
"Zays, apa kamu perhatikan? Kedua aliran itu berpisah untuk menuju Kristal Zero. Keduanya berada dalam pengaliran sama, tapi seolah ada pembatas antara keduanya. Kamu sudah tahu apa yang harus kita lakukan?." Tanya Varendra pada Zays
" Iya kak. Kita harus menyatukan kedua itu agar lenyap. Api+air->asap."
"Keduanya bersanding, mengalir sesuai arah tujuan yang sama, tetapi tidak tercampur satu sama lain, seperti ada pemisah antara keduanya, tapi yang aku lihat tidak ada pembatas apapun yang memisahkan kedua aliran itu." Jelas Zays
"Maka dari itu, jangan hiraukan pembatasnya, tapi kita fokuskan pada arah tujuan pengalirannya." Ucap Varendra
"Kamu lihat pada arah tujuannya (Kristal Zero)?, di dalam satu tujuan (keinginan) pada kristal Zero pun masih terpisah, maka kita rubah arah tujuannya, bagaimana?." Imbuh Varendra
"Bagaimana merubahnya?." Tanya Zays.
"Rubah menuju otaknya. Tidak mungkin darah(api) masuk ke dalam otak. Kecuali melewati saluran tersendiri. Yang ada dalam otak sebagian besar elemen air, dan bagaimana jika cairan air itu kering karena darah(api) yang masuk ke dalam otak? Pasti penggabungan keduanya akan hangus. Jadi, tidak ada lagi yang bisa direncanakan olehnya. Saat itulah kita bisa memurnikan Kristal zero."
Mereka pun menjalankan sesuai perencanaan awal. Apa yang mereka rencanakan berhasil sesuai yang mereka inginkan.
Setelah mereka mampu menaklukan Dark Fluch Naga Hydra, mereka menjadi pemilik dari Fluch tersebut. Mereka berfikir jika Fluch itu merupakan kunci untuk mengambil kepingan Kristal Zero, tanpa fikir panjang mereka menggunakan Fluch Naga Hydra kembali untuk menembus kawah berapi. Fluch Naga(api) ia keluarkan untuk menghalau api(panas) dari gunung berapi, sedangkan Fluch Hydra ia gunakan untuk didalam dirinya, menetralkan bahang api yang dirasakan Varendra. Dalam satu Fluch, mereka mampu memisahkan tugas antar masing-masing Fluch.
Fluch Naga yang ia keluarkan terjun ke kawah berapi dan mencari arah kepingan hitam di dasar kawah. Semakin dalam Fluch itu menerjang akan semakin panas, dan panas itu dirasakan oleh diri Varendra. Sehinggakan Varendra harus menyeimbangkan Fluch Hydra(air) yang ia gunakan untuk meredamkan dirinya dari bahang itu.
__ADS_1
Fluch Naga Hydra milik Varendra dan sistem kendali Zays beserta Varendra bergabung menjadi satu. Harus terjalin keselarasan pengendalian fikiran dalam diri mereka berdua.
Saat Fluch itu menemukan sumber cahaya hitam, sistem kendali dalam fikiran mereka kompak untuk mewujudkan Fluch Naga dalam bentuk nyata untuk mengambil kepingan Kristal Zero. Ada harga yang harus dibayar setelah mereka mewujudkan Fluch menjadi bentuk sungguhan, tiga hari kedepan mereka tidak dapat menggunakan Fluch maupun sistem kendali (diluar kendali). Mereka berharap rencana ini berhasil, sehingga tidak sia-sia mereka merelakan kekuatan mereka untuk tiga hari kedepan.
Semua rencana tidak berjalan mulus sesuai yang mereka fikirkan. Terjadi pemberontakan dalam diri Varendra saat ia melawan untuk mengendalikan Roh jahat pada kepingan Kristal Zero. Roh Jahat itu seperti menyatu dalam diri Varendra, bagaikan gerbang rumah yang terbuka lebar, bergabung dan membentuk kelompok kehidupan untuk melawan Varendra balik. Fikirannya dikendalikan oleh aura roh kegelapan yang hidup dalam dirinya. Roh kegelapan yang hidup dalam diri Varendra memberontak dan melawan keinginan Varendra. Varendra merasakan sesak di dada, seperti sayatan pisau mengiris-iris hatinya, pemberontakan itu seakan membuat hati dan fikirannya meledak. Mata Varendra merah tanpa berkedip seperti sedang kesurupan. Varendra mencoba menahan, melawan semua pemberontakan.
Dalam penggabungan fikiran mata mereka tertutup, karena mereka mencoba melihat menggunakan penglihatan yang lebih dalam. Zays yang menyadari tidak ada kontak perhubungan fikiran lagi dengan Varendra mencoba menyadarkan Varendra melewati perhubungan batin. Tapi sayang, sekuat Varendra melawan, semakin kuat pula perlawanan Roh kegelapan yang hidup dalam dirinya. Varendra tidak mampu melawan lagi. Dirinya hilang, tidak sadarkan diri. Yang berkuasa saat ini ialah penguasa Roh kegelapan.
Fluch Naga dan Hydra yang terbentuk pun lenyap karena tidak lagi dibawah kendali Varendra. Penguasa Roh kegelapan mampu membalikkan keadaan melewati tubuh Varendra yang telah ia kuasai.
Roh kegelapan menggunakan kekuatan melewati aura yang dimilikinya. Bukan dengan Fluch ataupun sistem kendali. Aura kejahatan yang terbentuk tidak sabar digunakannya untuk menghancurkan siapa saja yang mencoba mengganggu dan melawannya.
Zays, Minerva, dan Vivena jatuh berlutut lemah karena tidak tersisa energi sedikitpun dalam diri mereka. Varendra yang telah dikuasai mengangkat mereka dengan kekuatan penguasa roh kegelapan, membawa mereka bertiga ke hujung tebing kawah berapi. Roh itu mengendalikan Varendra untuk melenyapkan tubuh mereka. Perlahan, genggaman tangan Varendra mulai terlepas, mengendor, lalu lepaslah sudah seluruh genggaman tangan Varendra.
Zays, Minerva dan Vivena mencoba bertahan mengait bebatuan pada tebing kawah. Mengerahkan sisa tenaga mereka, berusaha keras menahan tubuh mereka yang sudah jatuh menjuntai ke bawah.
" Ka.....kak....." Suara lemah terkeluar dari mulut Zays.
Mendengar itu, Varendra menginjak kedua tangan Zays yang mengait di bebatuan, sembari menoleh ke wajah Zays. Mata Zays berkaca-kaca menatap Varendra seakan-akan terjadi komunikasi antara tatapan mata mereka.
__ADS_1
Zays menarik keras satu tangan kanannya, tangan yang berdarah akibat gesekan pada bebatuan, terlebih tekanan kaki yang Varendra berikan.
Zays memasukkan tangan kanannya yang gemetar ke dalam sakunya. Ada sebungkus permen pemberian kakaknya yang masih ia simpan. Zays mengeluarkannya dan menaruh permen itu di sebelah kaki Varendra, lalu ia mengangguk untuk meyakinkan kakaknya untuk melepaskan kakinya.
" Tidak apa kak.... Setidaknya, aku pernah melangkah bersamamu, jikapun aku pergi, aku tidak akan menyesal." Batin Zays dalam hati karena ketidaksanggupannya untuk berbicara.
Entah kenapa, melihat permen di bawah kakinya, Varendra tidak sadar bahwa ia menyeka air mata dalam dirinya. Seperti sesuatu mengingatkan dirinya, menyadarkannya, membangunkannya. Kesakitan dalam dadanya melihat permen itu lebih besar daripada kesakitan melawan Roh kegelapan.
" Zaaaaaaysssss." Teriak Varendra setelah sadar dan kembali pada jati dirinya.
Varendra tidak dapat menggunakan Fluch maupun sistem kendalinya karena konsekuensi mewujudkan Fluch menjadi bentuk nyata, terlebih Zays, Minerva, dan Vivena yang lemah tidak memiliki energi untuk mengangkat tubuh mereka.
Varendra menarik tangan mereka bertiga. Membantu mereka menaiki tebing kawah.ereka bertiga terkapar lemah di permukaan tanah. Sementara Varendra yang melihat kondisi mereka menyalahkan dirinya sendiri.
" Apa hakmu menyakiti mereka!" Marah Varendra dalam hatinya yang berbicara kepada roh kegelapan.
"Kalian harus mati!" Sambung Varendra. Tidak fikir panjang Varendra sendiri yang menyeburkan dirinya ke dalam kawah berapi dengan lahar yang menyala.
Dengan mata buram sayu dan lemah tangan Zays maju untuk menggapai Varendra, tapi Varendra telah terjun terlebih dahulu, kemudian mereka pingsan tidak sadarkan diri setelah kejadian itu.
__ADS_1