
Kepingan Kristal Zero yang mereka cari di dunia Xlyvroye merupakan kepingan dengan elemen angin. Varendra dan yang lainnya masih mengudara mencari jejak keberadaan kepingan tersebut, yang pastinya dapat dengan mudah dilacak melewati besarnya gelombang angin yang mereka terima.
Varendra memperlambat lajunya, karena semakin ia mendekat, Varendra dan yang lainnya merasakan kecepatan angin yang semakin tinggi, durasi angin pun semakin lama, dan panjang Fetch semakin panjang.
Ada sesuatu yang teramat kuat menyerap mereka, membuat mereka Mengikuti arus daya serap itu, sengaja Varendra menyuruh yang lainnya untuk tidak melawan arus itu, agar ia tahu apa yang akan terjadi dan apa yang harus ia lakukan, untuk bertindak akan lebih baik memahaminya dulu bukan?. Benar saja, mereka berada tepat di atas cahaya hitam seperti yang sebelumnya mereka lihat, dan sudah pasti itulah kepingan yang mereka cari.
Aura badai roh semakin kuat, pusaran angin perlahan muncul yang semakin lama bertambah pula kecepatannya. Varendra dengan Fluch Elang Peregrine nya mengikuti arah arus pusaran yang searah dengan jarum jam dan mengimbangi kecepatan pusaran itu. Setelah mampu mengimbangi kecepatan Fluch nya dengan kecepatan roh pusaran angin, Varendra menambah kecepatannya melebihi pusaran angin itu sendiri.
1× lebih cepat
2× lebih cepat
3× lebih cepat
Setelah dirasa cukup untuk mengalahkan kecepatan pusaran angin menjadi 3× lebih cepat, segeralah dengan sergap Varendra memutar arah berlawanan jarum jam, yang secara otomatis mengunci dan melemahkan pusaran angin roh yang saling beradu bertubrukan satu sama lain.
Varendra segera menekan pusaran badai roh, menekannya mendekati permukaan tanah, yang semakin rendah semakin padat.
Saat pusaran badai roh itu berhasil ditekan, tidak disangka bahwa badai roh itu belum lenyap, malah lebih buruknya lagi berpindah pada diri si pemegang Fluch (Varendra).
" Aaaaaaaaaarrghhhh." Teriak Varendra dengan lantang tanpa sedikitpun suara ditahan (loss).
Varendra di terjang badai roh di dalam dirinya, yang bahkan melampaui untuk dikendalikan oleh sistem kendali dirinya sendiri.
Pada kejadian ini, walaupun Zays tidak di segel, tetap saja, karena Varendra menyegel Fluch Zays, jadi saat mereka bekerja sama menaklukan roh, hanya Varendra yang merasakan sakitnya, penggabungan Fluch Varendra dan sistem kendali mereka berdua hanya berdampak pada nyawa Varendra. Itulah yang harus Varendra tanggung karena menggabungkan Fluch dan sistem kendalinya.
" Aku menginginkan darahmu!. Kamu sudah berani mengganggu kami, kami menginginkan darahmu, wahai tuanku, jadilah pemimpin kami." Ucap Roh itu dalam diri Varendra yang mampu di dengar oleh Varendra sendiri.
Badai roh itu menyerap darah Varendra secara perlahan, semakin di serap Varendra akan semakin kehabisan darah. Hal itu mampu membuat Varendra mati kehilangan nyawanya, dan tubuhnya dengan mudah menjadi sarang roh kegelapan dengan roh Varendra menjadi Raja penguasa kegelapan. Itulah hal yang akan Varendra hadapi jika ia tidak mampu menghadapi Roh didalam dirinya.
Varendra masih bisa melawan dengan separuh kesadaran diri yang ia miliki. Ia mengeluarkan Fluch Rajawali, mewujudkan satu bulu Fluch Rajawali dan mencabutnya. Satu helai bulu itu seperti pedang tajam setelah diwujudkan. Segera Varendra melemparkan ke hadapan Zays.
__ADS_1
" Zaysss. Ambil darahku!."
" Jangan Zays!."
Dalam satu diri Varendra terdapat dua keinginan, Zays memikirkan mana yang sebenarnya diinginkan oleh kakaknya.
" Ambil dan letakkan darahku pada kepingan itu!."
" Dengan begitu Aku menjadi penguasa kegelapan."
Lagi-lagi dalam satu ucapan Varendra terdapat dua keinginan, Zays tidak tahu mana keinginan kakaknya. Dalam kepanikan, Zays mencoba berfikir kembali, mengamati pedang bulu yang di lempar oleh Varendra.
" Sungguhan?. Tidak pernah kakak mewujudkan Fluch menjadi benda nyata. Apakah ini rekayasa roh itu agar aku mengambil darah kakak dan menjadikannya penguasa?." Batin Zays
" Tidak!. Aku tidak akan mengambil darah kakakku, ini pasti rencanamu!." Teriak Zays pada sesuatu dalam diri Varendra.
Baru Zays tersadar dan terfikir jika perwujudan Fluch itu mengandalkan sistem kendali fikiran, sama seperti ayahnya. Bahkan roh sekalipun tidak bisa mengendalikan sistem kendali dalam diri Varendra, kecuali diri Varendra sendiri
" Jangan adikku, aku sayang padamu, apa kamu mau membuatku terluka?."
Varendra dengan segala upaya melawan pengaruh Roh dalam dirinya untuk dapat berbicara dengan Zays. Untuk dapat berbicara bukanlah hal yang mudah, mengingat diri Varendra yang semakin lama semakin lemah karena di serap.
Zays semakin yakin apa yang diinginkan kakaknya melalui ucapan kakaknya.
Zays maju menggores lengan kakaknya, dan darah yang menempel pada pedang itu, Zays teteskan pada kepingan Kristal Zero. Badai roh kembali ke kristal Zero semula, dengan tenaga yang tersisa, Varendra menyegel roh pada kepingan itu.
" Apa kamu baik-baik saja?." Tanya Zays yang cemas
Varendra menengilkan kepala Zays
" Apa isi dalam otakmu itu. Kalau kamu terlambat sedikit saja, aku sudah kehabisan darah." Ucap Varendra yang lemah tapi ia paksa untuk mengomeli Zays.
__ADS_1
" Darah?." Tanya Zays
" Ya. Kamu fikir darah yang kamu ambil ini yang aku maksud?. Roh itu menyerap darah dalam diriku. Dasar bodoh!." Ucap Varendra yang bahkan masih belum puas memarahi Zays walaupun kondisinya lemah.
" Lalu, kita apakan dengan kristal itu?." Tanya Minerva yang masih terlindungi oleh pelindung blazart yang di buat oleh Zays dan Varendra
" Roh itu menginginkan darahku. Elemen yang tersimpan dalam darah adalah bahang panas, jadi kamu pun tahu harus memadamkan dengan elemen apa. Cepat lakukan!." Perintah Varendra pada Zays
Zays mengendalikan sistem kendali dalam dirinya untuk menyerap air dari sumber perairan terdekat dan mengarahkannya pada kristal itu. Tapi aura hitam itu tidak pudar.
"Roh itu menginginkan darah dalam 'diriku', jadi gunakan juga air pada 'dirimu' dengan sistem kendali mu." Ucap Varendra pada Zays
" Jadi, aku harus mewujudkan air melalui sistem kendaliku?." Tanya Zays kembali
" Ya. Bukankah kamu juga pernah mewujudkan angin besar dengan sistem kendali mu untuk menyapu halaman sekolah? Juga untuk menyebrangi gerbang sekolah?." Tanya Varendra yang sekaligus menyindir Zays.
" Aku tidak mewujudkan, melainkan mengendalikan angin dari alam, lagipula bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu." Tanya Zays
" Melihatmu bersama Fedric yang sudah kuduga niatnya sedari awal, apa bisa aku melepaskan pandanganku dari kalian berdua?. Dan asalkan kamu tahu, kamu bukan mengendalikan elemen angin dari alam, bukan yang sudah ada. Tapi kamu mewujudkan angin dari dirimu sendiri, menciptakan angin dari sistem kendali mu sendiri." Jelas Varendra.
" Bagaimana kamu bisa tahu?, dan bagaimana itu bisa terjadi? Padahal aku berniat untuk mengendalikan bukan mewujudkan." Terang Zays
" Aku dan kamu saudara kembar, terlebih dari kedua orang tua hebat, apa kamu tidak merasakan ada ikatan besar diantara kita berdua?." Terang Varendra.
" Iya, aku tahu. Ikatan darah bukan? Ikatan batin ? Ikatan fikiran?."
Varendra tersenyum kecut pada Zays yang belum mengetahui perhubungan apa yang mereka miliki.
" Bukan. Ikatan mulut." Elak Varendra
" Maksudmu?." Tanya Zays heran
__ADS_1
" Kita terus beradu mulut, jadi hanya itulah perhubungan kita berdua, sebatas ikatan mulut." Jawab Varendra yang beralasan untuk menyembunyikannya dari Zays.