Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 12


__ADS_3

POV Angkasa


sepeninggal ayu dan intan. ku pandangi semua yang ada di sini yang menjadi tokoh penyebab peristiwa yang akhirnya membuatku merasa bahagia.


" bisakah ayah menjelaskan mengapa mengutus mereka yang berdua yang jelas jelas akan menimbulkan masalah untuk menjemput barang tersebut" tanyaku dingin sambil mengepalkan tangan menatap ayah


" nak tenanglah, ibu mohon jangan emosi hmm... ibu tau anak ibu." bujuknya, orang yang selama ini cukup berbuat baik padaku, tapi bagiku itu tak ada artinya.


" ini mutlak kesalahan ayah.. maaf" ucap ayah.


"aku tak ingin berpisah jangan pernah berfikir untuk memisahkan ku darinya, setelah sekian lama ayah hanya mementingkan ego ayah dan memaksakan kehendak ayah untuk ku, sekarang adalah hal yang paling membahagiakan di hidupku" ucapku sambil memalingkan wajah. sejenak terlintas kerasnya ayah mendidik ku.


" ayah tak pernah berfikir untuk melakukannya" elak ayah.


" baiklah kita lihat kedepannya, aku tak akan menjadi sepertimu, ingat itu baik baik" tegas ku lagi sambil berlalu pergi meninggalkan ayah dan wanitanya.


sampai di kamar aku berbaring di samping istriku Careen Adara, kamu sudah terpatri di hatiku, aku akan membahagiakanmu, kuharap kamu dapat menerimaku dengan segera. kata kata tersebut hanya mampu terucap di hatiku, karena ku yakin dia bukan orang yang akan percaya dengan janji manis, tapi dengan menunjukkan perbuatan ku dan rasa cintaku padanya aku yakin mampu masuk ke dalam hati terdalamnya. aku menutup mataku, karena sangatlah lelah tanpa sadar aku terbangun.


tok..tok..tok...


" tuan muda ini saya bawakan sarapan pagi"suara ni asih terdengar dan mampu untuk mengumpulkan kesadaran ku, ahh ternyata sudah jam delapan pagi, kulihat istriku masih terlelap, ku raba keningnya ternyata sangat panas,aku panik, aku merutuki diriku bagaimana mungkin aku bisa tertidur sangat nyenyak di saat istriku sedang tidak baik baik saja, ku abaikan bi asih yang masih mengetuk pintu. aku bergegas masih stetoskop yang ku letakkan di atas nakas. aku mulai memeriksa keadaan istriku. untuk pertama kalinya selama profesiki sebagai dokter aku sepanik ini, aku takut dia meninggalkan ku seperti ibu dua puluh tahun yang lalu. cerita kelam yang tak ingin ku ingat. setelah ku periksa ternyata tak ada sesuatu yang serius. aku hanya menyuntikkan nutrisi ke dalam tubuhnya, ku usap wajahnya lalu ku kecup keningnya sambil berbisik. " sayang cepatlah bangun jangan membuatku khawatir istri ku".

__ADS_1


setelah memastikan bahwa keadaanya berangsur baik, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. setelah itu aku keluar dari kamar untuk menuju ruang makan, ku panggil Bi asih agar menyiapkan makanan untukku di meja makan. aku langsung melahap makanan yang tersedia di meja makan. perutku sangatlah lapar, untuk istriku dia tak akan kelaparan dalam tidur nyenyak ya, cairan infus sudah menggantikannya beserta nutrisi yang sudah aku suntikkan.


selesai itu aku langsung kembali ke kamar dan memilih untuk menemani istriku, memastikan semuanya baik baik saja.


tak terasa waktu sudah beranjak sore kulihat jam yang ada di pergelangan tanganku, aku terkejut tiba tiba pintu kamarku di buka dengan kasar, aku ingin murka sebenarnya aku cukup terusik dengan orang yang mengganggu ketenanganku, ku lihat di sana berdiri Bu rianti rekan Bisnisku dengan tangan mengepal dan wajah penuh amarah.


" keluar " satu kata terucap dari mulutnya.


orang yang biasanya selalu bersikap ramah sekarang seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya. mendengar kata kata nya aku langsung menuruti perintahnya, dia beserta intan dan ayu juga seorang pria mengenakan jas kedokteran berjalan masuk.


aku tak tau apa yang mereka bahas mungkin dia hanya ingin memastikan keadaan istriku.


tak berselang lama dia keluar dengan raut wajah lega.


tak lama pintu kamarku terbuka, mereka semua yang berada di dalam kecuali dara keluar satu persatu.


" ayu kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" tanyanya yang lebih seperti memberi perintah mutlak.


" iya Bu, " jawabnya patuh sambil berjalan menjauhi kami.


" bagaimana mungkin kalian membiarkan dia sampai pingsan hah,,, apa kalian tidak sanggup untuk memberinya makan. apakah anda terlalu miskin tuan besar Hartono." dengan pandangan marah dia menyakan hal tersebut.

__ADS_1


" lancang... jangan pernah meremehkan ku" bentak ayahku pada Bu rianti


" lantas apa ini, kalian yang tidak profesional dalam perjanjian, melemparkan pegawai ku untuk menyelesaikan masalah yang kalian perbuat sampai dia harus kelaparan begitu.


kalau tidak miskin apalagi namanya hahh" balasnya


" jangan menghinaku nyonya, kau bisa menyalahkan ku atas kelalaian ku tapi jangan menghinaku, kekayaanku tak akan habis sampai tujuh turunan" bantah ayahku, cari mati pikirku.


" ohh begitu" ucap Bu rianti sambil menyeringai


" permisi, maaf saya mau masuk ke kamar" ucap ayu tiba tiba ternyata dia mengambil makanan, apa istriku sudah sadar, aku melangkah untuk mengikutinya.


" jangan ikuti dia, biarkan dia sendiri yang masuk"titah Bu rianti.


hahh... aku hanya bisa menurutinya saja, aku mengerti kekhawatirannya, aku sudah mengenalnya sejak lama, sejak aku masih merintis usaha ku dari nol sambil melanjutkan pendidikan ku. usaha yang tak di ketahui sama sekali oleh keluargaku.


kami kemudian melangkah menuju ruang tamu. di sana kami hanya diam membisu tanpa ada yang mencoba membuka pembicaraan. tak berapa lama ayu keluar, dan melangkah menghampiri kami. dia membisikkan sesuatu kepada Bu rianti, aku sebenarnya cemas dan terus menatap pintu. aku tak tahu dia memperhatikanku sejak kapan. ketika aku mengarahkan pandanganku ku lihat dia memandangiku, melihat itu wajahku memanas ,aku merasa malu sebenarnya, tapi dia malah menyeringai. di tengah keterdiaman ku istriku muncul memecah kesunyian. aku menanyakan keadaanya dia malah mengatakan hal yang menurutku lucu, bagaimana mungkin dia menganggap hal yang telah kami lalui hanya mimpi. di tengah kebingungannya wanita yang berstatus istri ayahku menjelaskan semuanya, dan ternyata tanggapannya yang membuatku terkejut. semudah itu dia mengucapkan pembatalan pernikahan di saat hatiku sudah terpaut padanya, ini tidak bisa di biarkan, tanpa sempat ku menolak ayahku sudah lebih dulu menolaknya. setelah terlibat perdebatan yang cukup serius kesepakatan pun muncul. hatiku lega, setahun cukup untukku meluluhkan hatinya pikirku. tapi lagi lagi pernyataan tak logis keluar dari mulut yang semalam sudah menciumiku. pernikahan kontrak, hahh... yang benar saja istri kecilku ini, iya kecil bukan karena usianya yang belia tapi karena fisiknya yang kecil.


tunggu pembalasanku istri kecilku akan ku bungkam kau dengan caraku.


POV end

__ADS_1


terimakasih untuk semua dukungannya, jangan lupa beri like dan komen ya.


salam sayang dariku untuk mu para kakak sekalian.


__ADS_2