Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 27


__ADS_3

terlihat di sebuah kamar rumah sakit, seorang wanita tua sedang terbaring tiba tiba membuka mata, dia menatap sekeliling dan melihat di sana tidak ada siapapun, dia masih terbaring di ruang ICU, kondisinya sudah lebih baik terlihat seperti tak ada yang perlu di khawatirkan, tak lama sesosok pria paruh baya memasuki ruangan tersebut dengan pakaian kebesarannya, pria tersebut tidak datang sendiri melainkan dengan dua orang lainnya yang terdiri dari pria dan wanita, mereka memastikan kondisinya, setelah dipastikan semuanya sudah stabil dokter tersebut memberi perintah untuk memindahkan wanita tua tersebut ke kamar perawatan. kemudian dokter itu keluar ruangan dan menghampiri keluarga pasien.


melihat dokter keluar dengan terburu Hartono dan Ningsih menghampirinya


" bagaimana dengan ibu saya dokter?" tanya Hartono terlihat khawatir dan panik


" masa kritisnya sudah lewat pak, beliau juga sudah sadar, tapi masih terus dalam pantauan kami, jika kondisinya semakin stabil untuk dua hari kedepan, kami akan mengambil tindakan selanjutnya untuk mengambil gumpalan darah di kepalanya.


" hah..syukurlah ibu sudah baik baik saja mas" ucap Ningsih


" terimakasih dokter" jawab Hartono dan Ningsih bersama


" sudah jadi tugas saya pak"


" apa kami sudah bisa menemui ibu kami dok? tanya Hartono.


" nanti bapak bisa mengikuti suster untuk di pindah ke ruang perawatan"


" baik lah dokter"


" kalau begitu saya pamit dulu pak!" ucapnya sambil sedikit membungkuk tanda hormat.


Hartono kemudian mengikuti gerakan dokter tersebut. pertanda setuju atas kepergiannya.


tak lama dia orang yang tadi masuk ke dalam ruang ICU bersama dokter tadi keluar dengan mendorong brangkar tempat Ratmi terbaring. Handoko dan Ningsih mengikuti perawat tersebut.


setelah tiba di ruangan yang sudah di tentukan dan memastikan bahwa Ratmi sudah pada posisi yang aman kedua orang tersebut pamit untuk pergi.


" ibu, apa ibu sudah merasa lebih baik?" tanya Hartono


" sudah nak, bisa tolong hubungi semua orang, ada yang ingin ibu bicarakan!" pintanya lemah


" iya Bu, nanti Ningsih hubungi yang lain, tapi ibu istirahat dulu ya Bu, nanti saya bangunkan ibu lagi" balas Ningsih

__ADS_1


tak butuh waktu lama Ratmi akhirnya tidur, segera saja Ningsih dan juga Hartono menghubungi keluarganya. dan merminta yang lain untuk berkumpul di rumah sakit setelah makan siang.


sementara di kediaman keluarga Hartono, angkasa baru saja terbangun dari tidur nya, dia menatap sekeliling ternyata tidak ada siapapun di kamarnya selain dirinya.


" kemana Adara pergi" gumamnya bingung


tapi langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, niatnya pulang ke rumah hanya ingin melihat istrinya, tapi karena rasa kecewa yang ada di hatinya untuk Adara istrinya dia mengabaikannya begitu saja.


setelah beberapa waktu berlalu dia sudah rapi dan akan bersiap berangkat kerumah sakit. waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dia bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, setiba di lantai dasar dia melihat sekeliling tak ada dara di sana, dia ke dapur dan mencarinya di sana ternyata dara tak di sana. saat dia akan menuju taman belakang tak sengaja dia melihat Bi Minah sedang berjalan menuju ke arahnya.


" bi di mana dara, apa dia pergi ke luar di saat nenek sedang sakit" tanyanya dengan datar dan dingin


degh.. Minah begitu terkejut mendengar nada bicara tuannya, ingin rasanya ia memberitahukan keadaan yang terjadi semalam tapi Minah sudah terlanjur berjanji. wanita paruh baya itu terlihat bingung.


" non dara sedang istirahat di paviliun belakang tuan muda" ucapnya


tanpa memberi sepatah katapun angkasa berlalu meninggalkan Minah yang mematung melihat sikap tuan mudanya


" apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini" gumam Minah yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri"


braak


Adara terkejut mendengar suara keras tersebut, belum pulih dari keterkejutannya, dia Merasakan di tarik paksa dari posisi nya berbaring sehingga mengakibatkan denyutan hebat di kepalanya. dia menatap pada sosok yang sudah mengusiknya dengan kasar, di sana dia melihat wajah suaminya yang di liputi oleh amarah. dia takut sungguh sangat takut, ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah angkasa suaminya semarah itu. dengan gugup dia bertanya


" a..Abang ada a..apa"


" ada apa katamu sialaaan, bisa bisanya kamu tidur di sini tanpa memikirkan keadaan nenek ku. di mana hati nurani mu hahh.."


dara memejamkan mata sejenak untuk mengurangi denyutan di kepalanya, sebelum menatap angkasa dengan dingin.


" lalu apa yang kau inginkan tuan angkasa?" tanya dara dengan wajah datar.


" ha..ha..ha.. ternyata aku salah menilai mu dara, ternyata ini lah dirimu yang sebenarnya"

__ADS_1


" jangan menilai ku sesukamu angkasa"


" bahkan dengan lantangnya kamu menyebut namaku tanpa embel embel apapun Careen Adara" ucapnya mengetatkan rahangnya


"apa maumu" tanya dara singkat dan datar


" ikut aku sekarang juga ke rumah sakit" ucap angkasa menurunkan nada bicaranya"


"ha..ha..ha... miris bukan angkasa, tanpa melihat dan menanyakan kondisiku, dengan tak tahu dirinya kamu mengajakku"


" jaga bicaramu Adara, jangan menguji kesabaran ku"tegas angkasa


Adara berusaha menormalkan deru nafasnya, dia marah, dia kecewa, dia ingin menangis, perutnya kembali berdenyut nyeri. emosinya tidak stabil dan ini berbahaya untuk bayi bayinya.


" tidak sayang kalian jangan tinggalkan mana nak,kuatlah untuk mama, bertahanlah sayang" gumamnya dalam hati sambil memegang perutnya yang tertutup selimut


setelah menarik nafas pelan dan memejamkan mata sesaat dia membuka matanya dan memandang angkasa, pandangannya mengungkapkan segalanya.


" pergilah bang, untuk saat ini aku tidak bisa, tolong jangan memaksaku. saat aku sudah siap aku akan ke sana" ucap Adara kemudian berbalik dan berbaring memunggungi angkasa, dia menarik selimut dan membungkus tubuhnya meringkuk di atas ranjang.


" baiklah jika itu mau mu, aku pergi" tanpa menoleh ke belakang lagi Angkasa melangkah meninggalkan Adara menuju luar rumah melewati Minah tanpa kata, naik ke mobil dan meninggalkan kediaman Hartono menuju rumah sakit.


karena Minah merasa khawatir dengan Adara, dia berlari menuju paviliun. ketika tiba di kamar dia melihat Adara yang meringkuk. dengan cepat dia membuka selimut yang membungkus Adara, di sana Adara sudah terbaring dengan posisi meringkuk dalam keadaan tak sadarkan diri. dengan panik Minah kembali menghubungi dokter Mira. tak lama dokter Mira datang dan langsung memeriksa keadaan dara.


" apa yang terjadi dengan mu nak dara, kenapa setelah tadi pagi kondisimu sudah membaik, sekarang kembali drop lagi" gumam dokter Mira pelan.


setelah menangani dara dan menyuntikkan obat, dokter Mira berjalan menuju Minah


" apa yang terjadi Minah?


" saya tidak tau dokter, tadi tuan muda angkasa menemui non dara kemudian tak lama tuan muda angkasa keluar dan segera pergi. mungkin ke rumah sakit, jadi saya tidak tau apa yang terjadi" jelas Minah


" dengar Minah, ini adalah yang terakhir, jika ini masih terjadi saya tidak bisa berbuat apa apa lagi. jadi jaga nona muda mu dengan baik, jangan sampai di stress. apa kami mengerti Minah"

__ADS_1


" saya mengerti Bu dokter"


kemudian Mira memberikan obat tambahan untuk dara. setelah memastikan dara baik baik saja, dia pergi meninggalkan kediaman Hartono.


__ADS_2