Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 30


__ADS_3

masih POV Angkasa


cukup lama aku tertidur, akhirnya aku bangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan, setelah meregangkan tubuhku aku teringat dengan istriku, aku keluar kamar secepat yang aku bisa, kembali mencari ke sekeliling rumah, ketika tiba di dapur ku lihat bi Minah sedang menyiapkan makan malam, karena hari sudah gelap.


" bi dara mana ya Bi, kok gak kelihatan" tanyaku yang mengagetkan Bi Minah


sambil menghela nafas berat bi Minah menjawab ku" non dara belum pulang sejak pergi dari rumah sakit tuan muda, tuan bisa menghubunginya dan memastikan posisi nona dara berada"


degh...


tidak boleh, dara tidak boleh meninggalkanku. dengan panik aku kembali berlari ke kamar, aku meraih ponsel dan menghubunginya, kembali hanya operator yang menjawab teleponku. aku takut, aku kalut. bahkan untuk pergi ke bandara pun percuma, jarak dari rumah ke bandara sangat jauh dan juga tak ada penerbangan dari tempatku ke ibu kota di malam hari.


" hallo tuan" sapa Andre asistenku, saat aku menghubunginya.


" cari informasi tentang dara, mungkin dia pulang sendiri, periksa baik itu jalur darat, laut dan juga udara" perintahku pada Andre.


" baik tuan" ucap Andre.


aku hanya bisa duduk termangu, untuk mengusir rasa jenuh dan bosan aku memutuskan untuk ke ruang keluarga sebelum tiba di ruang keluarga ponselku berdering terlihat nama Rena ada di layar ponsel. dengan segera aku mengangkatnya


" hallo bang, kak dara lagi sama Abang kan, hiks bilang sama Rena kak dara lagi sama Abang," ucap Rena tiba tiba disertai dengan tangisan


" maksud kamu apa Rena" tanyaku bingung


" BILANG SAMA RENA KALAU KAK DARA LAGI SAMA ABANG" ucapnya dengan nada tinggi.


" maaf Rena dara sedang tidak bersamaku, kami sedang ada masalah, Abang tidak tau dia ada di mana" balasku dengan jantung yang berdegup kencang.


" huaaa......huaaaa... enggak, ini gak mungkin hiks... tolong bilang ke Rena bang kak dara gak berada di penerbangan pukul dua siang dari kota Abang ke sini." ucapnya yang terputus ketika aku mendengar suara siaran televisi

__ADS_1


PEMIRSA PESAWAT DENGAN NOMOR PENERBANGAN XXX DARI KOTA X MENUJU IBU KOTA YANG DI PERKIRAKAN AKAN MENDARAT PADA PUKUL EMPAT SORE TELAH HILANG KONTAK. BERIKUT NAMA PENUMPANG YANG ADA DI DALAM PESAWAT DAN JUGA AWAK KABIN


berita itu membuatku terdiam, di


sana diantara nama para korban ada nama istriku, aku berteriak membanting semua yang ada di dekatku, semua menjadi pelampiasan. istriku, belahan jiwaku menjadi korban. kalau saja aku tak membuatnya kecewa dia pasti masih di sampingku.


POV end


sementara di sana di ibukota semua orang yang mengenal dara menangis, Rena yang langsung menuju kos Dira menangis memeluk adiknya itu.


" ha..hallo hiks hallo pak" jawab Rena ketika ponselnya berdering


" nak bilang sama bapak itu gak benar kan. kakak mu gak ikut di pesawat itu kan nak, itu hanya nama yang mirip kan" tanya bapak Dira dengan lirih


" hiks.. Rena gak tau pak.. sekarang Rena sama Dira mau ke bandara dulu pak, doakan semoga itu bukan kak dara" ucap Rena berusaha terdengar tenang agar orang tuanya tidak kepikiran, meski itu pun tak berguna.


bergegas Rena dan Dira keluar dari kosan dengan terburu, saat sampai di depan gerbang di sana sudah berdiri ayu dan juga Bu rianti.


setelah duduk di ruang tamu Bu rianti menjelaskan segalanya, dan sudah di pastikan bahwa kakak mereka berdua memang tercatat sebagai penumpang, karena ayu yang memesan tiket pesawat. semua di jelaskan tanpa ada yang di tutup tutupi. Rena dan Dira menangis histeris sampai ke duanya tak sadarkan diri.


sementara di kediaman orang tua Adara, sudah berkumpul banyak saudara, mata mereka terlihat sembab. mereka berdoa semoga dara baik baik saja. sementara bapak dara hanya duduk menatap kosong, ibu dara pingsan sejak mendengar kabar itu.


semua seperti mimpi, baru saja pikirannya tenang dua hari yang lalu setelah berkomunikasi dengan dara akibat mimpi buruk yang di alaminya, ternyata kabar ini begitu mengguncang jiwanya. dara adalah anak pertamanya, semua hal pertama menjadi seorang ayah di jalaninya dengan dara, bagaimana rasanya mencintai anak yang menjadi darah dagingnya, mendengar Isak tangisnya saat dara masih sosok bayi merah, kata pertama dan juga langkah pertama itu dia dan istrinyalah yang menemani dara. kasih sayang nya sebagai orang tua juga pertama kali di terima oleh. dara. dara adalah sosok pertama dari segala pengalamannya sebagai ayah. dara mutiara hatinya sedang tidak baik baik saja. bapak dara hanya bisa tergugu dalam tangisnya berharap kabar baiklah yang di terimanya. tapi keyakinan kuat masih terpatri di hatinya bahwa putrinya masih bernafas. putrinya sedang berjuang di luar sana. segala doa dia panjatkan pada sang pemberi hidup untuk keselamatan hidup putrinya dara.


banyak kesedihan yang di rasakan oleh para keluarga korban, pencarian yang dilakukan sudah memasuki dua puluh hari, banyak korban yang di temukan dalam keadaan yang tak berdaya, pesawat juga di temukan dalam keadaan yang tidak utuh. duka menyelimuti.


sementara di kediaman keluarga Hartono, angkasa hanya diam menatap kosong ke depan. jiwanya seakan hilang. terkadang dia tertawa terkadang dia menangis, dia juga berhalusinasi, bayangan dara terlihat di mana mana, kala dia mengingat sikapnya menyakiti dara , tak segan segan dia bahkan melukai dirinya sendiri. bahkan sudah beberapa kali selama dua puluh hari terakhir dia di larikan ke rumah sakit.


nyonya besar Ratmi sudah sembuh total, ada rasa sedih yang senantiasa menghuni hatinya, menyesal pun percuma. nasi sudah menjadi bubur. CAREEN ADARA besar kemungkinan tidak selamat, saat ini masih banyak korban yang tidak di temukan. ada sekitar lima belas orang yang hilang dan salah satunya termasuk Adara.

__ADS_1


" maafkan keegoisan nenek angkasa" ucap ratmi yang hanya sebuah gumaman


" istirahatlah Bu, biar angkasa aku yang menjaganya" ucap Hartono.


Ratmi berlalu meninggalkan Hartono yang juga menatap angkasa dengan sendu.


di ibukota, rianti mengerahkan semua anak buahnya untuk menyisir lokasi jatuhnya pesawat. ada rasa bersalah yang bercokol di hatinya, Adara adalah karyawannya yang dapat di andalkan, banyak karya yang dia ciptakan dan menjadi best seller. keuntungan yang di terimanya dari design yang Adara rancang tidaklah main main, saat ini orang tua Adara sudah ada di Jakarta. meski mereka berkeyakinan dara masih hidup tapi mereka juga ikut menabur bunga di lokasi kejadian, mereka hanya mendoakan para korban yang telah di temukan dan untuk yang belum di temukan mereka mendoakan semoga ada keajaiban.


hari yang di tunggu tiba, hari di mana para keluarga korban mengadakan acara tabur bunga, keluarga Hartono yang hadir hanyalah Hartono dan juga istrinya Ningsih, di lokasi mereka bertemu dengan keluarga besar dara, banyak keluarga dara yang ikut, saudara serta paman dan bibinya ikut. mereka di biayai oleh rianti. bapak dan ibu dara juga sudah mengetahui penyebab dara pulang sendiri, ada pandangan kecewa yang tersirat di wajah tua mereka sementara Rena dan Dira memandang penuh benci.


" maafkan kami pak" ucap Hartono dengan kepala menunduk.


" anggap saja putriku tak pernah mengenal anak anda tuan besar, lupakan pernikahan yang pernah terjadi, bahkan anak anda tak mengatakan apapun" tegas bapak dara


" angkasa tidak baik baik saja pak..hu..hu.." tangis Hartono pecah


" dia seperti mayat hidup pak, jiwa nya pergi bersama istri ya dara" ucap Ningsih di sertai tangisan.


" setidaknya anak anda masih dapat anda lihat dalam keadaan hidup tuan" sentak Dira dengan nada tinggi


" Dira nak, tenanglah" ucap ibu dara


" tenang ibu bilang, mereka itu egois Bu, hiks.. kalau saja Dira tau permasalahannya Dira gak akan pernah restuin kakak nikah sama pecundang itu. hu..hu..hu..." tangis Dira penuh sesal.


" Bu sekarang kak dara sudah mati Bu...mati.., apa dengan maaf bisa buat kak dara hidup, mereka penyebabnya Bu, mereka bencana itu" ucap Rena marah


" ate becan dak ati ate na( Tante besar gak mati Tante Rena) " ucap althan tiba tiba.


" hu..um..ate bobo ya Al( hu..um..tante bobo ya Al)"ucap Mira.

__ADS_1


" Yee ate becan bobo...hoye....( Yee Tante besar bobo...hore...)" teriak Lona, Mira dan juga althan bersamaan


semua orang di sana menatap ketiganya haru, ketiga anak yang tidak mengerti apapun terlihat ceria di tengah duka yang ada.


__ADS_2