Hati-hati! ada sesuatu yang mendekat ke arah kita." Sambung Zays.


" Apakah benar yang aku lihat saat ini? Harimau berkepala tiga? Dark Fluch?." Ucap Vivena.


Varendra menarik mundur Zays, Minerva, dan Vivena, kecuali Bert.


" Bert... Taklukan lawanmu!, Mangsa besar menantimu." Ucap Varendra kepada Bert yang sengaja membiarkan Bert menghadapi Dark Fluch Harimau berkepala tiga.

__ADS_1


__ADS_2