
Kakek dan mereka berempat berjalan menuju hamparan luas seperti lapangannya para raksasa.
" Heafa wou weyauh, oaem oaem". Ucap Vivena saat sedang memakan roti raksasa yang penuh di mulutnya.
" Sudah gagu dia, bahkan master generasi pertama sekalipun aku rasa mereka tak tahu bahasa purba". Ucap Varendra sambil menyilangkan kedua tangannya.
" Maksudku, siapa mau bertaruh. Iya, bertaruh siapa yang lebih dulu menemukan cara melawan kakek". Jelas Vivena
" Pastilah aku dulu, liat saja nanti". Ucap Varendra dengan nada sombongnya.
" Aku rasa Zays dulu, dia kan pintar, rendah hati, bukan seperti kamu!". Mata Minerva melotot menoleh ke arah Varendra, dengan menyilangkan kedua tangannya.
" Hati lemah seperti dia mana bisa mengalahkan ku". Sambung Varendra
" Lebih baik lemah, daripada keras, seperti batu. Lagipula, dia adikmu sendiri, aku nggak habis fikir kenapa kamu selalu menghinanya".
" Ya jelas lah Nggak habis fikir, karena fikiranmu jauh nohh(menunjuk ke langit) melayang sampai keluar angkasa, nyambung terus, mana bisa habis." Balas Varendra.
" Aku tidak berfikir itu sebuah hinaan. Bagiku, yang dikatakannya adalah tantangan". Jelas Zays.
" Maksudmu, Aku menantangmu?? Lebih hebatkah dirimu sehinggakan aku mau menantangmu? (Dongak Varendra pada Zays). Lagipula laki-laki nggak akan melawan wanita. Dasar hati wanita! ". (Sambil menyibak rambut Zays).
" Apa yang kalian ributkan..., cepat kamu (menunjuk Varendra) tunjukkan kekuatanmu, kakek akan melihat, seberapa besar pengaruh kekuatanmu pada kami".
Varendra mengeluarkan Fluch rajawali dan melawan kakek dengan Fluch itu, tapi sayang tak berpengaruh sedikitpun pada kakek. Varendra menambah kekuatan untuk melawan, tapi tetap saja hasilnya sama.
" Cukup.
jika seperti ini, energi dalam dirimu akan terbuang sia-sia".
__ADS_1
" Meskipun kamu mengeluarkan 1000 Fluch sekalipun, itu akan tetap sama hasilnya jika semua Fluch itu digunakan dengan cara yang sama".
" Itu jika Fluchnya 1000 kek, mungkin keberatan memikulnya, jadi semua Fluchnya lemah. Tapi tenang saja kek, Fluch ku hanya 9, jadi Fluchku yang lain pasti kuat".
" Dasar cucu bandel. Ya, silahkan saja, kakek mau lihat, jika satu fluchmu saja mampu membuat kakek bahkan merasa geli, kakek akan beri hadiah".
Varendra menggunakan Fluch lainnya, Elang, banteng(Fluch barunya), dan kelima lainnya termasuk Fluch ayah dan ibunya, tapi semuanya tak berpengaruh apa apa pada kakek.
Daripada Varendra menanggung malu dengan kesombongannya, ia memiliki rencana, Varendra menggunakan Fluch rajawali nya untuk terbang ke telinga kakek, dengan bulu bulunya yang lebat Varendra memutar mutari daun telinga. Akibatnya kakek merasa geli dibuatnya. Semua tertawa konyol melihat aksi Varendra, tapi tidak dengan Zays.
" Bocah nakal...." (Sambil mengayunkan tangan menangkap Varendra, tapi Varendra berhasil lolos)
" Kakek harus memberiku hadiah. Ingat itu!!". Sambil menjulurkan lidahnya dengan senyum kecut.
Varendra tertawa bisa menggoda kakek itu, tapi siapa sangka dalam tawa itu terdapat genangan air yang terpendam, yang berusaha ia tahan, genangan tipis bahkan tak terlihat walaupun dengan mata terbuka, tetapi ya. Semua itu bisa terlihat jelas bagi Zays, yang seketika muncul pantulan cahaya seperti Sinaran berlian pada pantulan kaca yang ia dapati pada mata Varendra.
" Bahkan, terlalu hebat kamu membohongi dirimu sendiri. Sudah berapa lama bendungan itu kamu buat?, Harus berapa lama lagi kamu mengokohkan bendungan itu?, Berapa banyak lagi topeng yang mau kamu tunjukkan?. Mereka akan sangat mudah percaya dengan topengmu itu, tapi tidak dengan aku, adikmu, karena aku memahamimu, karena aku percaya padamu bukan setelah kamu memakai topeng, bukan setelah kamu melakukannya, bukan dengan mata terbuka. Tapi Aku percaya kamu karena hatimu. Sebelum kamu ingin memasang topengmu, sebelum kamu membuat bendungan itu, Aku disini, dan aku bahkan tidak ragu memasangkannya untukmu. Karena aku percaya akan tujuanmu". Ucap Zays dalam benak hatinya.
" Oh, nggak papa, aku hanya berfikir kenapa tidak ada satupun Fluch yang berpengaruh pada kakek, itu saja".
Saat mereka saling berbicara satu sama lain, datang angin kencang disertai bunyi langkah seperti sesuatu sedang berlari, suara itu datang dari arah hutan tepat di sebelah barat dari lapangan tempat mereka berlatih.
" Aoommmmm"
Suara itu tak asing ditelinga Zays, suara yang sama saat Zays berada di hutan mencari kayu bakar, sontak Zays langsung berteriak
" Harimau!".
" Itu suara harimau, kita semua harus hati-hati!!".
__ADS_1
" Kalian semua! berlindung di belakang kakek!".
Harimau Dark Fluch raksasa semakin mendekat dan suara bertambah keras menuju arah kami, kemungkinan aroma asing kami yang mengundang harimau itu singgah ke sini. Harimau itu melihat ke arah kami dengan tatapan tajam memperhatikan kami, mengulurkan lidah dan memberlihatkan gigi taring raksasa kepada kami. Tapi kakek menghalangi kami dari binatang buas itu. Merasa santapan lezatnya diganggu, harimau itu marah mengeluarkan suara Auman besar.
Terjadilah pertarungan antara keduanya, tetapi pada akhirnya harimau Dark Fluch dengan cakar tajamnya berhasil menggores lengan kakek secepat kilat, lengan kakek terluka karenanya.
" Kakek!!!". Teriak mereka berempat panik.
Zays dan Varendra saling bertatapan dan mengangguk bersamaan, menandakan hati dan fikiran mereka sejalan dengan apa yang mereka rencanakan dan ingin lakukan, mereka berdua melangkah maju tepat berada di samping kakek, Zays dan Varendra secara bersamaan menatap harimau itu, mencoba mengeluarkan sistem kendali dalam diri mereka.
Saat mereka secara bersamaan mengeluarkan sistem kendali, ada dua gelombang dari diri Zays dan Varendra, gelombang itu berasal dari jantung mereka berdua. masing-masing bergabung menjadi satu, gelombang itu membawa sistem pengendali kristal Zero Dark Fluch, sesuai dengan apa yang sudah mereka kendalikan dalam diri mereka. Gelombang itu mampu menembus harimau Dark Fluch, yang kemudian pecah berkeping-keping saat gelombang itu masuk ke tubuh Dark Fluch, seperti kilat petir yang tersambar dari semua penjuru aliran darah membawa setruman melewati peredaran darah, yang membawanya ke pusat jantung (Kristal Zero) Dark Fluch. Sebercak demi sebercah, cahaya menyelimuti dinding Kristal Zero raksasa yang akhirnya mampu memurnikan Kristal Zero Dark Fluch.
Segera mereka menolong kakek yang terluka akibat goresan itu.
" Kakek!!. Kenapa kakek ceraboh! Tidak hati-hati, kaya anak kecil. Kakek menganggap ini permainan? Terlalu santai. Bahkan tidak bisa melawan. Sebenarnya kekuatan kakek tingkat berapa, masak melawannya saja tidak mampu, apa kakek bahkan tidak lulus ujian sekolah, kenapa sok mengajari kami, bagaimana kakek mau melindungi kami kalau diri kakek terluka, cwi cwi cwi cwi cwi..... bla bla bla bla".
Omelan demi Omelan terkeluar begitu saja dari mulut Varendra yang tidak ada henti-hentinya.
" Sejak kapan kakakku jadi cerewet seperti ini?" Batin Zays sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi, usaha kakek berhasil juga kan?".
" Maksud kakek?" Jawab mereka bebarengan.
" Ya. Memang kakek yang menyuruh harimau itu menyerang kakek, dan ini hanya pura-pura saja".
" Pura-pura bagaimana? Lihat! Darah dari goresan itu saja lebih dari satu ember bagi kami". Marah Varendra yang belum saja hilang.
" Kalau belum kepepet, bagaimana mungkin kalian bisa secepat ini dapat Light Fluch Pro Master? Iya kan??". Tatapan kakek dengan mimicingkan alis pada mereka berdua, yang juga menyadarkan mereka bahwa mereka sudah berhasil menggunakan kekuatan Ibunya pada Dark Fluch Pro-Master.
__ADS_1
" Berarti, sistem kendali itu dapat kita gunakan setelah kita menggabungkan kekuatan kita berdua?" . Tanya Zays dengan senyuman gembira dalam dirinya.
" Seharusnya kita mengetahuinya lebih awal. Dalam dirimu ada jiwa ibu, dan dalam diriku mengalir darah ibu, jika kita menggabungkan kekuatan kita, sempurnalah kekuatan dewa Master. Kekuatan ibu dalam diri kita." Terang Varendra.