Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Baik tapi Jahat


__ADS_3

Varendra masih berada di pasar, banyak kemalangan yang ia temui, dari seorang bapak tua yang bekerja sebagai kuli pengangkut barang, anak-anak yang kelaparan di pinggir pasar yang mencari makanan, dan masih banyak lagi yang ia temui. Varendra mencoba membantu dengan kemampuannya, tenaganya, ataupun uang hasil jerih payahnya.


"Dimana orang tua kalian?" Tanya Varendra pada dua anak kecil laki-laki sekitar umur 4 dan 6 tahun di depannya yang sedang mengais keranjang sisa-sisa makanan.


Kedua anak itu menggelengkan kepala mereka.


Varendra meninggalkan mereka ke sebuah warung terdekat, membelikan dua bungkus nasi yang diberikan kepada kedua anak kecil di depannya. Terlihat kedua anak itu memakan dengan lahap pemberian Varendra.


"Makan pelan-pelan, tenang... Aku tidak akan merebutnya dari kalian. Kalau kurang bisa tambah, bilang saja." Ucap Varendra sembari memperhatikan kedua anak itu.


"Apa kalian kakak beradik?" Tanya Varendra


Kedua anak itu menganggukkan kepala mereka.


Mereka telah selesai dengan makanannya. Terlihat seorang kakak membersihkan sisa-sisa makanan di pipi adik laki lakinya.


"Terimakasih pak sudah membelikan makanan untuk kami." Ujar sang kakak


"Huussh, panggil saja aku kakak. Apakah aku terlihat tua?"


"Apa kalian tinggal berdua?" Tanya Varendra


Mereka menganggukkan kepala kembali mengiyakan pertanyaan Varendra.


"Dimana? Boleh kakak bermain di rumah kalian?"


Kedua anak itu menggandeng tangan Varendra dan mengajaknya ke tempat persinggahan mereka.


Terlihat lingkungan kumuh di sekitaran tempat tinggal mereka. Tempat tinggal yang bagi Varendra tidak layak untuk ditempati yang sudah reyot tua, hampir rubuh, hanya saja cukup untuk tempat teduh kedua anak itu.


"Hei bocah, kemarilah!" Teriak Varendra pada kedua anak itu yang sedang bermain rumah-rumahan dengan secarik kain.


"Ini, makanlah!" Ucap Varendra sembari memberikan beberapa bungkus permen untuk mereka berdua.


"Apa kakak masih makan permen?" Tanya kakak dari anak itu.


"Memang Kenapa? Kakak juga punya adik seperti kamu, kalau rewel kakak kasih dia permen." Jelas Varendra


"Bedanya, aku tidak bisa kasih permen buat adikku." Jawab anak itu.


"Tapi kamu selalu menjaga adikmu, ada disamping adikmu, banyak waktu yang kamu habiskan bersama adikmu. Kakak salut denganmu." Ucap Varendra

__ADS_1


"Ayo, ikuti aku!" Ucap Varendra sembari berdiri. Varendra menarik kedua anak itu keluar rumah dan menendang satu tiang rapuh yang telah dimakan rayap. Rumah itu roboh dengan sekali tendangan Varendra.


"Kenapa kakak merobohkan rumah kami?" Tanya seorang kakak dari bocah itu


"Kami tinggal di mana?" Ucap sang adik


"Kalian lihat. Rumah itu sangat berbahaya untuk kalian, sewaktu-waktu bisa roboh dan menimpa kalian. Jadi ayo ikuti kakak." Ucap Varendra


Kedua bocah mengikuti Varendra. Varendra membawa mereka ke perguruan tempatnya tinggal sekarang.


Kedatangan Varendra sudah ditunggu-tunggu Zays dan lainnya termasuk Guru pemilik perguruan. Kedua bocah kecil bersembunyi di belakang Varendra.


Guru menatap Varendra dan memarahinya.


"Sssst" Varendra menunjuk di belakang tubuhnya, kedua bocah itu keluar dari persembunyiannya.


"Biarkan kedua bocah ini masuk dulu." Ucap Varendra kepada Guru


Zays membawa masuk kedua bocah itu.


"Zays, sekalian masakkan untukku!" Varendra melempar sayur kepada Zays.


"Anak siapa yang kamu bawa itu?, Untuk apa kamu bawa kemari? Orang tua mereka akan kesulitan untuk mencari mereka." Ucap Guru


"Tentang kedua bocah itu tidak masalah. Tapi kamu harus Guru beri hukuman karena bolos latihan hari ini."


"Baiklah. Apa hukuman ku? Lihat ini (memamerkan otot lengannya) aku sudah cukup kuat menerima hukumanmu."


"Ikuti Guru!"


Guru mengajak Varendra ke suatu ruangan, ruangan besar panjang yang terpisah dari perguruan.


"Kamu harus masuk melewati ruangan itu."


"Hanya itu saja?" Ucap Varendra yang menganggap remeh.


"Jangan salah. Banyak rintangan yang harus kamu hadapi di dalam. Bukan hanya mengandalkan ini (menepuk otot lengan Varendra) tapi juga ini (menunjuk kepala Varendra). Guru tidak akan menolongmu. Nyawamu dipertaruhkan didalam sana, dan Guru tidak akan membantumu, ingat itu."


Berbeda dengan murid lain yang merasa takut dan putar balik saat memasuki ruangan itu, tapi tidak dengan Varendra yang merasa penasaran akan rintangan yang disiapkan Guru.


"Hanya ada satu murid yang berhasil melewatinya selama ini. Adikmu Zays." Terang Guru.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Varendra semakin tertantang. Ia tak mau kalah dari adiknya.


.....


"Dimana kalian bertemu kakakku?" Tanya Zays pada kedua bocah.


"Kakak?" Tanya bocah itu


"Iya. Orang yang bersamamu itu adalah kakakku Varendra dan aku adiknya, Zays. Ceritakan padaku bagaimana kalian bertemu dengannya. Apakah dia orang galak? Kalian dimarahi olehnya?"


"Jadi, Kak Zays orangnya, adik yang rewel yang dikasih permen itu."


"Apakah dia berkata seperti itu?" Tanya Zays


Mereka menganggukkan kepalanya.


"Kakak Varendra itu orang baik tapi juga jahat. Dia membelikan kami makanan di pasar. Dia juga menendang rumah kami sampai roboh." Terang kakak dari bocah itu.


"Kalau kak Varendra tidak menendang rumah kalian, kalian tidak sampai sini dan bertemu kakak rewel ini kan? Dengar ini, memang seperti itu sikapnya, tapi dia orang yang sangat baik buat kakak. Sama seperti kamu dengan adikmu."


"Ayo ikuti kakak ke dapur, kita masak sayuran yang dibeli kak Varendra."


......


Varendra mulai memasuki ruangan di hadapannya, Pintu depan pun secara otomatis terkunci sendiri.


Serangan pisau kecil dari berbagai arah langsung menyambut kedatangan Varendra. Langsung Varendra menghindar menyelinap menghindar.


Dibutuhkan keluwesan dan ketangkasan dalam menghindari pisau-pisau itu. Varendra akui jika dalam hal ini, Zays lah lebih unggul, dia lebih gesit, lincah, dan luwes daripada Varendra yang menonjol pada kekuatan otot. Varendra kurang cepat dalam menghindari pisau dari berbagai arah yang menyerangnya, ia tergores pada lengan kanannya yang mampu membuatnya berdarah. Segera Varendra mengeluarkan senjata baru yang ia miliki. Varendra menariknya memanjang sehinggakan senjata itu menjadi pedang. Segera ia menangkis pisau pisau kecil yang terus menyerangnya.


Varendra bergerak maju perlahan dengan sebuah pedang yang di pegangnya.


Ada suatu pergerakan yang dirasakan Varendra. Ternyata benar, dinding kanan kiri semakin berhimpit dengan pisau pisau tajam yang keluar dari dinding itu. Dari arah depan muncul tiga tombak yang menyerang Varendra. Kedatangan tombak itu seakan berselang pada hitungan detik yang sama.


Varendra bersiap dengan pedang yang dibawanya menangkis setiap tombak yang datang dari hadapannya.


"1....2...3....4....5"


Tombak itu muncul kembali.


"5 detik, butuh waktu selang 5 detik saat tombak berikutnya muncul." Batin Varendra

__ADS_1


Setelah dirasa lebih dari lima detik tombak berikutnya tidak muncul jua, Varendra berfikir ia sudah berhasil melewati rintangan yang satu ini, kedua dinding semakin berhimpit dan Varendra mencoba berlari maju.


Varendra memijakkan kaki pada sebuah papan yang semakin dipijak semakin menurun. Segera Varendra mendaratkan kedua pijakan kaki di sebuah papan. Papan itu membawa Varendra turun sekaligus menghindari kedua dinding yang hendak berhimpit.


__ADS_2