Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Bela Diri


__ADS_3

"Bagaimana kalian mengetahui ruangan rahasia itu? Apa kalian tahu, disanalah tempat kawanan aura iblis berkumpul?" Jelas Guru


"Maaf Guru, ini semua salahku. Aku yang mengajak mereka memasuki ruangan itu. Di sana ada tulisan merah 'makanlah sepuasnya', jadi ku fikir itu terbuka untuk siapa saja." Jelas Vivena


"Tulisan itu ditulis dengan darah , itu adalah cara kami menjamu para aura iblis." Jelas Guru


"Iblis?, Kenapa kalian berhubungan dengan Iblis?" Tanya Zays


"Tidak berbeda dengan dunia kalian yang dipenuhi Iblis Dark Fluch, di dunia kami pun dipenuhi Iblis, aura Iblis. Leluhurku terikat sebuah perjanjian dengan aura Iblis, dimana kami harus menyediakan makanan sebanyak yang kalian lihat di ruangan yang kalian hinggapi tadi." Jelas Guru


"Perjanjian? Lalu, Apakah makanan tadi adalah permakanan mereka juga?" Sama seperti kita? Apakah makanan sebanyak itu habis dilahap oleh Iblis?" Tanya Zays


"Habis? Bagaimana Aura Iblis bisa memakan makanan? Tidak. Bukan dengan cara makan seperti kalian. Mereka hanya menyerap sari nya saja untuk kekuatan mereka, dan itu tidak terlihat di mata kalian." Jelas Guru


"Mengapa mereka tidak diam-diam saja menyerap makanan kalian tanpa perlu disajikan?" Tanya Zays kembali


"Mereka tidak bisa melakukannya tanpa adanya persetujuan." Jelas Guru


"Apa kalian lapar?" Tanya Guru


"Ya. Memang aku lapar, aneh, padahal tadi sudah makan terlalu banyak." Jawab Vivena


"Sebab itulah Guru tanya. Yang kalian makan hanya hampas saja. Tidak mengandung apa-apa. Semua sudah di serap oleh mereka." Jelas Guru


"Jika memang itu sudah habis, kenapa aura Iblis marah jika kita memakan hampasnya?" Tanya Minerva


"Tidak ada alasan bagi Iblis untuk tidak marah." Jawab Guru.


"Tapi untunglah, aura Iblis itu sudah lenyap (Menoleh ke arah Varendra yang terbaring), dan yang Guru khawatirkan saat ini, ada di hadapan kalian. Aura kegelapan yang lebih besar ada dalam dirinya, dia bisa menjadikan dunia ini dalam kehancuran besar." Ucap Guru.


"Guru. Aku sangat mengenal seperti apa kakakku, meskipun banyak yang disembunyikan olehnya, dia tidak seburuk apa yang terlihat. Aku yakin dia bisa mengendalikan dirinya sendiri." Jelas Zays


"Tabib, apa yang terjadi?" Tanya Guru pada tabib yang mengerutkan keningnya, yang sedari tadi memeriksa keadaan Varendra yang tengah terbaring pingsan.


"Denyut jantung seperti ini bukan seperti manusia pada umumnya." Jelas Tabib


"Seperti apa, apakah lemah?" Tanya Guru


"Bukan lemah. Tapi tidak ada." Jelas Tabib

__ADS_1


"Apakah dia mati?" Tanya Vivena terkejut.


"Ada. Tapi sesuatu menghalanginya." Terang Zays


"Ya. Aku mengerti maksudmu." Jawab Guru.


"Tabib, apakah anda pernah menemukan kasus seperti ini? Apakah kakakku bisa di sembuhkan?" Tanya Zays


"Aku memang belum pernah menemukan kasus seperti ini. Bagaimana bisa menyembuhkannya, ini bukanlah penyakit. Seperti memang beginilah dirinya." Jelas Tabib


"Dia menelan racun cukup banyak, apa kemungkinan itu penyebabnya?" Tanya Zays


"Seseorang yang terkena racun akan melemah, bukan bertambah kuat." Jelas Guru


Lagi-lagi Varendra terbangun dari pingsannya, yang terbaring  seorang diri dengan di saksikan banyak orang dihadapannya, dengan tatapan mata aneh yang Varendra sendiri tidak tahu apa maksudnya.


"Apa yang kalian lihat?, Kenapa kalian mengganggu istirahatku? Zays apakah kamu terlalu takut sehingga kamu membawa banyak orang disini(melihat seisi ruangan)" Ucap Varendra


"Ruangan ini? Kenapa aku bisa berada di ruangan Guru?


Oh ya, ruang makanan, apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tanya Varendra bertubi-tubi


"Pingsan? Hilang kesadaran?" Jawab Varendra.


"Adikku ini, sudah pandai menyembunyikannya dariku. Dia fikir aku tidak tahu apa yang terjadi saat aku kehilangan kesadaran, untunglah tidak ada yang terluka lagi karenaku. Aku harus lebih bisa menguasai diriku sendiri." Batin Varendra


"Kalian istirahatlah di ruangan kalian. Tadi murid senior ku mengadu padaku tentang kelakuan mu. Bukan begitu cara bertarung. Persiapkan diri kalian untuk besok pagi!" Ucap Guru


.....


Zays berada diruangan bersama Varendra yang tengah tidur. Zays menarik kursi dan mengambil pena yang terletak di atas meja. Ia mencoretkan sebuah pesan kepada seseorang.


  Bert, bagaimana kabarmu? Apakah kamu dan teman-temanmu sudah memasuki Academy idaman kalian?. Apakah keadaan disana sudah kembali normal?


  Kami sedang berada di dunia Nordelard saat ini, di perguruan bela diri. Kami baik-baik saja disini, hanya saja terjadi sesuatu dengan Varendra, tapi tidak apa-apa, pria yang kau kagumi itu, kamu pasti tahu dia terlalu kuat. Dia akan bisa mengatasinya.


^^^Zays^^^


Zays pun membuka jendela. Malam hari seperti ini, sudah menjadi tugas bagi burung hantu mengirimkan surat di dunia Nordelard. Zays mengetahuinya saat Guru memberitahukannya sebelum Zays pergi ke ruangannya.

__ADS_1


.......


Zays, Varendra, Minerva, dan Vivena secara khusus dilatih ilmu bela diri oleh guru, guru tahu, mereka berempat harus segera melanjutkan misi mereka, tetapi tidak sebelum mereka mendapat ilmu dari perguruan itu. Maka dari itu bukan pelatih lain yang mengajari mereka, melainkan Guru sendiri.


"Pertama yang harus kalian lakukan, penuhi bak mandi dengan menimba air di sumur belakang perguruan." Ucap Guru


"Ayolah Guruuu, kami sudah mandi." Ucap Varendra


"Guru tidak menyuruh kalian mandi. Tapi penuhi seluruh bak mandi!" Tegas Guru


"Halahhh... Ini namanya kesempatan dalam kesempitan, bilang aja mau gratisan." Ucap Varendra lirih yang hanya terdengar oleh Zays disebelahnya.


"Ssst, sudah kita lakukan saja apa perintah Guru." Balas Zays lirih


"Asalkan kamu jadi ember untuk timba air." Jawab Varendra.


"Iya iya... Apapu...


apa??Nyebur dong namanya." Balas Zays


"Dasar bodoh!" Teriak Varendra membentak


"Kurang ajar! Apa kamu bilang!" Ucap Guru sambil mengayunkan alas kaki pada Varendra.


Segera Varendra melangkah cepat meninggalkan Guru menuju ke sumur, diikuti Zays dan lainnya.


Bak air pun telah terpenuhi. Dibutuhkan sekitar 40 ember dari masing-masing mereka untuk bisa terpenuhi. Bak air di perguruan lumayan besar yang bisa menampung 160 ember ukuran besar. Bisa dibayangkan betapa lelahnya mereka saat menghadap Guru.


"Sekarang Pasang kuda-kuda kalian!"


Minerva bergaya seperti seekor ular yang hendak mematuk dengan kaki terangkat satu dengan tubuh yang hampir ambruk karena lelah, tapi ia tetap berusaha menjaga keseimbangannya. Sementara Vivena bergaya seperti penari balet dengan kedua tangan dilengkungkan melingkar diatas kepalanya, satu kakinya dijinjit, terlihat tangannya yang melingkar di atas berputar seperti burung mengitari kepalanya. Varendra menyila kaki kanan pada satu tumpuan kaki kiri dengan kedua telapak tangan bertakup di depan dadanya (ibarat seperti dewa Siwa) jika itu berdiri tegap dan gagah, tapi tidak dengan Varendra yang berdiri dengan posisi itu sambil bergoyang goyang (Seperti tarian Inul), sedangkan Zays   dengan kedua lutut yang sedikit ditekuk dan kedua tangan terangkat keatas seperti mematuk (seperti lambang kuda Ferrari), terlihat seperti kuda laut yang bergerak naik turun.


Guru menendang setiap kaki yang menjadi tumpuan mereka. Mereka pun terjatuh ke tanah. Langsung di manfaatkan Varendra untuk sekalian tidur berbaring ke tanah, Zays dan lainnya pun masih duduk di tanah sembari mengambil nafas dalam dalam.


"Gunanya kuda-kuda itu untuk mempertahankan posisi tubuh, agar tidak tumbang saat diserang lawan."


"Bukan untuk bergaya!." Ucap Guru


"Kalian perhatikan!"

__ADS_1


"Gunakan kedua tumpuan kaki kalian, jika kalian sudah cukup kuat dengan satu tumpuan kaki, kalian bisa gunakan gaya kalian seperti tadi. Tapi tidak saat ini." Terang Guru.


__ADS_2