
setahun telah berlalu, aku masih betah bekerja di perusahaan awal pertama datang ke kota ini. selama setahun aku sudah memberikan beberapa design yang cukup laku di pasaran, pendapatan yang ku peroleh dari setiap penjualan produk juga lumayan. saat ini posisi ku bekerja sudah pindah ke bagian wedding dress, aku juga sudah di angkat sebagai karyawan tetap, benar benar pencapaian yang luar biasa menurutku. ternyata memiliki bakat atau tidak itu tidak menghalangi kesuksesan asal gigih dalam prosesnya semua pasti terbayar dengan pantas.
" mbak dara hari ini kita akan pergi ke daerah z untuk mengantarkan gaun pengantin ya, akhirnya aku bisa naik pesawat juga," pekik intan dengan semangat sambil melompat ketika mengucapkan kata semangat.
" kamu kayak GK pernah lihat pesawat Tan, padahal bandara gak terlalu jauh." ucapku sambil menggelengkan kepala.
" lihat ya pasti pernah lah mbak, naiknya yang GK pernah" ucap intan sambil mencebik
" kira kira kita berapa orang yang akan ke sana?" tanya ku padanya sambil menoleh ke arahnya
" kita ada sepuluh orang deh mbak kalo gak salah," terang intan sambil mengernyitkan dahi nya.
" kok banyak banget sih? kan cuma mengantar gaun aja, berdua cukup lahh" tanya ku padanya.
" kan sekalian kru WO mbak, sisanya paling ambil part time dari sana. kita cuma tim inti saja" jelas intan padaku.
ya intan dan aku sama sama pindah ke bagian wedding. sambil bekerja kami juga mengambil private online untuk design baju dan jahit. pengorbanan yang tidak sia sia.
tak terasa waktu keberangkatan kami telah tiba, intan begitu semangat saat masuk ke pesawat tadi, dia sibuk menatap keluar jendela. sementara aku jangan di tanya, aku malah mengantuk dan memilih tertidur.
akhirnya kami pun telah sampai di bandara. ternyata dari bandara menuju daerah yang kami tuju lumayan jauh juga. butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke sana. beberapa saat kemudian kami telah tiba di lokasi yang akan di adakan acara wedding.
aku melihat dekorasi pesta yang benar benar wahh, mewah dan elegan. baru aku ketahui ternyata orang yang mengadakan acara pesta merupakan orang terhormat dan tentunya orang terkaya di daerah sini. tentu saja dia tak perlu memikirkan berapa biaya yang akan di keluarkan. untuk mengontrak wo tempatku bekerja saja butuh biaya yang mahal. belum lagi untuk biaya perjalanan kami. hartanya mungkin gak habis tujuh turunan. atau mungkin sepuluh turunan kali yaa... pikirku.
kami juga di sambut dengan sangat ramah, besok acara nya seharian penuh. penata rias, aku dan intan langsung di arahkan menuju sebuah ruangan yang akan di gunakan untuk menghias pengantin besok pagi. besok khusus untuk acara pengucapan janji suci yang dilakukan sepasang anak manusia yang sudah terikat jodoh, lusa adalah acara resepsinya. ruangannya cukup luas, cukup untuk beberapa orang yang sekalian untuk di rias,
aku menata baju baju yang akan di gunakan besok. aku belum melihat pasangan pengantinnya, ketika mencocokkan baju pengantin, aku dan intan tidak ikut untuk membantu. hanya dengan bos, designer dan spv di bagian ku saja.
" dara coba kamu tanyakan ke yang punya pesta, untuk atribut yang di gunakan dalam acara adatnya sudah tersedia atau belum, soalnya sesuai kesepakatan dengan mereka, mereka yang akan menyediakan atribut untuk acara adat. " jelas mbak ayu padaku, ya mbak ayu adalah spv tempatku bekerja. yaitu di bagian wedding.
" baik mbak, oh iya nama klien kita siapa ya mbak?aku lupa!" tanyaku sambil cengengesan.
" oh iya aku belum kasih tau ya, namanya BPK Hartono, kalau ibunya ya panggil ibu Hartono saja. ujarnya sambil kembali menekuni pekerjaannya
__ADS_1
" ok mbak boss...." seruku.
aku meninggalkan ruangan tersebut, aku bertanya pada beberapa orang yang mana orang bernama bapak Hartono itu. mereka pun kemudian menunjuk seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah di usia senjanya.
" permisi pak" sapa ku sambil tersenyum ramah pada pria tersebut.
" ada apa" tanya nya to the poin lengkap dengan wajah datarnya
mengesalkan pikirku.
" maaf mengganggu waktu anda,sesuai dengan kesepakatan yang sudah di sepakati mengenai atribut untuk upacara adat, apakah saya sudah bisa mengambilnya pak?" tanya ku tegas dan to the poin sambil menatap matanya.
dia tidak langsung membalasnya, dia malah menolehkan wajahnya kesamping untuk bertanya pada seseorang yang bediri tepat di sampingnya.
" Ardi berikan padanya" perintah nya,
( orang yang arogan ternyata ,rutukku dalam hati)
" permisi pak" ucapku tegas dan juga sopan.
" hmm ..." gumamnya pelan.
aku bergegas mengikuti pria tersebut. meninggalkan pria paruh baya yang super jutek itu. huh... sekalinya ketemu klien besar orangnya jutek amat ya, gak ada ramah ramah nya. aku menggerutu kesal dalam hati.
tak lama kami telah sampai di ruangan tersebut.
dia menyakan pada seseorang yang aku tidak perduli entah siapa, tapi wajahnya berubah panik. kemudian dia mengangkat telp dan terlihat marah marah, kemudian berjalan cepat hampir berlari ke arah tempat kami pertama kali bertemu, aku hanya mengikuti saja dengan kecepatan langkah ku, dari pada berlari bisa bisa aku jatuh dan malunya jangan di tanya. pikirku.
kulihat dia berbicara dengan pak Hartono. sepertinya dia terlibat pembicaraan serius, dari mimik wajahnya yang terlihat tegang dan merah menahan amarah. pak Ardi kemudian berjalan menuju keluar, sementara aku hanya berdiri seperti orang hilang yang di tinggalkan di keramaian. sambil melihat kiri kanan. " benar benar menyebalkan, tau gitu mending mbak ayu aja yang ke sini" dumel ku sendiri.
tak berselang lama seorang pria paruh baya datang bersama dengan pak Ardi, dia langsung menuju ke arahku.
" mbak dara, bisa saya minta tolong untuk ikut dengan bapak ini mengambil perlengkapan tersebut? tanya nya dengan nafas yang sedikit tersengal.
__ADS_1
" maaf pak tapi saya kurang tau apa saja atribut yang di perlukan sesuai dengan permintaan keluarga bapak" tolak ku secara halus.
" ini ada list-nya mbak. dan pak Indra juga mengerti soal ini, saya tidak bisa meninggalkan acara karena saya yang bertanggung jawab dengan acara ini, maaf atas keteledoran saya mbak. sekali lagi saya minta tolong" mohon nya dengan wajah memelas.
" hah... baiklah, tapi aku harus berpamitan pada atasanku dulu" jelas ku padanya
" baik lah mbak dara, terimakasih atas bantuannya, nanti setelah berpamitan langsung berangkat saja dengan pak Indra" jelasnya
" pak tolong bantuannya ya pak," dia menoleh ke arah pria tersebut sambil memelas.
" ok Ardi" jawabnya
aku melangkah menuju ruangan di mana mbak ayu dan intan berada, aku menjelaskan sebentar permasalahan yang sedang terjadi.
mbak ayu menghela napas berat dengan wajah penuh kesal.
" kamu hati hati ya dara. kalau ada apa apa kabarin mbak atau intan." ucapnya sambil menepuk pelan bahuku.
" kok bisa sih sampai belum di ambil. padahal kan kemaren aku sudah pastiin loh mbak, aku sudah telepon dan mereka bilang akan di jemput. " sembur intan dengan wajah merah padam menahan kesal
" namanya juga musibah Tan, setiap urusan pasti ada kendala yang terjadi. jelas mbak ayu.
" kalau gitu dara berangkat dulu ya mbak, intan" pamit ku pada mereka berdua
" iya hati hati. ucap mereka bersama.
aku bergegas menuju keluar menghampiri pak Indra.
" ayo pak kita berangkat hari juga sudah mulai gelap" ajak ku pada pak Indra.
" baik mbak, tapi kita menggunakan sepeda motor ya mbak biar cepat" jelasnya kemudian.
kami berangkat menuju ke tempat pengambilan atribut adat tersebut.
__ADS_1