
" kak, apakah jika hanya menggunakan sistem kendali saja akan berbahaya?". Tanya Zays
" Entahlah Zays, aku tidak tahu apa bahayanya, yang aku tahu jika hanya menggunakan sistem kendali, maka energi di dalam diri akan lebih cepat terkuras, berbeda dengan penggabungan Fluch dan sistem kendali. Tapi mengenai dampaknya, aku belum mengetahuinya, tapi aku rasa akan lebih besar. Maka itu kamu jangan terlalu sering mengandalkan sistem kendali mu saja". Jelas Varendra
Racun di dalam diri Minerva segera hilang karena segera mendapatkan pertolongan dari Varendra.
" Tiba-tiba Aku merasa mual. Kakimu terlalu bau!, Aku mau muntah". Ucap Varendra yang menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya. Varendra pergi menjauhi mereka bertiga.
Mau kesal bagaimanapun dengan apa yang ia ucapkan, tetap saja Varendra lah yang menolong Minerva.
" Apa kaki ku benar-benar sebau itu?. Apa jangan-jangan dia bohong? Bukankah dia pembohong handal nomor satu. Apa ada hal yang dia tutupi?. Batin Minerva.
" Apa sudah lebih baik?" Tanya Zays.
" Ya, aku rasa begitu". Jawab Minerva.
" Apa kamu masih sanggup berjalan?". Tanya Zays kembali.
" Aku rasa akan sedikit kesulitan. Kaki ku masih sedikit kaku". Jawab Minerva
" Tidak masalah Zays, aku akan membantunya berjalan". Ucap Vivena.
" Biar nanti aku saja yang membantunya Viv, aku tidak mau kamu kewalahan menahan beratnya". Ucap Zays
" Apa aku seberat itu?".
" Ya. Bagi seorang perempuan". Jawab Zays.
Sementara itu, Varendra memuntahkan racun yang tertelan dalam dirinya. Ya, racun yang tidak sengaja tertelan olehnya. Varendra mengunci beberapa titik syaraf agar tidak menyebar ke seluruh tubuhnya, terlebih ke jantungnya. Varendra sengaja berkata buruk pada Minerva, begitulah sifat Varendra untuk menutupinya. Ya, memang begitulah cara Varendra bagi siapa saja yang memahaminya.
" Diriku adalah racun. Dan aku tidak akan mati hanya karena meminum racun". Ucap Varendra menguatkan dirinya sendiri.
Varendra kembali menemui mereka yang bersandar di bawah pohon.
" Sudah cukup istirahatnya. Ayo kita lanjutkan". Ucap Varendra
Zays merangkul Minerva, membantunya berdiri dan berjalan. Varendra yang melihat itu langsung mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Kamu suka padanya?". Tanya Varendra.
" Aku hanya membantunya berjalan, itu saja, tidak lebih". Jawab Zays.
" Rennn... Mmmm terimakasih sudah menolongku". Ucap Minerva dengan menundukkan kepalanya
" Aku tidak terima". Jawab Varendra
" Maksudmu?"
" Aku tidak mau menerima kasih darimu. Kamu berikan saja padanya". Menoleh ke arah Zays.
" Sudah cukup! kasih dalam diriku bukan barang obralan".
Yang semula Minerva merasa malu karena mungkin Minerva lah yang salah faham pada Varendra kini berubah kembali. Minerva dibuat kesal dengan ucapan Varendra.
...
Setelah kiranya 3 jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya sampailah mereka ke perbatasan. Dan yang anehnya, tidak terjadi apapun dengan mereka. Gerak-gerik Varendra lah yang terlihat mencurigakan, Varendra merentangkan sebelah tangannya, tangan kanannya seperti menghalau menahan sesuatu, entah apa yang ia rasakan, tetapi jika dilihat dari raut wajahnya, ia seperti menahan sesuatu. Varendra berada di baris paling belakang dan Zays yang memimpin mereka. Sehingga yang lainnya tidak melihat apa yang Varendra lakukan.
Yang semula Varendra memejamkan matanya kemudian ia segera menyadarkan dirinya saat Zays bertanya padanya.
" Mmmmm". Varendra menelan ludah seakan terasa serat.
" Ada apa denganmu". Tanya Zays yang melihat kearah Varendra.
" Apa kamu haus?".
Zays tahu kakaknya tidak mudah mengeluarkan tingkah seperti itu karena hal sepele(haus), tapi Zays ingin tahu dari nada suara Varendra, sebab itu ia bertanya.
" Tidak, cepat jalan". Ucap Varendra pelan.
Zays belum mampu membaca fikiran seseorang seperti ayahnya, ia hanya mampu membaca fikiran Dark Fluch para Master. Itupun jika fikiran mereka tidak dikunci. Jadi, ia tidak tahu apa yang difikirkan oleh kakaknya, tetapi perasaanya jadi tidak enak setelah mendengar suaranya.
Sampailah mereka pada penghujung tebing perbatasan.
" Zays, kendalikan awan untuk kita berpijak". Masih dengan suara pelan Varendra
__ADS_1
Zays heran, biasanya kakaknya yang selalu melakukannya dan tidak pernah meminta bantuan kepada adiknya, jika ia bisa dan mampu, ia akan melakukannya sendiri, itulah sifat kakaknya yang ia tahu. Zays semakin curiga, apa yang sedang disembunyikan oleh Varendra. Tidak hanya Zays, ternyata Minerva dan Vivena juga dibuat bingung dengan tingkah Varendra, mereka berdua saling bertatapan seakan saling bertanya-tanya, ada apa dengan Varendra.
Zays mengendalikan fikirannya untuk mengendalikan awan, mereka berempat menaikinya, dan awan itu perlahan-lahan turun.
Semakin dekat dengan lembah, Varendra menarik nafas dalam-dalam, sambil sesekali mengernyitkan wajahnya. Tentu saja ia pandai menyembunyikan semua itu dari mereka.
Mereka berempat tiba di lembah terdasar, dan ternyata benar. Muncul cahaya hitam yang terletak sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri.
Setelah semua dirasa cukup bagi Varendra, tidak disangka Varendra langsung menyegel mereka bertiga. Menguncinya dengan sistem kendalinya, membuat pelindung blazart menyelubungi mereka, dan segel yang dibuatnya hanya mampu di buka oleh Varendra saja.
" Apa yang kamu lakukan kak?. Cepat, lepaskan segel ini!". Teriak Zays pada Varendra.
" Kalian tidak bisa kemana-mana, kekuatan kalian terlalu lemah". Ucap Varendra yang berusaha sekuat tenaga untuk dapat berbicara.
" Aku tidak akan percaya lagi padamu jika kamu tidak membuka segel ini".
" Jangan percaya padaku!". Ucap Varendra sambil membalikkan badan menjauhi mereka, meninggalkan mereka bertiga.
" Kak!. Jangan sok jagoan, apa kamu fikir, mampu menghadapinya sendiri?".
" Tidak. Karena itu kamu disini. Bantu aku untuk mengambilnya". Ucap Varendra sambil melangkah membelakangi mereka.
" Kalau kamu tidak mengeluarkanku, bagaimana aku bisa membantumu?" Teriak Varendra.
Varendra diam tidak menjawab pertanyaan Zays lagi.
Zays, Minerva, dan Vivena berusaha untuk membuka segel, tetapi sia-sia saja. Segel itu tidak akan terbuka tanpa kunci, dan kunci itu adalah Varendra sendiri.
" Aku tidak akan melupakan ini!. Aku pasti akan membalasmu! Jangan mati sebelum aku bisa membalaskan ini padamu!". Teriak Zays pada Varendra.
" Apa kakakmu benar-benar bosan hidup?". Ucap Minerva kesal.
Mereka berteriak mengeluarkan kata-kata buruk kepada Varendra, tetapi Varendra menghiraukan semuanya dan tetap pada langkahnya. Tentu saja mereka berkata seperti itu sebagai pelampiasan atas kekhawatir mereka terhadap Varendra. Mereka takut terjadi sesuatu kepada Varendra. Varendra menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya, tidak membiarkan mereka sedikitpun membantunya. Mereka hanya mampu melihat Varendra dari tempat yang telah disegel. Mereka bahkan tidak bisa bergerak, hanya bisa berbicara saja, menyaksikan Varendra.
Varendra melangkah selangkah demi selangkah dengan perlahan lahan. Bukan karena takut. Varendra menahan setiap sesak yang ada dalam dadanya, menahan setiap sakit yang dirasakannya. Setiap pukulan dari ratusan bahkan ribuan seperti ingin meledakkan dirinya. Inilah Varendra yang pandai berbohong mengelabui semua orang, dengan sifatnya yang sombong, ia menahan semua itu.
Ingin sekali rasanya Varendra berteriak, melepaskan semua yang telah diserapnya. Apa sebenarnya yang telah diserap olehnya?
__ADS_1