Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Permata putih


__ADS_3

Masih dengan ruangan yang gelap tidak ada penerangan sedikitpun. Varendra dengan sebuah pedang yang ia bawa selalu sigap untuk menangkis setiap benda tajam yang mengarah padanya. Tak lupa ia mempertajam pendengarannya untuk membantunya mendeteksi arah datangnya senjata.


Tiba-tiba saja saat ia melangkahkan kaki, sederetan api menyala sendiri menerangi sebuah lorong. Terlihat beberapa papan pijakan yang menjulang tinggi dari permukaan tanah. Ada yang tinggi, ada yang setara dengan permukaan tanah. Segera Varendra mencari tahu perbedaannya, dan apa dampaknya nanti jika ia memijakkan kaki di kedua pijakan.


Varendra mencoba mengetahui perbedaan bunyi antara keduanya. Ia menggunakan pangkal pedang untuk memukul mukul pelan kedua permukaan yang berbeda ketinggiannya.


Terdengar bunyi hampir sama, bedanya memang permukaan yang lebih timbul menciptakan sebuah gema saat di pukul, berbeda dengan permukaan yang lebih rendah yang terdengar bunyi padat saat dipukul. Itu menandakan pijakan yang menjulang timbul mengisi suatu ruang udara. Yang jika saja Varendra memijakkan kaki di papan itu seperti mengaktifkan sebuah tombol yang ia pijak yang entah apa rintangan yang ia hadapi selanjutnya.


Satu deret pertama terlihat ada tiga buah pijakan datar dan empat buah pijakan tinggi. Varendra mencoba menapakkan kakinya pada pijakan datar untuk mengetahui apa reaksinya.


Pijakan itu seakan menolak Varendra memijakkan kaki pada papan datar, terlihat papan itu membawa Varendra mundur kembali pada tempatnya semula.


"Mau tidak mau, aku harus memilih satu di antara empat pijakan timbul." batin Varendra


Varendra mencoba memukul-mukul pelan mengetahui perbedaan nada di ke empat pijakan timbul. Tetapi semua nada yang dihasilkan sama.


Dengan nekat, Varendra memijakkan kedua kakinya tepat berada pada papan timbul nomer 2 dari kiri. Serangkaian senjata tajam menyerang dari arah depan dan belakang Varendra. Varendra terkepung senjata yang semakin mendekat kearahnya. Segera Varendra memijakkan kaki dan naik ke dinding untuk membuat dorongan naik ke atas, dan segera Varendra menjulurkan pedang ke dinding seberang yang mana sebagai tumpuan menahan tubuhnya. Lorong itu berjarak sekitar dua meter. Jadi, disamping kedua kakinya ia pijak ke satu bidang dinding, dan juluran tangan yang memegang pedang ia arahkan ke dinding seberang mampu menahan tubuhnya bertumpu pada kedua dinding.


Senjata dari dua arah yang berlawanan saling menubruk satu sama lain.


Saat tubrukan dari kedua senjata itu berhenti, segera Varendra melepaskan tancapan pedangnya pada sebuah dinding. Ia pun jatuh ke permukaan tanah beserta pedang yang masih ia bawa.


Varendra mencoba membuat pola 1:1, yang berarti jika pada papan kedua itu zonk, pasti papan keempat juga zonk, maka papan ketiga atau kesatu kemungkinan akan berhasil. Itu persepsi awal dari pemikiran Varendra.


Varendra pun memijakkan kedua kakinya di papan ketiga dari kiri. Dan Varendra segera memijakkan kaki ke dinding kembali seperti sebelumnya untuk bersiaga.


Ternyata yang Varendra fikirkan tidak sesuai dengan dugaannya. Empat tombak tajam malah muncul dari atap yang Varendra sendiri sudah berada di atap.  Segera Varendra berpaut pada hujung tombak dan menyelipkan diri  di sela-sela jarak antar tombak.


"Sial. Dugaan ku salah." Batin Varendra

__ADS_1


"Aku harus merubah pola. Atau mungkin 1:2:1?,  Entahlah aku akan mencobanya di pijakan hujung kanan. Jika pijakan kedua dan ketiga Zonk berarti pijakan pertama dan keempat kemungkinan akan berhasil. Itu maksudnya dengan pola itu."


Segera Varendra memijakkan kaki ke papan keempat hujung kanan. Varendra pun sigap dengan senjata dari berbagai sisi. Setelah dirasa lima detik berlalu, tidak ada senjata apapun yang muncul.


"Berarti benar pola yang ku buat." Batin Varendra dengan memoles sebelah hidungnya.


Varendra pun tak ragu memijakkan kaki di papan deret kedua. Ia memijakkan kaki kembali pada papan hujung kanan (keempat). Tanpa sebuah kesigapan untuk menghalau senjata, karena Varendra fikir senjata itu tidak akan muncul. Varendra merasa tepat pada pijakan yang dipilihnya.


Tapi naas, tombak dari atas muncul kembali disertai senjata yang berdatangan dari arah depan dan belakangnya. Saat ini Varendra terkepung dengan senjata dari berbagai arah.


Segera Varendra memijakkan kaki ke dinding dan menggapai tombak yang muncul dari atap. Ia bersembunyi di balik tombak yang muncul. Hal itu mampu melindungi Varendra dari satu sisi senjata yang mengarah padanya, yang secara otomatis senjata yang datang dari arah depan terbentur dengan tombak yang menghalanginya. Sehinggakan Varendra dengan pedangnya fokus menangkis senjata yang datang dari satu arah.


"Sial. Pola ku salah lagi. Guru satu ini memang tidak mudah di tebak." Batin Varendra.


...



...


Segera Varendra melewatinya dengan perencanaan barunya. Kali ini ia benar. Varendra bisa melewatinya sampai pijakan pada deretan terakhir (deretan kelima).


"Kenapa pola itu seperti menandakan sesuatu. Jika pijakan zonk itu semisal hitam dan pijakan yang berhasil itu putih, layaknya sebuah simbol yang pernah Zays tulis di papan tulis itu, apakah simbol ini ada hubungannya dengan kami?." Batin Varendra


...



...

__ADS_1


Tanpa memikirkannya lebih jauh lagi, Varendra melanjutkan langkahnya.


Terlihat sebuah ruangan terang di penghujung lorong. Varendra terus maju mendekati ruangan itu. Terdapat empat pilar kokoh yang masing masing bertuliskan nama.


Pilar 1. Menunjukkan cahaya biru dengan bertuliskan nama ketujuh elemen.


Pilar 2. Menunjukkan cahaya merah dengan bertuliskan sistem pengendali


Pilar 3. Menunjukkan cahaya kuning dengan bertuliskan kekuatan (Fluch, Twiz, Wizstorn, KD)


Pilar 4. Menunjukkan cahaya hitam dengan bertuliskan Status kekuatan (Master, Pro-Master, Dewa-Master)


Dalam setiap pilar itu terdapat sebuah permata yang memancarkan cahaya sesuai warna pilar masing masing.


Keempat pilar tegak melingkari sebuah lingkaran besar yang mana pada pusat lingkaran itu terdapat sebuah lubang


Yang mempunyai lekukan sama dengan keempat batu permata. Varendra menduga salah satu permata itu adalah kunci yang harus ia tempatkan pada pusat lingkaran.


Varendra masih berada di luar lingkaran dan mengamati keempat pilar yang berdiri di hadapannya.


"Apakah aku harus memilih satu diantaranya?" Batin Varendra


"Apakah yang paling terkuat yang harus kupilih? Diantara ke empat pilar, manakah yang paling terpenting?"


"Tidak. Semua itu berkaitan satu sama lain. Elemen tak akan terkendali tanpa sistem pengendali, sedangkan status kekuatan pun tidak bernilai jika tak miliki kekuatan. Tidak bisa. Aku tidak bisa memilih satu diantaranya. Tapi aku harus menggabungkan semua itu menjadi satu kesatuan, bukan memecah belah. Tapi.... Apakah satu lubang itu cukup dimasukkan empat permata?"


Varendra mencoba mengambil satu permata berwarna biru, saat ia mulai mengangkatnya, cahaya biru terlihat pudar. Varendra segera menempatkan permata itu ke tempat semula.


"Tidak. Mengambil berarti melenyapkan. Tugasku untuk menggabungkan, bukan melenyapkan. Jika semua warna itu semisal aku gabungkan menjadi satu, itu akan menghasilkan warna putih. Sedangkan tidak ada permata putih di keempat pilar."

__ADS_1


"Penggabungan ke empat pilar menjadi satu. Penggabungan ke empat warna menjadi satu. Apakah hasil penggabungan itu berasal dari sesuatu yang lain? Adakah yang diperlukan itu permata baru?"


Varendra mencoba memijakkan kaki ke dalam lingkaran. Mengambil posisi pusat tengah lingkaran. Kedua kakinya tepat berada di samping lubang permata. Cahaya putih terpancar mengelilingi sebuah lingkaran. Mengarahkan Varendra menuju jalan keluar ruangan itu.


__ADS_2