
setelah kesepakatan telah di dapat kami langsung beranjak dari pondok menuju kasir untuk membayar makanan yang telah kami nikmati. di saat aku ingin membayarkan angkasa lebih dulu menyerahkan beberapa lembar uang biru,
" hmm... sangat murah dan terjangkau dengan kualitas makanan yang benar benar lezat, ini akan menjadi tempat makan favorit ku mulai sekarang sampai anak cucu kita nanti " ucap Angkasa sambil tersenyum jahil kemudian merangkul pinggangku.
" apaan sih bang, Abang ada ada saja ternyata pinter juga gombal" cibirku sambil mempoutkan bibir ku sebal.
" ha..ha..ha..cuma sama istriku saja" ucapnya sambil tertawa keras, sampai semua orang melihat ke arah kami.
" aishhh.... dasar menyebalkan" ucapku sambil berlari kecil menuju mobil.
"jangan cemberut gitu" ucapnya kemudian mencium bibir ku tiba tiba.
aku mematung di buatnya, setelah kami memutuskan untuk saling menerima, dia menjadi lebih berani dan terbuka.
" ayo masuk nanti Abang cium lagi mau" tanyanya sambil tersenyum cerah.
" itu sih maunya Abang" jawabku kesal.
dia sudah membukakan pintu mobil untuk ku, setelah aku masuk dia langsung menutup pintu dan beranjak ke arah pengemudi dan langsung masuk. aku melihatnya sambil berpikir, dia kah yang dikirim sang pencipta untuk ku. inikah pria harapan dan doa kedua orang tua ku untuk ku, disaat aku bahkan sudah berhenti mengharapkan jodoh di tengah tengah karir yang sedang ku jalani. semoga kehidupan kami semakin baik kedepannya. terselip doa dalam angan ku, kuharap Dia sang pemberi kehidupan akan mengabulkannya.
kami melaju membelah jalan, dia juga sesekali menggenggam tanganku, sesekali menciumnya.
" tangan mu masih wangi sambel sama ikan lele" ucapnya tiba tiba, aku menarik tanganku tapi dia tahan.
" tapi aku suka" terangnya kemudian
aku hanya dapat tersipu malu, kemudian dia memutarkan musik klasik aku memang tak banyak tau tentang musik itu. tapi aku menyukainya, jalanan tidak terlalu macet. mungkin karena weekend pikirku, setelah beberapa saat kami tiba di sebuah gedung yang cukup besar, setelah memarkirkan kendaraan kami langsung berjalan untuk masuk ke dalam gedung, kami di sambut ramah oleh para pekerja, ternyata mereka cukup ramah dan sopan seperti sudah terlatih seperti pegawai di butik pikirku. kalau aku sendiri kan tugasnya di ruang produksi jadi tak terlalu tau banyak hal. hanya cukup tampil apa adanya dan sopan pada yang lebih tua dan pada jabatan yang lebih tinggi.
kami berdua di arahkan ke sebuah ruangan sangat megah, kami di arahkan menuju satu set sofa yang di tengah tengahnya terdapat meja kaca bentuk persegi panjang dengan beberapa kotak sudah letakkan di atas meja.
" duduklah sayang" ucap bang angkasa dengan lembut.
"Hm..." dengan wajah merona merah aku bergumam.
setelah duduk, seorang pria yang kuingat kemaren senantiasa berdiri di dekat suamiku masuk sambil membuka ke lima kotak tersebut. ternyata isinya adalah satu set perhiasan yang ada di setiap kotak. seorang pegawai wanita yang menjelaskan kepada kami berdua, sementara aku hanya diam memandanginya. aku memikirkan berapa harga perhiasan ini. dengan tampilan yang begitu wahh.... aku jadi bergidik memikirkannya, bisa bisa aku mati lebih dulu jika memakai perhiasan tersebut pikirku.
" sayang... heyy, kenapa melamun hmm?" tanyanya pelan sambil mengelus kepalaku
" hahh... kenapa?" tanyaku bingung
" hm... kamu pilih yang mana dari kelimanya?" tanyanya lagi sambil tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke arah perhiasan tersebut.
"ini terlalu glamor, aku tak suka" ucapku pelan.
__ADS_1
" tunjukkan yang sudah aku pesan kemarin, sudah selesaikan?" tanyanya kemudian.
" tunggu sebentar tuan" ucap pegawai wanita tersebut sambil melangkah keluar.
" kamu benar benar tak menginginkan kelimanya? atau mungkin salah satu diantaranya?" tanyanya lembut
" sebenarnya aku tak terlalu suka mengenakan perhiasan, aku hanya mengenakan anting saja. jika membeli pun paling hanya jadi penghuni lemari dan untuk simpanan juga." kataku sambil tersenyum canggung.
" oh ya, ini kamu pakai kalung emas" ucapnya sambil meraba kalung di leherku. darahku berdesir dibuatnya, tubuhku meremang dan wajahku semakin memerah.
" a..ah. . i ...ini di belikan Tante ku ketika aku masih kecil, kata ibu aku sempat sakit karena dulu niatnya tanteku memberikanku sebuah kalung. dan sekarang ini di tukar tambah sama orang tuaku agar ketika ku pakai tak terlalu kekecilan" jelas ku padanya
" ini tuan sesuai pesanan anda" ucap pegawai wanita itu sambil meletakkan kotak perhiasan dan langsung membukanya.
aku langsung terpesona melihatnya, sangat sederhana tapi elegan. di sana ada kalung,anting,gelang dan juga sepasang cincin pernikahan. di masing masing perhiasan tersebut di hiasi dengan berlian kecil, designnya benar benar rumit tapi bukannya terlihat glamor malah terlihat sederhana sekali tapi tentunya menarik minat siapapun jika melihatnya.
" ini hanya ada satu satunya di dunia, karena aku sendiri yang membuat design nya. kuharap kamu menyukainya". terangnya kemudian.
" aku suka" ucapku tanpa sadar, sesaat aku tersadar dengan tingkahku. dan tersenyum malu.
" ha..ha..ha..aku suka kamu yang seperti ini. malu malu tapi mau" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
" tolong bungkus dengan rapih beserta dengan yang aku katakan tadi" perintahnya.
sambil menunggu pesanan kami di kemas, suamiku mengobrol dengan pria tadi, memikirkan kata suamiku aku tiba tiba merona,
" sayang kenalkan ini Andre asistenku, dia yang selama ini selalu menemaniku" kata bang angkasa padaku
" dara" ucapku sambil mengulurkan tangan sambil tersenyum manis
" Andre nyonya" ucapnya menerima uluran tanganku. sambil tersenyum kaku
" sayang kamu jangan tersenyum manis begitu padanya, aku cemburu" sembur bang angkasa sambil menarik tanganku dan langsung marangkul pinggang ku.
" e .ehh... ih.. si Abang main tarik tarik saja ih!" ucapku kesal.
kulihat ke arah Andre, dia hanya menghela nafas. dengan cepat suamiku meraih wajah ku dan mengecup bibirku sekilas.
" dasar bos sialan" umpat Andre dengan sedikit keras.
" aku mendengarmu, makanya cari istri sana" balas bang angkasa.
"hahh... susah bicara sama orang yang di mabuk cinta"" timpal Andre.
__ADS_1
aku melihat kepada bang Angkasa suamiku, benarkah pria ini telah jatuh cinta padaku? atau hanya candaan Andre karena kesal dengan tingkah suamiku ini. terbersit sebuah harapan di hatiku semoga ucapan Andre benar adanya.
" tuan ini perhiasan yang tuan inginkan" ucap pegawai wanita itu mengagetkanku sambil mengarahkan sebuah paper bag dan meletakkannya di atas meja. kemudian dia langsung pamit undur diri.
"kalau begitu kami pamit dulu, hari juga sudah gelap,ayo sayang kita pergi" ucap bang Andre sambil meraih tanganku membawa ku melangkah menuju keluar dari ruangan ini.
kami segera menuju parkiran tempat mobil kami terparkir. setelah kami sudah masuk kedalam mobil, bang Andre melajukan mobilnya.
di dalam mobil aku mengambil ponsel dari tas ransel ku, aku mengirim pesan ke mbak ayu menanyakan mau pesan apa sebagai oleh oleh. ternyata mereka sepakat memesan bakso
" nanti kita mampir ke warung bakso langganan aku dan teman teman ku dulu ya bang, yang lain memesan bakso untuk makan malam mereka. Abang masih mau makan lagi?" ucapku padanya.
" Abang masih kenyang. kita beli pesanan temanmu saja ya.
aku menunjukkan arah menuju warung bakso, tak lama kemudian kami sudah sampai, aku langsung memesan dua puluh bakso, setelah itu bang angkasa langsung membayarkannya tanpa memberiku kesempatan untuk membayar. kami langsung pulang menuju kos tempatku tinggal. akhirnya kami tiba di depan kos, sekilas kulihat jam di pergelangan tangannya sudah pukul delapan malam. di saat aku ingin berpamitan dia mengeluarkan dua buah kartu yang satu kartu kredit yang satunya lagi kartu debit.
" pin nya tanggal pernikahan kita ya sayang." ucapnya sambil memberikan kedua kartu itu
" jangan menolak, ini adalah hak mu" tambahnya cepat melihatku yang bersiap untuk menolak
" baiklah" aku meraih telapak tangannya dan menciumnya. kemudian dia meraih kepalaku dan mencium keningku dan juga mengecup bibirku sekilas.
"setelah makan langsung istirahat y, aku tahu kamu capek" dia menasehati ku sambil mengelus kepalaku sayang.
aku hanya bergumam membalas ucapannya segera aku keluar dari mobil sambil meraih bungkusan di belakang.
" hati hati di jalan, jangan ngebut dan kalau sudah tiba di rumah kabari segera ya bang" kataku padanya.
." iya sayang, masuklah aku akan pergi setelah memastikan mu masuk" katanya tegas padaku.,
aku langsung membuka gerbang dan masuk kedalam. aku mendengar bahwa dia sudah melajukan mobilnya meninggalkan kos ku.
saat aku membalikkan badan, kulihat semua orang penghuni kos sudah berdiri menyambut ku.
" wihh .. yang habis kencan, bawa apa nih?" tanya adikku Indira yang biasa di panggil Dira. dia memang memilih mencoba di tempatku bekerja setelah aku ajari dasar dasar menjahit beberapa hari, dan syukurlah dia cepat menangkap juga jadi dia lulus seleksi penerimaan pegawai baru. dia tinggal selantai denganku.
" wah si kakak di samperin ke kos ternyata malah enak enakan kencan dengan pujaan hati" ucap Rena yang memang setiap weekend sesekali berkunjung. kami selalu gantian. jika libur panjang dan tak pulang ke desa kami akan ke rumah Rena. terkadang temanku yang lain juga ikutan jika mereka tak pulang. atau kami akan berkumpul di sini ramai ramai sambil membakar ikan atau ayam.
" kita makan di sini saja sambil nonton tv ya" usul mbak ayu.
kemudian tiga diantara kami naik ke atas membawa peralatan makan dan juga nasi. apapun makanannya tetaplah yang utama nasi. itu adalah motto di kos kami.
kami langsung makan sambil menonton tayangan televisi.
__ADS_1