
" kek, terimakasih banyak sudah membantu kami, kami tidak akan pernah lupa atas kebaikan kakek,
berkat kakek, kami berdua bisa mengaktifkan kekuatan Ibu dalam diri kami, ini sangat berarti untuk mengalahkan Dark Fluch Pro-Master, dan kami juga akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menemukan penawar itu". Ucap Zays sembari memeluk kakek.
" Rendra juga senang.. ( menghentikan perkataannya)
Senang bisa terlepas dari kuping gajah ini". Seru Varendra sembari menyilangkan kedua tangannya dan mendongakkan kepala.
" Kakek melakukan semua ini bukan untuk kalian saja, tapi juga untuk diri kakek sendiri, dan untuk mereka semua yang sedang membutuhkan penawar itu".
" Kakek hanya bisa membantu semampu kakek, selebihnya kalian yang akan menghadapinya sendiri. Kalian harus hati-hati, dan kalian juga pasti tahu kalau di luar sana setiap Dark Fluch itu berbeda-beda kekuatan yang dimilikinya, sama seperti di dunia kalian, untuk dapat mengalahkannya harus mencari titik kelemahannya dulu, dan pesan kakek... jangan langsung menerjang lawan, Ingat! kakek katakan sekali lagi jika itu bunuh diri. Jadi, kasih dia umpan dulu, pancing lawan, dan perhatikan apa kekuatan yang dimiliki dan cari titik kelemahannya sesuaikan dengan kendali dalam diri kalian, tidak semua Dark Fluch bisa dikalahkan dengan cara dan kendali yang sama, jadi selama kalian mencari titik kelemahannya, terus pancing dia, Ingat, jangan langsung beradu antar kekuatan, karena itu sangat merugikan kalian, kalian unggul dalam sistem kendali, tapi mereka unggul dalam kekuatan. Jika kalian sudah menemukan titik lemah, kemenangan ada di tangan kalian, tapi jika belum, berhati-hatilah karena Kekuatan Pro-Master jauh melebihi para Master. Tapi, menurut Kakek mungkin saja kolaborasi antara sistem kendali (Dewa-Master) dan kekuatan Fluch Pro-Master ( Harimau) yang baru kalian miliki, itu bisa dijadikan senjata awal untuk kalian".
" Apa kalian sudah mengerti dengan semua perkataan kakek?"
" Iya kek". jawab mereka bebarengan
" Kami akan lakukan sesuai dengan arahan kakek" imbuh Zays.
....
Mereka berempat bergegas meninggalkan Kakek, setelah sekiranya mereka melangkah 10 meter dari pintu rumah kakek, Varendra terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, Varendra memutarkan tubuhnya kembali menuju rumah Kakek.
" Kalian tunggu sini!! ada barang yang tertinggal". Teriak Varendra sembari lari menjauhi mereka.
Varendra masuk kembali menemui kakek, dan yang lainnya menunggu di luar rumah.
__ADS_1
" Kekkkk!!!". Masih dengan teriakan Varendra dari depan pintu masuk.
Varendra berlari menuju tempat kakek berada dan langsung menemui kakek yang tengah berdiri, dekapan itu membuat Varendra teringat pada kakek yang mengasuhnya, dekapan hangat yang dirasakan Varendra sama seperti saat ia memeluk Kakek asuhnya. Tapi ya ada bedanya juga. Jika dengan Kakek asuhnya, Varendra mendekap melingkari punggung. Berbeda dengan kakek raksasa yang hanya mampu mendekap hujung jari jempolnya saja. Kakek mengangkat Varendra dengan telapak tangannya.
" Kenapa kamu memaksa melawan dirimu sendiri nak?". Suara lembut yang penuh belas kasih dan perhatian terlontar dari kakek tua raksasa, kata-kata yang tak jarang ia dengar dari Kakek asuhnya, yang juga penuh kehawatiran dan penuh prihatin setiap berbicara dan menatap mata Varendra.
" Kamu anak baik, kakek tahu itu, dan kakek percaya padamu. Tetapi kenapa kamu memperkenalkan dirimu dengan cara yang buruk?"
" Apa yang sebenarnya kamu inginkan?". Tanya kakek dengan nada yang lembut
Varendra menunduk, diam untuk sesaat. Ia memberanikan mengangkat kepalanya dan menatap mata kakek.
" Karena aku menginginkan seseorang seperti kakek. Seseorang yang tulus padaku. Tidak peduli dengan cara apa aku berbuat, tapi kakek tetap Sudi mempercayaiku. Tapi bukan itu. Aku tidak meminta dipercayai oleh mereka, oleh siapapun, termasuk kakek. Aku tidak menginginkan apa-apa dari mereka, bahkan sebuah kepercayaan sekalipun. Karena bukankah dengan begitu mereka tidak akan kecewa denganku?. Ya. Mereka lihat perbuatanku, dan cukup tahu sebatas itu, dan hanya satu kata dari mereka untuk menggambarkan ku. "buruk". Banyak kata pun tak masalah. "jahat", "sombong", "egois", "pemarah" ,"pembohong'. Ya karena itulah yang aku coba perlihatkan pada mereka. Aku tidak ingin munafik pada diriku sendiri, memberikan mereka setitik kepercayaan semu yg memperlihatkan satu kebaikan untuk dapat simpati, dipuji, tapi entah berapa ribu keburukan yang disimpan. Aku tak mau itu terjadi padaku. Ya, aku munafik pada diriku sendiri, tetapi setidaknya bukan untuk mereka. Bukankah aku pemberani kek? Sangat pemberani?. Semua orang menjauhi jurang, tapi aku menerjang jurang itu, jadi, takut apa aku kalau mereka mau menganggapku gila. Karena itulah aku, dengan caraku sendiri".
" Apapun yang mau kamu lakukan, lakukanlah...., kepercayaan itu tidak datang dua kali, jadi jangan coba-coba menghancurkannya, jangan kecewakan kakek, kamu dengan caramu sendiri, tapi ingat! Untuk tujuan baik".
" Jangan kek!, Soal hadiah itu, kakek pasti tahu itu hanya pura-pura saja".
" Kakek berikan ini bukan karena permintaanmu. Tapi karena permintaan Kakek. Sebab kakek tahu sifat hatimu".
Memberikan sebuah kantung coklat yang entah apa isi didalamnya.
" Dan ini hanya berguna untuk satu kali saja, bukalah saat kamu memang benar-benar membutuhkan bantuan, jika kamu meminta bantuan yang bukan satu hal yang sangat mendesak, itu tidak akan berfungsi. Ingat! untuk dirimu sendiri, bukan untuk orang lain".
" Baik kek. Terimakasih". Mengambil kantung itu dari tangan kakek.
__ADS_1
Varendra kembali menghampiri teman temannya, sembari memegang kantung coklat pemberian kakek.
" Apa ada yang ketinggalan di dalam?" Tanya Zays sambil memperhatikan kantung kecil yang dibawa kakaknya, karena setahu Zays mereka tidak membawa apapun selain sebuah peta.
" Ya".
"Apa kalian lupa kalau aku akan mendapatkan hadiah dari kakek, dan saat aku tidak membawa hadiah itu, jelas lah aku menagih kakek, kalian lupa?.. untunglah aku tidak pikun seperti kalian."
" Dasar gak tahu malu. Apa yang kamu minta? Uang? Emas?". Tanya Minerva menohok.
" Wahh, kalau iya boleh dong kita ditraktir". Sahut Vivena
" Enak saja. Emas dunia tengu pun tidak sekecil ini, lagipula, kamu bawa banyak uang, tidak habis jika dihabiskan sendiri". Jawab Varendra
" Apa isi didalamnya kak?"
"Mana Aku tahu". Sambil mengangkat bahunya
" Udah, jangan cerewet, nggak usah kepo. Ayo pergi dari sini. Apa kalian mau kuping kalian seperti gajah lagi?". Sambung Varendra untuk memotong topik pembicaraan.
Mereka menyusuri tengah hutan yang gelap, karena daun-daun yang lebat dan besar menutupi sinar matahari
" Kak apa sekiranya Fluch elang kakak bisa menembus dunia Broomsbrom?". Tanya Zays.
" Kenapa tidak kamu gunakan Fluchmu sendiri."
__ADS_1
" Oh ya Zays, Fluch mu ada dalam diriku, kamu bisa kan menggunankan sistem kendali untuk mengambil Fluch punyamu sendiri?". Tanya Minerva.
" Bisa saja, tapi jangan. Biarkan Fluchku ada padamu dulu. Setidaknya dengan Fluchku yang sama dengan kakak yang ada dalam dirimu, bisa bantu mengacaukan fokus Dark Fluch, sementara ada kakakku yang memiliki Fluch yang sama denganku. Cukup kakak saja yang memegang Fluch itu. Kan kita menggunakannya dengan kerjasama, bukan begitu kak?".