
pemuda itu memeriksa denyut nadiku,
" kamu kelaparan? tanyanya lembut.
aku hanya diam sambil memejamkan mataku.
" kamu belum makan sesuatu seharian ini.? tanya nya lagi.
" aku hanya makan sandwich untuk sarapan dan minum susu pukul enam pagi"ucapku pelan
" bisa tolong ambilkan makanan untuknya,? pintanya pada ibu ibu yang berdiri di dekatnya
" tak perlu" selesaikan saja semuanya dengan cepat aku ingin pulang.
pemuda itu kemudian berdiri dan berjalan ke arah pria sepuh itu.
" aku akan menikahinya, sesuai dengan adat istiadat di daerah ini bahwa setiap lawan jenis yang melakukan tindakan hina akan di nikah kan. maka nikahkan kami. dia seorang pendatang dan tidak tau apapun ketentuan di sini. sedari Dulu sudah saya ingatkan untuk memasang plang di setiap perbatasan untuk menginformasikan aturan tersebut kepada pendatang" ucapnya sambil menghela nafas
" arum Jangan mendekat, karma berat akan terjadi padamu jika kamu yang penduduk asli melanggar peraturan. aku tak ingin memiliki istri lebih dari satu, jadi pernikahan kita batal" tegasnya ketika melihat wanita itu melangkah ke arahnya.
" apa maksud mu hah.., kita sudah di jodohkan sejak masih bayi, dan kamu membatalkannya dengan seenaknya, aku gak terima bang" semburnya dengan berderai air mata
" berhenti Arum" tegas pria sepuh itu.
" dimana pemuka agama dan pegawai pemerintahan" dengan tangan mengepal dia menanyakannya marah
"ayah/kakek " ucap pria paruh baya dan wanita bernama Arum
"jangan membantah, laksanakan yang kukatakan. ambil tanda identitas dari mereka berdua.
" jangan menjadi perusak kebahagiaan cucumu, aku sudah katakan itu tak masalah di lakukan di tempatku jika belum menikah" jelasku menatap iba.
__ADS_1
mereka hanya membuang muka mendengar perkataan ku.
" maaf mbak tolong berikan identitas diri anda, minta seorang perempuan padaku sambil membawa tas yang kuduga berisi laptop.
aku merogoh tasku dan menyerahkannya. setelah itu aku melirik Arum dia hanya membuang muka padaku.
" aku tidak akan meminta maaf Arum, kalian yang tidak tau apa apa malah menghakimiku, jadi jangan salahkan aku yang tak tau status pemuda itu melakukan hal itu, mempertahankan tradisi itu memang baik, kalau saja seseorang yang kalian hakimi terbukti melakukan hal hina dan kalian paksa menikahkannya itu tidak lah salah. tetapi dengan situasi ku yang sekarang kalian menyimpulkan ku sebagai perempuan ****** itu sungguh menyakitkan, aku hanya melakukan tugas ku, membantu agar pernikahan yang kami atur berjalan lancar malah kalian tuduh hal se hina itu. tempatkan posisi kalian sebagai orang tuaku saat menghakimiku" jelas ku panjang lebar
mendengar perkataan ku mereka semua diam.
setelah beberapa saat proses yang kukira pendaftaran pernikahan di pemerintahan selesai dilakukan. beruntung keyakinan ku dan pemuda itu tak berbeda. ucapan janji suci pun terdengar diucapkan oleh pemuda itu dan aku.
akte nikah sudah langsung jadi. tak menyangka statusku kini sudah menjadi istri seorang dengan keadaan yang tak terduga.
" maaf untuk yang terjadi, pernikahan antara aku dan Arum sudah batal karena aku sudah resmi menikah dengan Careen Adara sah secara hukum dan agama, kalau begitu kami permisi." jelas pemuda itu,
aku bahkan tak tau siapa namanya,aku sungguh tak fokus, perutku benar benar sakit sekali kepalaku juga pusing. dia membantuku untuk berdiri, sesaat setelah aku berdiri semua terasa berputar dan gelap. setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
aku terbangun ketika aku mendengar suara orang yang sedang bertengkar. perlahan aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling. seperti kamar pengantin pikirku, ku angkat tangan ku yang terasa nyeri. ternyata terpasang infus, apa yang terjadi sebenarnya pikirku. sepertinya semalam aku bermimpi aneh, menikah dengan seorang pemuda dengan cara yang paling menyebalkan.
bos aku padamu pujiku dalam hati. ibu rianti adalah bos besar yang sangat perhatian. setiap ada permasalahan yang terjadi dia akan menjadi yang terdepan sebagai tameng. dia ratu dan juga prajurit di perusahaannya.
" dara kamu sudah sadar" panggil ayu pada ku yang mengagetkanku.
" ehh .. aku sudah bangun mbak, apa aku sudah terlambat, dan ini kenapa aku di infus mbak. gimana sama pernikahannya, ya ampun..." tanyaku panik sambil bergegas turun.
" ya ampun dara pelan pelan dong nanti bukan cairan infus yang masuk ke darahmu tapi darahmu yang naik berusaha kabur" jawab mbak ayu sambil bercanda.
" ya ampun mbak sempat sempatnya bercanda. itu pernikahan gimana" tanyaku lagi padanya
" jangan pikirkan "ucapnya sambil dia mendorongku pelan dan membantuku bersandar di kepala ranjang
__ADS_1
" huhh dasar mbak ayu, awas aja kalau aku gak dapat bonus, nanti mbak ayu aku porotin" sembur ku sambil melotot.
" sudah kamu makan dulu, biar ada tenaga buat ngomel, tenang saja gak dapat bonus dari sini, kamu dapat bonus dari design mu, design mu dapat kesempatan lagi untuk di rilis bulan ini. terangnya padaku. aku tersenyum bahagia,
mulai menghitung uang yang akan aku terima.
" sini mbak aku jadi tambah lapar, bahagia dan sedih beda tipis mbak dalam hal perut" pinta ku pada mbak ayu, dan menyuapkan makanan dengan semangat.
"di habiskan ya Ra, Mbak mau keluar dulu" pamit mbak ayu padaku
" bentar deh mbak, itu di depan kenapa dah kayak orang berantem, itu juga si bos kok Dateng sih mbak, kan sudah ada kita sama mbak Ika designer andalan kita" tanyaku padanya.
" sudah gak usah kamu pikirin, nanti juga kamu tau sendiri, memang kamu gak ingat kejadian semalem yang buat kamu pingsan dari malam sampe seharian gini?" tanya mbak ayu dengan kening mengeryit bingung.
" hah... maksud mba aku pingsan gitu? kok bisa sihh. terus sekarang jam berapa?" tanyaku bingung.
" hampir jam lima sore Ra", ya sudah habiskan makanan mu gak usah banyak tanya lagi. biar ada tenaganya" perintah mbak ayu dengan tegas
"iya iya,,," sambil mengerucutkan bibir aku menjawabnya.
seiring dengan menghilangnya suara berisik di depan, mbak ayu pun keluar dari kamar ini.
kembali aku melihat sekeliling kamar dengan nuansa pernikahan. aku berfikir mengapa aku di tempatkan di sini. apa memang semua design kamar begini karena ada acara pernikahan. pikirku lagi.
aneh saja rasanya tetap tinggal di kamar ini, segera aku menghabiskan makanan ku, aku harus segera beranjak dari sini, sepuluh menit kemudian aku selesai makan bertepatan dengan pintuku di ketuk
tok..tok..tok..
"permisi non, bibi mau ambil piring kotornya" ucap seorang wanita yang kukira seumuran ibuku.
" ohh iya Bu, aku sudah selesai. maaf merepotkan".ucapku padanya sambil tesenyum
__ADS_1
beliau mengambil peralatan makan yang ada di nampan yang isinya sudah masuk ke dalam perutku. hidangan yang benar benar nikmat.
sepeninggal si ibu aku berjalan ke arah pintu untuk keluar, sambil mendorong tiang infusku. sampai usiaku tiga puluh tiga tahun ini adalah pertama kalinya tumbuhkan di huni cairan infus. aku berjalan keluar dengan perlahan sambil melirik kiri dan kanan. tak jauh dari tempatku berdiri kulihat banyak orang berkumpul, aku mendekat mereka semua menoleh kearah ku dengan tatapan yang berbeda. apa yang sebenarnya terjadi pikirku.