
aku terbangun dengan kepala yang sangat sakit, aku melihat ke samping ternyata ada suamiku bang angkasa yang tertidur pulas, mungkin dia lelah pikirku, kami tiba di rumah mertuaku pukul 12 siang. kembali aku mengingat sindiran dari nenek serta paman dan bibi dari suamiku, bahwa aku pasti sangat sulit memiliki anak mengingat aku menikah di usiaku yang sudah memasuki usia tiga puluh dua tahun dan saat ini usiaku sudah genap tiga puluh tiga tahun bulan kemarin. mereka terutama nenek bahkan mengklaim bahwa aku tak akan mungkin bisa memberikan keturunan untuk bang angkasa, oleh sebab itu mereka memaksaku untuk mengijinkan bang angkasa untuk menikah lagi. aku merenung apa mungkin aku menyerah saja dalam pernikahan ini, tapi aku sangat mencintai suamiku, dengan membayangkan suamiku menghabiskan malam dengan wanita lain itu sangat menyakitiku.
" apa yang harus aku lakukan bang, aku sangat mencintaimu" ucapku lirih padanya yang sedang terlelap dalam tidur.
aku mengurai pelukannya dari tubuhku karena rasa bergejolak yang mulai kurasakan dari perutku. lepas dari rengkuhannya aku bergegas ke kamar mandi dan mengeluarkan semua yang ada di perutku, aku hanya memuntahkan air saja karena memang aku belum makan siang, aku dan suamiku sarapan pukul lima pagi sementara kami tiba di rumah mertuaku pukul dua belas siang dan karena suatu hal aku sudah tak berselera untuk makan,
" sayang buka pintunya, kamu tidak apa apa kan? apa asam lambung mu naik lagi? jangan membuatku cemas sayang" ucap suamiku dari kamar, dia tak bisa masuk ke kamar mandi karena tadi aku sempat menguncinya
aku membuka pintu, kulihat dia berdiri di hadapanku dengan cemas, ku rasakan tubuhku sangat lemas, tanpa banyak bicara dia menggendongku dan meletakkan ku di tempat tidur, dia ingin beranjak mengambil peralatannya untuk memeriksaku, aku meraih tangannya sebelum dia melangkah
" aku lapar bang, sungguh aku tidak apa apa aku hanya lapar saja" senyumku terukir di wajah yang mungkin terlihat pucat.
" tapi wajahmu sangat pucat sayang, tunggu sebentar Abang periksa dulu yah..
aku menggeleng pelan menariknya duduk di sampingku, memeluknya dan menghirup dengan Rakus aroma tubuhnya, ini benar benar sangat menenangkan. rasa mual ku langsung hilang dan malah di sambut dengan suara dari perutku.
" jadi sayang nya Abang sangat lapar ternyata sampai sampai para penghuni dalam perutmu berdemo ha..ha..ha..." tertawa kencang sekali suamiku ini.
" ishh...Abang tadi kan aku bilang, aku hanya lapar saja" dengan wajah memerah aku kembali memeluknya, menyembunyikan wajahku dalan rengkuhannya.
" baiklah kalau begitu Abang ambilkan makanan yah, kamu tunggu sebentar" dengan mengurai pelukannya dia menatapku sejenak dan mencium keningku
" aku ikut ya bang" wajahku memelas memohon padanya.
" kamu masih lemas sayang"
" please.." ucapku dengan mata berkaca kaca
rasanya aku ingin menangis ketika dia berusaha untuk menahan ku di kamar.
dengan menghela nafas pelan akhirnya dia mengijinkanku. kami melangkah bersama menuju dapur, aku tak tahu sekarang jam berapa. semakin mendekati dapur aku melihat siluet seorang wanita, siapa dia? apa dia salah satu saudara sepupu bang angkasa pikirku, aku melamun dalam setiap langkahku
" loh bang angkasa sudah bangun" sapa sebuah suara seorang wanita yang kulihat tadi, aku seperti mengenalnya tapi siapa pikirku
" kamu masih di sini?" suamiku bertanya dengan nada dingin dan datar sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Arum menunggu bang angkasa bangun" ucap wanita itu,
Arum.. nama itu seperti pernah ku dengar, tapi di mana..? dan juga kapan? daya ingatku tentang orang lain itu sangat minim, aku harus terus melihatnya agar mengingatnya.
" bang dia siapa, kok aku seperti mengenalnya tapi lupa" tanyaku setengah berbisik pada bang angkasa
" aku Arum mantan calon istri bangkasa yang sudah kamu rebut tanpa perasaan" ucapnya sinis padaku.
Degh..
apa maksudnya ini, kami tak memiliki hubungan keluarga dengannya
" Arum,," bentak bang angkasa yang menyadarkan ku dari lamunan.
" ada apa ini kenapa kamu membentak Arum angkasa" nenek Ratmi datang tiba tiba menyela pembicaraan yang tengah terjadi.
" kenapa dia belum pulang nek" ucap bang angkasa dengan nada tinggi.
" bang sudahlah" bisik ku pelan sambil mengusap dadanya berusaha untuk meredam emosinya.
" mengapa kamu berbicara dengan nada tinggi seperti itu angkasa, kami tak pernah mengajarkanmu bersikap demikian" sembur nenek kesal mendengar nada tinggi dari bang angkasa.
" bisa tolong tinggalkan kami nek, aku dan istriku ingin makan, kami belum sempat makan siang sesampainya di sini." bujuk bang angkasa
" salah sendiri kenapa langsung masuk kamar , itu namanya angkuh dan sombong meninggalkan tetua di tengah pembicaraan" sindir nenek sambil menatap ku sinis.
ku lihat bang angkasa akan menjawab nenek kembali tapi aku memperingatinya dengan mengusap punggungnya pelan. bang angkasa kembali menghela nafas dan menatapku sambil tersenyum, dia mengerti maksud dan tujuanku.
" aku lapar bang" ucapku tanpa suara hanya menggerakkan bibirku saja, sungguh aku sudah sangat lapar sekali
" Arum ayo ikut nenek kita kumpul di taman belakang saja" suara nenek memecah keheningan yang terjadi.
Arum dan juga nek Ratmi meninggalkan kami berdua, dengan cepat aku mencubit Pelang pinggang suamiku
" aduh.. sayang itu sangat sakit" dengan mengusap pinggangnya suamiku mengeluh
__ADS_1
" aku sudah lapar Abang sayang" ucapku sambil mengerucutkan mulutku
" mau makan apa my queen" ucapnya dengan ala ala kerajaan
" ha..ha..ha...Abang lucu, jadi pengen cium" ucapku spontan sambil tertawa lepas
tiba tiba dia langsung mendekatkan wajahnya membuatku kaget dan mengatupkan bibirku, kecupan singkat dia berikan untukku dan itu cukup membuatku malu, wajah dan telingaku memerah bak kepiting rebus.
" ah.. semangat Abang jadi nambah sekarang, kamu mau makan apa my queen" ucapnya tersenyum jahil padaku
" nasi goreng, tapi Abang yang masak ya" ucapku sambil membayangkan suamiku yang sedang memasak pasti sangat menggoda pikirku
" siap my queen" ucapnya patuh laksana pengawal kerajaan.
dia kemudian menyiapkan semua bahan masakan yang akan di gunakan untuk membuat nasi goreng, melihatnya yang bergerak lincah di dapur membuatku berfikiran yang aneh aneh, sambil tersenyum sendiri aku membayangkan adegan demi adegan dalam pikiran ku, sampai aku tak sadar pesanku sudah siap. dua piring nasi goreng sudah tersaji di hadapanku. suara piring kaca yang beradu dengan meja makan menyentak ku dari lamunan tentang bang angkasa.
" hayo kamu melamunkan apa sampai wajah mu memerah seperti ini" ucap suamiku sambil mengedipkan mata
sementara aku hanya mampu menundukkan wajah untuk menghindari tatapan matanya yang seperti berusaha masuk dalam pikiranku.
" tak mau mengaku rupanya istri Abang ini, ya sudah ayo makan dulu nanti yang ada di pikiranmu kita lanjutkan di kamar" ucapnya dengan tenang sambil memberikan sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk padaku
tanpa menjawabnya dengan cepat aku meraih nasi goreng tersebut dan melahapnya setelah membaca seuntai doa sebelum makan, tanpa perlu berlama lama nasi goreng buatan suamiku sudah berpindah seluruhnya ke perutku, aku mengarahkan tatapanku ke arah suamiku, dia masih menikmati makanannya Tanpa sadar bahwa makanan yang tersaji di hadapanku sudah tandas. tak tahu mengapa melihatnya makan kembali membuat rasa lapar yang sempat hilang timbul kembali, aku menginginkan nasi goreng yang ada di piringnya, menatap dengan mata berbinar dan tanpa sadar aku berharap semoga saja nasi gorengnya masih sisa.
POV Angkasa
aku seperti merasa di perhatikan, ku lihat istriku sudah selesai dengan makanannya, cepat sekali pikirku, tapi ada yang aneh, tatapan istriku bukan melihat ke arahku melainkan ke piring yang ada di hadapanku. tatapan itu seperti kucing yang bersiap menyantap makanannya, matanya begitu berbinar melihat piringku yang masih berisi setengah porsi nasi goreng, ketika aku mengangkat sendok dan hendak memasukkan kedalam mulutku dia seperti menatap kecewa saat nasi itu sudah berpindah ke mulutku, dia mengikuti setiap gerakan tanganku yang menggenggam sendok.
" kamu mau tambah sayang?" tanyaku memecah apapun yang ada di pikirannya.
dia hanya menggeleng lesu menjawab pertanyaan ku dan menatap sendu pada piring ku.
" hah Abang sudah kenyang, rasanya tak sanggup lagi untuk memakannya, sepertinya tadi Abang membuatnya terlalu banyak" ucapku seperti sedang berpikir berusaha mengingat tentang porsi nasi goreng
" buat aku saja jangan di buang" ucap dara dengan cepat, dan tak perlu waktu lama dia langsung melahap sisa nasi goreng milik ku.
__ADS_1
syukurlah dia kembali ceria dan sepertinya selera makannya sudah bertambah, aku menyukainya, dia memang suka makan tapi porsi makannya masih terbilang wajar, berbeda kali ini, ini bahkan sudah melewati porsi makannya seperti biasa. aku memang sudah tak lapar tapi juga tak terlalu kenyang. melihatnya makan dengan lahap seperti ini memakan masakan ku benar benar membuatku puas. semoga aku selalu dapat membahagiakanmu istriku.
POV berakhir