Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 6


__ADS_3

setelah beberapa lama kami dalam perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat pengambilan barang tersebut. kami dan beberapa anggota mengemas perlengkapan itu dengan rapih. ternyata lumayan juga pikirku. aku melihat jam yang ada di ponselku waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Ayo pak kita segera berangkat. ternyata sudah jam sepuluh malam lebih" ajak ku ke pada pak Indra. kulihat wajah nya sedikit panik, tak tau ada masalah apa.


" iya mbak ayo kita berangkat". jawabnya kemudian.


kami berdua pun langsung pamit dan bergegas berangkat. lumayan juga barangnya pikirku. ku ambil ponsel untuk menghubungi mbak ayu, ternyata sudah lobet, sungguh sial pikirku.


aku meletakkan dus yang lumayan besar yang menjadi pembatas antara aku dan pak Indra. bahkan aku duduk di bagian paling belakang sudah mengenai besi di jok belakang. sudah tepos makin tepos aja rutukku dalam hati.


kami melaju dengan hati hati, pelan tapi selamat. dari pada kencang tapi melayang pikirku.


di tengah perjalanan kami di hentikan oleh beberapa orang, ada apa gerangan, apa kami di begal. ya ampun umur sudah tiga puluh tiga tahun belum menikah tapi berakhir tragis di tangan begal. dalam hati aku merutuki kesialan yang ku alami hari ini.


" ada apa ya pak? aku bertanya seraya turun dari atas motor.


" kalian habis mesum ya.. Jan segini masih berkeliaran. apa kamu itu termasuk perempuan gak bener? tuduh seorang pria paruh baya padaku.


" maksud bapak apa bicara asal menuduh seperti itu" tanya ku masih berusaha sabar.


" maaf pak kami tidak seperti itu" jelas pak Indra,.


" hallahh gak usah banyak omong kamu, jangan bilang kalian sudah menikah. kalau begitu mana surat nikahnya? tanya seorang pria yang lebih muda dengan nada membentak.


"kami dari desa sebelah untuk mengambil perlengkapan untuk acara nikahan pak" jelasku lagi yang mulai terpancing emosi.


"mending kita bawa aja ke tetua kampung, bisa kena kutukan kampung kita nanti. nikahkan saja mereka di sana, benar benar membawa petaka saja, sembur seorang ibu ibu yang tiba tiba nongol.


"mulut itu di jaga Bu kalau ibu bicara, apa ibu tidak memiliki anak gadis, bagaimana kalau posisi saya sekarang di alami oleh anak gadis ibu" semburku marah


"hehh perempuan gak bener, anak gadis saya jam delapan malam sudah di rumah, kamu kecil kecil sudah keluyuran berbuat tercela seperti ini" marahnya padaku


" sudah bawa aja ke tetua, kita nikahkan saja. kalau kita lepaskan mereka pasti melakukan hal tercela lagi di sepanjang jalan" usul seorang ibu ibu lagi.


kenapa tambah ramai ya pikirku, padahal di sekitaran sini jarang rumah. aku mulai merinding memikirkannya.


" gak mau lah, apa apaan kalian ini, memang kalian melihat kami berdua berbuat hina haahh...." sembur ku sambil mengibaskan tangan seorang ibu yang ingin menyentuh ku. enak saja mau menikahkan ku dengan bapak bapak yang sudah punya cucu.


kulihat pak Indra sudah pasrah sambil di pengangi tangannya. bagaimana mau berbuat hina sementara kami berjabat tangan saja tidak, mengobrol akrab pun tidak. nasibku malang sekali ini.

__ADS_1


" jangan sentuh saya ya Bu, saya bisa jalan sendiri. bagaimana bisa berbuat hina jika bersentuhan saja tidak. pemikiran kalian benar benar primitif lebih parah lagi" ejek ku padanya.


" gak usah menghina kamu ya, yang penting kampung kami aman dari kutukan akibat perbuatan tercela kalian" semburnya kesal.


" hehh... itu barang Jangan di tinggal dong. mahal itu, kalau hilang bagaimana" teriakku dengan kesal.


tanpa menjawab pertanyaanku mereka mendorong motor pak Indra dan menenteng kardus yang tadi kami bawa. memasuki sebuah perkampungan yang jika di lihat dari jalan besar di tambah hari sudah malam pastilah tak nampak. ternyata di sini benar benar ramai dengan rumah penduduk.


dan di sinilah kami berkumpul di rumah tetua yang tadi di ucapkan segerombolan orang orang itu.


" ada apa ini" kulihat seorang pria yang sudah sepuh bertanya sambil melangkah di iringi dengan pria paruh baya juga seorang pemuda tampan yang ku perkirakan umurnya di akhir dua puluhan mungkin.


" ada yang berbuat mesum di daerah kita pak" ucap ibu ibu tadi.


" jangan asal bicara ya Bu, tolong di saring dulu itu mulutnya pake saringan santan, biar omongan ibu gak asal jeplak aja," semburku dengan marah.


" bisa jelas kan apa yang terjadi mbak" begini pak saya dan bapak ini ditugaskan untuk mengambil atribut perlengkapan adat untuk acara pernikahan yang di langsungkan besok. tiba tiba mereka semua sudah menghadang kami di tengah jalan dan asal menuduh kami berbuat hina, malah menyebut saya dengan sebutan perempuan gak benar. jelas ku pankang lebar.


" apa bapak tidak tau peraturan yang ada di desa sini? tanya pria sepuh itu pada pak Indra


" saya tau pak, tapi pak Ardi mengatakan akan menghubungi tetua kampung untuk memberitahukan bahwa kami akan lewat" pak Indra menjelaskan sambil tertunduk.


kulihat dia meraih telepon dan menghubungi pak Ardi atau pak Hartono. tapi sepertinya tidak di angkat.


" bagaimana apa bisa di hubungi? tanya pria sepuh tersebut.


" tak di angkat pak! jawabnya.


" saya coba telepon ibu atau kakak saya dulu pak" usul pemuda tampan itu.


" lakukanlah" ijin pria sepuh.


diapun melakukan hal yang sama seperti pria paruh baya itu. tapi sama saja hasilnya. dia menggelengkan kepala nya pelan sebagai tanda bahwa tidak ada yang menjawab teleponnya.


" sepertinya kalian berdua hanya memanfaatkan keadaan yang terjadi untuk melakukan hal hina" dengan tegas pria sepuh itu mengatakannya.


" yang benar saja pak, jangan memfitnah saya, bapak ini pasti sudah menikah dan mungkin sudah memiliki cucu, bapak tau fitnah lebih kejam dari pembunuhan" bantah ku padanya.


" jangan mengajari saya tentang fitnah. harusnya anda tidak keluar di jam segini dengan seorang pria yang sudah beristri seperti yang anda katakan tadi" jelas pria paruh baya itu menimpali bantahan ku.

__ADS_1


" bapak ini jelas tau peraturan yang berlaku di tempat ini. tapi masih saja di langgar" jelas pria sepuh itu kembali.


" saya gak perduli dengan peraturan konyol kalian saya mau pulang, ayo pak Indra kita sudah di tunggu" ajak ku pada pak Indra...


" mbak..." panggilnya pelan


" kalian tidak bisa pergi sebelum kalian menikah dan ini tidak bisa di ganggu gugat, panggilkan pemuka agama dan bagian pemerintahan kemari sekarang" titah pria sepuh itu lagi.


" yang benar saja pak, kalian semua bahkan tak melihat saya dan bapak itu berbuat hina, tak satu pun dari kalian yang melihat nya. mereka yang membawa saya kesini hanya melihat pak Indra membonceng saya dengan sebuah dus yang lumayan besar di letakkan di tengah tengah. saya saja duduk sudah mengenai besi yang ada di jok belakang. bagaimana mungkin kalian menuduh saya berbuat hina sementara saya dan dia tidak bersentuhan sama sekali. tuduhan kalian tidak berdasar. jangan menghakimi seseorang tanpa alasan" jelasku panjang lebar.


" tapi siapa saja di daerah ini bisa berasumsi demikian jika berkendara di jam segini dengan lawan jenis. " tegas pria paruh baya itu kembali.


aku sebal, pemuda itu bahkan tak melakukan apapun untuk membantah.


" jadi kalian ingin menikahkan saya dengan paksa begitu?, baiklah saya akan melakukannya


" mbak.." panggil pak Indra dengan mata memerah menahan tangis.


sementara aku hanya tersenyum jahat. jika pemuda itu mengatakan akan menelepon ibunya. itu artinya dia memiliki hubungan keluarga dengan si Hartono sialan itu.


aku berlari cepat menerjang pemuda itu kemudian mendaratkan bibirku pada bibirnya. masa bodoh mereka mau memikirkan apa tentangku. sementara semua orang yang berada di sana menganga tak percaya dengan apa yang kulakukan. aku menggigit bibir pria itu sampai menimbulkan luka, terlihat bibir itu sedikit berdarah, tapi aku tak perduli.


" sekarang kalian akan menikahkan ku dengan siapa, dengan pak Indra yang hanya membonceng ku tapi di tuduh berbuat hina, atau dengan pemuda ini yang sudah jelas jelas di depan mata kalian semua telah berciuman dan berpelukan denganku, hummm? tantangku dengan mata mengejek.


" apa yang telah kamu lakukan dengan calon suami ku hah..." teriak seorang wanita cantik sambil berlari dan menolak ku. untung saja aku bisa menyeimbangkan badan jika tidak aku akan jatuh ke tanah dengan tidak elitnya.


" jangan menyalahkan ku dengan semua kejadian ini, salahkan tetua ini yang memojokkan ku, aku sudah menjelaskan bahwa aku hanya sedang mengambil perlengkapan adat untuk pernikahan putera keluarga Hartono. tapi dengan lancangnya mereka menyebutku perempuan ****** hanya karena aku membantu untuk menutupi keteledoran keluarga besar Hartono itu" terangku padanya.


" bagaimana ini kek, ayah apa pernikahanku akan batal. bang katakan sesuatu," mohonnya dengan air mata.


" aku hanya ingin pulang. lupakan kejadian ini. agar kejadian sama tidak terulang lagi aku meminta bantuan kalian, salah satu perempuan di sini bisa mengantarkan ku ke kediaman Hartono, pak Indra bisa jadi pemandu di depan. dan yang mengantarku lebih baik menginap di sana. lagian itu hanya ciuman. tak berarti apa apa buatku, aku hidup di lingkungan perkotaan dan itu sudah biasa. tolonglah aku sudah cukup lelah hari ini, bahkan aku belum beristirahat setelah tiba di sini" jelasku sambil menatap wajah mereka satu persatu dengan tatapan memohon tentunya.


" apa maksudmu tidak berarti apa apa hahh" bentak pemuda itu pada ku sambil menggenggam tanganku dengan sangat erat.


" lepaskan tanganmu ini sakit" aku menyentak tangannya


" jangan menyalahkan ku, kau bisa tetap menikahi wanita itu, kalau mau menyalahkan seseorang, salah kan saja keluarga Hartono sialan itu. brengsek..."kataku marah dengan air mata yang mengalir.


" kau tau aku lelah, sungguh.... aku benar benar ingin pulang dan istirahat." jelas ku agak limbung, dia menangkap ku sebelum terjatuh. dan mendudukkan ku. jangan sampai aku pingsan, jika tidak mereka akan menikahkan ku tanpa sepengetahuanku. perutku sudah melilit. sekarang sudah pukul dua belas malam. seharian ini aku hanya sarapan roti saja, jam 11 kami sudah berangkat sampai di tempat langsung merapihkan barang barang. dan sekarang masih terjebak di sini.

__ADS_1


kenapa aku selalu sial hari ini.


__ADS_2