
Pagi ini aku bangun dengan dengan hati yang gembira, bagaimana tidak gembira ketika sesuatu yang aku harapkan sejak lima tahun lalu telah aku dapatkan sebuah restu dan ijin dari ibuku untuk berangkat merantau. Meski orang orang berkata bahwa ibukota lebih kejam dari ibu tiri aku tak perduli. Ini bukan pertama kalinya aku merantau ke sana.
Tujuh tahun lebih aku merantau di sana. Banyak suka dan duka yang sudah kulalui. penyebab aku pulang dari sana karena cita cita ku kandas di tengah jalan. Dulu aku sempat mengenyam bangku kuliah. hanya sampai semester enam saja. Dengan jadwal yang padat dan pola hidup serta pola makan yang tidak sehat semua usaha ku tidak membuahkan hasil. aku jatuh sakit untuk waktu yang lama, habis kontrak kerja dan tak dapat melanjutkan pendidikan ku kembali. harapanku pupus sudah, itulah yang menyebabkan ku memilih untuk pulang ke kampung halaman ku,agar aku dapat memulihkan kembali kondisi fisikku yang lemah ini.
"Dara apakah sarapannya sudah selesai kamu masak? dan jangan lupa untuk membuat kopi dah teh untuk ibu dan bapak mu" seru ibuku dari depan rumah. " semua sudah selesai aku masak ibu, aku juga sudah menatanya di atas tikar" jawabku kepada ibu yang saat itu sedang mengurus berbagai macam tanamannya di teras rumah. Jangan kalian pikirkan bahwa tanaman yang ku maksud itu merupakan tanaman palawija, itu salah besar. Tanaman yang di tanam ibuku di teras depan rumah ada tanaman bunga hias yang saat ini lagi naik daun. Berbagai tanaman yang hanya memiliki daun tanpa bunga warna warni. Aku selalu berfikir untuk apa menanam tanaman hias jika tak memiliki bunga?.
Tak lama kemudian bapak dan adikku sudah duduk manis di atas tikar, di susul oleh ibu yang menyudahi acara merawat tanaman hiasnya. Kami makan dengan nikmat pagi ini,
hari ini cuaca agak sedikit mendung, mudah mudahan tidak turun hujan, jika hujan turun bapak ku tidak dapat mengambil getah ke ladang karet nya.
Selesai makan adik ku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Adik ku ini berangkat sekolah dengan berjalan kaki. jarak yang di tempuh kurang lebih satu kilometer. Ibuku juga bersiap untuk memberi makan ternak kami.
sedangkan aku mempersiapkan bekal yang akan di bawa oleh bapak ku ke ladang karet. jarak antara kebun karet dan rumah memang tidak terlalu jauh, jika di tempuh dengan kendaraan bermotor, hanya saja bapak ku memiliki kebiasaan buruk yaitu tidak akan pulang ke rumah untuk makan siang sebelum pekerjaannya selesai. terkadang bapak pulang untuk makan siang hampir jam tiga sore, itu adalah waktu yang sangat terlambat untuk makan siang. Itu sebabnya aku selalu membawakan bekal untuknya.
__ADS_1
Setelah bekalnya sudah di kemas bapak langsung berpamitan untuk berangkat ke kebun karet. Sementara aku dan ibuku hari ini hanya di rumah saja. karena panen padi kami telah selesai dari kemaren. " bagaimana dengan persiapan mu untuk berangkat ke ibukota?" tanya ibuku tiba tiba. "Rencananya besok aku akan mengurus surat keterangan dari pihak kepolisian ibu" jawabku pada ibuku sambil mengamati ternak kami yang sedang melahap makan paginya.
"Kapan rencananya kamu akan berangkat nak?" tanya ibuku lagi. " Kemungkinan Minggu depan ibu, aku ingin melihat lihat lowongan kerja dulu di media sosial, siapa tau ada pekerjaan yang aku minati, jadi aku tidak akan lama menganggur di sana". jawabku pada ibuku.
" semoga semua cepat selesai dan kamu cepat berangkat ya nak, jangan lupa untuk mencari jodoh di sana, siapa tahu jodohmu akan bertemu denganmu di tempat itu" ucap ibuku lagi. Dalam hati aku berpikir jodoh lagi jodoh lagi. sebenarnya sedikit malas jika ada yang membahas soal hal itu. Tapi aku tak dapat menyanggah ucapan ibuku, dia pasti ingin yang terbaik untuk ku.
Setelah acara mengobrol itu aku melanjutkan aktivitas ku yang sempat tertunda, cucian piring dan baju ku sudah melambai lambai agar segera ku bersihkan. Semua aku kerjaan dengan semangat agar nanti aku dapat bersantai santai di rumah. hari ini aku ingin mengistirahatkan tubuh ku yang benar benar lelah usai panen kemaren.
Rumah kami di bangun di atas tanah dengan luas area 6,5 x 20 meter persegi. Rumah yang menjadi tempat kami berteduh terdiri dari dua kamar tidur ruang tamu dan ruang tengah jadi satu, kemudian terdapat dapur dan juga dua kamar mandi. kamar mandi kami di bangun terpisah dari rumah dengan pemikiran jika suatu saat ada rejeki untuk memperluas bangunan maka kamar mandi tidak perlu di bongkar. Di belakang rumah juga ada kandang ternak, dengan luas tanah tersebut benar benar di manfaatkan orang tua dengan baik.
Sekarang adalah waktunya bersantai. Aku langsung masuk kamar dan rebahan, Aku tak terlalu suka untuk bertandang ke rumah tetangga karena pasti pembahasannya tidak akan jauh dari pertanyaan yang itu itu saja, yaitu kapan nikah. Hari ini aku habiskan waktuku untuk berselancar di media sosial mencari lowongan pekerjaan yang sekiranya sesuai dengan kualifikasi ku. Ternyata banyak konveksi yang membutuhkan tenaga penjahit, ini kesempatan emas pikirku. Aku memang belum terlalu mahir dalam menjahit. Tapi jika hanya menjahit daster aku yakin pasti bisa.
menjahit daster tidak sesulit ketika menjahit kebaya yang benar benar banyak printilan nya.
__ADS_1
Harga jahit juga memang tidak terlalu besar, hal itu dikarenakan harga daster kan relatif murah. tapi tidak masalah pikirku. Asalkan ada pekerjaan dan cukup untuk sementara waktu itu tak menyurutkan semangatku. aku mulai mananyakan segalanya di beberapa kolom komentar dari berbagai unggahan. mudah mudahan ada yang tertarik dan mulai membalas komentar yang aku tulis tersebut.
sambil menunggu balasan aku menggulir layar handphone ku. melihat postingan yang muncul di beranda ku. banyak hal menarik setiap harinya yang aku lihat dari media sosial ku.
bosan dengan berselancar di media sosial, kemudian aku langsung membuka salah satu aplikasi favorit ku, membaca novel online adalah hal yang sudah aku sukai sejak tiga tahun yang lalu. di tengah hari hariku yang membosankan,novel dapat sedikit menghilangkan rasa jenuhku. banyak novel yang sudah ku baca dari berbagai genre. terkadang terbersit di pikiranku, bagaimana jika aku menulis?
tapi lagi lagi rasa malasku mengalahkan segalanya. mungkin lain waktu bisa ku coba pikirku.
"Dara ayo kita makan siang" panggil ibuku padaku. Siang ini hanya kami berdua yang ada di rumah. adikku Rafi belum pulang dari sekolah, biasanya dia akan pulang pukul satu siang nanti. " iya Bu aku datang" ucapku sambil melangkah menghampiri ibuku. kami pun langsung menyantap makan siang kami berdua. selesai makan aku membereskan piring bekas kami makan.
Tak terasa hari sudah malam bapakku sedari tadi sudah pulang dari ladang karet. di ruang tengah kami sedang bercengkrama. " Dara jadi kan besok kamu pergi mengurus surat catatan kepolisian?" tanya bapakku padaku. " jadi pak semua berkas yang di perlukan sudah dara siapkan sejak sore tadi" jawabku sambil sesekali memakan cemilan goreng singkong yang di hidangkan ibuku. " besok pagi pagi bapak akan mengantarkan mu, tapi bapak langsung pulang ya, karena bapak harus ke kebun karet". ucap bapak ku sambil mengambil gelas kopi dan menandaskan isinya. " bapak memang yang terbaik" seruku sambil mengacungkan dua jempol. " kak nanti kalau sudah kerja jangan lupa isi terus paket kuota internet ku ya, paling tidak sebulan sekali." seru adikku dengan gembira sambil tersenyum lebar. " doakan kakak ya dek semoga rejekinya lancar dan sehat selalu, agar kakak dapat memenuhi keinginanmu." ucapku sambil mengelus kepala adikku sayang. Tak terasa waktu sudah semakin larut kami berempat langsung beranjak untuk tidur. dari tujuh bersaudara hanya kami berdua yang saat ini tinggal di rumah ketiga adikku sudah tinggal dengan keluarga masing masing. dua diantaranya sudah merantau ke kota lain.
seiring dengan mataku yang mulai mengantuk tak lama kemudian aku tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1