
satu minggu sudah aku dan bang angkasa berada di kampung halamannya, apa yang aku rasakan saat ini benar benar sangat menyakitkan untukku, aku merasa suamiku berubah menjadi dingin padaku, setiap pertanyaan yang aku ajukan selalu di jawab dengan singkat, perhatian yang ku berikan hanya di anggap angin lalu. tanpa menanyakan dan menjelaskan apa pun padaku dia mendiamkan ku. sederet pemikiran buruk mulai terlintas di benakku dan aku mulai mengatur strategi untuk kehidupanku kedepannya. jika dia menginginkan pisah maka aku akan mengabulkannya, pernikahan yang seumur jagung akankah kandas hanya karena masalah ini. hal ini bermula sejak dua hari yang lalu
flashback
pagi ini aku bangun lebih dulu dari suamiku, ku lihat dia masih tertidur dengan pulas. aku mengecup nya sekilas dan berusaha melepaskan rengkuhannya, ku lihat jam yang tertempel di dinding tepat pukul empat lebih tiga puluh pagi, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka ku kemudian aku menuju dapur, pagi ini aku merasa sangat lapar sekali, entahlah akhir akhir ini aku jadi sering lapar dan jika tak langsung makan maka asam lambungku langsung naik aku jadi sering merasa mual.
" pagi bi Minah" sapa ku pada Bi Minah yang ternyata mengagetkanku.
" ya ampun bibi kirain siapa pagi pagi begini ada di dapur, nona muda buat bibi kaget saja. untung bibi punya jantung bukan buatan cina non." ucap Bi Minah bercanda
" ah si bibi bisa saja" balasku tersenyum.
" oh iya non mau apa ke dapur pagi pagi begini?"
" aku laper bi, ada yang bisa dara makan untuk ganjel perut sampe jam sarapan gak bi?" tanyaku sambil tersenyum malu
" ya ampun si non kayak ibu ibu hamil saja jam segini minta makan" candanya
" doakan saja Bi, semoga angkasa junior cepat hadir" ucapku dengan harapan yang besar. memang sudah hampir dua bulan tamu bulanan ku tak kunjung hadir, tapi karena periode tak pernah datang tepat waktu aku selalu tak menggubrisnya, tapi memang akhir akhir ini mood ku selalu naik turun dan nafsu makan ku juga memang tak bisa terkontrol. aku mengusap perutku pelan sambil melantunkan seuntai doa dalam benakku semoga aku di berikan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu.
" amin, bibi doakan semoga si kecil cepat hadir agar den Randy ada temen mainnya" ucap Bi Minah dengan senyum menyejukkan hati.
" makasih ya Bi"
" ini ada makanan sisa tadi malam non, apa non mau, atau mau bibi masakin nasi goreng saja?"
" gak usah bi, ini saja sudah cukup kok"
" sebentar biar bibi panaskan dulu ya non"
" iya Bi Minah yang cantik"
"ah si non kalau datang selalu saja goda in bibi,"
Bi Minah mulai memanaskan makanan sisa semalam, sebenarnya aku tak mau merepotkannya, tapi dia pasti melarang jika aku memanaskannya sendiri. aku tak mau dia tersinggung.
__ADS_1
" ayo non makannya di meja makan saja" ajak bibi sambil membawa nampan berisi makanan.
" gak usah bi, dara makan di sini saja, kalau di sini dara jadi ada temannya, gak sendirian di meja makan" ucapku mengambil nampan tersebut.
aku berjalan ke arah meja yang ada di dapur, biasanya tempat makanan yang selesai di masak di letakkan di sana sebelum di bawa ke meja makan.
aku menikmati makananku, dan tak butuh waktu lama makanan ku sudah habis, aku beranjak untuk mencuci piring dan gelas yang sudah ku gunakan, aku tak menghiraukan bi Minah yang melarang ku, kami bercerita panjang lebar di dapur, mataku sudah segar dan tak berniat untuk tidur. ku lihat jam ternyata sudah pukul enam pagi.
" bi..dara ke atas dulu ya Bi, kayaknya si Abang sudah bangun deh" ucapku pelan
" ok non" jawabnya sambil memberi tanda ok dengan gerakan tangan.
aku tersenyum dan berlalu dari dapur. saat menaiki tangga aku melihat nek Ratmi nenek dari suamiku ibu dari mertuaku laki laki yang melangkah turun.
" pagi nek" sapa ku ramah
" hm.." jawabnya hanya gumaman.
aku kembali akan melanjutkan langkahku.
" hah... bukankah nenek sudah mempunyai cicit dari kak Anisa" tanyaku pelan. aku sedih ini benar benar menyakitkan
" aku ingin cicit dari cucu lelaki ku keturunannya yang akan meneruskan keluarga ini, jangan jadi orang egois kamu" ucapnya pelan tapi itu seperti jarum yang menusuk relung hatiku.
" bukankah nenek yang egois, bagaimana bisa nenek meminta seorang istri untuk memberi ijin suaminya untuk menikah lagi, di mana hati nurani nenek sebagai sesama wanita" tanya ku dengan air mata
" kamu setuju atau tidak aku akan tetap menikahkan angkasa dengan Arum dan kamu tak boleh menolak" tegasnya bahkan tak menoleh sedikitpun padaku
" apa salah ku sampai nenek benar benar membenciku?
" salahmu karena kau seorang ja**Ng, dengan cara rendahan kau menjebak cucuku agar menikahi mu" umpatnya padaku, sungguh ini benar benar penghinaan untukku, aku menjaga kehormatan ku hanya untuk suamiku teganya dia yang seorang wanita merendahkan wanita lain.
" jika bukan karena peraturan sialan dan keteledoran keluargamu aku tak akan mengalaminya" bentak ku padanya, aku tak lagi memikirkan bahwa ia orang yang lebih tua dari ku.
" beraninya kamu membentak ku, dasar anak tak tau diri" semburnya keras.
__ADS_1
" jangan pernah mengujiku nyonya, jika anda bisa membuat cucu mu menikahi wanita yang tak tahu malu itu maka dia bukanlah pria yang pantas untukku" ucapku tegas.
" aku akan membuatnya meninggalkanmu perempuan rendah, kau hanya Pela**r rendahan yang menumpang hidup dengan cucuku" tekannya dengan senyum mengejek
" dan wanita pilihanmu lah Pela**r yang sesungguhnya, atau jangan jangan anda juga orang yang sepertinya masuk dan merusak rumah tangga seseorang" tanyaku padanya
dia berbalik dan berusaha untuk menamparku, tapi naas dia tak bisa menyeimbangkan langkahnya dia tergelincir, aku berusaha untuk menggapainya tapi tak sempat. aku diam mematung melihatnya dengan tangan terulur.
" ne...ne..k..." ucap sebuah suara dengan sangat keras yang ku tahu adalah suara bang angkasa
dia berlalu melewati ku yang berdiri mematung di tangga, dan berteriak memanggil supir kediaman ini menyebabkan semua orang keluar dari kamar.
"siapkan mobil cepat" titahnya pada pak Indra yang langsung mengikuti perintahnya
" apa yang terjadi, kenapa ibu bisa seperti ini" tanya ayah mertuaku panik.
" kak ambilkan peralatan ku, aku akan berusaha memberi pertolongan pertama dulu, cepatlah" perintahnya pada kak Anisa yang langsung berlalu ke kamar kami.
aku merasa pandanganku berputar, tapi aku terus melangkah menghiraukan kepalaku yang semakin pusing. perut bagian bawahku juga sangat sakit. dengan pelan aku berusaha turun dari tangga, kak Anisa juga melewati ku, semua sudah ada di lantai bawah termasuk bi Minah.
"a..Abang aku..aku..." aku berusaha menjelaskan
" diamlah Careen Adara" potongnya memutus ucapanku bahkan tak menoleh sedikitpun padaku, ini sungguh menjatuhkan mentalku
aku hanya diam membisu dengan air mata berderai membasahi pipiku, aku menyesal seharusnya aku biarkan saja nenek menghinaku. apa yang telah aku lakukan. semua orang mengabaikan ku, mereka meninggalkanku yang masih mematung.
kepala dan perutku semakin sakit, aku merasakan sesuatu mengalir dari bagian bawah tubuhku, darah...
" ya ampun non, non berdarah" ucap Bi Minah panik
" sakit bi, ini...hah...ini sakit sekali bi" ucapku terbata,
" tunggu di sini non bibi panggil suami bibi dulu kita ke dokter dekat rumah mertua bibi yah gak jauh dari sini, tahan sebentar non" ucapnya panik
aku sudah tak bisa menahan sakit lagi, pandanganku menggelap dan aku sudah tak ingat apa apa lagi.
__ADS_1