Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 32


__ADS_3

hari ini seperti biasa, angkasa melakukan rutinitasnya, sebagai pemimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang retail dan perhiasan tentulah tak memberikan banyak waktu luang untuknya,dua hari yang lalu sudah di habiskan dengan para keponakan dara, kini pekerjaan yang harus di kerjakannya sudah menumpuk.


seperti biasa Andre selalu setia mendampingi bos sekaligus Abang iparnya, meski dara sudah lama berpulang tapi status angkasa masihlah menjadi suami Careen Adara, dan Careen Adara akan selamanya menjadi satu satunya istrinya.


" pagi pak" ucap Andre dengan nada formal, beginilah mereka jika berada di kantor, selalu bersikap formal


" pagi ndre, apa ada pertemuan hari ini?


" hari ini kita ada pertemuan dengan perusahaan xx, dan lanjut setelah makan siang kita akan mengadakan audisi terakhir untuk para designer pemula yang bekerja sama dengan butik Bu rianti pak. bapak di wajibkan hadir karena show yang akan kita langsungkan untuk memperkenalkan produk terbaru kita harus di sesuaikan dengan gaun yang akan di kenakan oleh para model" jelas Andre


"hmm...baiklah, kira kira ada berapa peserta yang terpilih?"


" ada sepuluh peserta pak, mereka tak hanya membawa gambar design tapi juga membawa contoh bajunya".


" siapkan semua yang di perlukan"


" baik pak


Andre segera meninggalkan ruangan angkasa, sementara angkasa sedang bersandar di kursi kebesarannya, harta yang melimpah yang di milikinya tak mampu mengisi kekosongan hatinya. dia menghela nafas sambil memijit pangkal hidungnya.


angkasa berdirinya dari duduknya berjalan menuju kaca jendela, menatap kosong jauh di ujung sana, mengingat kata designer yang di ucapkan Andre tadi, terlintas bayangan dara di benaknya, yang kala itu sedang mendesign sebuah gaun untuk ikut berkompetisi di tempat kerjanya dulu, membayangkan binar semangat dan bahagia dara jika designnya berhasil masuk dalam launching produk baru, bukan karena uang yang terpikirkan oleh dara.


flashback


" sayang kenapa kamu belum tidur hm...?" tanya angkasa


" aku lagi buat design Abang sayang, bulan ini mudah mudahan aku menang lagi, semoga design yang aku ajukan menjadi salah satu yang terpilih untuk launching" ucap dara semangat.


" apa hadiahnya lebih besar dari uang bulanan dara yang Abang berikan?" tanya angkasa


" tentu saja pemberian Abang lebih besar, tapi dara hanya merasa bangga jika design dara berhasil terpilih bang" jawab dara dengan senyuman sambil melihat angkasa penuh cinta.


" sudah selesaikan sayang, kita istirahat dulu yahh, Abang takut kamu sakit" bujuk dara.


tanpa menjawab angkasa dara berdiri dan menarik angkasa untuk ikut berdiri bersamanya, dara mengalungkan tangan di leher suaminya, sambil mengerlingkan mata dara berbisik pelan di telinga angkasa


" gak mau olah raga dulu bang" goda dara.


tanpa ba-bi-bu angkasa langsung menggendong dara dan membawanya ke ranjang, dan terjadilah malam penuh dengan perasaan cinta yang menggebu itu.


flashback off.


angkasa mengusap air matanya dan tersenyum sendu, setiap bayangan itu muncul angkasa akan merasa sedih mengingat kesalahannya. nafas angkasa perlahan semakin berat, trauma itu muncul kembali, rasa pusing nya semakin menjadi dia terduduk di tempatnya tadi berdiri, nafasnya semakin sesak, angkasa merangkak menuju tempat kerjanya membuka laci dan mengambil botol tempat obat yang di dapatkan dari psikiater. dia meminum dua butir sekaligus. bertepatan dengan Andre yang masuk.


Andre memapah bos nya dan membawanya ke sofa panjang, menidurkannya di sofa,


" apa yang bapak pikirkan, sampai bisa seperti ini?" tanya Andre.


tanpa menjawab Andre, angkasa memejamkan matanya sejenak. setelah merasa lebih baik angkasa segera duduk.


" aku merindukan dara ndre" ucap angkasa lirih


" jangan seperti ini bang, kak dara pasti sedih jika melihat Abang begini" balas Andre.

__ADS_1


" yahh dara pasti sedih" ucap angkasa.


hanya mendengar itu saja, rona wajah angkasa sudah kembali seperti sedia kala, dia melangkah menuju ruang pribadinya yang ada di kantor, setelah merapihkan dirinya dia berjalan keluar yang langsung di ikuti oleh Andre.


Andre juga menuntun angkasa menuju lokasi yang menjadi tempat acara pertemuan dengan perusahaan x berlangsung , butuh waktu beberapa jam sampai pertemuan itu selesai dilakukan.


waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, pertemuan juga sudah selesai di laksanakan. utusan dari perusahaan x sudah meninggalkan ruangan rapat setengah jam yang lalu, kini angkasa dan Andre langsung bergerak ke butik Bu rianti, tempat audisi para designer dari berbagai wilayah di lakukan, hal ini di peruntukkan untuk para pemula yang belum memiliki nama di dunia fashion.


setelah mencapai gedung angkasa dan Andre langsung masuk, ketika memasuki gedung tak sengaja angkasa dan Andre tak sengaja bertubrukan dengan seorang anak perempuan yang mengenakan gaun berwana biru langit dengan motif sederhana tapi juga terlihat elegan.


" aduhh.... " keluh anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun


angkasa langsung membantu anak kecil tersebut agar berdiri.


" kamu gak apa apa princess" tanya angkasa dengan lembut


" sakit sedikit om" jawab anak perempuan itu sambil menoleh menatap angaksa.


degh...degh...degh...


sejenak angkasa terdiam terpaku melihat sosok kecil itu, wajah itu, mata itu mirip dengan istrinya, pujaan hatinya.


melihat keterdiaman angkasa anak perempuan tersebut bingung.


" Abel gak apa apa om, di sini cuma sakit dikiiiit aja kok, om kok nangis, yang jatuh kan Abel" ucap anak perempuan yang bernama Abel sambil mengusap ujung mata angkasa.


" ahh.. maaf sayang, apa masih sakit lututnya nak? tanya angkasa sambil menatap Abel, wajah yang mengingatkannya pada istrinya dara.


" Abel... kamu dari mana saja Abang cari cari malah hilang, kata bunda kita gak boleh nakal loh" ucap seorang anak laki laki yang memutus komunikasi antara Abel dan angkasa.


"Abang gak marah, Abang cuma takut Abel nanti hilang terus pasti banyak bahaya, inikan di kota" ucap anak lelaki itu bijaksana.


angkasa dan Andre hanya terdiam melihat interaksi antara anak perempuan yang bernama Abel dan juga anak laki laki tersebut.


" maaf ya, tadi om gak sengaja nabrak adik kamu" ucap angkasa yang mensejajarkan tubuhnya agar setara dengan ketinggian dua bocah yang ada di hadapannya.


" bukan om kok yang salah, Abel yang jalannya gak fokus jadi Abel nabrak om ganteng" ucap Abel dengan senyum malu malu menatap angkasa.


beberapa saat Abel memperhatikan angkasa dan anak laki laki itu secara bergantian.


" Abang kok mirip sama om ganteng" ucapnya yang terlihat berpikir.


" hahh..." angkasa dan Andre terlihat bingung, angkasa menata anak laki laki itu sementara Andre menatap keduanya bergantian.


"abaaaang...adeeek...." teriak tiga orang anak laki laki bersamaan sambil berlari kecil


"hahh... merepotkan" " gumam Abel pelan dan menghela nafas lelah.


angkasa dan Andre yang mendengar gumaman lirih Abel hanya tersenyum lucu. mereka sudah bisa memikirkan ke mana pikiran gadis kecil ini, usianya mungkin empat atau lima tahunan. tapi pemikirannya tak seperti anak di usianya.


" Abel, Abang adriel kan sudah bilang jangan jauh jauh" ucap anak laki laki yang baru datang


" Abang Andrew juga sudah bilang duduk saja di samping Abang" ucap yang satu lagi.

__ADS_1


" jangan suka kabur laburan, kalo bunda sedih terus lupain Abang asriel gimana coba" ucap yang satunya dengan bibir mengkerucut sebal.


" stoooop....Abel pusing nih, gendong" pinta Abel.


" oh.. sepertinya tadi punggung Abang sedikit nyeri" ucap anak yang bernama asriel


" Abang juga" ucap kedua anak yang lain.


" hahh.. sini Abang gendong" ucap Aaron sambil berjongkok bersiap untuk menggendong Abel.


melihat perdebatan itu angkasa dengan inisiatifnya menggendong Abel dengan perasaan yang tak menentu.


" biar om yang gendong saja" ucap angkasa sambil berjalan meninggalkan empat bocah tadi yang kebingungan.


Aaron segera melangkah menghadang langkah angkasa


" no... itu adiknya Aaron jadi Aaron yang gendong om, om gak punya hak" tolak Aaron tegas.


"iya.." jawab tiga anak lainnya menganggukkan kepala mengikuti langkah Aaron.


"sampai di sofa itu saja kalian bisa mengikuti om, kasian tadi Abel jatuh lututnya terbentur lantai" bujuk angkasa.


tanpa menunggu jawaban ke empat bocah posesif tadi angkasa melangkah di ikuti ke empat bocah dan Andre dari belakang.


mereka melangkah menuju sofa yang menjadi tempat istirahat para pelanggan ketika berkunjung ke butik.


setelah mendudukkan Abel dengan posisi nyamannya, Andre dan angkasa duduk di hadapan kelima anak kecil yang ada di hadapannya.


" kalian di sini sama siapa?" tanya angkasa


" BUNDA" ucap mereka serentak.


" lalu ke mana bunda kalian, kenapa meninggalkan kalian di sini tanpa pengawasan?" tanya angkasa.


" Aaron yang awasi mereka om" potong Aaron cepat.


" kamu masih kecil Aaron, harusnya orang dewasa yang menemani kalian saat ini" balas angkasa


" umur tak menjamin seseorang menjadi dewasa" potong adriel


" ya ..tapi jika ada masalah atau bahaya bagaimana" potong Andre yang sejak tadi diam, Andre geregetan melihat kelima bocah yang ada di hadapannya.


" dengan senang hati akan kami selesaikan" balas Andrew dengan percaya diri


" kalian masih kecil anak anak" tukas angkasa gemas


" kecil begini banyak ide dan taktik on" jawab asriel,


angkasa dan Andre hanya diam melihat ke empat bocah laki laki yang ada di hadapan mereka, serentak kedua orang dewasa itu memijit pangkal hidungnya,


" mereka semua lebih licik dan pintar dari semua penjahat yang ada di sini mungkin om" ucap Abel tiba tiba.


argumen kedua pria matang dan dewasa itu di patahkan oleh kelima bocah ajaib di depannya.

__ADS_1


"baiklah jika begitu, om akan pergi sebentar lagi, jadi kalian jaga diri masing masing, jika ada apa apa ini hubungi om di nomor ini" ucap angkasa menyerahkan kartu namanya yang hanya di peruntukkan pada para pimpinan perusahaan.


setelah itu mereka meninggalkan kelima anak kecil tadi dan pergi untuk mengikuti jalannya seleksi designer berbakat yang sedang dilaksanakan.


__ADS_2