
Aku libur latihan hari ini, mau jalan-jalan, cuci mata. Suntuk di perguruan terus menerus. Untukmu hati wanita, jangan pernah mencariku seperti induk kehilangan anak.
^^^Jagoanmu^^^
Varendra menuliskan pesan pada secarik kertas, ia bergegas menyelinap keluar perguruan pagi-pagi sekali tanpa di ketahui oleh siapapun.
"Aku tidak boleh seperti ini terus, aku akan melawan diriku sendiri." Ucap Varendra dalam hati sembari meninggalkan perguruan
Suasana dini hari terasa sepi saat Varendra melewati setapak demi setapak langkah kaki sepanjang ia menyusuri permukiman warga. Bukan Varendra namanya jika pergi tanpa dengan perencanaan.
Setelah mencari ke berbagai penjuru arah seluk beluk permukiman warga, Varendra merasa tempat yang dicarinya sudah ditemukan. Banyak tumpukan peti kayu kosong, keranjang, yang kiranya sebagai suatu wadah dagangan. Tapi semua itu masih kosong, mungkin ia terlalu pagi menuju pusat perdagangan di wilayah itu, terlihat masih sedikit sekali lalu lalang pejalan kaki yang hendak mempersiapkan pembukaan toko mereka.
Varendra melihat seorang paruh baya membawa air dengan kedua ember yang ia panggul dipundak dengan bantuan sebuah palang kayu. Dilihatnya dari kejauhan ia tengah membawa air hasil timba dari sebuah rumah yang kemungkinan terletak sekitar 20 meter dari rumahnya yang dituang ke dalam suatu lubang besar seperti sebuah kolam
"Untuk apa anda mengisi kolam ini?" Tanya Varendra yang menghampiri bapak paruh baya.
"Jadi Bapak mau membuat kolam ikan nak, tapi pekerja yang bapak suruh sedang berhalangan, jadi bapak sendiri yang melakukannya." Jelas Bapak paruh baya
"Apakah saya bisa bekerja disini? Saya yakin anda mendapat keuntungan besar karena mempekerjakan saya, karena saya murid terhebat yang di miliki perguruan 'Jiorda wixun'.
"Apakah benar? Wahh hebat-hebat. Tunggu.... terhebat? Tapi kalau tidak salah, murid terhebat yang dimiliki perguruan itu lebih tinggi dari mu, dan aku ingat betul wajahnya." Jelas Bapak paruh baya.
"Oohhhh ituuu... Asal bapak tahu, saya berhasil mengalahkannya kemari sore dengan jurus andalan saya. Jadi, panggilan murid terhebat itu ya saya, siapa lagi? Jadi gimana pak?"
"Baik-baik, dengan senang hati bapak mempekerjakan murid terhebat, perguruan terbaik pula." Ucap bapak
Panggul demi panggul ia tumpukan beban pada pundaknya, dua buah ember berukuran besar ditaruh di depan dan belakang tubuh Varendra guna menjaga keseimbangannya.
Tanpa henti dengan menahan lelah, pegal, dan penat di pundak dan kakinya yang menjalar ke pundi-pundi otot, yang menjalar juga ke saraf kepala,semua terasa berdenyut lelah, peluh menetes membasahi bajunya, merasakan Varendra yang terus memaksakan tubuh nya.
"Istirahatlah dulu nak!" Teriak bapak dari luar rumah
"Tidak sebelum terisi penuh". Jawab Varendra yang menuangkan air ke kolam.
"Memang benar-benar anak tangguh." Ucap bapak lirih
__ADS_1
Setelah dirasa air dikolam itu tercukupi Bapak memberikan upah kepada Varendra.
"Nak ini untukmu, bapak sangat berterimakasih, pekerjaan ini cepat selesai berkat kerja kerasmu." Ucap Bapak dengan memberikan uang kepada Varendra
"Wah.. lumayan banyak juga. Oke kalo begitu. Setara dengan tenagaku".
Varendra tersenyum sebelah pipi dan mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan Bapak paruh baya.
Varendra melangkah menyusuri pasar. Berbeda saat pertama ia datang, saat ini terlihat ramai sekali pengunjung pasar berdatangan. Saat di tengah perjalanannya, Varendra mendengar suatu bunyi seperti sebuah logam yang dihantam. Segera Varendra menyelusuri arah bunyi itu.
"Pakkk". Teriak Varendra kencang pada seorang pandai besi yang sedang menempa sebuah besi.
Pandai besi menghentikan aktivitasnya. Terlihat seorang pria berbadan kekar tinggi saat ia berbalik badan ke arah Varendra.
"Apa yang anda butuhkan disini?" Ucap pria itu.
"Pekerjaan." Jawab Varendra singkat
"Saya tidak membutuhkan pekerja anak-anak." Jawab pria itu
"Tenang pak. Walaupun saya terlihat anak-anak, tapi saya murid terkuat yang dimiliki perguruan Jiorda wixun, apa anda bersedia?"
Pria itu membakar besi terlebih dahulu, setelah dirasa cukup, ia menempa besi menggunakan kedua tangannya terus menerus tiada henti, seiring waktu pun kecepatannya ditambah dan tetap pada satu tumpuan titik tempa.
"Bagaimana? Apa kamu masih bersedia?"
"Menarik juga." Jawab Varendra.
Varendra memulai mengerjakan pekerjaannya, ia mengambil alat tempa yang lumayan besar dan berat. Semula terasa berat tetapi setelah lama kelamaan Varendra mengayunkan dengan ayunan yang seirama, benda yang di pegangnya itu cukup ringan.
"Bisakah kamu fokus menempa satu titik?" Ucap Pria itu
"Ya ya" jawab Varendra singkat sembari meningkatkan fokus dalam dirinya.
"Andai saja kekuatanku berguna disini, tidak perlu sekuat tenaga menempanya" batin Varendra
__ADS_1
Varendra berhasil membuat satu alat senjata hasil buatannya yang dipandu oleh pria itu. Varendra pun membuat senjata jenis lain dengan melihat contoh hasil tempaan pria pandai besi.
"Anak ini, cukup kuat juga." Batin pandai besi.
"Sudah sudah, aku rasa sudah lumayan kamu membuat senjata. Ini upahmu, jika kurang bilang saja."Memberikan sejumlah uang kepada Varendra.
"Kalau ditanya kurang, ya pasti kurang untuk keperluanku." Jawab Varendra
Pria kekar itu pun memberikan upah tambahan kepada Varendra.
"Ini ambil. Lekas pulang dan istirahat, aku yakin kamu sangat lelah."
"Nah ini baru sepadan." Varendra langsung beranjak pergi
"Tunggu tunggu, ini satu senjata kesukaanku, ambillah simpan baik-baik"
"Oke, lumayan bagus juga." Varendra tersenyum sebelah pipi
Varendra menyimpan senjata itu di samping celananya. Senjata kecil dengan lima mata pisau tajam yang bisa dilipat menjadi satu mata pisau ataupun direnggangkan menjadi lima mata pisau.
"Tiga senjata dalam satu. Kamu bisa menggunakannya menjadi satu mata pisau kecil, dan merenggangkannya menjadi lima mata pisau kecil, ataupun kamu bisa menariknya menjadi satu pedang panjang.
Segera Varendra meninggalkan toko pemilik pandai besi.
"Mahal sekali ucapan terimakasih dari mulutnya." Senyum smirk pria itu melihat Varendra yang tengah berjalan.
Saat di perjalanan, Varendra mendapati seorang nenek tua dengan dagangannya yang sepi pembeli, segera Varendra menghampiri nenek tua itu.
"Nek, aku beli satu." Varendra memberikan sejumlah uang kepada nenek yang ia selipkan di balik kain. Tapi seketika saat niatnya timbul dalam hatinya, ia terasa tergores hatinya, seperti sebuah perlawanan yang menentang dirinya.
Nenek itu mencoba meraba sang pembeli, tangan Varendra pun menggapainya dan mengarahkannya pada kain letak ia meletakkan sejumlah uang.
Varendra memejamkan matanya melawan pemberontakan dalam dirinya.
"Inilah yang sedang aku lawan dalam diriku." Batin Varendra
__ADS_1
Varendra meninggalkan nenek itu, satu ikat sayur yang ia bawa, ia bayar dengan sejumlah uang yang tidak sedikit, yang bahkan dengan uang itu bisa memborong semua dagangan sang nenek, bahkan masih sisa banyak. Bisa saja Varendra tidak mengambil satupun sayur dagangan nenek, tapi tidak. Karena ia tahu nenek itu berjualan dengan menjajakan hasil dagangannya. Nenek itu gigih berusaha apalagi dengan keterbatasan penglihatannya bisa sampai sini, bukan seperti peminta-minta yang secara tidak langsung meminta dikasihani tanpa suatu usaha. Maka itu Varendra mengambil satu bentuk jerih payah nenek. Kenapa tidak semua ia ambil? Varendra pun berfikir mungkin nenek itu akan mendapat uang tambahan dari sayur yang tidak ia borong. Atau mungkin juga jika tidak habis pun, nenek bisa memasaknya di rumah.
Semua itu bukan hal mudah dirasakan oleh Varendra. Setiap dirinya berniat baik, pasti ada imbas terhadap dirinya. Ia harus membayarnya dengan mahal. Tapi inilah yang mencoba Varendra tantang dalam dirinya, agar dia tidak lemah. Semakin sering ia merasakannya, mungkin akan menjadi hal biasa dalam dirinya, mungkin juga kesakitan itu tidak akan terasa selagi ia terbiasa.