
POV author
karena merasa khawatir dengan nona mudanya yang tak kunjung keluar kamar padahal jam sudah menunjukkan waktu pukul tujuh malam, sementara para pemilik kediaman memutuskan untuk menginap di hotel seperti perkataan tuan mudanya.
Minah melangkah memasuki kamar nona mudanya dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas susu. meletakkan nampan tersebut di atas kamar kemudian membangunkan nona mudanya
" non bangun, makan malam dulu" ucap minah pelan
" non ayo bangun non nanti asam lambungnya naik lagi" dengan suara sedikit kencang sambil mengguncang pelan tubuhnya.
" non...non..dara bangun", dengan panik dia memanggil dara sambil membuka selimut. mengguncang kembali tubuh dara.
memeriksa tangan kaki dan juga wajahnya semua dingin padahal AC dalam keadaan mati, bibir itu tampak membiru.
dengan takut Minah mendekatkan telinganya ke hidung dara, masih di rasakan hembusan nafas yang sangat pelan dan tersendat. Minah panik dia berteriak memanggil suaminya.
"bapak bagaimana ini, nona muda.. dia..dia.. tubuhnya sangat dingin. Tel..telepon dokter Mira pak"
tanpa menjawab perintah Minah suaminya langsung menelepon dokter Mira
" halo ada apa Bu Minah" tanya Mira di seberang telepon
" Bu dokter non dara semua badannya dingin, bibir jari tangan dan kakinya membiru, nafasnya juga pelan.
" apa...?" tanya dokter Mira kaget. " bagaimana bisa seperti itu Bu Minah?
" saya tidak tau dokter, apa yang harus saya lakukan" tanya Minah di tengah Isak tangisnya
" Bu Minah tenang saya segera ke sana, peralatan dokter angkasa ada di sana?
" ada Bu, pak tolong ambilkan"
" ambil stetoskop Bu, letakkan di dadanya, ibu pernah melihat dokter angkasa menggunakannya bukan", tanya Mira sambil mempersiapkan perlengkapannya
" tau Bu dokter"
" ibu mendengar suara dug..dug..dug... seperti suara itu" tanya sambil masuk ke mobil dan memerintahkan sopir untuk menuju rumah Hartono.
" saya mendengar Bu dokter".
" bisa ibu hitung sesuai dengan irama detak jantung tersebut" tanya nya memastikan.
" bisa Bu, 1...2...3...4..." Bu Minah menghitung setiap bunyi detak jantung di dengarnya
" cepat pak kita tak punya banyak waktu" ucap dokter Mira panik
" ada apa dokter" tanya Minah panik
" ibu tenang dulu ya, pijat tangan dan kaki nona darah tapi jangan menyentuh perutnya. apa ada darah yang keluar dari inti tubuhnya Bu Minah.
" tidak ada Bu dokter"
", lakukan sesuai perintah saya, dan pastikan suhu ruangan sedikit hangat" jelas Mira.
__ADS_1
setelah memberi instruksi pada Minah dokter Mira memutuskan sambungan teleponnya, tak butuh waktu lama dokter Mira tiba di kediaman Hartono.
mendengar suara mobil suami Minah berlari turun ke bawah sesampainya di pintu utama dia membuka pintu.
" tunjukkan kamarnya pak waktu kita tak banyak, nona dara bisa meninggal dunia" tegasnya sambil berlari mengikuti suami Minah.
dengan cepat mereka tiba di kamar dokter Mira langsung memberikan penanganan pada dara.
memastikan kembali detak jantungnya dan meminta Minah serta suaminya keluar tetapi Minah memilih menjauh dan berdiri tenang, sementara suaminya keluar dari ruangan.
tak lama dara mengalami serangan jantung, dengan sekuat tenaga dan dengan semua pengetahuannya dia berusaha menyelamatkan dara. tak berapa lama kondisi dara sudah stabil,
di sana Minah melihat bagaimana perjuangan dara untuk bertahan dan juga bagaimana perjuangan dokter Mira yang berusaha menyelamatkannya.
" di mana suaminya Minah" tanya Mira geram
" tuan muda angkasa dan keluarga yang lain sedang di rumah sakit dokter, nyonya besar Hartono tadi pagi jatuh dari tangga dan kritis" jelasnya pelan tanpa melepas pandangan dari dara nona mudanya, yang memperlakukannya tanpa memandang profesinya.
" jadi tak ada yang tau dengan kondisinya mulai dari tadi pagi? tak adakah yang pulang walau hanya seorang saja?" tanyanya lagi.
" tadi tuan muda pulang dokter tapi hanya sebentar kemudian pergi lagi, aku tidak tau tuan angkasa tau atau tidak jika istrinya sakit" ucap minah terlihat berfikir
" apa mereka akan pulang,atau tuan angkasa tetap di sana?" tanya Mira memastikan
" tadi tuan mengatakan akan menginap di sana" ucap minah.
" bisakah kamu menelepon salah satu dari mereka"
mendengar perkataan Minah, Mira hanya dapat menghela nafas kasar, keterlaluan sekali pikirnya.
meninggalkan wanita yang sedang hamil dengan kondisi yang buruk. apakah mereka tak cemas, tapi pikiran itu dia tepis lagi, dia lupa bahkan kehamilan dara hanya di ketahui olehnya dan dara sendiri.
" untung saja mereka bisa selamat" gerutunya pelan.
" Minah aku lapar tadi belum sempat makan, tolong antarkan makanan untuk ku dan juga asistenku, aku akan berjaga di sini, kondisinya masih naik turun" jelas Mira sambil terduduk di lantai.
" terimakasih dokter saya juga akan bermalam di sini, saya tak bisa tidur tenang, nanti kita gantian jaga, sebentar saya ambilkan makanan dulu.
Minah berlalu meninggalkan darah yang di mulutnya telah terpasang selang dan juga sebuah pompa udara manual, yang tengah di pompa oleh asisten dokter Mira.
POV berakhir
di mana aku, di sini sangat indah rasanya nyaman sekali, aku melihat banyak kupu kupu yang beterbangan, di tempatku berdiri penuh dengan hamparan bunga dengan berbagai warna.
aku sangat menyukainya karena tak tahan dengan kecantikan kupu kupu yang terbang menuju satu arah aku berlari mengikutinya, semakin menjauh tempatnya bertambah indah, aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang,
mataku menyipit untuk menghalaunya, rasa penasaranku seakan menggodaku untuk berjalan ke arah cahayanya
" dara jangan ke sana sayang, ibu merindukanmu nak, pulanglah bersama ibu" aku menghentikan langkahku, aku berbalik melihat ke arah suara itu, di sana berdiri ibu ayah dan juga saudara ku
" aku ingin ke sana sebentar ibu, aku penasaran" balasku kemudian beralih ke arah cahaya itu
" ate.... unggu... hiks..hiks..hiks..."ahh suara ketiga keponakanku yang manis, aku menghela nafas berat sepertinya aku harus menundanya dulu, mungkin nanti pikirku
__ADS_1
aku berbalik melihat ketiga keponakan ku yang menangis tersedu, uhh... lucunya mereka, wajah mereka yang memerah sungguh imut bercampur dengan air mata lendir dari hidung dan juga air liur,
aku berlari menghampirinya, mereka berontak turun dari gendongan orang tuanya masing masing. berlari terkadang terjatuh tapi tak menyurutkan niat mereka, sampai akhirnya aku berhasil menghampiri Mereke,
segera aku berjongkok merentangkan tangan, tanpa memikirkan apapun ketiga mahluk kesayanganku masuk ke dalam dekapanku, mereka menciumiku,
ini sudah biasa pikirku, ketika di kampung mereka juga langsung menciumi kami para tantenya ketika mereka berhasil di bujuk meski wajar penuh lendir, aku tak jijik.
" anak anak manis kenapa nangis hmm..." tanyaku lembut sambil mengusap wajah mereka dengan tissue yang di berikan oleh adikku,
" ate mo gi dak oleh( Tante mau pergi gak boleh), ucap si jagoan althan bayi yang dulu sempat ku asuh hingga usia dua bulan dan selalu rutin berkomunikasi denganku
sementara ke dua bocah cantikku hanya mengangguk mengiyakan.
" Dede dak oleh awa gi ate (Adek gak boleh di bawa pergi Tante) ucap Mira ponakan Perempuanku yang kecil sambil mengusap perutku
" di cini ada Adek na lona ate hi..hi..hi..( di sini ada adeknya Lona Tante) ucap si kakak Alona sambil tersenyum lucu.
" dara ayo kita pulang nak, ibu sudah masak kesukaanmu di rumah" ajak ibu padaku
aku berdiri di ikuti ketiga krucil kesayanganku.
" iya Bu dara juga lapar he..he.." ucapku sambil cengengesan.
kami berlalu meninggalkan kebun bunga yang indah, masakan ibu benar benar menggodaku.
POV author
sementara di belahan dunia yang lain Alona Mira dan juga althan nangis sesenggukan di rumah masing masing sambil memanggil Tante dara, mereka bertiga menangis kencang dalam tidurnya,
cukup lama untuk menenangkan ketiganya, akhirnya mereka kembali tenang dengan wajah penuh senyuman. sementara kedua orang tua dari mereka mulai merasa gelisah, memikirkan apa yang terjadi.
sementara di rumah dara, ibunya gelisah dalam tidur berulang kali memanggil dara dengan isakan dan air mata
" bangun Bu, Bu ayo bangun" suara bapak dara berusaha membangunkan istrinya
" dara..." teriak ibu dari yang terduduk dengan nafas memburu,
" ada apa Bu" tanya bapak yang mulai gelisah"
" pak telepon dara, ibu bermimpi buruk pak" ucap istrinya.
" tenanglah semua pasti baik baik saja" ucap bapak berusaha terlihat tenang tapi sebenarnya khawatir
" ibu takut terjadi sesuatu pada dara pak"
" bapak percaya dara kuat Bu, dia Puteri bapak dan ibu, bapak tau dia sangat kuat meski terlihat lemah" ucap bapak yakin.
" tidurlah lagi ini sudah jam dua dini hari, dara pasti sudah tidur Bu" ucap bapak berusaha meyakinkan.
kedua orang tua dara memutuskan untuk tidur setelah berdoa memohon agar anak anaknya senantiasa di berikan keselamatan oleh sang pemberi hidup.
POV berakhir
__ADS_1