Petualangan Dunia Zetherom

Petualangan Dunia Zetherom
Aku salah


__ADS_3

Zays memperdalam penglihatannya, menelusuri sesuatu yang lebih halus, ia mencoba menuju ke pusat pada aliran darah yaitu tepat pada jantung Varendra.


Zays mendapati keanehan pada hati Varendra yang mana seperti mutiara terselubung debu, diluar berwarna hijau pantulan biru pekat dan didalam masih terselubung darah berwarna merah segar. Di permukaan hati seperti ada pemisah seperti pelindung kaca yang tak kasat mata, seperti tak ada pelindung tapi terlindungi, entah itu pelindung apa tapi yang pasti pelindung itu terbalut oleh darah pekat yang berwarna aneh. Entah jika pelindung itu rusak, apa yang akan terjadi, apakah darah aneh ini juga akan merubah warna hatinya?.


Zays pun mempertajam pendengarannya, mendengarkan irama detak jantung, anehnya lagi bunyi detakan itu tidak seperti bunyi pada umumnya, Irama seperti dua buah detakan sahut menyahut berirama cepat. Tentu saja bagi pendengaran manusia biasa bunyi itu tidak dapat terdengar seperti terlindungi , jika di rasa oleh pendengaran manusia tanpa Fluch, denyutan itu teramat lemah, jauh dari normal, bahkan terhalang untuk berdenyut,seperti ada penghalang. Dua irama terus menerus berdenyut hampir bersamaan, kejar mengejar.


" Apa yang menghalangi bunyi detakan ini? Kenapa ada dua detakan jantung? Apakah akan begitu untuk sementara atau berapa lama, apakah akan selamanya terus seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa benar pengaruh racun bisa menyebabkannya seperti ini?."


Zays terus memikirkan dan mencari jawabannya, ia mengerahkan fikirannya untuk berfikir logis terhadap apa yang telah dilihatnya.


" Bunyi tak terdengar. Ada Penghalang. Apa yang menghalangi? Atau siapa yang menghalangi?."


Tentu ada perbedaan maksud dengan Zays berkata 'Apa' dan 'Siapa'. 'Apa' jika penghalang itu berasal dari sesuatu didalam dirinya sendiri. 'siapa' jika penghalang itu sesuatu dari luar yang mencoba masuk dalam diri Varendra.


" Dua irama detak jantung? Kenapa terdengar seperti dua kehidupan? Kehidupan apa yang muncul dalam dirinya? Bagaimana bisa kehidupan baru tumbuh dalam dirinya?. Apakah kehidupan baru itu hidup karena darah pekat ini? Apa ada sesuatu yang lebih halus lagi yang tak terjangkau olehku yang mengendalikan semua ini?."


Semakin Zays menemukan satu titik jawabannya, akan ada banyak lagi pertanyaan baru yang muncul.


Zays menelusuri kristal Zero dalam jantung Varendra. Ternyata warnanya pun sama, terselubung darah pekat. Tapi kristal Zero pun masih murni, itu berarti Varendra masihlah Master Light Fluch.


Sementara itu, Varendra masih berada di alam bawah sadar. Varendra mendapati mimpi yang mana itu adalah suara kakek tua yang tidak asing ia dengar, suara kakek asuhnya.


" Racun sudah menetes pada putihnya nila. Tinta sudah siap tercoret pada putihnya kertas. Goresan takdir akan terus menerus terukir sampai penghujung nafas, setetes racun rakus akan terus menjalar sampai penghujung nyawa."


" Kejahatan yang coba kau asah haruslah lebih tajam dari semua kejahatan yang ada, perangilah dengan pedang yang sudah kau siapkan. Kejahatan yang kau selami, haruslah lebih dalam dari semua kejahatan yang ada, menaungi dalamnya samudra kejahatan."


"semua sudah dimulai, kuatkanlah dirimu! teguhkan pendirianmu! Selalu ingat akan jati dirimu. Jangan lepaskan pedangmu. Jangan hanyut terbawa arus. Teruslah melawan walaupun setiap perlawanan akan menggores lukamu. Buktikan bahwa kamu dengan caramu sendiri." Pesan kakek asuhnya dalam alam bawah sadar.


" Kek....kek... Kakek....."

__ADS_1


" Kak, bangun kak, sadarkan dirimu!" Ucap Zays yang mendengar Varendra berbicara memanggil nama kakek di bawah kesadarannya.


" Kenapa kamu masuk dalam diriku. Keluar sekarang juga!." Ucap Varendra pada Zays yang sudah bisa merespon di dalam dirinya.


" Aku akan keluar, asalkan kau bangun setelah ini." Ucap Zays dalam diri Varendra


" Aku masih hidup. Belum mati jadi mayat. Jadi aku akan bangun." Balas Varendra


Zays memutus tali perhubungannya kepada Varendra. keluar dari diri Varendra. Sementara itu, Varendra telah tersadar dan bangun dari tempat tidurnya.


" Apa kau baik-baik saja nak?" Tanya Ayah Bert


" Iya Pak. Yah mungkin aku juga kelelahan jadi tertidur pulas." Jawab Varendra


" Mana ada orang tidur tidak merasa bau saat ditempelkan kaus kaki dihidungnya." Ucap Zays


" Apa kamu bilang? Berani-beraninya kamuuu (mencubit lengan Zays) Dasar adik durhaka..."


" Pak, eh Pro-Master maksudku."


" Tak apa nak, panggil saja bapak. Apa yang mau kamu tanyakan?."


" Lepaslahh segel dalam diri Bert, kenapa bapak menyegelnya. Apakah Bapak ini bapak mereka yang mengabulkan permintaan mereka? Permintaan mereka lebih pentingkah daripada keinginan Bert?." Ucap Varendra pada Ayah Bert


" Maaf maaf jika kata-kataku lancang, aku tidak mengerti apa itu kesopanan, jadi inilah caraku bicara." Imbuh Varendra


" Iya pak. Bapak berfikir dengan menyegelnya mungkin itu akan melindunginya, tapi mungkin bapak juga tidak tahu jika Fluch itu akan lebih bermanfaat lagi jika tidak disegel, bermanfaat bagi Bert, mungkin juga bagi orang yang membutuhkan. Siapa tahu kemenafaatan itu akan lebih besar setelah bapak melepas segelnya. Ya maaf, kita para anak kecil ingusan ini seolah-olah ingin mengajari bapak, tapi bukan itu maksud kami."


" Tidak-tidak, tidak apa. Kalian ada benarnya juga. Kalau begitu, baiklah akan bapak lepas segelnya, tapi dengan satu syarat gunakan dengan baik. Jangan menggunakannya jika mengancam nyawamu sendiri." Pesan Bapak pada Bert.

__ADS_1


" Satu hal lagi pak, izinkan kami mengajak Bert berkunjung ke Academy Firexgard." Ucap Zays.


" Untuk apa kalian kesana. Lagipula mereka akan mengusir Bert sebelum melangkahkan kaki ke gerbang Academy." Imbuh Ayah Bert


" Bert Kamilah yang membawanya, jika mereka menerima kami, maka mereka juga haruslah menerima Bert. Apakah bapak tidak yakin mereka akan menerima kami? Terlebih berita tentang kami sudah tersebar di telinga mereka. Apakah bukan suatu kehormatan bagi mereka jika kami mampir untuk unjuk kebolehan kami disana?." Tanya Zays bertubi-tubi untuk meyakinkan Ayah Bert.


" Ya. Ya. Baiklah tapi ingat, kalian harus bisa mengawal diri kalian." Pesan Bapak pada mereka


" Besok pagi kalian bisa pergi kesana, sekarang sudah larut, kalian bisa tidur sekarang." Imbuh Bapak.


Sementara Mereka beranjak tidur, Varendra masih segar terbangun karena dirinya sudah tertidur cukup lama.


Zays pun masih terjaga, mengerti jika kakaknya pasti tidak bisa tertidur lagi, ia sengaja tidak beranjak melelapkan matanya.


" Kak, boleh kita keluar sebentar." Tanya Zays yang menyelipkan permohonan pada Varendra.


" Kenapa kamu belum tidur. Untuk apa mengajakku keluar?."


Zays menarik tangan Varendra yang juga memaksanya keluar menuju depan pintu rumahnya


" Apa yang mau kamu bicarakan, apakah sepenting itu?." Tanya Varendra.


" Bagimu hal yang akan aku bicarakan ini tidak penting. Jangankan penting, dalam kamusmu tidak ada kata yang membuatmu merasa 'penting', tidak dalam kamusmu. Tapi bagiku ya. Sangat penting." Ucap Zays.


" Jangan bertele-tele. Apa yang coba kamu bicarakan? Apa maksudmu?." Tanya Varendra


" Apa yang terjadi padamu sebenarnya?." Tanya Zays


" Aku? Apa yang terjadi padaku? Ya, seperti inilah aku. Tidak ada hal yang berubah sejak kau mengenalku." Ucap Varendra

__ADS_1


" Selalu selalu dan selalu seperti ini. Percuma aku bertanya kepadamu dan berharap mendapati sebuah jawaban. Hahh, Zays Zays bodoh, memang adikmu ini benar-benar bodoh, Yang selalu menaruh harapan.


" Jika saja kakakku bercerita padaku. Jika saja kakakku meminta pendapatku, jika saja ia jujur padaku. Jangan-jangan, itu terlalu berat buatmu. Jika saja aku ini sedikit saja lebih pintar sesuai keinginan kakakku, jika saja hatiku ini tidak meleyot seperti yang diharapkan kakakku, jika saja aku benar-benar pantas menjadi adikmu, jika saja aku tidak bodoh, pecundang, mungkin kamu tidak melakukan semua ini padaku. Bukan bukan (sambil menggerakkan satu telunjuk jarinya), ini semua bukan salahmu, ini semua salahku." Ucap Zays.


__ADS_2