Pindah Ke Judul Lain

Pindah Ke Judul Lain
bab 28


__ADS_3

hampa yang kini terasa di hati dara, setelah pertemuan terakhir dengan suaminya angkasa, sampai saat ini dua hari telah berlalu angkasa sama sekali belum kembali, bahkan untuk sekedar memberi kabar atau menanyakan keadaan dara tak pernah dilakukannya. setelah istirahat total selama dua hari kini kondisi dara sudah lebih baik, dan itu sebabnya dia ingin mengunjungi nenek dari suaminya. meski kesal dengan ucapan Bu Ratmi saat terakhir kali yang mengatakan ingin menyingkirkannya dari hidup cucunya. tapi statusnya kini masih istri dari angkasa, Adara berusaha untuk melupakan semua ucapan Ratmi.


saat ini dia sedang berkutat di dapur di temani oleh Bi Minah, Adara bermaksud untuk membawakan masakan rumahan untuk suami dan juga keluarganya yang sedang menunggu nek Ratmi di rumah sakit.


persiapan telah selesai di lakukan Adara dan bi Minah pergi menuju rumah sakit dengan angkutan umum, karena kedua mobil milik keluarga Hartono berada di rumah sakit.


meski hati sejak kemarin terasa gelisah tapi saat ini dia tak ingin menunjukkan di hadapan banyak orang.


" non kita sudah sampai, kata pak Indra nyonya besar di rawat di ruang x, kita langsung ke sana saja"


" oh iya Bi, temenin dara ya Bi"


Minah dan dara melangkah menuju ruangan tersebut. ketika sesaat sebelum sampai di ruangan ternyata makanan yang buat pak Indra ikut terbawa oleh Minah.


" yaahh non dara ke ruangan itu sendiri saja ya non. ini makanan yang buat pak Indra malah ikut bibi bawa, padahal tadi dia bilang lagi nunggu di parkiran. bibi antar dulu makanannya ya non nanti bibi datang lagi.


" iya Bi gak apa apa, dara bisa sendiri"


dengan jantung yang berdebar dara melangkah menuju ruangan yang di tuju dengan pintu yang sedikit terbuka. saat akan memasuki ruangan itu di berdiri terpaku mendengar pembicaraan beberapa orang di dalam sana, dara berusaha menenangkan dirinya, dari awal dia sudah membayangkan hal ini pasti akan terjadi.


" plok...plok..plok.. bagus sekali, permainan yang sempurna nyonya Ratmi" ucap dara dengan nada sumbang sambil bertepuk tangan, meski rasanya ingin menangis, tapi sebisa mungkin dia tahan. dia tak ingin kalah dengan para manusia manusia egois yang ada di ruangan ini.


" CAREEN ADARA" bentak angkasa dengan suara menggelegar.


" ada apa angkasa, mau menyangkal" tanya nya tersenyum mengejek.


Adara berjalan tepat ke samping Ratmi,


" aku sudah mengatakan padamu bukan nyonya Ratmi, jika anda berhasil menikahkan cucu anda dengan wanita murahan ini maka aku akan membuangnya" ucap dara dengan suara keras.

__ADS_1


" apa maksudmu dara" tanya angkasa bingung sambil menggenggam pergelangan tangan dara.


"ish..ish..ish.. jangan sentuh tangan saya tuan, saya jijik" ucap dara sambil menyentak genggaman tangan angkasa hingga terlepas.


" wanita tua ini mengancam saya sesaat sebelum dia jatuh dari tangga karena dia berusaha menampar saya, tapi naas dia malah jatuh karena keegoisannya."


"jaga bicaramu dara dia adalah nenek ku" bentak angkasa murka.


" dan bukan nenekku" balas dara enteng.


" apa begini orang tuamu mengajarimu dara? tanya Ningsih.


" setidaknya orang tuaku tak mengajari kami menjadi anak yang tak bertanggung jawab dan menjadi wanita ja""Ng yang menggoda suami orang lain nyonya Ningsih


degh...


Ningsih terdiam dan terpukul dia mundur beberapa saat untuk menenangkan diri.


" setidaknya aku tak perlu menjadi pe****r untuk memberikan anak pada suami orang lain wanita tua" ucap dara sarkas.


" jaga sopan santun mu dara, jika kamu mengatakan begitu lantas bagaimana dengan dirimu sendiri" bantah Arum.


" ohh ternyata ja**Ng berani buka suara juga ternyata, bagaimana sudah merasakan tubuh suami orang lain hmm...., " setidaknya aku tak pernah menggoda suami orang, atau kamu lupa saat itu kalian berdua belum mengucapkan ikrar pernikahan. dan aku melakukan itu untuk mempertahankan pernikahan orang lain yang berusaha kalian rusak dengan alasan tradisi konyol yang sangat merugikan orang lain."


" jaga bicara mu dara, hormati aku sebagai suamimu" sela angkasa.


" ohh tuan angkasa ternyata membekas istri mudanya, hmm... its ok tak masalah bagiku, lagi pula aku sudah tak Sudi menjadi istrimu, jadi ceraikan aku sekarang juga, bukankah kalian mampu untuk melakukannya hm...?"


" tidak akan pernah Adara"

__ADS_1


" ohh begitu, baiklah jika begitu, maka siapkan harta Gono gini perceraian kita, aku akan mengajukannya lewat pengadilan.kaluan menikah tanpa sepengetahuanku, dan ku pastikan orang orang di sini akan membayar denda, kau tidak lupa bukan siapa yang ada di belakangku angkasa" ucap Adara.


" pergi saja kamu, dasar perempuan gila" umpat salah satu wanita yang merupakan bibi dari angkasa.


" tentu saja, aku juga Jijik ada di sini, di sini kumpulan orang orang sampah dan tak tau malu" ucap Adara sambil membuang ludah.


PLAK PLAK


dua tamparan telah dara terima di kedua pipinya, sudut bibinya sampai berdarah, dapat di bayangkan seberapa kuat tamparan itu. tatapan mata itu menatap tak percaya sosok yang menamparnya ternyata angkasa suaminya sendiri. sementara angkasa benar benar syok menatap telapak tangannya.


sambil mengusap kasar sudut bibirnya.


" terimakasih tuan angkasa, anda memberikan bukti kuat untuk proses perceraian, saya akan menuntut ganti rugi yang berkali kali lipat, jadi siap kan diri anda" ucap Adara dan berbalik. sebelum melangkah keluar Adara mengucapkan sebuah kalimat yang akan selalu di ingat oleh angkasa calon mantan suaminya.


" pernikahan kontrak yang kita sepakati di depan keluargamu dan juga Bu rianti sudah berakhir, apapun yang berhubungan denganku meski itu berkaitan dengan mu, itu sepenuhnya adalah milikku, masih ingat bukan" tegas Adara dalam setiap kata yang terucap kemudian berlalu pergi,


di sepanjang jalan Adara berjalan dengan tatapan kosong, tiba tiba Minah datang


" non dara kenapa itu, pipinya non? tanya Minah


" bi makasih ya selama ini bibi sudah sayang sama dara, terimakasih sudah merawat dara, sekarang dara akan pulang dan gak akan balik lagi ke sini bi, mereka semua jahat" ucap dara dengan suara gemetar menahan tangis.


" ta..tapi non..."


"dara tunggu" ucapan Minah terpotong oleh panggilan angkasa


Adara menghentikan langkahnya.


" maafin Abang dara, maaf Abang gak bermaksud buat nampar kamu sayang, Abang terbawa emosi, ne..nenek.. dia tidak mau di operasi jika Abang tak menikah dengan Arum. maafin Abang dara" mohon angkasa dengan air mata sambil bersimpuh di kaki dara.

__ADS_1


" sama seperti mu yang bahkan tak mau mendengarkan penjelasan ku, maka aku pun tak mau mendengarkan penjelasanmu. bagiku lantunan cinta yang keluar dari setiap ucapanmu hanya bualan semata, dan kekerasan yang ku terima sudah menjadi cerminan dirimu angkasa. dari semua itu, penghianatan mulai yang paling tak bisa ku terima. jangan persulit proses perceraian kita. permisi " ucap Adara meninggalkan angkasa yang masih bersimpuh dengan Isak tangis dan air mata.


__ADS_2