Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Kepingan 1


__ADS_3

Varendra angkuh tapi tidak bodoh, ia nekat tapi dengan segala yang sudah ia rencanakan. Ia berjalan melangkah menerpa semua yang ia serap, berat sangat berat, semakin bertambah satu langkah kedepan semakin bertambah berat, seperti terdorong badai angin kencang menerjang dirinya, seperti terikat rantai bola besi pada kedua kakinya, tapi Varendra tetap melawan itu semua. Yang dihadapinya saat ini bukanlah Dark Fluch, tetapi sesuatu yang lebih kejam daripada itu. Varendra tidak mengandalkan satupun kekuatan, tidak dengan Dark Fluch, terlebih sistem kendali. Lalu apa?


Cinta dan keberanian. Ia tidak memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, yang ia fikirkan hanya mereka dan mereka, banyak hal yang disembunyikan oleh satu sosok ini, seseorang yang misterius, tidak bisa ditebak.


Ingin Varendra melepas semua itu, tapi tidak sekarang, masih jauh lagi langkah yang harus Varendra tempuh untuk mencapainya.


Varendra tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah ia persiapkan sedari awal. Awal yang mana? Bukan saat orang misterius itu memberitahunya, tapi lebih awal dari itu. Sebelum ia melangkahkan kaki menuju dunia Pro-Master, itupun juga sebelum itu. Sebelum ia memasuki Akademi Zetherom, ia sudah mempersiapkan ini sejak dari awal. Apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi pertanyaan yang menggantung,  dan merupakan suatu rahasia besar yang disimpan oleh Varendra sendiri. Sebab itu, hanya karena untuk mengaktifkan sistem kendali ibunya dalam diri mereka berdua, ia tidak mau membahayakan Zays. Ia mengunci dan menyegel Fluch di dalam diri Minerva bukan tanpa suatu perencanaan.


Saat dimana mereka mulai memasuki perbatasan, Varendra menyerap semua roh hitam kejahatan dihadapannya seperti sebuah magnet yang menyerap sesuatu di dekatnya, mengunci setiap roh yang masuk ke dalam dirinya, merasakan sesak dan sakit atas perlawanan pemberontakan semua roh yang memasukinya, menahan semua aura kegelapan didalam dirinya, menghalau teman-temannya dari roh kegelapan yang diserap oleh dirinya. Hingga sampai saat ini, ia melangkah, ratusan bahkan ribuan roh gelap yang mungkin sudah diserap oleh dirinya, dirinya ingin meledak, mengeluarkan semua itu, sesuatu yang sangat menyiksa dirinya. Tapi tidak, Varendra masih menahannya, sebelum ia mencapai titik itu. Titik dimana cahaya hitam itu terpancar.


" Aku tidak takut pada kalian para roh kegelapan , kalianlah yang harus takut padaku!". Batin Varendra yang mencoba berbicara kepada mereka setelah mengatakan itu didalam hatinya, mereka memberontak sampai mampu membuat Varendra mengeluarkan darah dalam mulutnya, tapi tetap Varendra belum mau melepaskan mereka sebelum sampai pada langkah terakhirnya.


" Kamu akan mati setelah ini usai!". Ucap salah satu roh yang terdengar oleh Varendra.


" Jangankan keluar darah, keluar nyawa pun aku tidak takut". Sambung Varendra dalam hatinya.


Semakin Varendra melangkah mendekat, semakin besar energi dan roh yang masuk dalam diri Varendra.


Varendra Menggunakan sistem kendali hatinya untuk mengendalikan puluhan ribu roh kegelapan untuk bertempur dengan titik itu.


" Aaaaaaaaaarrrgghhhhh"


Varendra berteriak kencang saat dirinya sampai pada titik cahaya itu, mengeluarkan semua yang telah dikuncinya.


" Kamu kegelapan, dan Akulah raja kegelapan". Teriak Varendra mengeluarkan semua roh dalam dirinya untuk melawan roh yang tersisa pada kepingan itu. Ya. Semua roh yang terkumpul dalam diri Varendra ia kendalikan dengan sistem kendali pada dirinya untuk melawan balik roh yang menguasai kepingan itu, entah akan berdampak apa pada dirinya, tapi dia tidak berfikir untuk mengutamakan keselamatan dirinya sendiri. Inilah rencana yang Varendra buat sendiri, dengan caranya sendiri.


Varendra terpental jauh saat cahaya gelap dalam kepingan itu sudah lenyap.


" Kak! Buka segelnya!".


Varendra yang masih terbaring lemah membuka segel pelindung yang ia buat.

__ADS_1


Mereka bertiga lari mendekati Varendra dan segera menolong Varendra.


" Aku menyimpan beribu kemarahan padamu, rasanya ingin meledak, tapi bukan saat kamu lemah seperti ini. Pulihkan dirimu dulu, baru aku akan membalas perbuatanmu padaku, kamu berhutang itu padaku". Ucap Zays sambil membantu kakaknya duduk.


" Zays, ambil pecahan kristal itu". Ucap Varendra lemah


" Saat semua ini sudah selesai, baru kau meminta bantuan ku. Apa sebenarnya mau mu itu". Ucap Zays Sambil melangkah untuk mengambilnya.


" kamu sangat membantuku mengaktifkan sistem kendali ibu dalam diriku, itu sudah cukup". Ucap Varendra.


Untuk mengambil kepingan itu, dibutuhkan persatuan kedua sistem kendali dalam diri Zays dan Varendra agar terbentuk sistem kendali sang ibu, kekuatan sang Dewa-Master.


Mereka beristirahat kembali di sebuah gubuk kosong dekat perbatasan, yang sudah lama ditinggal oleh pemiliknya karena pengaruh roh kepingan Kristal Zero itu.


" Kamu suka ikan. Aku akan pergi mencarinya, ini bukan tawaran, tapi perintah dariku!". Ucap Zays pada Varendra yang menyimpan kesal padanya.


Sementara Zays mencari ikan di sungai terdekat, Vivena dan Minerva keluar gubuk meninggalkan Varendra seorang diri di dalam gubuk.


Vivena mencari ranting-ranting kayu untuk membuat api unggun, dan mencari wadah untuk merebus di dalam gubuk itu.


Varendra menyeringai.


" Walaupun aku seperti ini, aku tetap mampu untuk mengalahkanmu".


" Dasar orang aneh". Ucap Vivena sambil pergi meninggalkan Varendra.


" Sini berikan airnya padaku!". Ucap Minerva meminta air yang telah direbus oleh Vivena.


" Kau pasti sangat haus setelah menghadapi semua ini". Ucap Vivena.


" Ini bukan untukku, tapi untuk pria yang di dalam sana". Jawab Minerva.

__ADS_1


" Orang sombong itu maksudmu?".


" Sudahlah. Kamu tunggu disini dulu, aku akan berbicara dengannya". Ucap Minerva meninggalkan Vivena. Entah apa yang difikirkan Minerva, sehinggakan terlihat garis senyum tipis pada wajahnya.


" Minerva menuang air pada wadah kecil yang terdapat pada gubuk itu. Ini, selagi hangat minumlah". Pinta Minerva pada Varendra.


Karena tidak ada sepotong kain di gubuk itu, Minerva menyobek sepotong kain dari bajunya yang cukup panjang dan berlapis. Ia mencelupkan kain itu pada wadah yang berisi sisa rebusan air.


" Sini, biar aku kompres lukamu dulu!". Ucap Minerva.


" Tidak usah, nanti akan sembuh sendiri". Ucap Varendra yang menolak Minerva.


" Sudah seperti ini, masih saja keras kepala". Menyodorkan tangannya mengompres memar pada tubuh Varendra.


" Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih karena telah menolongku". Ucap Minerva.


" Aku tidak ingin menjadi penyebab seseorang berhutang padaku. Aku melakukannya karena diriku sendiri". Jelas Varendra


" Aku juga melakukannya untuk diriku sendiri. Bukan untukmu". Balas Vivena.


Varendra muntah kembali, ia mencoba menahannya, tetapi karena dirinya lemah, bahkan untuk menahan pun tidak termampu.


" Hijau? Kenapa berwarna..., Kamu menyembunyikannya dari kita semua?". Tanya Minerva yang mengetahui Varendra mengeluarkan racun di dalam dirinya.


" Sini tanganmu!". Menarik paksa tangan Varendra.


" Jangan banyak tanya! Aku ingin memeriksanya". Jelas Minerva


Minerva memeriksa denyut jantung dan nadinya, Minerva menggunakan penglihatannya jauh lebih dalam.


Varendra menarik tangannya dari Minerva.

__ADS_1


" Memang kenapa? Aku bisa menahan semuanya, aku terlalu kuat, jadi tidak akan terjadi apa-apa padaku".


" Apa kamu coba bunuh diri secara perlahan?". Ucap Minerva setelah mengetahui kondisi Varendra yang menyimpan racun dalam dirinya.


__ADS_2