Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Siapa takut?


__ADS_3

"Dunia ini tidak seperti di Dunia kalian. Di dunia Nordelard ini, semua Pro-Master menggunakan kekuatan fisik nya (bela diri) untuk melawan satu sama lain. Tidak ada satu kekuatan pun yang berguna  disini selain kekuatan fisik. Sebab itulah, di Dunia ini hanya ada perguruan bela diri, bukan Academy seperti di dunia kalian. Maka itu, saya sendiri tidak mengerti kekuatan apa yang  kakakmu miliki sehingga bisa menerobos masuk ke ke perguruanku." Ucap Kepala perguruan.


"Kenapa anda terheran-heran dengan perkara itu? Jika kami bisa mengambil kepingan ini yang tidak bisa diambil siapapun, bukankah itu berarti dalam diri kami spesial? Jadi bukan hal mustahil jika kami bisa datang ke perguruan ini." Jawab Zays meyakinkan kepala perguruan.


Kepala perguruan itu pun mengangguk mencoba mencerna apa yang sudah dikatakan Zays.


"Masuk akal juga alasanmu itu." Ucap Kepala perguruan.


"Kalau begitu, biarkan perguruanku memberi bekalan kalian ilmu bela diri kami." Sambung Kepala perguruan


"Heii pak kepala, untuk apa anda memberi kami ilmu perguruan anda, di dunia kami perlawanan bukan dengan fisik tapi dengan kekuatan lain yang hebat." Ucap Varendra


"Pertama, jangan panggil saya pak kepala, panggil saja 'Guru'."


"Kedua, kalian fikir untuk melawan musuh di Dunia ini, untuk mengambil kepingan itu, tidak diperlukan perlawanan fisik? Kalian fikir kekuatan kalian akan mempan pada mereka? Ya. Mungkin kalian bisa masuk kesini. Tapi coba saja kalian gunakan kekuatan kalian untuk melawan pasti itu benar-benar tidak mempan."


"Ketiga, bela diri fisik itu sangatlah penting bagi kalian. Mungkin selama ini kalian menghadapi Dark Fluch dan cukup hanya dengan mengandalkan Fluch ataupun kendali, tapi coba bayangkan jika sesama Pro-Master atau sesama Master yang saling menyerang? Atau binatang buas tanpa Fluch? Kalian bisa hanya mengandalkan Fluch kalian tanpa perlawanan fisik?. Jika sesama Master seperti kalian menggunakan pedang sungguhan untuk menyerang, apakah kalian fikir Fluch kalian bisa membantu?. Diri Master dengan Fluch hanya bisa digunakan oleh sesuatu (Master/Dark Fluch) yang memiliki Fluch pula. Dan seorang Master dengan Fluch tidak bisa melawan seseorang (musuh) tanpa Fluch. Perlawanan fisik sangat dibutuhkan disini.


"Kami bisa mewuju...." Zays belum sempat melanjutkan bicaranya, kaki seberat gajah yang menginjak kakinya seakan memberikan isyarat untuk diam.


"Apa? Mewujudkan Fluch kalian? Kalian fikir dengan kalian mewujudkan pedang itu berarti kalian menang? Tidak, jika tidak dengan keahlian. Saya tidak mau tahu. Kalian tidak boleh pergi sebelum belajar ilmu bela diri di sini. Kalian berani menerobos perguruan ini, maka inilah hukuman kalian." Ucap Guru.


"Yah walaupun Guru ini bawel, ada benarnya juga, hehh Guru keras kepala, tapi oke juga buat jadi Guru ku." Bati Varendra dalam hati.


"Baik kalau begitu. Mulai besok kami akan belajar ilmu bela diri dari mu." Ucap Zays


"Oh ya, Guru. Dimana kami boleh beristirahat?" Tanya Zays


"Kalian bergabunglah dengan para senior diluar sana, mereka akan menunjukkan ruangan untuk kalian istirahat." Ucap Guru


Zays dan Varendra meninggalkan ruangan Guru dan berjalan keluar menuju halaman depan tempat mereka semua berlatih.


"Zays.... Aku min...."


"Huuussh, jangan kotori mulutmu untuk minta maaf pada adikmu. Tetaplah jadi kakakku yang sombong. Tidak ada yang salah. Tidak. Bukan kamu yang salah. Aku tahu ada yang aneh dalam dirimu. Ada dua kehidupan yang sedang beradu dalam dirimu. Aku sudah mengetahuinya. Bukan dirimu yang menyakiti kami.  Aku tahu kamu kuat. Pesanku satu. Ingatlah pada apa yang membuatmu kuat. Semoga itu akan membuatmu tetap sadar akan jati dirimu." Ucap Zays pada Varendra.


Zays dan Varendra bertemu Minerva dan Vivena yang sedang berbincang-bincang kepada teman baru sesama perempuan di perguruan ini.

__ADS_1


"Ikut aku!" Tarik Varendra kepada Minerva


"Ada apa?" Tanya Minerva


"Coba gunakan Fluchmu". Perintah Varendra


"Apa ada musuh disini? Siapa yang harus aku lawan?".


"Jangan banyak tanya. Cepat keluarkan Fluchmu."


Minerva mencoba mengeluarkan Fluch, tetapi tidak berhasil.


"Aku sudah mencoba berulang kali, tapi Fluchku tidak bisa digunakan. Apa aku masih lemah dengan kejadian tadi. Dan bukannya kamu sendiri yang membuatku tak berdaya?" Tunjuk Minerva pada Varendra.


"Maksudmu? (Menyingkirkan telunjuk Minerva), aku bahkan tidak menyentuhmu."


"Buang fikiran kotormu itu." Ucap Minerva


"Maks..... Haaahhh... intinya yang menyakiti kalian itu bukan aku, aku di bawah kendali sesuatu saat itu."


"Buang jauh fikiran kotormu!" Balas Varendra.


"Siapa juga yang berfikiran kot...."


"Hush. Pelankan suaramu. Berarti benar. Kita berada di dunia tanpa kekuatan. Kekuatan kita tidak bisa digunakan di Dunia ini." Terang Varendra


"Lalu? Bagaimana dengan misi kita?" Tanya Minerva


"Kata Guru, kita tidak perlu memerlukan itu, misi kali ini tidak membutuhkan kekuatan kita. Hanya fisik mungkin fikiran juga diperlukan agar tidak ngeres sepertimu." Jawab Varendra


"Heiiii, apa yang kalian berdua bicarakan disini." Tepuk Zays pada Varendra


"Aku hanya memberitahunya saja, dunia apa yang kita hinggapi saat ini." Jawab Varendra


"Ayo kita istirahat, bukankah besok kita harus berlatih?" Ucap Zays


"Kita? Aku juga? Berlatih? Bela diri?" Tanya Minerva

__ADS_1


"Iya. Itu hukuman kita." Ucap Zays.


"Bukan hukuman, tepatnya pelajaran." Jawab Varendra


"Tapi aku rasa mulai sekarang pun oke juga." Imbuh Varendra


Varendra berbalik badan menghadap murid perguruan dan menyilangkan kedua tangannya, mengangkat sebelah alisnya.


"Heiiii... Kaliaaann." Teriak Varendra menggema


Semua murid perguruan yang sedang berduel menoleh ke arah Varendra yang dengan sikap sombongnya menekuk sikunya menaruh tangannya di sebelah pinggul, seperti ingin menantang.


"Mari sini, satu murid pemberani lawan aku. Aku ingin lihat seberapa besar kemampuan kalian." Ucap Varendra


Murid-murid perguruan lain menyiapkan arena bertarung untuk Varendra bertarung dengan seorang senior dari perguruan mereka.


"Besar juga nyalimu. Aku tidak pernah melihatmu bertarung fisik. Aku penasaran seperti apa kemampuanmu." Batin Minerva dalam hati dengan senyuman kecilnya.


Semua murid-murid perguruan mengelilingi arena untuk menyaksikan aksi perlawanan kedua belah pihak.


"Kak...kamu serius bertanding? Jika kamu babak belur, aku tidak mau mengurusmu. Ingat itu!" Pesan Zays pada Varendra.


"Apa kalian tahu, aku dengar mereka itu orang yang berhasil mengambil kepingan Kristal Zero." Ucap salah satu murid perguruan.


"Benarkah? Aku rasa akan sangat menarik bisa menyaksikan pertarungan kakak senior dengan pemuda itu." Jawab murid perguruan lainnya.


Varendra memulai pertarungan dengan memanggil lawan untuk maju dengan isyarat satu jari telunjuk yang digerakkannnya.


Segera senior perguruan maju selangkah demi selangkah dengan kuda-kuda kuat yang telah dipersiapkannya


Varendra menendang kaki luar senior, tapi tidak tergoyah sedikitpun. Senyum smirik keluar dari pipi senior yang memandang tajam Varendra.


Senior itu mendongakkan kepalanya. Seakan mengisyaratkan sebuah kata


"Bagaimana?"/ "Kamu takut?"/ "Masih berani?"


Varendra pun membalas senior dengan senyuman smiriknya. Varendra dengan sigap memasang kuda-kuda pada kakinya mengangkat kedua sikunya ke depan tubuhnya untuk berjaga.

__ADS_1


__ADS_2