
waktu berjalan sangat cepat, hari ini adalah hari yang sudah kami berdua nantikan dengan bang angkasa, momen di mana kami akan melangsungkan pernikahan yang di saksikan keluarga dari kedua belah pihak. pernikahan yang aku minta akan diadakan dengan sederhana sudah melenceng jauh, ini adalah pernikahan termewah di desa ku, bagaimana tidak sebuah tanah lapang yang telah di beli oleh bang angkasa di sulap menjadi aula pesta dengan suasana yang benar benar mewah, ketika aku memberikan tatapan tanya pada mbak ayu, dia hanya mengatakan bahwa ini kerjaan si bos, pesta ini di sponsori olehnya sebagai permintaan maaf dan juga ucapan syukur, mbak ayu juga bercerita bahwa bang angkasa akan membayar semua biaya yang di keluarkan, dan malah mendapat penolakan yang tegas dari Bu rianti.
kami sudah mengucapkan janji suci pernikahan, sekarang kamiengikuti upacara adat yang khas di daerah ku, ternya banyak dari rekan bisnis suamiku yang datang, ayah dan ibuku beserta orang tua bang angkasa senantiasa mendampingi kami. awalnya orang tuaku terkejut, aku sedikit menyesal ketika melawan ayah mertua ku dulu, ternyata dia tidak pernah menilai seseorang dari status dan kekayaannya, meski dia jarang tersenyum tapi dia selalu berbincang dengan ayahku, aku sudah merubah pandanganku pada ayah mertuaku tersebut. dia hanya tak bisa mengutarakan isi hatinya saja pikirku.
banyak doa dan ucapan selamat yang kami terima dari para tamu undangan, para tamu tidak ada yang di bedakan, tidak perduli dia dari kalangan atas atau menengah mereka berbaur saling bertukar pikiran. dari rekan bisnis suamiku tak ada yang bersikap sombong dan arogan mereka semua bersikap sopan dan juga ramah, tak terkecuali dengan keluarga besar ibu rianti, aku bahagia sekali ternyata bos ku itu memang orang yang benar benar luar biasa, beliau memperlakukan karyawannya dengan sangat baik, itu sebabnya banyak para pekerja yang betah bekerja dengannya. mereka yang keluar adalah seorang orang orang dengan usia yang mencapai pensiun, atau orang yang ingin mengabdi pada keluarga. bahkan jika ada yang dapat jatah lembur kami semua akan dengan senang hati menerimanya, karena lembur bayarannya perjam bahkan hampir satu hari kerja.
waktu sudah hampir jam sepuluh malam, para tamu undangan yang berasal dari desa sudah pulang kerumah masing masing, hanya tinggal tamu dari luar kota yang masih setia berada di tempat acara, mereka akan di antar ke kota untuk menginap di hotel yang sudah di tentukan. karena tidak mungkin mereka menginap di rumahku yang sempit.
tepat jam dua belas malam semuanya sudah sepi, di sana didirikan beberapa tenda untuk tempat para kru yang besok akan membersihkan area pesta, keluarga bang angkasa juga sudah mengabarkan kalau rombongan mereka sudah sampai di hotel, sementara keluargaku juga sudah berada di rumah, sebagian lagi ada yang mengungsi ke rumah nenek ku,
memasuki rumah ku lihat Rena, Dira dan rapi sudah tertidur ruang tengah beserta dengan ketiga keponakan ku, sepertinya mereka tidak mau ketika di ajak tidur ke rumah nenek oleh orang tua mereka, yang penting mereka pakai popok jadi tak perlu khawatir bangun tengah malam karena ngompol, jelas saja mereka milih tinggal ada pengasuhnya ternyata.
di rumahku hanya ada dua kamar, satu kamar sengaja di kosongkan mungkin untuk kami berdua, tak berapa lama orang tua ku sudah datang, mereka tadi habis berbincang di tetangga sebelah.
" kalian tidurlah dulu," ucap ibuku.
" ibu Bu" ucap kami secara bersama
kami memang tadi sudah selesai membersihkan badan jam sepuluh tadi, suamiku membantu para kru untuk membangun tenda, sementara aku seperti biasa di bantu mba ayu dan juga intan beserta penata rias untuk membuka semua aksesoris yang menempel di tubuhku juga membersihkan make up yang ku kenakan. hampir tengah malam aku mandi,
" kita langsung tidur saja ya sayang, untuk malam pertama tidak mungkin di sini nanti tetangga jadi mendengarnya" ucap suamiku sambil tersenyum nakal.
" hmm" ucapku sambil memejamkan mata,
kurasakan bang angkasa mencium keningku sayang, kemudian memelukku. tak butuh waktu lama kami langsung terlelap.
paginya seperti biasa aku terbangun, ku lihat bang angkasa masih terlelap, aku mengurai pelukannya pelan dan beranjak dari kasur, aku keluar dari kamar, ku lihat semua orang masih tertidur, bapak dan ibu juga masih ada di dalam kamar. aku menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi, ku lihat hari masih gelap, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.
aku langsung memasak untuk sarapan kami bersama, ku buka kulkas masih ada daging dan juga nasi, untuk sarapan aku membuat nasi goreng, lebih simpel dan cukup mengenyangkan pikirku, nasi goreng untuk kami sekeluarga sudah selesai di masak, untuk anak kecil aku memasakkan yang tidak pedas. menu sarapan kami ini di temani dengan telor ceplok dan juga sosis ayam, yang sempat Rena dan Dira beli ke kota sebelum pesta. butuh waktu satu jam aku berkutat di dapur, butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan masakan ku, tak lupa aku juga menanak nasi dan menghangatkan lauk sisa tadi malam. sesudah itu aku melangkah ke ruang tengah, aku melihat si ponakan jagoan ku sudah terbangun, dia tersenyum melihatku, sementara ke dua kakak sepupunya masih asik tertidur dengan Tante dan om nya. dia menaikkan tangannya pertanda minta di gendong, jagoan ini namanya althan, biasa di panggil Al,
" Al mau apa sayang" tanyaku pelan takut membangunkan yang lain
" mu mammam... Al " ucapnya dengan logat cadelnya( mau makan Al) begitu kira kira ucapannya.
__ADS_1
aku menggendongnya menuju kamar mandi, aku mencuci mukanya dan menyuruhnya kumur kumur, aku tak tau sikat giginya di mana. setelah itu aku mengajaknya ke dapur kuturunkan dia dari gendongan ku, aku mulai menyiapkan nasi goreng untuknya, aku menggorengnya dengan mentega di taburi dengan keju parut dan jangan lupakan sosis dan telur ceplok ya. kami duduk lesehan di dapur, sepertinya dia sangat lapar terlihat dia makan dengan sangat lahap. porsi makannya cukup banyak juga pikirku, semua yang ada di piring sudah berpindah ke perutnya. untuk susu mungkin nanti di berikan oleh ibunya saja, selesai makan aku membawanya ke ruang tengah. hari masih dingin untuk memandikannya lagi pula aku tak tau bajunya di mana, saat ke ruang tengah aku melihat kedua ponakan gadisku sudah bangun mereka mengucek mata dan menggaruk pipinya, aku menghampirinya
" kakak mau apa nak" ucapku sambil mengusap kepala mereka berdua.
" mam adek( makan Adek)" ucap yang Namira si bungsu masih berusia dua tahun lebih, althan dan Namira memang lahir di tahun yang sama hanya saja Namira lahir lebih dulu yaitu di bulan dua sementara althan di bulan tiga
" kakak juga lapal ante( Kakak juga lapar Tante) ucap si kakak yang bernama Alona biasa di panggil lona
" ayo kakak Lona dan kakak Mira cuci muka dulu ya sayang" ucapku sambil mengajak mereka berdua
" ayo" ucap mereka sambil melompat girang.
"suuut... jangan berisik ya nenek dan kakek serta Tante dan om kamu masih tidur" ucapku pada mereka berdua
" Al tunggu di sini ya sayang" perintah ku yang di balas anggukan oleh Al, aku memberi mobil mobilan padanya,
segera ku bawa kedua krucil yang sangat aktif ini ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. sehabis itu membawa mereka ke dapur menyuruh mereka duduk. karena aktifnya bukannya duduk malah mengekori ku kemana saja, mungkin mereka lapar, aku meletakkan dua piring nasi goreng seperti punya althan tadi dan ajaibnya mereka langsung duduk tanpa perlu di perintah, mereka langsung mengambil sendok memulai makan
mereka sontak mengucapkan doa yang biasa di ajarkan orang tua mereka ketika makan, kemudian mereka langsung makan dengan lahap, aku hanya menemani mereka makan sesekali merapihkan nasi di piring. mereka berdua tidak mau di suapi, beda dengan Al yang anteng dan nurut. tak berapa lama nasi di piring Lona sudah habis
" ambah ante( tambah Tante)" ucap Lona sambil menyorongkan piringnya
" au uga( aku juga) " Namira juga mengikutinya.
aku menambahkan sedikit lagi nasi di piring Lona dan Mira.
" kamu sudah bangun dara" seru ibuku tiba tiba, ternyata beliau juga bangun di ikuti Rena dan Dira.
" sudah dari tadi Bu, dara juga sudah selsai memasak sarapan nanti tinggal makan saja" ucapku pada ibu,
"ate akal( Tante nakal) semprot Lona pada Dira yang telah mengambil sosisnya dengan mata berkaca kaca mau menangis
" ishh Dira ini kebiasaan selalu saja jailin mereka kalau sudah ketemu dari mereka kecil suka sekali bikin nangis" kesal ibuku sambil memukul bahunya sedikit kencang
__ADS_1
" sudah sayang ini Tante tambah lagi sayang" ucapku sambil memberikan sepotong sosis
jangan tanyakan Namira, dia tak mau ambil pusing dan memilih memakan sarapan nya.
ibu berlalu ke kamar mandi di ikuti Dira, sementara Rena berjalan sambil menggendong Al.
"loh ini Al kenapa minta di gendong sayang" tanyaku.
" mama" ucapnya lirih.
" nanti mama datang ya sini sama Tante dara dulu nak, Tante Rena mau cuci muka dulu " bujukku sambil mengambil Al dari gendongan Rena.
Rena pun berlalu ke kamar mandi. aku mendudukkan Al di pangkuanku sambil melihat Lona dan Mira makan.
" Al mau sosis " tawarku padanya yang di balas dengan gelengan kepala, sepertinya dia lagi gak mau di ganggu, mungkin bosan main sendiri.
" kamu sudah lama bangun kok gak bangunin Abang dek" ucap bang angkasa dengan tiba tiba.
aku mengerutkan kening bingung mendengar panggilannya
" di sini panggil Adek aja malu kalau panggil sayang" bisiknya pelan.
" Uda iap ( sudah siap) ucap Lona dan Mira secara bersama.
" sama om dulu ya nak, Tante mau rapihin itu dulu" ucapku pada Al
dia hanya mengarahkan tangannya pada bang angkasa. sementara aku bergegas merapihkan piring bekas makan kedua ponakan cantik ku, merek sedang menghabiskan minumannya dan langsung memberikan dua cangkir plastik itu padaku. aku menerimanya dan segera membersihkan sisa makanan yang ada di mulut tangan dan kaki, maklum masih anak anak, itu juga sebuah kemajuan mau makan sendiri pikirku. aku langsung menyapu lantai bekas makan tadi. setelah itu aku mengambil Al dari gendongan bang angkasa menyuruhnya untuk cuci muka dan gosok gigi, bapak dan rapi sudah bangun. mereka juga melakukan hal yang sama sementara ibu dan Dira saling membantu untuk membersihkan kandang ternak, Rena langsung merendam kain cucian.
aku berjalan ke depan,ternyata tiga pasang pengantin lama sudah datang. Lona dan Mira langsung berlari ke orang tuanya sementara althan meronta dari gendonganku meminta turun, setelah kakinya menyentuh lantai dia berlari sambil tertawa pada ibunya. adik Perempuanku yang sedang mengandung anak pertamanya juga datang.
" ayo kita sarapan dulu" ajak ku pada mereka.
kami yang perempuan saling membantu untuk menyiapkan makanan di atas tikar yang sudah di gelar di sana sudah duduk semua anggota keluarga, kemudian kami makan dengan tenang.
__ADS_1