Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Debat


__ADS_3

Racun itu tersimpan dalam sebagian peredaran darahnya, tidak sampai seluruhnya ke jantung. Racun mengalir sedikit demi sedikit menuju hatinya. Karena Varendra telah mengunci sebagian titik saraf nya, agar hati dalam dirinya mampu mengimbangi untuk menetralisir racun itu.


" Pemulihannya akan lama jika kamu tidak segera membersihkan racun itu, apa kamu lebih senang pada kesakitan seperti ini?".


" Ya. Aku senang merasakannya. Agar jika hal ini terulang padaku, aku akan lebih kuat bahkan tidak terasa kesakitan lagi, karena aku pernah merasakannya". Jelas Varendra


" Diam! Jangan banyak bicara!. Kamu memang pantas untuk tidak dipercaya, karena semua yang kamu katakan itu kebohongan". Ucap Minerva


" Jangan percaya padaku!. Aku tidak minta itu padamu, pada siapapun!".


" Ya. Aku tidak percaya tapi iu pada kebohongan ucapanmu, dengan begitu aku bisa percaya dengan apa yang tidak kamu ucapkan. Untuk mengetahui kejujuranmu apa perlu sedalam ini untuk mengenal dirimu?. Kamu menaruh rasa yang dalam bagi orang orang di sekitarmu,  tapi apa kamu juga menyembunyikan dirimu terlalu dalam pada kami?. Kamu orang paling munafik yang pernah aku kenal.". Ucap Minerva


Varendra sedikit tersenyum menggelengkan kepalanya perlahan.


" Jangan katakan apapun! Jangan buka topengmu! Karena aku sudah melihat didalamnya, aku sudah menembus topeng itu sendiri. Mengetahui wajahmu yang sebenarnya, dan ya, aku mulai mengenal dirimu". Imbuh Minerva


" Sejauh apa pun kamu mengenal diriku, maka diriku lebih jauh lagi dari  apa yang coba kamu kenal, jadi, jangan coba untuk memahami diriku, pasti akan banyak kekecewaan yang akan kamu bahkan kalian dapati". Terang Varendra.


Tiba-tiba Minerva memeluk Varendra


" Aku ada disini, adikmu juga sayang padamu, kamu tidak sendiri. Jadi, jangan membohongi dirimu sendiri". Ucap Minerva


Kata-kata dan pelukan itu keluar dari seseorang dengan ketulusan, walaupun Varendra tidak bisa mengungkapkannya, dia senang ada orang-orang yang berusaha mempercayainya. Varendra selalu menghargai ketulusan dari mereka.


" Maaf, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja".


" Aku akan keluar cari obat herbal untukmu".


Minerva meninggalkan Varendra, sementara Varendra tersenyum dengan apa yang sudah Minerva ucapkan.


" Hushh... Ada apa denganku ini, hei hati beku, kamu tidak mudah mencair kan, hanya karena seorang wanita". Batin Varendra.


Sementara itu, Zays kembali membawa ikan hasil tangkapannya.


" Viv. Bantu aku membakar ikan ini!". Ucap Zays pada Vivena.


" Letakkan disini saja Zays, aku barusan sudah membuat api unggun". Jawab Vivena.


" Memang sengaja untuk membakar ikan?" Tanya Zays.

__ADS_1


"Tidak. Aku tadi membuatnya untuk merebus air, tapi diambil oleh Minerva, katanya untuk mengompres Varendra". Jelas Vivena.


" Ohh... Baguslah kalau begitu, Minerva memang seseorang yang penuh perhatian". Ucap Zays.


" Bukankah aku pun begitu? Aku berniat untuk merebus air untuk untuk kalian, apakah itu bukan termasuk perhatian? Apakah ada arti lain yang khusus untuk itu?". Tanya Vivena


" Iya iya... Kamipun begitu, dan memang seharusnya seperti itu. Kita berempat harus saling penuh pengertian dan perhatian terhadap satu sama lain".


" Sudah matang. Apakah Minerva juga didalam menemani kakak?".


" Sebelum kamu kembali, ia pergi, katanya untuk mencari tumbuhan herbal". Jawab Vivena


" Untuk apa?". Tanya Zays.


" Tidak tahu, ia tidak memberi tahu apa-apa. Selain itu, dia juga menolakku untuk menemaninya".


" Ayo kita kedalam". Ajak Zays pada Vivena.


Zays duduk di samping kakaknya yang masih merasa kesal padanya.


" Sekarang kamu makan dulu, untuk memulihkan tenagamu". Pinta Zays.


" Tidak tahu". Jawab Varendra sambil mengunyah pelan makanannya.


" Apa kamu sudah merasa jauh lebih baik?". Tanya Zays kembali.


" Ya. Aku rasa jauh lebih baik. Tidak usah khawatir, bukankah kamu mengenalku?". Ucap Varendra.


" Tidak. Sampai saat ini pun, aku belum memahamimu sepenuhnya. Terlalu banyak yang kamu simpan dariku, terlalu banyak kebohongan yang kamu sembunyikan dariku, terlalu mudah bagimu untuk mengelabuiku. Bagaimana aku bisa memahamimu sebelum semua ini terjadi?, apa harus selalu kamu terjun ke jurang dulu, baru aku dapat mengetahuinya?. Yang aku inginkan hanyalah kita berjalan bersama walaupun untuk menerjang jurang, ajaklah aku. Jangan pernah lagi kamu mendahuluiku, kamu harus janji padaku untuk melangkah bersama, melewati semuanya bersama-sama". Terang Zays pada Varendra.


" Dasar! Hati wanita!. Hehh, aku terjun jurang pun sudah persiapkan parasut lebih dulu. Kamu? Terjun jurang buat apa? Bunuh diri? Dasar, bodoh!." Balas Varendra.


" Lagipula kamu menyembunyikannya dariku. Kamu tahu ada jurang di depanmu, lalu aku? Pantas saja aku selalu terjun bebas dan kamu sok pahlawan yang selalu menangkap ku, apa kamu benar-benar menganggapku wanita lemah yang harus selalu pasrah menunggu kau menangkapku?. Bahkan, jiwa ibu, wanita pun lebih kuat darimu. Dasar! Egois! Hati beku." Ucap Zays


" Apa kamu pikir aku pun tahu jika ada jurang didepanku?, Tidak. Jika pun tahu apa aku akan mendorong kalian ke jurang. Tapi ya, aku sudah persiapkan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan memiliki perencanaan besar untuk itu".


" Sudah cukup! Jurang apa yang kalian maksud?". Teriak Vivena


" Diammm!." Ucap Zays dan Varendra bebarengan dengan nada lebih tinggi dari Vivena.

__ADS_1


Sementara itu Minerva kembali ke persinggahan mereka dan membawa racikan ramuan herbal.


" Ini. Aku bersusah payah mencarinya, dan kamu jangan menolak untuk meminumnya." Ucap Minerva dengan menyodorkan ramuan herbal itu.


" Apa yang kamu bawa? Untuk apa itu?." Tanya Zays dengan nada masih kesal.


" Kakakmu yang sok pemberani ini mencoba menantang maut." Jelas Minerva


" Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Zays.


" Sudah. Jangan lanjutkan lagi, lebih baik kita istirahat untuk melanjutkan perjalanan lagi." Ucap Varendra yang memotong pembicaraan mereka


" Kak! Jangan alihkan topik pembicaraan. Aku mau dengar kebohongan apa lagi yang coba kamu simpan dariku."


" Aku tidak....."


" Diam!!!" Ucap Zays, Minerva,dan Vivena bebarengan memotong penjelasan Varendra.


" Zays. Dengarkan ini, kamu ingat saat aku tersengat kalajengking dan Varendra mau menolongku? Dan dia bilang mau muntah hanya karena bau kakiku?. Itu semua bohong. Yang sebenarnya adalah dia tertelan racun dan menyembunyikannya dari kita semua, itu yang terjadi."


" Kamu!! Menunjuk kearah Varendra. Apakah aku harus selalu menggunakan kemampuanku untuk mengetahui mu". Ucap Zays


" Tidak perlu! Kalian tidak tahu apa-apa tentangku, dan tidak akan aku biarkan kalian mengetahuinya, aku sudah menguncinya dari kalian semua." Jelas Varendra.


" Kalau kakak masih merahasiakannya dari kita semua dan masih seperti ini, lebih baik kamu jalan sendiri, aku tidak mau ikut denganmu!." Ucap Zays.


" Yasudah, aku bisa mencarinya sendiri, tanpa bantuan kalian."


Varendra yang sudah merasa lebih baik beranjak dari tempat tidurnya. Melangkahkan kaki keluar rumah


" Mau kemana kamu?" Tanya Zays kembali.


" Aku bilang, aku bisa sendiri tanpa kalian!". Jawab Varendra


" Keras kepala!." Ucap Zays sambil menyusul Varendra dan menarik tangannya


" Duduk!."


" Katakan padaku, apa rencana setelah ini? Apa yang akan terjadi nanti? Apa yang sudah kamu tahu? Pengorbanan apa lagi yang mau kamu lakukan?...." Tanya Zays bertubi-tubi kepada Varendra

__ADS_1


" Sudah aku katakan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi ya, aku tidak akan menyegel kalian lagi seperti sebelumnya. Jadi terserah kalian." Ucap Varendra


__ADS_2