
Zays segera beranjak masuk meninggalkan Varendra yang mematung seorang diri di luar rumah. Varendra sendiri tidak tahu apakah ia harus memberitahunya? Menjelaskan semuanya? Tidak. Itu bukan pilihan baginya. Akan lebih baik keadaan seperti ini. Dirinya tahu adiknya akan bertindak nekat jika mengetahuinya. Tidak masalah bagi dirinya jika Zays marah terhadapnya. Memang dirinya dan diri Zays ditakdirkan berbeda. Entah saat ini atau kelak, pasti Zays akan lebih sering marah pada Varendra. Tidak bisa dipungkiri jika bahkan Zays menentang Varendra, Varendra juga harus membiasakan hal ini, mulai dari sekarang. Dan Zays juga harus terbiasa dengannya.
.....
Dua hari setengah sudah berlangsung semenjak mereka meninggalkan Dunia Xlyvroye. Tinggal hitungan beberapa jam lagi Fluch dan sistem kendali sudah normal kembali untuk digunakan. Semestinya. Tapi entah apa yang terjadi kedepannya setelah adanya kehidupan baru dalam diri Varendra.
" Heii... Bangun, bangun!." Ucap Vivena membangunkan teman-temannya yang berada di ruang depan.
" Kalian masih mau tidur terus? Tidak jadi nih kita perginya? Tanya Minerva sambil membangunkan Zays,Varendra,dan Bert.
" Tidakkah kalian merasa kasian pada ayam berkokok yang sedari tadi membangunkan kalian?."
" Apa urusan dengan ayam heemm." Jawab Bert yang masih memejamkan mata menjawab seakan sedang mengigau
" Seharusnya kalian yang bangun dan berkokok menggantikan ayam itu." Balas Vivena
" Asal kalian tahu jika gerbang masuk Academy akan tertutup oleh pelindung setelah jam 7." Ucap Ayah Bert.
"Apaaaaa." Sahut mereka bertiga bebarengan terkejut seperti tersambar geledek
" Ayo kita berangkat!." Ucap Zays sembari menegakkan tubuhnya berdiri.
" Bersihkan dulu tuu air liurmu!." Suruh Varendra
Tapi Zays diam membisu tidak merespon Varendra.
Mereka mempersiapkan diri masing-masing membawa barang bawaan mereka. Bukan mereka, karena yang mereka bawa hanyalah sebuah peta. Bert lah yang membawa ransel besar berisi tali tambang, pisau, tenda, dan perlengkapan lainnya.
" Hehh... Tinggalkan itu semua, kamu mau piknik? Mau berburu? Untuk apa membawa barang bawaan sebanyak itu." Ucap Varendra
" Seharusnya kalianlah yang harus berterimakasih padaku, bukankah terakhir kali kamu gunakan jurus andalanmu? Aku tidak mau kehabisan nafasku dengan lari kebirit-birit. Jadi, semua senjata ini bisa membantu." Jawab Bert.
" Apa kamu fikir Dark Fluch akan mati dengan semua senjata itu!." Imbuh Varendra
" Setidaknya kita tidak lari dari kejaran binatang buas." Ucap Bert
__ADS_1
" Tinggalkan itu semua. Aku tidak mau beban bertambah saat mengangkut kalian, asal kalian tahu, kalian sudah cukup berat buatku. Andai saja aku bisa membuat kalian lepas landas dari cengkramanku, akan meringankan buatku." Ucap Varendra.
" Ya. Kami selalu membuatmu repot."
" Minerva, kembalikan Fluchku, aku juga memiliki Fluch dan tidak akan bergantung pada orang lain. Dan tenang saja, aku cukup kuat darimu, jadi jangan repot-repot dan jangan jadi pahlawan untuk kami." Jawab Zays dengan nada marah
Sontak Minerva dan Vivena dibuat terkejut dengan sikap Zays terhadap Varendra. Tidak biasanya Zays tersinggung oleh perkataan kakakknya, selalunya ia membalas Varendra dengan gurauan balik.
" Zays, kamu baik?." Tanya Vivena
" Tidak. Aku jahat." Balas Zays.
" Bukan itu maksudku, apa ada masalah antara kamu dengannya?." Tanya Vivena kembali.
Zays mengangkat kedua bahunya dan tidak lagi menjawab pertanyaan Vivena
Sementara Minerva yang masih melongo di buyarkan kembali oleh Zays.
" Apa yang kamu tunggu?." Ucap Zays.
" Kenapa Fluchmu tidak lepas dalam diriku Zays, aku tidak tahu apa yang terjadi." Ucap Minerva
" Mungkin harus kamu sendiri yang mengambilnya, kamu pemilik Fluch ini." Ucap Minerva
Zays menggunakan sistem kendalinya untuk mengambil Fluch miliknya, tapi sayang Fluchnya tidak bisa diambil.
" Siapa yang menyegelnya?." Tanya Zays yang mengetahui jika Fluchnya tersegel dalam diri Minerva.
" Untuk menyegel Fluch bukan sembarangan orang yang bisa, harus ada perhubungan darah antara penyegel dan yang disegel. Jikapun tidak ada perhubungan, maka dibutuhkan kekuatan besar untuk bisa menyegel Fluch, itu sekilas yang aku tahu." Ucap Zays.
" Kakkk!!!. Buka segel itu! Aku tahu ini pasti ulahmu." Teriak Zays yang menduganya.
" Aku?? Mungkin diri Minerva sendiri yang tidak mau melepaskan Fluch itu. Jadi, mana bisa lepas tanpa kerelaan dia sendiri." Jelas Varendra.
" Jangan banyak alasan. Aku tahu kamu pelakunya. Cepat buka segelnya. Itu Fluch milikku, dan aku bisa mengambilnya kapanpun, kenapa kamu menyegelnya." Ucap Zays kepada Varendra.
__ADS_1
" Kak... Kalau kamu menganggap ku lemah, maka kembalikan Fluchku, diri lemah ini mana bisa bertahan hidup tanpa bersender pada Fluch, bukan begitu kak??." Ucap Zays.
" kamu dengan Fluchmu akan memperlihatkan kelemahan mu. Jadi, Ya. Aku menyegelnya, dan segel akan terlepas sendiri setalah semua kepingan itu terkumpul. Ambillah saat itu." Ucap Varendra
Zays maju menghampiri Varendra dengan kesal, menarik kerah baju kakaknya
Minerva, Vivena, dan Bert mencoba memisahkan mereka, tetapi kemarahan itu belum kunjung reda. Pertengkaran mereka membuat kegaduhan yang akhirnya menyebabkan Ayah Bert menghampiri mereka.
" Apa yang kalian lakukan? Apa seperti ini cara kalian menghadapi masalah?. Jika kalian mau pergi, pergilah sekarang. Jika tidak, kalian akan kehabisan waktu." Ayah Bert mengingatkan mereka.
Zays tidak bisa mendapati Fluchnya saat ini. Zays tahu sikapnya salah terhadap Varendra, karena Zays pun tahu apa maksud dari kakaknya melakukan semua itu. Ia marah bukan karena tidak mendapati Fluchnya. Tapi ia marah dengan tujuan Varendra melakukannya. Sifat yang tak mungkin hilang dari Varendra, yang lebih melindungi orang lain terlebih adiknya daripada dirinya sendiri.
" Kak... Sungguh aku bisa melindungi diriku sendiri, jangan kamu membahayakan dirimu untukku lagi." Ucap Zays merintih dalam hatinya memohon agar Varendra tidak lagi membahayakan diri sendiri. Permohonan itu menggebu dalam diri Zays yang tak bisa ia ungkapkan pada Varendra. Jadi, Ia mengungkapkannya dengan sikap kemarahannya kepada kakakknya.
" Zays, kamu tidak tahu kalau aku akan membuatmu celaka dan bahaya, jangan cemari dirimu yang bersih dengan racunku yang bisa membunuhmu. Aku tak mau kontak Fluchmu dan sistem kendali kita akan menyakitimu." Varendra pun merintih dalam hatinya berharap agar Zays memahami semua ini.
Mereka bergegas keluar rumah meninggalkan rumah Bert. Mau tidak mau, Minerva mengeluarkan Fluch Zays kembali untuk membawa mereka semua menuju Academy Firexgard.
....
Mereka sampai di depan gerbang Academy, sistem pelindung Blazart mulai menutup, mereka lari memasuki Academy Pro-Master, yang baru kali ini mereka bisa hinggap ke sebuah Academy di kalangan Pro-Master setelah melewati dua dunia sebelumnya.
Sirine langsung berbunyi, menandakan Academy itu telah kedatangan orang asing.
Sontak saja semua pengajar dan murid Pro-Master melihat akan siapa orang asing yang berani menerobos masuk gerbang tanpa izin.
"Siapa kalian?. Kalian salah gerbang Silahkan kalian kembali." Ucap salah satu Pro-Master pengajar Academy itu.
"Eittss... Kami tak pernah salah gerbang, bagaimana bisa kami mendapatkan ini jika masuk gerbang saja salah." Ucap Varendra sembari menunjukkan Apa yang dipegang olehnya.
" Kepingan Kristal Zero?." Ucap Pro-Master terkejut dengan apa yang telah dilihatnya.
" Jadi, kalianlah pemuda itu. Suatu kehormatan bisa menyambut kalian berempat." Ucap Pro-Master pemilik Academy
"Itu bukan kehormatan tapi suatu hinaan bagi kami. Kami berlima, kenapa kamu bilang berempat." Jawab Varendra
__ADS_1
" Jaga bicaramu! Dasar sombong tak tahu sopan santun!." Ucap salah satu murid Academy itu.
" Jika memang kalian ingin menyambut kami dengan suatu kehormatan, maka jangan pejamkan mata kalian. Untuk menyambut tamu kehormatan, pantaskah kalian membutakan mata kalian?." Imbuh Varendra.